
Setelah turun dari kapal yang telah membawa Salsa jauh dari keluarga dan pindah ke daerah seberang, ia langsung melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan, yaitu rumah om Ilham yang Salsa sendiri belum tau daerahnya..
untuk pertama kalinya Salsa pergi sejauh ini. Dengan perjalanan sejauh ini dan mengendarai mobil, Salsa masih belum terbiasa dengan mobil. Dia merasa lebih baik naik motor daripada naik mobil, lebih membuat Salsa merasa mabuk dan pusing.
Menurutnya naik motor lebih asyik dan lebih bisa dinikmati karena bisa langsung melihat ke arah kanan dan kiri tanpa dihalangi oleh kaca jendela seperti halnya mobil.
Salsa memang masih sangat kampungan dan belum terbiasa naik mobil, karena jangankan naik mobil, di kampungnya sangat jarang kendaraan roda empat yang lewat di daerahnya. Sangat wajar jika Salsa merasa mabuk.
"Salsa, kamu mabuk nggak?". Tanya omnya pada Salsa.
"Iyya om". Dengan sedikit malu Salsa menjawab pertanyaan dari omnya.
"Kalau kamu mau muntah, kamu bilang ya"
"Iya om. Tapi semoga saja Salsa nggak muntah". jawab Salsa berharap agar ia tidak mabuk.
Beberapa menit perjalanan, mobil berhenti di sebuah mall besar, Salsa bingung. Dia tidak tau mau apa. Ketika semua turun, salsa juga ikut turun dari mobil.
Mall yang sangat besar, bangunan yang terdiri dari 3 lantai tersebut terlihat sangat indah. Salsa tidak tau apa saja yang ada di dalamnya. Dia masih memandangi bangunan tersebut. Dia merasa takjub karena baru pertama kalinya ia datang ke mall yang super mewah.
"Ayo kita masuk ke mall dulu, kita belanja". Ajak tante Irna pada Salsa.
"Mau belanja apa Tante??".
"Belanja pakaian untuk Salsa, kan Salsa bawa pakaian cuma sedikit. Kalo sekolah nanti pasti butuh banyak pakaian". Jawab tantenya. Dan Salsa hanya mengikuti langkahnya menuju mall
Biasanya dia hanya datang ke pasar yang menjual semua barang. Semuanya bercampur antara pakaian, ikan, sayuran, dan sembako. Semuanya berjejer berdampingan. Ketika melihat mall yang dilihat Salsa sekarang semuanya terlihat berbeda.
Barang yang ada di dalam mall itu hanyalah pakaian dan tempat makan yang sangat mewah. Salsa tertegun dan hanya bisa memandang satu per satu tempat yang ia lewati.
Tak ada tangga ketika ingin naik ke lantai 2, yang ada hanya lift yang berjalan secara otomatis, sedangkan Salsa tidak pernah naik lift. dia bingung bagaimana cara agar ia bisa naik. Melihat orang di sekitarnya semua terlihat santai ketika naik tangga lift tersebut.
"Hei, kamu nggak pernah naik tangga lift kan?". Tanya om Ilham pada Salsa yang terlihat bingung.
"hehehe.. Iyya om. tau sendiri lah di kampung nggak ada tempat beginian. Palingan yang ada yah cuma pasar". Jawab Salsa polos.
"Ayo ayo naik. om tuntun naik". ajak omnya sambil memegang tangan Salsa agar dia tak terjatuh saat naik tangga lift.
dengan perasaan gemetar Salsa mencoba menginjakkan kakinya pada tangga pertama. Dia sangat kaget karena tangganya jalan tanpa henti.
Sekitar 3 setengah jam di perjalanan dari pelabuhan, akhirnya sampailah di sebuah rumah yang cukup besar jika dilihat dari luar. rumah panggung yang tinggi yang menjadi rumah adat Sulawesi pada umumnya.
Rumah itu adalah rumah Kakak dari Tante Irna, namanya Adam. Mereka singgah di sana untuk memberi tahu bahwa mereka telah datang dan sampai dengan selamat. Mereka di sambut dengan hangat di rumah tersebut.
