A Choice

A Choice
Kekhawatiran Tuan Rei



...HAPPY READING...


...***...


"Caramelllll".


Rei panik melihat Caramel yang lemah dan lemas saat ini. Ia segera mematikan kran dan mengangkat Caramel untuk keluar dari bathtub itu. "Mel... Bangun dong!",kata Rei berkali-kali. Ia segera meletakkan Caramel di atas ranjang, melepaskan seluruh pakaian yang masih melekat ditubuhnya. Rei melihat tubuh Caramel dengan perasaan yang tidak menentu. Tubuh yang dulu pernah ia gauli pada saat ia sedang mabuk berat. Kulit yang putih bersih. Tubuh yang sedikit berisi seperti gitar spanyol. Tangannya mulai menyentuh perlahan tubuh Caramel dengan pelan. Merabanya dengan lembut dan penuh penghayatan. Tubuh loe seksi juga Mel!!!. Baru kali ini gue lihat nyata tubuh wanita dengan mata kepala gue. Astaghfirullah!!! Mikir apaan sih gue!!!.


Rei menarik selimut untuk menutupi tubuh Caramel yang sudah tidak memakai baju. Ia menarik laci meja mengambil sesuatu dari sana. Termometer. Rei mengapitkan termometer di ketiak Caramel mengecek suhu badannya. 36 derajat Celcius. Suhu badan yang sangat normal. "Mel... bangun dong!!!",lirih Rei menggoyang badan Caramel tetapi tidak ada pergerakan sama sekali dari Caramel. Loe sakit apa sih Mel???. Bangun... batin Rei bertanya-tanya dalam hati. Lalu dibenaknya hanya satu nama orang yang bisa dimintai pertolongan.


Rei mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Ia memanggil Mike sang sekertaris. "Dimana Mike?",tanya Rei tegas dan wibawa.


"Udah sampai apartemen tuan. Ada yang bisa saya bantu tuan?",tanya Mike balik.


"Saya butuh dokter saat ini. Suruh ke rumah utama, sekarang!!",perintah Rei.


Mike kaget dengan perintah dadakan dari sang majikan. "Tuan baik-baik saja?",tanya Mike khawatir.


"Jangan tanya apapun itu. Laksanakan cepat perintah saya!",jawab Rei yang mematikan ponselnya secara sepihak.


Mike langsung menjalankan tugas dadakan ini. Ia berjalan keluar apartemen sambil menelepon seseorang.


Rei memandang khawatir Caramel yang belum sadarkan diri di ranjang. "Ada apa dengan dia?. Biasanya tidak seperti ini?",pikir Rei yang berjalan mondar-mandir di samping ranjang.


Beberapa menit telah berlalu. Mike mengetuk pintu kamar utama yang langsung dijawab dengan cepat oleh Rei.


Mike dan dokter Yovie masuk kedalam kamar utama. Mike yang melihat Rei sedang berdiri didekat ranjang merasa bingung. Ada apa ini sebenarnya?.


"Ini tuan, dokter Yovie!".


"Silahkan periksa Caramel, Dok!!!",kata Rei khawatir dan panik.


"Ada apa ini tuan Rei?",tanya Dokter Yovie yang sudah ada di samping ranjang.


"Saya juga kurang tahu Dok. Saya menemukan Caramel lemah dan tak berdaya di bathtub. Tapi suhu tubuhnya normal, saya sempat cek tadi",jawab Rei bingung bagaimana menjelaskan lagi.


Yovie melihat Caramel tidur di ranjang dengan selimut yang menutupi tubuh mulusnya itu. "Saya boleh periksa Bu Caramel, tuan?",izin Dokter Yovie.


"Silahkan Dokter!".


Yovie dan Mike saling pandang satu sama lain. Bagaimana jika Yovie harus melaksanakan tugasnya, bila Caramel tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya.


Astaga... Rei menepuk jidatnya pelan. Ia tahu kenapa dokter Yovie minta izin pada dirinya. "Maafkan saya Dok, tadi saya langsung melepaskan pakaian Caramel. Karena saya takut, bila Caramel akan kedinginan nanti",jawab Rei canggung.


"Tapi loe gak apa-apain diakan Rei?. Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan ya?",goda Yovie melihat Rei yang sangat-sangat khawatir melihat kondisi Caramel saat ini.


"Gue lagi gak bisa bercanda Vie!. Tolong Caramel Vie?",mohon Rei dengan mimik wajah yang sudah pucat. Ia menyingkap selimut sedikit supaya Yovie dapat memeriksa detak jantung Caramel dengan mudah karena Yovie takut nanti terjadinya kesalahpahaman antara dokter dan pasien.


Yovie mengeluarkan alat stetoskop untuk mengecek kondisi Caramel yang lemas.


"Bagaimana Vie?. Dia baik-baik sajakan?",tanya Rei yang tidak berkedip bertanya kepada Vie.


Yovie melepas earpieces dari telinganya. "Dia baik-baik saja, dia hanya butuh istirahat yang cukup. Apakah kamu tadi habis bermain dengannya?",tanya Yovie kepada Rei.


Rei merasa kesal karena Yovie dari tadi selalu menyudutkannya. "Mike, mengapa harus dokter ini yang kamu panggil?. Apakah sudah tidak ada stok lagi dokter yang benar-benar waras saat ini?",keluh Rei kepada Mike.


Mike hanya tertunduk merasa bersalah kepada sang majikannya.


