A Choice

A Choice
Selamat Datang



Salsa bersama om dan juga istrinya mendapat tempat duduk di lantai 2 bagian pinggir didekat jendela, jarak ke kamar mandi dan musholla juga tak begitu jauh, sehingga mereka tidak merasa kesulitan ketika ingin ke kamar mandi maupun menunaikan sholat.


"Salsa, kamu kuat bangun?" Omnya bertanya pada Salsa.


"Nggak kuat om ombaknya kencang. Kalo bangun jadi pusing".


"Ya sudah kamu sholatnya di ganti kalo udah sampai di rumah"


Waktu sholat Dzuhur memang sudah berkumandang, tanda panggilan dari sang Robb untuk melaksanakan kewajiban sebagai ummat muslim. Namun Allah juga tidak memaksakan hamba-nya saat melaksanakan perjalanan jauh, bisa saja dilaksanakan dengan dijamak atau digabung antara sholat Dzuhur dan ashar.


Salsa tak banyak bicara selama ia jauh dari ayahnya, dia lebih banyak diam dan memikirkan bagaimana harus hidup tanpa keluarga yang ia sayangi. Dia terus berpikir apa yang akan dia rasakan setelah seminggu, sebulan, bahkan setahun ia tak bertemu dengan keluarganya.


Salsa masih merasa sedih dengan keadaannya. Walaupun ayahnya telah berpesan agar ia menjadi anak yang kuat. Namun, sekuat apapun seorang anak ia juga akan merasa sangat sedih bila harus jauh dari keluarganya, apalagi ini adalah kali pertama Salsa hidup jauh dari keluarganya.


Di sepanjang perjalanan di kapal, Salsa terus berusaha agar tak terlihat sedih. Namun tantenya tetap tau apa yang dirasakan Salsa saat ini. Yaitu merasa sangat sedih berada jauh dari keluarga.


Semakin jauh berlayar, kapal pun semakin bergoyang karena terpaan angin yang memang cukup kuat saat di musim kemarau seperti sekarang ini. Salsa tidak kuat untuk bangun dan tidak bisa jalan kemana-mana. Salsa hanya bisa berbaring, ia bangun hanya saat ingin ke kamar mandi, setelah itu ia langsung kembali ke tempatnya untuk berbaring.


Salsa memang baru pertama kali merasakan naik kapal yang sangat besar. Pelni, itulah nama kapal yang sedang mereka tumpangi saat itu. Walaupun kapalnya besar namun kencangnya angin di tengah laut tidak dapat dikalahkan oleh besarnya kapal. Karena deburan ombak yang sangat besar hingga membuat kapal juga sedikit kalah.


Saat itu Salsa sangat takut, apalagi saat banyak orang yang mabuk. Dia takut jika di perjalanan ia menyusahkan Tante Irna maupun om Ilham. Dia terus berusaha bertahan agar tidak mual dan mabuk karena dia masih merasa sedikit canggung pada Tante barunya.


" Salsa, kamu bangun dulu nak, ayo kita makan dulu." Tante Irna mencoba membangunkan Salsa untuk sarapan.


Setelah kamu makan nanti kamu tidur lagi.


"Belum lapar Tan. Nggak bisa makan, kalo bangun pusing" jawabnya dengan posisi masih berbaring


"Coba dulu. Sini sandar di tiang kalo pusing. Kalo kamu sandar nggk terlalu terasa pusingnya". Om Ilham menjelaskan dan menawarkan untuk bersandar pada tiang kapal.


"Salsa coba dulu om". Akhirnya Salsa mencoba untuk bangun dan makan.


Memang sebenarnya dia merasa lapar, tetapi karena dia merasa susah bangun maka rasa laparnya ia tahan dan memilih untuk tidur.


Salsa belum berhenti memikirkan bagaimana orang rumahnya, karena di tengah laut masih belum ada jaringan sehingga dia belum bisa menelepon dengan ibu dan ayahnya.


Ketika sore menjelang magrib ombak menjadi lebih tenang karena Salsa akan sampai ke pelabuhan Makassar sekitar jam 21.00.


