ANGELICA

ANGELICA
PART 40



Suasana hening menyelimuti meja makan. Sejak kejadian tadi, Angelnya langsung mendiami dirinya. Entah sebesar apa kesalahan yang ia perbuat, apa hanya karena hal sepele seperti itu Angelnya harus mendiaminya seperti ini? Akh, rasanya ia ingin menarik Angel ke pelukannya.


"Sayang!?" Panggil Allen.


Mata Angel dan Dimas menatap tajam Allen.


"Apa?"


"Habis ini kita pulang aja ya... gak usah nginep di sini, kasian kak Dimas, dia kan habis kerja pasti capek jadi butuh istirahat."


"Kalau lo mau balik ya balik aja sendiri gak usah ngajak gue! Gue mau disini. Lagian tadi gue gak pernah ngajak lo kesini, lo-nya aja yang maksa buat ikut gue" tolak Angel dengan tegas.


"Tap--"


"Kalau lo masih banyak ngomong di sini, mending lo balik aja!!! Gue gak suka sama orang yang banyak bacot dan banyak mau-nya!" potong Dimas.


Angel menatap Allen dalam, " denger Allen, kalau kamu masih ngotot maksa aku pulang saat ini juga, mending perjanjian kita stop sampai sini. Aku akuin kalau aku udah mulai sayang sama kamu, aku udah mulai terbiasa dengan kehadiran kamu. Tapi jika kamu masih maksa aku pulang, kita stop aja!" lalu Angel berbalik menatap Dimas, "Dim, gue tunggu lo di ruang kerja. Ada yang mau gue bicarain sama lo. Ini soal rencana kita! Gue naik dulu," ucap Angel lalu pergi meninggalkan ruang makan.


Dimas hanya mengangguk sebagai respon dari ucapan Angel.


"Gue gak tau sebesar apa rasa sayang Angel ke lo.. tapi yang jelas itu gak kecil, dilihat dari sorot matanya. Dia bener-bener sayang sama lo.. gue cuma minta satu hal sama lo, jangan pernah nyakitin dia apapun alasannya. Kalau lo sampe berani nyakitin dia, gue bakal jauhin lo dari dia dan gue gak bakal biarin lo ketemu sama dia sampai kapanpun!" ancam Dimas.


Allen tersenyum, "gue gak bakal nyakitin dia kak. Lo tau? Setelah gue kehilangan nyokap gue, dunia gue serasa gak ada apa-apanya.. semuanya berubah, hidup gue gak seindah harapan gue waktu kecil. Bahkan orang yang gue anggap sebagai pelindung gue aja terkadang terasa asing buat gue. Tapi semuanya berubah saat gue ketemu sama Angel, hidup gue jadi ada warna-nya gak lagi abu-abu kayak biasanya. Gue dulu selalu ngerasa jijik sama orang yang alay dan suka ngegombal. tapi berkat adek lo, gue udah gak jijik lagi... bahkan setiap kali ada kesempatan, gue selalu ngegoda adek lo... gue akuin gue salah karena udah ngambil kesucian dia tanpa ada ikatan pernikahan, tapi gue gak ada cara lain selain itu kak... waktu itu gue ngerasa seneng, di otak gue cuma ada 'gimanapun caranya Angel gak boleh pergi dari kehidupan gue... lo emang pantas marah sama gue kak." Lirih Allen.


"gak cuma marah doang, gue pengen matiin lo saat itu juga!" gumam Dimas pelan tapi masih bisa didengar oleh Allen.


Allen tersenyum maklum, " gue juga ngerti kok kak gimana perasaan lo saat tau adek lo udah gak perawan lagi... dulu gue juga punya adek perempuan, jadi gue bisa ngerti sikap lo ke gue gimana... gue minta maaf karena udah ngerusak adek lo... gue cuma gak mau dia pergi dari gue setelah perjanjian terkutuk itu selesai."


