
...HAPPY READING...
...***...
Caramel berjalan menemui sang bunda dengan begitu banyak kertas bukti transfer.
Bunda sedang ada di dapur mengaduk minuman coklat panas yang akan di suguhkan kepada sang putrinya.
"Bunda....". Caramel berhenti setelah bertemu dengan bunda yang sudah membawa napan dengan minuman dia gelas coklat. Dengan perasaan gusar dan marah.
"Sayang, ayo kita nikmati coklat buatan Bunda!",ajak bunda yang sudah berjalan ke ruang tamu.
"Bunda, boleh Caramel tanya sesuatu?",tanya Caramel yang mengikuti langkah sang bunda.
"Tanya apa sayang?",tanya bunda balik yang meletakkan segelas coklat di meja.
Caramel tidak tega menanyakan ini semua kepada sang bunda. Dia tidak akan bisa marah bila berhadapan dengan bunda.
Bunda mencermati wajah Caramel yang kebingungan dan sepertinya sedang menahan marah. "Ada apa sayang?",tanya bunda sekali lagi.
"Maafkan Caramel Bun, tapi bolehkah Caramel bertanya sama bunda?",tanya Caramel mencoba untuk tenang dengan masalah ini.
"Boleh. Apa?".
Caramel memperlihatkan beberapa kertas bukti transfer kepada sang bunda. "Ini maksudnya apa Bunda?. Kenapa Tiara mengirimkan uang sebanyak ini kepada Mama Mona?",tanya Caramel yang sudah berkaca-kaca.
Bunda tercengang melihat bukti transfer yang masih Tiara simpan di dalam kamarnya. "Sayang, kamu menemukannya dimana?",tanya Bunda khawatir Caramel marah.
"Di lemari meja belajar Bunda",jawab Caramel. Ia meraih kedua tangan sang bunda bahwa ia sedang terluka melihat bukti transferan itu. "Jawab pertanyaan Amel Bun, apa selama ini uang yang Amel kirimkan buat sekolah Tiara diminta oleh Mama Mona?",tanya Caramel dengan pikiran yang sudah tidak tenang lagi. Karena selama ini ia bekerja untuk menyekolahkan sang adik supaya tidak dipandang sebelah mata.
"Sayang, ini semua bukan salah adik kamu",jelas Bunda.
"Bun, lalu biaya selama ini buat kuliah Tiara dari mana Bun?",tanya Caramel penuh selidik.
Bunda mengajak Caramel untuk duduk di kursi sofa supaya tenang. "Adik kamu bekerja keras selama ini sayang".
Caramel meneteskan air mata mendengarkan penjelasan dari sang bunda.
"Dia bekerja keras mengambil part time pada saat waktu senggang. Dia juga, berusaha untuk melawan Mona, tapi apa yang adik kamu dapatkan. Hanya caci maki yang dia terima",ungkap bunda sedih.
Caramel tahu bahwa semenjak ayah dan bunda bercerai, mereka berdua sepakat bahwa hak asuh Caramel jatuh ke tangan ayahnya, sedangkan Tiara jatuh ke tangan sang bunda. Caramel menundukkan kepalanya, malu karena tingkah laku mama tirinya itu, karena selama ini Caramel juga memberikan jatah kepada Mona tiap bulannya. "Bunda, Amel minta maaf Bunda. Amel tidak tahu selama ini ternyata bunda dan Tiara menderita karena Amel",tangisan Caramel pecah di pelukan sang bunda.
Bunda menenangkan Caramel mengelus anak rambutnya. Ia tahu bahwa kedua anaknya saat ini sedang terluka karena keegoisan Andika, ayahnya. "Kamu tidak perlu minta maaf sayang sama bunda. Bunda dan ayah kamu yang seharusnya minta maaf sama kalian. Karena keegoisan kita, kalian jadi menderita seperti ini. Maafkan bunda sayang!". Peluk Bunda erat merasakan sesak di dalam dadanya yang terasa sesak.
Amel melepaskan pelukan sang bunda. "Amel akan membuat perhitungan sama Mama Mona, Bun. Ini semua tidak bisa dibiarkan terus menerus!",kata Caramel yang melepaskan genggaman tangan dari sang bunda dengan perlahan. "Amel pamit dulu, Bun. Assalamualaikum!",sambungnya yang langsung berlari keluar rumah.
