ANGELICA

ANGELICA
PART 24



*Brukk


Brukk


Brukk*


Pukulan bertubi-tubi Angelica layangkan ke Allendra. Ia menyerang Allendra membabi buta, tak memberi kesempatan untuk Allendra membalas dirinya. Ia tak memperdulikan dimana dia saat ini. Tak peduli jika nanti Allendra mati di tangannya sendiri. Tak peduli jika ia nanti ketahuan sama pihak sekolah. Yang ia pikirkan saatnya hanya memukul Allendra sampai ia puas.


Puas?


Ia bahkan baru puas jika korbannya mati ditangannya. Tak ada ceritanya jika ia ingin membunuh orang tapi orang itu bisa berjalan normal. Membuat orang itu mati itu sebuah kepuasan yang menyenangkan untuknya. Jikapun orang itu selamat. Orang itu harus sekarat. Rasa puas yang ada dalam dirinya lah yang akan membuat jiwa pembunuh yang ada didalam dirinya tertidur lagi.


Jangan dipikir dia seorang psychopath, bukan! Dia hanyalah seorang gadis yang memiliki keunikan. Berbeda dengan gadis lainnya, jika gadis diluaran sana lebih suka menghamburkan uang untuk sebuah kesenangan. Lain hal nya dengan Angelica, ia lebih suka menantang maut untuk sebuah kesenangan. Semua hal tentang bunuh-membunuh itulah sebuah kesenangan yang ia maksud. Membunuh orang termasuk kedalamnya.


Psychopath memang melakukan itu juga untuk kesenangan, tapi seorang psychopath tidak akan tahan jika sehari tidak mendapatkan mangsanya. Sedangkan Angelica, ia membunuh di saat keadaan darurat dan saat ia ingin saja. Dia bukan gadis yang memiliki penyakit kejiwaan itu. Ia masih punya rasa kasian terhadap orang yang akan jadi korbannya, jika dia benar memiliki penyakit itu, bagaimana nasib keluarganya? Ia hanya membunuh orang-orang yang bersalah, seperti rekan kerja Dimas yang sudah keterlaluan. Banyak musuh Dimas yang menjelma menjadi rekan bisnis. Itulah perkerjaannya. Dari awal ia memang bekerja sebagai mata-mata, tapi lama kelamaan ia bisa jadi pembunuh buat siapa saja yang mengancam keselamatan Dimas. Mencoba meracuni? Ia akan meracuni balik orang tersebut dengan dosis berkali-kali lipat. Mencoba menabrak? Ia akan membuat orang itu kecelakaan terlebih dahulu. Mencoba menyulik? Orang itu duluan yang akan ia culik dan dia siksa sampai meminta untuk dibunuh saja. Tapi sayang nya dia bukan orang baik yang akan menuruti kemauan sang musuh sendiri.


"sial!!!"


Umpatnya, apa yang sudah ia lakukan? Ini bukan termasuk dari rencana nya. Jika sudah begini akan runyam lagi masalahnya. Dan ini tidak menutup kemungkinan akan membuat rencana nya mengalami perubahan.


Melihat Allendra terkapar dan tak berdaya dibawahnya membuatnya semakin susah mengontrol diri. Tapi otak nya masih berjalan dan menyuruhnya berhenti melakukan tindakan itu.


Kenapa gak dari tadi, dasar otak lemot!


Lagi-lagi ia mengumpati dirinya sendiri. Sekarang ia harus bagaimana lagi? Jika ia membawa Allendra turun kebawah bisa heboh satu sekolah.


"Lo gak pa-pa?" Tanya Angelica.


Bodoh. Tentu saja cowok itu sedang kesakitan. Pertanyaan bodoh yang baru kali ini ia ucap kan.


"Gak pa-pa kok.. kamu gimana?"


Allendra bisa melihat kekhawatiran dari sorot mata Angelica. Entah mengkhawatirkan dirinya atau hal lain. Tapi ia yakin kalau gadisnya itu sedang mengkhawatirkan dirinya. Walau raut mukanya terus datar dari tadi. Tapi sorot matanya beda.


"Lo **** apa blo'on sih!!” sentak Angel, ”yang perlu ditanya itu diri lo sendiri bukan gue!"


Allendra terkekeh mendengar ucapan kasar gadisnya itu. Gadisnya sepertinya tak akan pernah berubah, tetap mengucapkan kata-kata kasar di keadaan apapun itu baik genting ataupun tidak.


