
"Angel maafin aku... aku gak bermaksud ngucapin itu. tolong maafin aku. waktu itu aku marah dan terbawa emosi saat kamu mengucapkan cinta ke orang lain," pinta Allendra dengan sedih.
"Gak bermaksud apa lo? Gak bermaksud kalau lo bilang gue-"
CUP
Belum sempat Angelica menyelesaikan ucapannya. Allendra mencium pipi Angelica.
Angelica yang di cium hanya bisa diam membeku. Hilang sudah semua kata-kata yang sudah ia susun di otak cantiknya. Entah hilang kemana semua kata-kata itu.
"L-lo!!" ucap Angelica terbata-bata.
"Kamu memang benar. kamu memang ******. Tapi, kamu jalangnya Allendra!! bukan ****** orang lain. kamu hanya milikku Angel bukan yang lain... kamu ngerti itu?!"
Angelica hanya menganguk sebagai respon. Ia tidak tau apa yang ia lakukan. Otaknya langsung kosong hanya dengan sebuah ciuman di pipinya.
Allendra tersenyum melihat respon Angelica. Ia langsung memeluk Angelica dengan erat seakan tak mau kehilangan lagi.
“Ehhh- apa maksud lo?” Tanya Angelica setelah kesadarannya kembali sepenuhnya.
“you are just mine... and always be mine, Angel!” jawab Allendra dengan bangganya.
Angelica menatap Allendra tidak percaya. Sejak kapan dia jadi miliknya. Dan sampai kapanpun ia tidak mau jadi milik Allendra.
"Biasa aja ngelihatnya, nanti aku cium yang sebenar baru tau rasa kamu!! oh ya! mulai besok kamu tinggal sama aku ya,” pinta Allendra.
"Gak!” tolak Angel.
"Angel sayang! kamu harus mau. kalau gak kamu bakal dapat hukuman sayang!"
Angelica bergidik jijik mendengar apa yang di ucapkan oleh Allendra.
"Kalau gue bilang nggak ya berarti nggak! lo ngertikan kata nggak! itu berarti gue menolak permintaan lo!" tolak Angelica.
"Yaudah, berarti kamu mau aku tinggal di rumah mu?" Tanya Allendra dengan senyuman jahil dan menggoda.
"Idih!! ogah gue,"jawab Angelica.
"Pilihannya cuma itu sayang.. kamu tinggal bareng aku di apartement atau aku tinggal di rumahmu... tinggal kamu pilih yang mana?"
"Gue gak pilih!"
"Kalau gak milih aku bakal nyium kamu!"
"Maksa banget sih jadi orang!"
"Biarin.. orang ganteng mah bebas," ujar Allendra dengan percaya diri.
"Najis!"
Allendra terkekeh, "Jadi kamu milih yang mana?"
"Gue gak mau lo tinggal di rumah gue dan juga gue gak mau-“
"Bagus!! pilihan yang bagus. Jadi nanti malam aku tunggu di apartement, bye sayang!" ucap Allendra lalu pergi meninggalkan Angelica begitu saja.
~*~*~*~*~
Allendra merasa senang bisa tinggal bersama dengan Angelica. Ia terus bersiul senang sambil berjalan menuju kelasnya.
"Allendra kamu dari mana aja?" Tanya Pak Toto guru Bahasa Inggris.
"Maaf pak tadi ada urusan sebentar... maklum pak anak muda,” jawab Allendra dengan santai.
Allendra tidak memperdulikan reaksi Pak Toto. Ia langsung berjalan menuju bangkunya.
Tak lama setelah Allendra duduk di bangkunya, Angelica masuk ke dalam kelas dan berjalan menuju bangkunya yang ada di samping Allendra. Ia tidak memperdulikan pak Toto yang menatapnya dengan tajam.
"Angelica kamu dari mana aja?" Tanya Pak Toto dengan tajam.
"Urusan!” jawab Angelica dingin.
"Bisa-bisa bapak cepet meninggal gara-gara mikirin anak murid seperti kalian."
"Gak usah di pikir pak,” jawab Allendra dengan entengnya.
"Allendra!” peringat Pak Toto.
"Ya saya pak... ada apa gerangan memanggil saya?" Tanya Allendra dengan muka polos.
Pak Toto hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kepalanya pusing memikirkan murid-murid seperti Allendra. Untung hanya ada satu murid seperti Allendra, entah apa yang akan terjadi kalau ada 10 muridnya yang sama persis dengan Allendra. Mungkin sekolahan ini bakal rusak.
"untung cuma ada satu murid kayak kamu... kalau ada sepuluh mungkin saya bakal meninggal di tempat."
"saya gak punya kembaran sebanyak itu pak... satu aja gak punya apalagi sepuluh!” balas Allendra.
"Sudah diam kamu! ngejawab terus. Lanjut ke pelajaran awal.”
Pelajaran lalu dilanjutkan oleh Pak Toto dengan suasana tenang. Semua memperhatikan apa yang di jelaskan oleh Pak Toto kecuali Angelica dan Allendra.
Angelica sibuk dengan novelnya sambil mendengarkan musik sedangkan Allendra terus memandangi wajah cantik Angelica.
~*~*~*~*~
Bel berbunyi pertanda istirahat sudah tiba. Semua murid sibuk dengan urusan perut mereka. Berbeda dengan Angelica, ia terus membaca novel dan mendengarkan musik tak memperdulikan keadaan di sekitarnya.
"Kamu gak makan sayang?" Tanya Allendra yang duduk di samping Angelica.
"Ayo makan... nanti kamu sakit loh," ajak Allendra ke Angelica.
Angelica yang tidak mendengar apa yang di ucapkan Allendra hanya diam dan terus membaca novel yang ia pegang.
Allendra merasa geram saat Angelica tidak menjawabnya. Ia langsung menarik novel yang di pegang oleh Angelica.
"Apa-apaan sih lo?" Tanya Angelica dengan sewot.
"Ayo kita makan," ucap Allendra dan ia langsung menarik tangan Angelica dan membawanya ke kantin.