Bunda mengejar Caramel supaya Caramel tidak membuat perhitungan dengan mama tirinya. "Amel... Amel....!",panggil bunda tergopoh-gopoh mengejar Caramel tetapi Caramel lebih cepat naik mobil dan pergi dari perumahan. "Bunda mohon sayang, jangan!!!. Kasihan adik kamu. Pasti akan disalahkan oleh keadaan ini!!!",lirih bunda sedih.
Disisi Caramel mengendarai mobil diiringi Isak tangisan. Hatinya kini hancur berkeping-keping karena telah dibohongi oleh Mama tirinya itu. Ia memukul-mukul stir mobil. "Bodoh... Bodoh....!!!!. Kenapa gue harus percaya sama nenek lampir itu. Benar apa yang dikatakan Tiara selama ini, dia pantas di sebut nenek lampir!!!!",oceh Caramel membodohi dirinya sendiri karena gagal dalam membiayai kuliah sang adik. "Maafkan kakak sayang, kakak tidak bermaksud menyiksa kamu seperti ini. Kakak benar-benar tidak tahu akan hal ini. Maafkan Kakak sayang!!!!".
Tiara masuk kedalam rumah setelah mengucapkan salam. Ia melihat sang bunda sedang duduk di meja makan sambil memandang sebuah barang belanjaan di meja makan. Ia menyampirkan tas di kursi meja makan. "Bunda habis belanja?",tanya Tiara melonggarkan tempat duduk supaya mudah untuk ia duduki.
Bunda masih termenung mengingat kejadian tadi. Matanya sembab karena air mata terus menerus mengalir di pipinya.
Tiara mengenyitkan dahinya bingung. Tidak biasanya Bunda berdiam diri seperti ini. "Bunda sakit?".
"Bunda udah bilang sama kamu, buang bukti transaksi transfer kepada Mona. Tetapi apa......kamu masih menyimpannya bukan?",marah bunda tidak berani menatap kedua mata anak bungsunya. Karena ia sadar anak bungsunya itu juga menderita karenanya.
"Tapi Bunda?".
Bunda berdiri langsung mengebrak meja makan.
Brruuukkkkkk....
Tiara tercengang tidak percaya bahwa sang bunda sampai mengebrak meja makan. "Ada apa sih Bunda, bunda marah sama Tiara?. Kenapa bunda marah sama Tiara?. Ada apa Bun?",tanya Tiara.
"Gara-gara bukti transferan yang kamu simpan itu, Kak Amel tahu semuanyaaaa!!!",jelas Bunda yang membuat Tiara tercengang tidak percaya.
Tiara segera masuk kedalam kamarnya. Ia membuka pintu dengan paksa dan melihat kamarnya berantakan. Kertas-kertas bukti transferan berserakan di lantai. Ia menghampiri bundanya. "Kapan kakak kesini Bun?",tanya Tiara khawatir bila sang kakak marah kepadanya.
"Dia baru saja keluar dari rumah ini. Dan mungkin pergi ke rumah Mona",jelas Bunda lemas duduk di kursi makan.
Tiara mengambil tas yang disampirkan di kursi meja makan. Ia bergegas mengejar sang kakak.
Tiara menghentikan taksi yang lewat didepan rumah. "Ke Perumahan Elit Jendral Sudirman Pak!",kata Tiara setelah masuk kedalam taksi.
"Baik Mbak",jawab sang sopir yang langsung menjalankan pedal gasnya.
Tiara tidak henti-hentinya mencoba menghubungi sang kakak, tetapi sang kakak tidak ada respon sama sekali. Ia menyandarkan punggungnya untuk menstabilkan pikiran yang entah berantakan. Maafkan Tiara kak, Tiara sudah membohongi kakak selama ini. Bukan maksud Tiara seperti ini, tapi Tiara terpaksa melakukannya. Maafkan Tiara Kak!!!.
*
*
*
Caramel sudah sampai ditempat tujuan. Ia menghentikan mobil didepan rumah yang dulu ia tempati untuk beberapa tahun yang lalu. Ia keluar dengan emosional yang sudah tidak bisa ia kendalikan. Rumah yang tak seharusnya ada didalam hidupnya. Rumah yang membuat ia menderita. Rumah yang telah menghancurkan hati sang bunda. Rumah yang tak semestinya untuk wanita itu.