"Aku gak pa-pa sayang, cuma luka kecil ini."


"Kalau **** kagak usah di pelihara, buang kelaut aja sana... muka ancur kayak gitu masih bilang luka kecil... untung itu hidung mancung tadi kagak sempet patah waktu gue pukul... gimana kalau patah beneran, ancur beneran tu muka... kagak sudi gue punya pacar pesek dan muka ancur kayak lo... lagian lo kenapa gak ngelawan aja sih, kalau lo ngelawan gue pasti muka lo gak bakal se-ancur gini, eneg gue liatnya... muka mau ancur aja gue eneg apa lagi udah ancur... tambah eneg gue!"


Allendra mengerjapkan matanya tak percaya. Ia tak salah dengarkan? Angelica-nya mengucapkan kalimat panjang dan berubah menjadi cerewet dalam sekejab gara-gara luka di wajahnya doang. Ah, seharusnya tadi ia merekam saat gadisnya menjadi cerewet seperti tadi. Kejadian langka. Walau wajah datarnya tidak hilang tapi itu merupakan perkembangan yang sangat baik.


Allendra terus tertawa tak memperdulikan rasa sakit yang menyerang wajahnya. Oh god! Gadisnya itu sangat lucu sekali. Ia berharap bisa bersama dengannya selamanya bukan cuma satu bulan.


Sial, mengingat usia hubungannya dengan Angelica cuma satu bulan membuatnya merasa sedih.


Berbeda dengan Allendra, Angelica sekarang merasa malu. Rasa malu yang berusaha ia sembunyikan di balik wajah datarnya. Walau dalam hati ia terus merutuki sikap anehnya keluar secara tiba-tiba.


Sial, kenapa sampe kelepasan sih... ini mulut gak bisa dikontrol banget, minta disekolahin kayaknya


Rutuknya dalam hati. Bisa hilang image dia di depan cowok ini. Sialnya ia tak mungkin menarik kata-katanya tadi. Ingin rasanya ia pergi ke kamar dan bersembunyi di balik selimut.


"Terserah, mending lo duduk di bangku itu biar gue ambil obat buat ngobati luka lo."


Setelah mengucapkan itu, Angelica langsung pergi meninggalkan Allendra tanpa ada niat membantu cowok itu berdiri. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah rasa malu yang tiada tara tingginya.


"Jangan lama sayang, ntar muka-ku tambah ancur kalau kelamaan," ucap Allendra agak keras.


Setelah pandangan Angelica menghilang, Allendra kembali tergelak tawa. Oh sungguh lucu sekali kelakuan gadisnya itu.


Jika seperti ini, ia rela jika harus mendapat pukulan bertubi-tubi setiap hari demi mendapatkan kecerewatan gadianya dan tatapan khawatir seperti tadi. Oh jangan lupa dengan gelagatnya tadi. Sungguh lucu sekali.


~*~*~*~*~*


"Morning my Angel!" sapa Aldo saat melihat Angelica ada di depannya. "Kalau ada yang menyapa balas dong sapaannya my Angel, namanya gak sopan kalau nggak di jawab.”


"Serah.”


"Lah itu sifat dingin belum ilang juga... kapan ilangnya sih? Di cuekin mulu dari dulu," Aldo yang merasa agak kesal. Tapi mau gimana lagi itulah sifat Angelica, mau tak mau ia harus mau menerimanya.


Angelica yang ditanya hanya mengedikan bahunya. Ia juga tak tau kapan sifat itu hilang dari dalam dirinya. Bahkan jika ia sudah berhasil balas dendam, entah sifat itu masih ada atau sudah hilang. Susah menghilangkan sifat yang ada didalam diri sendiri, walau dirinya menginginkan, itu terasa sulit untuk dilakukan.


"lo mau kemana? Buru-buru amat". Tanya Aldo lagi.


Aldo merasa agak bingung dengan Angelica saat ini. Tak biasanya terburu-buru seperti ini. Biasanya selalu bersikap santai.


"Uks!"


"Lo sakit?"


"Bisa diem gak lo!" ucap Angelica dengan tajam. Ia sudah muak ditanya terus sama Aldo. Pertanyaan yang tak bermutu buat di jawab.


"Eh, kalau yang ini gue mau tanya serius... lo tinggal di apartement siapa?"