A Choice

A Choice
Hadiah terindah untuk Keluarga Salsa



Bapak Fadhil, ayah Salsa yang bekerja sebagai penambang batu bara pada tahun 2005-2006 yang berada tidak jauh dari kampungnya. Karena beliau belum terlalu paham cara bertani dan juga belum mendapatkan ide bertani apa yang kira-kira banyak diminati oleh para konsumen. Saat itu umur Salsa masih 8 tahun dan dia belum mengerti betapa sulitnya sang ayah mencari uang demi memenuhi kebutuhan kelurga kecilnya yang sangat beliau sayangi.


Ibunya yang juga bekerja untuk membantu keuangan terlihat sangat semangat. Ibunya menanam sayuran seperti sayur bayam, kangkung mentimun, kacang panjang dan lainnya. Menanam sayur tidaklah mudah, saat musim kemarau tiba ibu Fitri harus mengangkut air dari sungai untuk menyiram tanamannya. Dan saat panen pun belum tentu harga yang ia dapat sesuai dengan keringat yang ia keluarkan saat menanam dan menyiram. Tapi itulah kehidupan, harus tetap bersyukur karena di luar sana masih banyak yang hidupnya jauh lebih kurang dari pak Fadhil sekeluarga.


Saat kembali dari bekerja, pak Fadhil tak pernah memperlihatkan raut wajah mengeluh kelelahan saat berada di dekat Salsa. Ayahnya terlihat sangat kuat di mata Salsa.


“ayah ayah. Mau Salsa pijitin nggak?” tanya Salsa pada ayahnya yang sedang berbaring diatas sajadah karena memang baru saja selesai menunaikan sholat magrib berjamaah.


“Emang Salsa bisa mijit?” tanya sang ayah.


“Yaa bisa dong ayah, kata ustadzah Ifa kalo Salsa mijit enak, ayah mau coba nggak?”


“ya udah sini pijitin bahu ayah” jawab pak Fadhil dengan menunjuk pada bahunya yang sebenarnya sedang butuh pijitan.


Di akhir tahun 2008 pak Fadhil dan keluarga kecilnya di berikan rezeki yang tak akan pernah lupa untuk disyukuri dan tanpa henti berdoa agar semuanya baik-baik saja, ibu Fitri sedang hamil. Kehamilan ibu Fitri baru diketahui setelah 2 bulan, dan entah bagaimana perasaan Salsa dan keluarganya setelah mengetahui kabar itu dari seorang bidan yang juga sebagai temannya Bu Fitri saat itu, senang dan juga sangat bersyukur karena sebentar lagi akan ada sosok anak mungil yang setiap hari akan Salsa jaga.


“ibu, ibu. Nanti kalo adik udah keluar dari perut ibu biar Salsa aja ya yang jaga! Pokoknya kalo Salsa pulang sekolah Salsa langsung mau main sama adik”.


“iyya, sekarang kamu harus selalu doakan ibu dan calon adik kamu supaya semuanya sehat dan baik-baik saja” jawab ibu Fitri dengan lembut kepada Salsa.


“Terus ayah nggak boleh jaga dan main adik gitu??” tanya ayah salsa dengan nada mengejek Salsa yang kegirangan karena akan memiliki adik.


“ah ayah kan tugasnya cari uang buat kasih makan adik nanti kalau udah lahir” Salsa menjawab seolah tak ada yang bisa menjaga adiknya kecuali dia.


Setelah 10 tahun pak Fadhil dan Ibu Fitri menantikan kehadiran anak kedua akhirnya Allah menjawab semua doa-doanya. Betapa bahagianya keluarga kecil tersebut karena anggota keluarganya akan bertambah. Dan kebahagiaan ini tak hanya dirasakan oleh keluarga kecilnya, namun seluruh keluarga ayah dan ibunya Salsa turut bahagia dan mengadakan syukuran sekeluarga besar dan mengundang beberapa tetangga dekat.


Di siang hari yang terik, Salsa dan ayahnya sedang asyik makan rujak nanas.


“ibu nggak makan rujak nanas? Biasanya ibu kan suka makan ini” Tanya Salsa kepada ibunya yang hanya sibuk mengupas buah nanas yang akan kami makan.


“ibu kamu ngga boleh makan nanas sayang” jawab ayah Salsa singkat.


“lah kenapa? Kan buah itu sehat untuk kehamilan” tanya Salsa yang masih butuh penjelasan yang lebih detail.