Caramel menekan tombol beberapa kali tak henti-hentinya.
"Siapa sih yang bertamu tidak tahu attitude!!!",oceh seseorang dalam rumah. Ia membuka pintu tanpa melihat dari lubang kecil.
Dan...
Caramel berdiri dengan tegak didepan pintu sambil membawa bukti transaksi transfer ke rekening Mona.
"LOEEEE!!!!",seru Icha yang kesal melihat Caramel mengunjungi rumah.
Caramel langsung masuk kedalam rumah. "Dimana Mama dan Ayah?",tanya Caramel yang sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Icha.
"Loe ngapain datang kesini?. Bukankah dirumah milik suami loe itu udah punya segalanya?",oceh Icha sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Gue datang kesini buat ketemu sama mama dan ayah. Dimana mereka?",kesal Caramel.
"Mama dan ayah gak ada dirumah!",jawab Icha sengit.
Caramel tidak percaya dan tidak yakin atas jawaban dari Icha. Ia berjalan masuk kedalam masih memanggil-manggil mama dan ayah. Sesampai di ruang tengah lengan Caramel di cekal oleh Icha.
"Loe punya sopan dan santun gak sih!!!. Gak seharusnya sifat loe seperti ini setelah menikah dengan tuan Reizo!!!",marah Icha yang memegang lengan Caramel dengan kasar.
"Lepasin gak Cha?",perintah Caramel yang tidak digubris oleh Icha.
"Kalau tidak bagaimana?",tantang Icha. "Loe akan laporan sama suami loe yang kaya raya itu?",sambungnya.
Caramel sudah naik pitam. Ia lalu.mengibaskan lengannya dengan keras dan Icha oleng karena kekuatan Caramel yang penuh itu.
Icha tersungkur ke lantai. Ia marah dan kesal melihat Caramel yang bersikap bar-bar didalam rumahnya.
"Woiiii.... apa-apaan kalian ini!!!",teriak Mona yang baru saja keluar dari dalam rumah.
Icha pura-pura menangis kesakitan supaya Caramel kena imbasnya. "Sakit Ma....!",keluh Icha.
"Amel, kamu apain saudara kamu?",tanya Mona yang dengan sigap membantu Icha berdiri. "Ayo sayang!. Kamu tidak apa-apakan?",tanya Mona membantu anak gadisnya itu. Ia mendudukkan Icha ke sofa ruang tengah. "Minta maaf sama saudara kamu?",perintah Mona.
"Amel gak salah Ma. Icha sendiri yang mencekal lengan Amel sampai merah seperti ini. Tanya aja sama Icha sendiri?".
"Dia bohong Ma. Dia tadi dorong Icha sesuka hatinya!",elak Icha merintih kesakitan.
"ICHA!!!. Kenapa sifat kamu tidak pernah berubah sama sekali. Kamu selalu memfitnah aku sama Tiara. Apa salah kami?",keluh Amel kesal melihat tingkah laku Icha seperti anak kecil.
"AMEL,,, CUKUP!!!",bentak Mona. "Kamu dari dulu tidak pernah berubah!!!. Mau kamu apa sebenarnya dari anak saya?",marah Mona kepada Amel.
Caramel tidak habis pikir, mama Mona selalu membela anak-ananya, walaupun anak-anaknya itu salah. "Mama ingin tahu mau Amel apa?. Amel mau, mama mengembalikan semua uang transferan dari Tiara!!!",pinta Amel.
"Uang transferan yang mana Amel?. Mama tidak pernah menerima uang sepeser pun dari Tiara. Itu tidak pernah!!!".
Caramel membuang semua bukti transferan ke langit-langit atap hingga kertas-kertas itu berterbangan dengan sesuka hati di tubuh Mona dan Icha. "Apa perlu bukti lagi Ma?".
Rahang Mona mengeras melihat tindakan Caramel yang tidak pantas terhadapnya. Awas aja Tiara, kamu akan menanggung akibatnya!!!.
...***...
...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...
...Terimakasih ...