Yovie yang masih berdiri di samping Rei hanya bisa tersenyum girang karena tingkah Rei yang tidak berubah sama sekali. "Jangan marahi si Mike, marahi aja gue!",sela Yovie yang sedang menyiapkan suntikkan yang akan diberikan kepada Caramel.


Rei yang melihat Yovie sedang mengisi suntikan dengan botol kecil. "Loe mau nyuntikin obat apa ke istri gue?",tanya Rei kesal dan tidak percaya kepada dokter satu ini.


Yovie memperlihatkan botol vitamin kepada Rei. "Ini cairan vitamin buat kondisi Caramel. Loe gak percaya sama gue?",tanya Yovie sarkas.


"Cuihhh... Istri. Sejak kapan loe ngaku sama gue bahwa dia istri loe!!!. Loe itu dzolimi istri loe sendiri. Loe sadar gak sih, Caramel ini cantik banget dibandingkan sama mantan loe itu!!!",oceh Yovie.


"Jaga mulut loe ya, Vie!!!. Loe boleh bandingin Caramel dengan siapapun, asal buka dengan Key!",kesal Rei mengancam.


"Loe kira key masih mengharapkan loe apa?",tanya Yovie. "Dia udah lupain loe. Loe seharusnya sadar diri, bahwa loe udah punya dan anak. Loe gak kasihan apa sama Caramel harus menanggung beban seberat ini!".


"Astaga, loe kok cerewet banget melebihi nyokap gue!".


Yovie menyuntikkan cairan vitamin ke lengan Caramel supaya Caramel lebih sehat dan fit lagi. Yovie menyabut suntikan dari lengan El dan menutup luka suntikan itu. "Gak seharusnya gadis secantik Caramel menikah sama loe, dan ujung-ujungnya loe cuma nyakiti perasaannya!!!",cicit Yovie. Ia kemudian menuliskan resep ke kertas dan membereskan peralatannya.


"Loe gak seharusnya ngomong seperti ini sama gue!",sahut Rei tidak terima.


"Dan gak seharusnya loe nyia-nyiain Caramel!",sahut Yovie. Setelah itu, Yovie selesai membereskan peralatan ia mengambil tas dengan kasar. "Loe lihat wajah Caramel yang sedang tertidur pulas itu. Lihat baik-baik, apakah dia baik-baik saja atau dia kelelahan karena aktivitas yang sangat luar biasa ini?",pesan Yovie yang langsung berjalan ke arah Mike memberikan resep kepada Mike. "Mike, suruh tuan loe untuk menebus obat buat istrinya!",sambung Yovie yang langsung pergi meninggalkan kamar utama.


Mike menerimanya dengan diam. Tuan dan dokter Yovie sedang berdebat kecil tentang masalah keluarga tuannya itu.


Rei hanya melihat punggung Yovie pergi keluar dari kamarnya. Dasar dokter sialan! umpat Rei dalam hati.


Yovie berjalan yang diikuti oleh Mike untuk mengantar kepergian Yovie. "Loe harusnya cegah Rei kalau Rei berbuat macam-macam dengan Caramel!",oceh Yovie.


"Maaf tuan, apa hak saya untuk melarang tuan Rei?",tanya Mike.


"Loe sekertarisnya. Dan loe tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Rei kalau didiemin seperti itu akan kurang ajar dengan Caramel. Caramel itu wanita yang baik-baik, tidak dengan Rei".


"Tuan, saya disini hanya seorang sekretaris tuan Rei. Dan saya tidak bisa berbuat sesuka hati saya".


"Lebih baik loe risign aja, kalau Rei berbuat seperti itu!",kata Yovie menuruni anak tangga yang diikuti oleh Mike. "Buat apa bekerja dengan orang yang tidak waras itu!",sambung Yovie kesal.


Mike hanya diam dengan umpatan-umpatan dari Yovie. ia tahu bahwa hati Yovie sedang panas.


Donna melihat Yovie dan Mike turun dari lantai atas. Ia lalu menyapanya. "Dokter Yovie!",sapa Donna.


Yovie yang mendengar namanya disebut langsung menoleh kebelakang. Nyonya Donna. "Selamat malam Nyonya!",sapa Yovie tersenyum manis.


"Selamat malam dokter. Sudah lama ya, kita tidak berjumpa",kata Donna.


"Iya Nyonya. Mungkin udah beberapa bulan yang lalu nyonya periksa".


"Dokter datang kesini malam-malam ada apa?",tanya Donna sambil melirik ke arah Mike untuk menjelaskan.


"Nona Caramel sedang sakit, Nyonya",jawab Mike.


"Iya Nyonya, Nona Caramel sedang sakit dan butuh banyak istirahat",sambung Yovie.


"Sakit. Sakit apa?. Sepertinya tadi habis pulang dia baik-baik aja".


"Mungkin nona Caramel kelelahan, Nyonya. Dan bisa jadi, terlalu banyak pikiran",jelas Yovie.


"Dokter serius?",tanya Donna tidak percaya. "Dia disini hanya makan, tidur dan bekerja. Tidak ada yang lainnya. Lalu yang dokter maksud kelelahan seperti apa yang Caramel sedang alami?".


Mike tercengang dengan pengakuan sang majikan. Selama ini Caramel tidak tinggal diam dirumah. Dia juga menjalankan semua pekerjaan yang ada dirumah ini.


Yovie hanya mendengarkan semua cerita dari Donna. Ia tidak percaya bahwa Caramel seburuk itu dimata sang mertua. Ia akan membuktikan sendiri bahwa perkataan dari Donna semua adalah salah.


...***...


...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...


...Terimakasih ...