“iya, nanas memang baik bagi kehamilan, tapi jika dikonsumsi sedikit, jika orang hamil makan nanas berlebihan bisa mengakibatkan keguguran”.


“wah jadi orang hamil itu nggak boleh banyak makan nanas, Salsa baru tau bu” jawab Salsa yang sudah mengerti dengan penjelasan ibunya.


Sekarang pak Fadhil bekerja sebagai petani, beliau diajak oleh salah seorang keluarga yang berasal dari tanah Jawa dan menikah dengan penduduk asli kampungnya, namanya pak Indra. Nah pak Indra mengajak pak Fadhil untuk menanam cabe besar yang kata pak Indra nantinya akan diminta banyak pemborong.


"Pak Fadhil, gimana lek (kalau) kita tanam cabe? Inshaa Allah hasilnya nggak merugikan" tawar pak Indra.


"Lah saya kan nggak paham tanam begituan pak le (nama panggilan ke pak Indra)" jawab pak Fadhil masih ragu.


"Wes tenang ae, aku Nek kampung ku wes pernah tanam cabe koyok ngono, (tenang saja, aku di kampung sudah pernah taman cabe kayak gitu), hasilnya bagus bagus" pak Indra berusaha meyakinkan.


"Terus kira-kira butuh dana berapa untuk tanam cabe itu pak le?" Pak Fadhil mulai tertarik.


" Lek masalah biaya kita patungan ae, kita kerjanya sama-sama, kan ringan lek kerjanya berdua".


"Boleh juga ya le, daripada aku kerja di tambang, kerjanya berat banget, belum lagi kesehatan jadi taruhan kalo disana" pak Fadhil akhirnya setuju


"la Iyo. Wong kerjo tambang iku nggak enak (kerja tambang itu nggak enak), mending kita usaha sendiri,". Jawab pak Indra dengan logat jawanya yang masih kental.


Menanam cabe memamg tidak mudah, terutama dalam hal biaya. Pekerjaan ini membutuhkan dana yang cukup banyak karena harus membeli bibit, polibag, kemudian akan di pupuk setelah tanamannya berumur sekitar 1 bulan. Dan pupuk yang akan digunakan itu bermacam2. Setelah pak Fadhil mengumpulkan dana, berhubung pak Fadhil belum paham bagaimana cara menanamnya, akhirnya mereka bekerja sama dalam menanam cabe tersebut.


Setelah 3 bulan menunggu, akhirnya tiba saat memanen hasilnya, karena hasil tanaman tersebut belum dikenal oleh para pemborong, awalnya pak Fadhil dan pak Indra msih menjual per kilo ke pasar, hasilnya Alhamdulillah kembali modal dua kali lipat.


Tahun berikutnya, bulan Mei 2007 pak Fadhil dan pak Indra kembali menanam cabe untuk ke tiga kalinya, kali ini ada buah tomat yang juga jadi usaha barunya. Dan setelah beberapa kali menanam akhirnya pak Fadhil menemukan pemborong yang Alhamdulillah tidak merugikan. Bayaran per kilonya hampir sama dengan harga pasaran. Dan pemborong tersebut tidak merasa rugi karena tanaman pak Fadhil dan pak Indra memang kualitasnya bagus.


Dari hasil jerih payah pak Fadhil menanam Cabe, akhirnya bisa digunakan untuk merenovasi rumah yang memang umurnya sudah tua.


“Bu, gimana kalo hasil panen bapak ini uangnya di tabung untuk kita membangun rumah?” tanya pak Fadhil kepada istrinya yang sedang mengelus-elus perutnya karena sudah semakin membesar.


“wah, itu ide yang sangat bagus pak. Tapi nabungnya jangan di bank, soalnya kalo di bank takut habis karena harus bayar pajak”. Bukannya ibu Fitri pelit, namun istrinya ini memang sangat selektif dalam mengambil keputusan dan juga penuh dengan kehati-hatian tanpa lupa memikirkan bagaimana kedepannya.


“iyya. Kita titip di ibu aja gimana? Ibu kan pinter banget simpan uang” pak Fadhil mengutarakan idenya.


“boleh pak. Lebih baik kita titip di ibu aja lebih aman”. Karena mereka sudah sama-sama mempercayai ibunya masing-masing akhirnya uang tersebut di titip pada mertua pak Fadhil.


Itulah dua hadiah terindah yang Allah berikan kepada pak Fadhil dan keluarga kecilnya.