
"Aku gak tau kanapa aku bisa suka dan cinta sama kamu. Tapi yang aku tau cuma satu yaitu kamu hanya di ciptakan untukku,” ucap Allendra.
"Gak usah alay deh. udah ah lepasin!" ucap Angelica.
Ia memang sengaja meminta Allendra buat ngelepasin pelukannya. Ia merasa masih agak gak nyaman aja dengan kehidupannya sekarang. Ia masih harus beradaptasi terlebih dahulu. Ia juga harus bisa terbiasa dengan sikap Allendra yang bakalan manja sama dia, ia yakin itu pasti terjadi.
"Gak ah! aku masih pengeng meluk kamu sayang,” ucap Allendra dengan manja.
Angelica hanya memutar malas bola matanya. Angelica membalas pelukan Allendra supaya Allendra cepat melepaskan pelukkannya. Kalau boleh jujur Angelica benar-benar merasa risih dengan perilaku Allendra yang alay itu.
"Udah sana lo berangkat.. ntar telat baru tau rasa lo!" ucap Angelica.
Mau tak mau Allendra terpaksa melepas pelukannya.
"Kamu gak bisa di ajak romantis sedikit!" ucap Allendra dengan raut wajah cemberut.
Angelica menaikkan alisnya. Ia bingung, romantis dari mananya coba? gak ada romantis-romantisnya. Pikir Angelica.
"Udah gue bilang gak usah alay deh lo. Nanti kalau gue ilfil sama lo gimana coba? Gue sih seneng-seneng aja, gak tau kalau lo gimana?" Ucap Angelica dengan santai.
Allendra yang memdengar jawaban keluar dari mulut Angelica bertambah cemberut. Karena ia fikir tadi apa yang ia lakukan adalah hal romantis. Hal-hal yang sering di lakukan oleh sepasang kekasih.
"alay darimananya sih yang? Tadi itu romantis! bukan alay Angel sayang, cintaku, duniaku, bebebku, pokoknya segalanya untukku!" protes Allendra.
Angelica langsung merasa jijik dengan ucapan Allendra barusan. Bukan dia gak normal atau apa, cewek mana yang gak suka di gombalin sama Allendra yang ketampannya tak perlu di pertanyakan lagi. Tapi ia beda dengan semua cewek yang ada, di saat semua cewek suka di gombalin langsung merasa berbunga-bunga dan pipinya langsung merah merona. Beda halnya dengan Angelica, ia justru sangat menghindari dari gombalan para cowok yang menurutnya hanyalah omong kosong, ia bahkan merasa jijik dan geli mendengar gombalan-gombalan yang unfaedah itu.
"Romantis dari mana coba?" Tanya Angelica.
"Ihhhh, sayang kan kamu sering baca novel, masa gak tau kalau yang kayak tadi itu adalah hal yang romantis?" Tanya Allendra dengan gemas, karena Angelica terus aja menemukan jawaban dari ucapannya. Tentu saja Allendra gak mau kalah!
"Eh.. lo pikir ini dunia novel. Sadar woi! ini tu dunia nyata, dunia yang penuh dengan kenyataan-kenyataan yang pahit, gak kayak novel yang ceritanya penuh dengan kebohongan!" balas Angelica.
"Kan apa salahnya ngelakuin hal yang romantis sama hal nya dengan novel yang kamu baca?" Ucap Allendra yang tak mau kalah dengan Angelica.
Angelica tersenyum miring mendengar ucapan Allendra. Allendra emang udah gila, dia pikir kehidupan di dunianya nyata bisa apa di samain dengam cerita di dunia novel. Dunia yang penuh dengan imajinasi orang, cerita yang sengaja di atur orang, dirangkai orang. Sedangkan dunia nyata penuh dengan takdir yang di atur dan dirangkai oleh Tuhan bukan manusia.
" maksud lo ngelakuin hal-hal yang unfaedah itu? nyadar dong lo, ini itu dunia nyata, dimana semuanya itu diatur sama Tuhan bukan dunia novel yang diatur oleh otak dan pemikiran orang!"ucap Angelica dengan santai.
"Kan takdir Tuhan bisa kita rubah kalau kita mau!" Allendra tak mau kalah.