Setelah tempat tujuan semakin dekat perasaan yang dialami Salsa juga semakin tidak karuan, dia terus menerus memikirkan org tua dan juga adiknya.


Semakin Salsa berusaha tegar semakin ia merasa hatinya merasa rapuh dan tidak semangat. Tapi ia juga terus berusaha tegar dan tidak menangis.


Salah satu usaha yang dilakukan oleh om dan tantenya adalah dengan mengajaknya cerita dan mengajaknya bercanda.


"Iya om. Semoga nanti Salsa betah dan punya banyak teman disana" ucap Salsa pada omnya yang berusaha menguatkan.


"Iya dong. Kamu pasti akan banyak teman dan di sana teman kamu baik-baik semua".


"Iya om. semoga aja Salsa dapat teman yang baik dan cepat bersahabat dengan Salsa".


"Aamiin. Kamu harus semangat sekolahnya. kamu jangan mudah menyerah". Tantenya juga ikut menguatkan dan memberi semangat.


"Iya tante, Salsa ingin punya teman seperti Difa dan Zahra. Mereka baik, sabar, pengertian dan sayang sma Salsa". Lagi-lagi Salsa ingat kepada kedua sahabatnya dikampung.


"Iya. pasti ada kok. ketika kita pergi dari sesuatu yang baik maka Allah akan mengirim yang lebih baik dari sebelumnya. Kamu jangan pernah bosan berdoa dan jangan putus asa".


"Iya Tante". Jawab Salsa singkat.


Beberapa saat kemudian, jam telah menunjukkan jam 20.40 dan ombak semakin tidak terasa, tanda bahwa mereka akan sampai beberapa menit lagi.


"Om, berapa lama lagi kita di kapal?" Tanya Salsa yang sudah mulai bosan berada diatas kapal.


"Sebentar lagi nak, mungkin 35-40 menit lagi kita sampai" jawab om Ilham pada Salsa yang sudah terlihat tidak sabar ingin sampai di daratan.


Ia tak sabar ingin sampai bukan berarti ia sudah lupa akan kampungnya. Ia ingin cepat sampai karena sudah merasa sangat bosan berada di kapal yang tidak bisa berbuat apa-apa.


Setelah 20 menit kemudian, ada pemberitahuan yang terdengar dari pemberi informasi, dia memberi tahu bahwa kapal akan segera bersandar di pelabuhan Makassar. Dan dari sumber suara tadi juga meminta agar para penumpang mempersiapkan dan memperhatikan semua barang bawaannya, diharapkan agar diperiksa kembali sebelum turun dari kapal sehingga tidak ada yang tertinggal.


"Salsa, ayo nak kita sudah mau sampai di pelabuhan, sebentar lagi kapal akan bersandar". ucap Tante Irna pada Salsa.


"Oh iya tante, kalo kita turun, barangnya langsung dibawa semua ya?". Tanya Salsa yang masih bingung karena memang barang bawaan mereka sangat banyak dan jika dibawa sekaligus sehingga tidak akan bisa di bawa turun sekaligus.


"Tidak nak, nanti kamu jaga bawang disini, om dan Tante bawa turun sedikit jadi barang yang belum diangkat kamu jaga". Jawab tantenya.


Mereka pun turun membawa sedikit demi sedikit barang bawaannya. Setelah semua barang sudah di angkat Salsa juga ikut turun ke bawah bersama om dan tantenya.


Dibawah sudah ada tiga orang yang menunggu kedatangan mereka. Dan salah satu diantara ketiga orang tersebut mengenal Salsa. Orang itu adalah ibu Fifi.


Salsa hanya tersenyum melihat ibu Fifi yang menyambut kedatangan Salsa dengan sangat bahagia . Ibu Fifi langsung memeluk Salsa.


"Alhamdulillah yah Sa, akhirnya kamu sampai juga di tanah Sulawesi. Selamat datang di tanah Sulawesi, tanah yang akan menjadi tempatmu menuntut ilmu agama" ibu Fifi sangat bahagia dengan kedatangan Salsa.


Salsa hanya membalas dengan senyuman, dan dalam hati ia berharap bisa betah dan tidak merasa asing di tanah perantauan.