
Kini Salsa berada di kelas 6 SD. Biasanya saat seorang Siswa berada di akhir sekolahnya, ia akan banyak merencanakan bagaimana setelah ia lulus nanti, begitu juga dengan Salsa. Namun rencana Salsa ini melibatkan rencana keluarga besarnya.
“Sa, kamu sudah mau lulus yah” kata ibu memulai pembicaraannya.
“iyya nih bu. Kira-kira kalo Salsa lulus SD mau lanjut dimana yah? Salsa bingung, temen-temen Salsa nggak ada yang pusing soal ini” jawab Salsa.
“Nak. nanti kalo kamu sudah lulus SD, kamu akan sekolah jauh, dan kamu akan hidup berjauhan dengan ayah, ibu dan juga adik kamu Fawwaz”. Ibunya mulai menjelaskan niatnya untuk menyekolahkan salsa di tempat omnya.
“Hah? Dimana bu? Ibu mau aku pergi jauh?”
“Bukan gitu nak, ibu dan ayah berharap nantinya kamu itu menjadi perempuan yang sukses, nggak seperti ibu dan ayah yang hanya menjadi petani, Salsa mau kan membahagiakan kami?” tanya sang ibu.
“ya mau lah ibu, aku tuh mau buat ibu dan ayah bahagia dan mau kasih naik haji kalian nanti kalo Salsa sudah sukses”. Salsa menjawab dengan penuh semangat.
Mendengar apa yang dikatakan Salsa anaknya, ibunya langsung menangis karena bahagia.
“nah kalo gitu kamu harus belajar yang rajin, kamu harus bisa buktiin pada ayah dan ibu kalo kamu itu bisa sukses” sang ayah melanjutkan perkataan ibu tadi.
“jadi Salsa harus sekolah jauh?” tanya Salsa.
“iyya, kamu akan ikut dengan om kamu yang berada di Makassar” jawab ayah Salsa.
“hah? Jauh banget ayah. Emang kalo sekolah di dekat sini nggak sukses ya?” sepertinya Salsa kurang setuju karena jarak antara Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan memang sangatlah jauh.
Setelah ibu dan ayahnya menjelaskan panjang lebar akhirnya Salsa pun luluh dan bersedia mengikuti keinginan orang tuanya.
Saat Salsa berada di sekolah ia masih memikirkan apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya.
“Salsa, kamu kenapa? Tumben kamu murung?” tanya Zahra sahabatnya.
“iyya nih Ra, aku bingung. Orang tuaku mau aku lanjut sekolah di Sulawesi tempat omku” Salsa sedikit bercerita.
Zahra kaget mendengar cerita Salsa, karena setau Zahra Salsa ingin mondok yang tidak jauh dari kampungnya
“Hah. Yang bener Sa? Jadi kalo kamu udah lulus akan pindah ke Sulawesi dong”
“iyya Ra. Aku bingung. Aku nggak mau jauh-jauh dari keluargaku”.
“iyya Ra. Tapi aku belum siap jauh dari mereka. Aku masih mau tinggal sama mereka, au mau kita tetap sama-sama seperti ini”.
Salsa semakin sedih karena dia juga akan berpisah dengan kedua sahabatnya itu.
Setelah beberapa minggu ternyata Salsa masih memikirkan bagaimana kisah perantauannya nanti, dia mulai membuka pembicaraan dengan ibunya.
“Ibu, kalo Salsa ke Sulawesi berapa tahun baru pulang kesini?”
“yaa kalo om kamu pulang otomatis kamu juga ikut pulang” (disini Salsa selalu menyebut kata sulawesi karena memang dia belum tau apa nama kampung yang akan dia jadikan sebagai tempat perantauan nantinya).
“om kan jarang pulang bu, jadi Salsa akan jarang pulang juga dong”. Salsa mulai lemas.
“ibu, kenpa Salsa nggak mondok deket kampung bu, kan enak bisa sering pulang, ketemu ibu, ayah, adik, dan yang lainnya” lanjut Salsa.
“Nak, kata ayahmu kalau mau sekolah dan sukses itu jangan tanggung-tanggung, jangan sekolah deket-deket supaya kamu nggak sering pulang dan bisa fokus sama sekolah kamu”. Ibu Fitri menjelaskan ayahnya kepada Salsa.