Dimas menggelengkan kepalanya, "yang lo bilang terkutuk itu yang buat lo semakin deket sama adek gue... gue tau lo kesepian tapi gak sampe ngerusak adek gue juga kali."


"Sorry, buat yang satu itu... lagian yang satu itu gak bisa diulang lagi," ucap Allen penuh dengan goda.


Dimas menatap Allen tajam, kalau aja tidak ada orang yang sedang menguping pembicaraan mereka. Sudah ia pastikan pisau melayang ke arah Allen. Mungkin sekarang ia harus belajar menerima kehadiran Allen di keluarganya.


"Gue mau naik dulu, jangan lupa beresin semua ini. Itung-itung latihan jadi calon adek ipar yang baik!" ucap Dimas lalu beranjak pergi meninggalkan Allen.


Allen menatap Dimas tak percaya, "jadi sekarang lo nerima gue kak?" Tanya Allen.


Dimas berhenti, "tergantung gimana lo nyikapin semuanya setelah kerjaan gue dan Angel selesai." Balas Dimas dan pergi.


Allen menatap bingung punggung Dimas.


~*~*~*~*~


Tok tok tok


"Masuk!"


Pintu terbuka menampakkan seorang wanita muda berpakaian rapi dan cantik.


Wanita itu menunduk hormat kepada atasannya. Memang tak ada satupun di kantor ini yang bernai sama bosnya. Selain pemarah, bos-nya yang satu ini pendendam, suka seenaknya, dan tidak menerima kekalahan.


"Permisi pak, ada apa bapak memanggil saya?" Tanya wanita itu.


"Batalkan semua pertemuan saya dengan semua calon investor sampai minggu depan, kerena saya sudah mendapatkan investor yang menjanjikan," perintah sang bos.


Wanita itu menatap bosnya bingung, " tapi pak? Kita sedang membutuhkan suntikan dana yang besar. Tidak mungkin kita membatalkan semuanya pak."


Hengki menatap sekretarisnya tajam, " dengar Lexa, tugas kamu cuma menuruti perintah saya. Saya yakin dengan investor kita kali ini. Kamu tau pembisnis Dimas Anggoro?"


Alexa menelan susah salivanya saat mendengar nama itu.


"Iya pak"


Hengki tersenyum, "tentu saja kamu tau, kita bertiga baru dua hari yang lalu bertemu di pesta.. kamu tau adiknya lelaki itu?" Tanya Hengki kepada Alexa dan di balas gelengan kepala oleh Alexa.


"Angel. Angelica.. nama yang cantik bukan? Kamu tau? Sejak melihat Andra bersama pacarnya di mall waktu itu, saya langsung mencari tau semua tentang gadis itu... saya merasa heran, bagaimana bisa bocah yang masih bau kencur mau memberi kita suntikan dana yang tidak bisa di bilang sedikit itu... dan lebih mengagetkan lagi...ternyata bocah itu adiknya Dimas Anggoro, seorang pembisnis muda yang maju saat ini... tidak heran jika bocah itu bisa menyuntikkan dana sebesar itu ke kita."


Alexa hanya menganggukan kepalanya paham.


"Baik pak, saya akan segera mengatur ulang semua jadwal bapak.. saya pamit kembali keruangan saya pak," pamit Alexa.


Hengki hanya menganggukan kepalanya.


Setelah Alexa keluar dari ruangnya, Hengki menggeram marah jika mengingat ada orang yang berniat menghancurkan perusahaannya. Siapa yang berani melakukan ini semua kepadanya. Apa mereka tidak tau siapa dia?


Akh. Lagipula kalaupun perusahaan ini hancur tak masalah, karena ia masih punya satu perusahaan cadangan yang akan segera menjadi miliknya. Ia hanya harus bersabar dengan perusahaannya ini selama satu tahun lagi. setelah itu, terserah mau bagaimana perusahaan ini. Ia tak peduli.


Iya!!


Satu tahun saja, setelah itu ia akan lepas dari perusahaan ini. Ia sudah tak sabar menunggu waktu itu tiba.