A Choice

A Choice
Kebenaran



...HAPPY READING...


...***...


Caramel menikmati sarapan pagi dengan bahagia. Karena sarapan pagi ini sangat spesial daripada yang lainnya, Rei yang mengambil sarapan pagi untuknya dan sarapan ini juga permintaan Arzan sang putra kepada papanya. "Terimakasih ya mas, udah mau mengambilkan sarapan untuk saya?",ucap Caramel menatap Rei.


"Sama-sama Mamel!",jawab Arzan cepat mendahului sang papa. Karena ia tidak mau mamel mendengar jawaban yang menyakitkan hati Caramel.


Rei dengan gemas mengacak rambut sang putra yang selalu menyahut jawaban darinya.


Yovie mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk kedalam kamar Rei dan Caramel. Ia masuk dan memeriksa kondisi Caramel.


"Bagaimana Dok kondisi Mamel?",tanya Arzan kepada Yovie.


"Kondisi Mamel udah mulai membaik, karena Arzan dan papa Rei merawatnya dengan baik. Maka dari itu, Mamel cepat sembuh deh!",ucap Yovie kepada anak kecil yang bernama Arzan.


Caramel dan Rei tersenyum bahagia melihat tingkah lucu Arzan.


"Ok Dokter. Terimakasih udah memeriksa Mamel dengan baik. Maka dari itu sebagai ucapan terimakasih, pagi ini dokter akan kami antarkan untuk pulang ke rumah!",oceh Arzan.


Hahaha... Yovie tertawa bahagia. "Aduh sayang sekali ya sayang, dokter bawa mobil sendiri bagaimana?",sesal Yovie.


"Kalau gitu, bagaimana Dokter mengantar Arzan ke sekolah?",pinta Arzan dengan mata berbinar-binar memohon kepada sang dokter.


"Arzan!". Caramel memberikan isyarat supaya Arzan tidak melakukan hal semaunya.


Yovie melirik Caramel dengan penuh rasa penasaran terhadapnya. "Oh tidak masalah".


"Dokter, maafkan Arzan yang bercandanya kelewat batas?". Caramel sungkan terhadap Yovie.


"Enggak usah Vie. Nanti biar Arzan gue antar ke sekolah",tolak Rei halus.


"Enggak apa-apa kok. Biar Arzan sekalian sama gue. Sekolah Arzan satu arahkan sama gue. Nanti loe malah puter balik lagi dari sekolah Arzan ke kantor loe!",kata Yovie menepuk bahu Yovie.


"Ok kalau gitu. Gue titip anak gue!",pesan Rei.


"Iya. Gue akan pastikan bahwa ia akan baik-baik saja sampai sekolah!". Yovie lalu menyuruh Arzan untuk berpamitan dengan Caramel dan Rei. Arzan dengan semangat berangkat dengan dokter ganteng itu.


"Bye... bye sayang!!!",ucap Caramel melambaikan tangan dan mengucapkan terimakasih kepada sang dokter.


Rei mengantarkan kepergian Arzan dan Yovie sampai depan rumah.


Disisi lain Caramel mengambil ponsel mengabari Lili bahwa ia saat ini izin tidak masuk ke kantor.


"Li, gue izin dulu ya... Gue saat ini sedang tumbang!". Caramel.


"Sakit apa loe, Mel?. Loe gak hamilkan?. Tumben banget loe tumbang?. Bukankah loe wonder woman?". Lili.


"Gue serius Li?. Tolong izinin gue ya ke Big Bos?". Caramel.


"Iya nanti gue izinin. Cepat sembuh ya Mel... I Love U". Lili.


Lalu Caramel menarik selimut bersiap-siap untuk istirahat lagi setelah minum obat.


*


*


*


Tok... Tok... Tok...


"Tiara bangun sayang, udah siang!!. Kamu tidak ada kuliah pagi?",panggil Bunda dari luar kamar. "Sayangggg.... Kamu tidak apa-apa kan?",tanya Bunda yang penasaran melihat tingkah laku Tiara yang berubah setelah ia pergi dari Andika.


Tiara semakin kesal mendengar panggilan dari luar. Ia mengambil bantal dan menutup telinga supaya tidak mendengar lagi panggilan. Tapi, usahanya gagal total. Ia malah beranjak tetapi ia harus keluar dari kamar supaya sang Bunda tidak teriak-teriak memanggilnya. "Ada apa sih Bun?",tanya Tiara setelah membuka pintu kamar dengan kesal.