"Ingat Allendra di situ ada kata 'kalau'... gimana jika kata itu gak ada? gue gak mau merubahnya."
"Ya berarti kamu gak mau romantis-romantisan sama aku dong?" Tanya Allendra.
"Emang!" balas Angelica dengan singkat.
"Emang!" singkat, padat, dan jelas. Itulah jawaban yang dilontarkan oleh Angelica. Dapat Angelica lihat jika Allendra cemberut dengan jawaban yang dilontarkannya.
"Gak usah lebay lo. Emang sekarang gue belum suka sama lo. Tapi gak nutup kemungkinnan suatu saat gue bisa suka sama lo," lanjut Angelica.
Allendra yang mendengar itupun langsung senyum kembali. Ia berjanji akan dan pasti membuat Angelica nyaman dengannya, sehingga Angelica bisa mencintainya. Ia berjanji akan hal itu. Itu akan terjadi suatu hari nanti.
"aku bakal membuat kamu nyaman sama aku#" ucap Allendra dengan antusias.
"Hmmmm, terserah lo aja."
Angelica menaikan alisnya. Ia juga melihat jam dinding. Sekarang udah jam 7 kurang 15 menit. Itu berarti Allendra hanya memiliki waktu setengah jam agar tidak telat.
"Yaudah sana lo berangkat!” perintah Angelica.
"Iya iya sayang... duh perhatian banget sih," ucap Allendra mencubit pipi Angelica.
"Alleennn!! Sakit tau gak!” protes Angelica menjauhkan tangan Allendra.
"Mana yang sakit?" Tanya Allendra yang tak masuk akal.
"Lo **** apa pura-pura **** sih? Ya pipi gue lah yang sakit, masih pake nanya lagi!” ucap Angelica dengan kesal sambil mengusap pipinya.
Cup
Allendra mencium pipi Angelica dengan cepat. Sedangkan Angelica hanya mematung seperti kemarin saat Allendra menciumnya. Kediamannya Angelica di manfaatkan oleh Allendra melarikan diri sebelum terkena omelan Angelica.
"ALLENDRAAAAA!!! SEKALI LAGI LO NYIUM PIPI GUE, GUE HAJAR LO SAMPE ******!!!" Teriak Angelica yang tidak terima dengan tingkah Allendra yang kelewatan.
Allendra terkikik geli mendengar teriakkan Angelica. Berarti gue boleh nyium bibirnya dong, pikir Allendra.
~*~*~*~*~
Sepeninggalan Allendra, Angelica lansung membersihkan dirinya. Hari ini ia berencana akan menemui Dimas. Ia akan memberitahu ke Dimas apa rencananya, ia yakin Dimas akan menolak dengan keras idenya. Tapi ia harus bisa meyakinkan ke Dimas kalau semuanya akan baik-baik saja. Walau kemarin ia sempat meyakinkan Dimas. Tapi ia yakin kalau Dimas belum bisa percaya dengan dengan rencananya.
"Lo bilang kalau kita bisa mengubah takdir dari Tuhan jika kita mau?! tapi gue gak bisa mengubah takdir ini. Gue udah kehilangan orang yang gue sayang, gue mau waktu berputar kembali ke masa lalu supaya gue bisa nyelamatin dia!” ucap lirih Angelica saat mengingat ucapan Allendra tadi kepdanya.
Angelica tertawa miris. Buat apa ia percaya kalau ia bisa merubah takdir jika ia mau. Buktinya semua itu hanyalah omong kosong saja. Tadir itu sudah di atur oleh Tuhan dan gak mungkin bisa dirubah. Kalaupun bisa, ia ingin merubah tadirnya. Takdir yang memisahkannya dari orang yang dia sayangi. Takdir itu yang membuat Angelica seperti sekarang ini. Sosok yang dingin tapi penuh dengan dendam.
Ia menghapus air matanya yang tak ia sadari kapan keluarnya. Buat apa ia menangis. Tak ada gunanya. Semuanya sudah terjadi dan tak bisa ia rubah. Ia cuma bisa membalaskan dendamnya. Dendam yang akan segera terlaksanakan.
"Lo gak boleh lemah, Angel!! lo harus kuat. Lo pasti bisa membalaskan dendam-nya!" ucap Angelica dengan dirinya sendiri.
~*~*~*~*~