"Ini yang namanya Salsa?" Orang tersebut bertanya ketika Salsa mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Iya om, saya Salsa" jawab Salsa dengan melanjutkan salaman pada istrinya.
Istri dari Om Adam namanya Tante Fira. Beliau memiliki 3 anak. Dua perempuan dan satu laki-laki. anak pertama bernama Intan, sedang anak yang kedua bernama Indah, anak bungsunya bernama Zidan.
Mereka terlihat seperti keluarga bahagia. Ketika melihat keluarga om Adam berkumpul, seketika Salsa mengingat orang-orang di rumahnya. Dia berpikir jika dia ada di sana pasti dia akan merasa bahagia karena berkumpul dengan keluarganya yang bahagia.
Mereka tak lama berada di rumah tersebut. Setelah beberapa menit istirahat, Mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju rumah om Ilham dan Tante Irna. entah dimana rumah mereka Salsa masih tidak tau.
"Salsa ayo sayang kita pulang ke rumah". ajak tante irna pada Salsa yang terlihat sudah sangat lelah.
"Berapa lama lagi ke rumahnya Tante?". Salsa bertanya karena dia sudah mengantuk dan merasa badannya sakit semua.
"Bentar lagi nak, palingan sekitar sejam setengah kita sudah sampai". Jawab tante Irna sambil mengelus kepala Salsa dan menuntunnya berjalan agar tetap kuat.
"Ya udah ayo. Salsa sudah capek banget".
"Iya. ayo kaku naik di mobil sama ibu Fifi". Ibu Fifi mengajak Salsa naik di mobilnya agar bisa istirahat di dalam mobil.
Salsa langsung menaiki mobil yang di dalamnya sudah ada ibu Fifi dan kedua temannya.
Om Adam beserta istri dan anak-anaknya juga ikut mengantar mereka ke rumahnya. mereka juga naik mobil sendiri bersama ketiga anaknya.
Di sepanjang jalan Salsa tidak bisa tidur. Dia hanya menatap sekitar jalan yang terlihat sangat gelap seperti hutan-hutan yang berada di kampungnya.
"Apa iya disini sama seperti kampung ku yang masih sangat sedikit rumah? apa iya sekolah ku nantinya sama dengan sekolahku yang ada di kampung?'
banyak pertanyaan yang ada di benak Salsa namun dia belum berani menanyakan hal tersebut pada orang-orang. Dia hanya mampu bertanya dalam hatinya. dan hanya waktu pagi yang dapat menjawabnya..
Dia hanya bersabar berada antara pertanyaan dan jawaban yang masih belum ia ketahui. Dia hanya melihat ke sekitar jalan. lihat kanan dan kiri.
Ibu Fifi dan kedua temannya asyik cerita dengan logat dan bahasa yang Salsa belum ketahui sama sekali. Salsa hanya mampu mendengar tanpa mengerti apa maksud dari cerita mereka.
"Kita sudah sampai sa". suara ibu Fifi membuyarkan sedikit lamunan Salsa.
"Ooh iya Bu". Jawab Salsa sambil turun dari mobil.
"Hati-hati. jalannya gelap. kamu hati2 takut ada lubang".
"Iyya Bu. rumah Om Ilham disini Bu?". Tanya Salsa penasaran.
"Iyya. rumahnya ada di tengah sana". Jawab ibu Fifi sambil menunjuk sebuah rumah yang berada di antara dua rumah yang berdampingan, rumah tersebut berukuran sedang.
Rumah tersebut berada di depan sebuah sekolah SD, dan di belakangnya terdapat sekolah SMP. Salsa tidak tau apakah sekolah tersebut adalah sekolah Salsa atau bukan. Dia juga belum berani untuk bertanya.
Setelahmelalui berbagai proses ala Sulawesi akhirnya Salsa masuk ke dalam rumah yang baru. Rumah yang akan ia tempati selama beberapa tahun ini. Rumah yang akan menjadi pengganti rumahnya yang berada di kampung halamannya.
Setelah beberapa saat ia masuk akhirnya ibu Fifi dan om Adam pulang. Setelah itu Salsa memilih beristirahat untuk menghilangkan lelahnya.