"Kamu tidak ada kuliah pagi?",tanya Bunda.


"Enggak". Tiara malas mendengar perkataan dari sang Bunda. Ia duduk diruang meja makan mengambil roti dan selai untuk mengganjal perutnya yang dari tadi sudah minta diisi.


Bunda memandang Tiara dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ada apa dengan anak ini?. "Tidak biasanya kamu menjawab dengan nada yang kesal pada saat bunda bertanya!",kata Bunda.


"Bunda aja yang terlalu pagi bangunin Tiara!",sahut Tiara.


"Kamu udah lihat jam berapa sekarang Ra?. Atau jam dinding di kamar kamu rusak?",tanya Bunda. "Dari tadi pagi Bunda sudah mencoba membangunkan kamu, tapi kamu tidak ada jawaban sama sekali. Ada apa Ra?",tanya Bunda duduk di meja makan berhadapan dengan Tiara.


Tiara masih menikmati sarapan pagi.


"Ra, bunda tanya sama kamu. Kamu kenapa?. Apakah ada yang menyakitimu?",tanya Bunda dengan nada tinggi.


Tiara meletakkan roti yang masih setengah yang berisi selai strawberry. Ia enggan melanjutkan sarapan paginya.


"Ada apa Ra?. Apakah ayah kamu menya-....".


Belum selesai sang bunda berhenti bertanya tetapi Tiara sudah menyahutnya. "Mengatakan bahwa Tiara bukan anak kandung kalian!!!!",ucap Tiara santai.


Bunda tercengang seperti terkena sambar petir di pagi hari. Ia meneteskan air mata yang selama ini ia tutupi akhirnya di bongkar oleh Andika begitu saja. ANDIKA KAMU BENAR-BENAR KETERLALUAN!!!.


"Kenapa Bunda diam?. Jangan.... jangan apa yang dikatakan oleh ayah adalah kebenaran yang selama ini kalian tutupi dari kami?". Tiara menangis meratapi nasibnya yang selama ini dibohongi oleh keluarga Andika.


"Jadi ayah kamu yang mengatakan ini semua?",tanya Bunda yang sudah tidak tahan dengan sikap mantan suaminya. Bisa-bisanya dia menyakiti putri-putrinya.


"Iya, ayah yang mengatakan ini semua".


"Lalu Kak Amel tahu?",tanya Bunda yang memegang tangan Tiara.


Tiara menghapus air matanya yang terus mengalir. Hatinya hancur berkeping-keping. Ternyata bunda hanya memikirkan perasaan kakaknya bukan perasaanku. "Kenapa Bunda hanya peduli dengan kakak?. Kenapa bunda tidak memikirkan perasaan Tiara sedikit saja?",ungkap Tiara menyentuh dadanya yang terasa sesak.


"Tidak sayang. Bunda peduli sama kalian. Kalian anak-anak bunda. Walaupun kamu tidak lahir dari rahim bunda, tapi kamu adalah anak bunda. Anak kesayangan bunda",jelas Bunda memeluk erat sang putri bungsu.


"Lalu dimana orang tua Tiara, bunda?. Tiara ingin bertemu sama mereka?",tangis Tiara di pelukan sang bunda.


Bunda mengelus rambut Tiara dengan sayang. Ia tidak mau menyakiti putri-putrinya. "Bunda tidak tahu sayang siapa orang tua kamu. Bunda menemukan kamu di pos satpam pada saat sang fajar datang. Bunda benar-benar tidak tahu sayang!".


Tangisan Tiara pecah di pelukan sang bunda. Ia tidak tahu bahwa takdirnya begitu tragis bahwa ia ditemukan di pos satpam.


"Maafin Bunda sayang, bunda bukan bermaksud menyakiti kamu seperti ini karena kebohongan ini. Kamu adalah anak bunda sampai kapanpun. Bunda tidak mau memberitahu kamu, karena bunda tidak mau kehilangan. Bunda sayang sama kamu sayang!!!",ungkap Bunda sambil terisak.


Ternyata pepatah pernah mengatakan bahwa terkadang tidak tahu adalah hal yang paling aman untuk menjaga diri sendiri dari rasa ingin tahu yang berlebih setelah mengetahui tentang suatu hal yang bisa jadi malah membuat kita menyesal karena telah mengetahui. Dan pepatah itu benar adanya. Maafin Tiara Bunda... Maafin Tiara.....


...***...


...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...


...Terimakasih...