ANGELICA

ANGELICA
PART 17



"Emmm, enak masakan kamu. nanti masakin aku lagi ya!" pinta Allendra.


"Iya, tapi itu telen dulu baru ngomong!”


"Habisnya masakan kamu enak, walau warnanya aneh."


"Rawon emang gini kali warnanya... lo aja yang norak gak tau rawon."


"Heheeeehehehee"


Angelica tersenyum kecil saat melihat tingkah lebay Allendra. Ia harus terbiasa dengan semua ini. Karena ini adalah pilihannya. Ia akan tetap tinggal bersama dengan Allendra.


"Kamu tadi tersenyum? Iya tadi kamu tersenyum," teriak Allendra senang.


"Nggak.. apaan sih lo!" bantah Angelica.


"Sayang?" panggil Allendra.


"Hmm"


"Aku mau tau banyak tentang kamu, dong!"


"Buat apa? Gue pikir lo udah tau semuanya tentang gue."


"aku gak tau banyak tentang kamu sayang.. makanya aku mau tau banyak tentang kamu,” jawab Allendra.


"Ya udah lo mau tau tentang apa? Lo tinggal tanya ke gue."


"Hmmm... apa ya? Oh ya makanan apa yang kamu suka dan gak suka?"


"Semua gue suka."


"Kalau minuman?"


"Semua, kecuali alkohol."


"Hal yang paling kamu benci?"


"Di ganggu saat gue lagi pengen sendiri.”


"Hal yang paling kamu suka?"


"Sepi."


"Lagu favorit kamu?"


"Lagu seventeen."


"Oh...seventeen band itu kan?"


"Bukan. Seventeen k-pop!"


"Hah?" ucap Allendra tak percaya dengan ucapan Angelica barusan. Seorang Angelica yang memiliki sikap dingin bisa suka sama k-pop juga. Dia pikir hanya cewek alay yang suka dengan k-pop.


"Apa lo gak percaya? Mau ngatain gue cewek alay gara-gara suka k-pop gitu?"


"Ya jelaslah aku gak percaya! kamu bohongkan? gak mungkin cewek kayak kamu yang memiliki sikap dingin suka sama lagu k-pop, gak mungkin banget!”


"Lo mau gue buktiin, kalau gue emang suka k-pop? Biar lo percaya sama gue."


"Ya udah buktiin gih! coba kamu nyanyi lagi seventeen-seventeen itu!”


Angelica menarik nafas dalam-dalam. Ia terpaksa harus nyanyi supaya Allendra percaya kepadanya.


Meon hutnal neoege


Mianhaji anke


Neul nan gidarillae geurae geuge doe mam pyeonhae


orae geollindaedo


dolgo dora naege dashi chajawa jumyoen dwae


Meon hutnarirado


Allendra terperangah tidak percaya lagi. Lagi-lagi Angelica membuatnya kagum. Siapa sangka kalau suara Angelica begitu merdu.


"Lo udah percayakan sekarang?"


Allendra mengangguk, "Iya, aku gak nyangka kalau kamu bisa nyanyi... suara kamu merdu banget"


"Makanya jangan nilai orang dari luarnya aja. Kalau belum kenal jangan suka ngenilai orang sembarangan!”


"Iya sayang, iya.”


Allendra terus bertanya ke Angelica. Sedangkan Angelica terus menjawab setiap pertanyaan Allendra. Sampai kepikira dengan jawaban dari pertanyaan yang akan ia ajukan.


"Sayang apa tujuan kamu berubah pikir mau tinggal bersama aku disini?"


"Emang kenapa? Gak boleh?"


"Bukannya gak boleh, malah kamu boleh banget tinggal disini bareng aku. cuma agak aneh aja, awalnya kamu menolak keras ajakkan aku. Eh tiba-tiba kamu mau... kan agak ganjal aja."


"Gak pa-pa cuma gue pengen aja... apa salahnya coba? Gue cuma pengen aja."


"Seriusan cuma itu aja alasannya? Aneh banget deh, tapi bodo amatlah penting sekarang kamu mau tinggal sama aku."


"Hmmm,” balas Angelica sambil membereskan piring dan gelas yang mereka gunakan untuk sarapan tadi.


Angelica berjalan ke dapur untuk mencuci alat makan yang tadi mereka gunakan.


Di tengah kegiatannya mencuci piring kotor. Ia di kagetkan dengan dua tangan yang melingkar di pinggangnya. Tangan siapa lagi kalau bukan tangannya Allendra. Ditambah lagi Allendra menaruh kepalanya di bahu Angelica, itu menambah beban.


Angelica merasa geli saat Allendra menggesekkan hidungnya dengan leher Angelica dan menghirup aroma tubuh Angelica.


"Geli ****!” protes Angelica.


"Tapi aku suka aroma tubuh kamu sayang!"


"Tapi gak usah sampe kayak gitu juga kali... gue geli.”


"Ya udah deh... maaf ya!"


"Hmmm."


"Oh ya udah... aku mau ganti baju dulu ya.. kamu nanti pergi ke sekolah gak?"


"Nggak... gue ada urusan!"


"Urusan apa?" Tanya Allendra penasaran.


"Bukan urusan lo... udah sana lo ganti baju!” suruh Angelica.


Allendra mendengus kesal saat mendapat jawaban tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Ia lalu pergi masuk ke dalam kamarnya, kamar yang tadi malam digunakan Angelica.


Angelica hanya mengelengkan kepalanya. Daripada memikirkan sifat Allendra yang tidak jelas ia memilih melanjutkan kegiatannya.


"Lo jangan meluk gue lagi!" ucap Angelica saat mencuci tangannya. Ia tahu kalau Allendra ada di belakangnya dan berniat memeluknya.


"Ihhh.. kok kamu tau kalau aku ada disini?"


"Hmmm.. udah sana lo berangkat!" ucap Angelica saat membalikkan badannya menghadap ke Allendra.


Allendra tersenyum saat melihat wajah cantik nya Angelica. Ia berjalan mendekati Angelica dan langsung memeluknya.


"Aku gak tau kanapa aku bisa suka dan cinta sama kamu. Tapi yang aku tau cuma satu yaitu kamu hanya di ciptakan untukku," ucap Allendra.