Salsa selalu berpikir bagaimana kehidupannya setelah ia berada di Sulawesi, dia berpikir akan meninggalkan keluarga, guru-guru, dan juga sahabatnya. Dia selalu membayangkan bagaimana kehidupannya jika tanpa mereka, apakah disana akan ada yang mau menjadi sahabatnya? Apakah ada yang mau mendengar ceritanya seperti halnya Zahra dan Difa? Gumam Salsa dalam hatinya yang terus dirundung kegundahan. Namun Salsa tetap semangat menjalani kehidupan yang ia jalani sekarang karena dia berpikir jika dia pergi nanti, takkan sama dengan kehidupan yang ia jalani saat ini.
“Sa, kira-kira nanti di tempat sekolah kamu yang baru nanti ada ngga yah sungai kayak disini?” tanya Difa pada sahabatnya.
“ya pasti ada dong Fa. Disana pasti lebih indah daripada disini, disini kan kampung terpencil, mungkin di tempat Salsa yang baru nanti lebih indah” jawab Zahra yang lebih dulu terbayang bagaimana indahnya tempat Salsa nanti.
“Ah aku nggak tau deh. Aku masih pusing. Aku ngga mau jauh dari kalian, au juga nggak sanggup jauh dari orang tua dan juga adikku yang masih kecil. Au kasian sama ibu, takut kalo au pergi ngga ada yang bantu jaga Fawwaz dan pastinya nggak ada yang bantu cuci pakaiannya ibu kalo aku udah pergi”. Salsa menjawab dengan penuh kebimbangan.
Satu sisi dia ingin membahagiakan kedua orang tuanya, dan di sisi lain dia tidak tega melihat ibunya kerja semuanya sendiri.
Memang selama beberapa bulan terakhir ini yang ada dalam pikiran Salsa hanya tentang Sulawesi saja. Tidak ada yang lain. Dia terus membayangkan betapa beruntung teman-temannya yang melanjutkan sekolah namun tak harus tinggal sejauh yang akan dialami Salsa. Dia terus berpikir dan membayangkan apakah disana orang-orangnya baik, ramah, dan sebagainya. Apakah kehidupan Salsa akan sama dengan kehidupan disini? Mulai dari pergaulan, kebebasan, keceriaan dan masih banyak lagi yang Salsa pikir. Sisi positif dan negatif semuanya terbayang di benak Salsa.
Ayah dan ibu Salsa selalu memberi semangat dan dorongan agar Salsa tidak setengah hati mengambil langkah ini.
“Nak, kalo kamu nanti sekolah disana, kamu pasti akan memiliki banyak teman, jadi kamu tidak hanya punya teman di kampung ini, di sana orang-orangnya pasti baik juga seperti teman-teman kamu disini, Salsa harus semangat, katanya kamu ingin membahagiakan ayah dan ibu. Kalo kamu ingin membahagiakan kami maka kamu harus belajar dengan giat, kamu harus buktikan sam ayah dan ibu kalo kamu bisa sukses dan bisa menjadi kebahagiaan kami”. Ayah Salsa sedikit demi sedikit memberi semangat agar anaknya tersebut tidak bimbang dan mengikuti kemauannya.
“tapi yah, Salsa takut. Kalo misalnya disana ada temen Salsa yang nggak suka gimana?” “nggak mungkin Salsa nggak di sukai sama temennya disana, Salsa kan anak yang baik, rajin, dan sopan, kalo-pun ada temen kamu yang nggak suka, kamu harus sabar. Namanya hidup pasti ada orang yang suka ada juga orang yang suka sama kita nak”.
Sekarang Salsa mulai mengerti bahwa kedua orang tuanya menaruh harapan yang sangat besar agar dia bisa menjadi orang sukses dan bisa mengubah kehidupan keluarganya menjadi lebih baik. Dan Salsa akan berusaha memenuhi impian ayah dan ibunya untuk menjadi orang sukses dan berguna. Terutama agar bisa mengubah penduduk kampung agar menjadi lebih baik dan tidak terbelakang.