
Safira Nur Wahid. Ia adalah teman Salsa yang periang dan sangat rendah hati, dia tak pernah terlihat murung dan tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak benar.
Namun ada sesuatu yang terjadi padanya. Pada hari itu dia tak seriang sebelumnya, banyak perubahan yang terjadi padanya hari itu, ada sesuatu yang ia sembunyikan namun tidak ada yang berani untuk bertanya dan meninggalkan kematian.
Beberapa hari terakhir ini dia tak seperti biasanya, dia terlihat murung dan lebih sering diam. Semua orang dibuat bingung oleh tingkahnya akhir-akhir ini, pasalnya orang yang awalnya sangat riang dan dia juga yang selalu membuat suasana kelas menjadi hangat ketika dia melempar candaan dan membuat seisi kelas tertawa.
Banyak temannya yang bertanya tentang apa yang terjadi dan masalah apa yang sedang dia alami, namun dia memilih tidak menceritakan apa yang sedang terjadi padanya. Jika dilihat dari kesehariannya bukan masalah dengan teman-temannya, mungkin saja dia sedang mengalami masalah dengan keluarganya.
Ketika suasana kelas sedang sepi karena pada jam istirahat yang lain menjadi sibuk untuk belanja dan makan di kantin. Salsa, Aini, dan Rani mengurungkan niatnya untuk makan makanan kesukaan mereka di kantin yaitu bakso goreng dan bakwan jagung buatan ibu Rere sj pemilik kantin. Mereka mencoba mendekati bertanya pada Safira apa yang terjadi dengannya, kenapa dia menjadi berubah dan sering murung.
"Hai Safira, kamu kenapa?". Tanya Salsa pada Safira yang masih duduk termenung.
"Iya Fira. Kamu kalo ada apa-apa jangan diem gitu, cerita aja sama kita, seenggaknya beban di hati kamu bisa berkurang kalo kamu cerita". Lanjut Aini.
"Nggak apa-apa kok teman-teman. Ku cuma lagi capek aja sama masalah aku". Jawabnya dengan nada lemas seolah tidak pernah makan.
"Kamu udah makan belum?, yuk kita ke kantin makan dulu, kalo udah makan nanti kita cerita". Ajak Salsa yang merasa bahwa Safira belum sarapan sebelum berangkat ke sekolah.
"Aku nggak lapar Sa. Kalian aja yang makan". Safira masih juga menolak.
"Ya udah deh, kalo kamu nggak mau makan, kami juga nggak makan". Ucap Rani yang mulai membujuk dengan berpura-pura marah pada Safira
"Atau aku beli makanan di kantin terus bawa kesini dan kita makan disini. Gimana temen-temen? setuju nggak?". Aini memberi usulan yang sangat bagus.
"Nah ya udah gitu aja, Kalian berdua nggak apa-apa kan ke kantin beli makan?". Ucap Salsa sambil melihat ke arah Rani dan Aini.
"Siap ibu bos". jawab mereka berdua bersamaan dengan mengangkat tangannya memberi hormat pada Salsa seolah sedang melaksanakan upacara bendera dengan harapan bisa membuat Safira tertawa, namun hasilnya tetap sama. Ada senyum dari bibir Safira namun tak merekah seperti sebelumnya.
Setelah kedua sahabatnya pergi ke kantin untuk membeli makanan buat mereka berempat, Salsa kembali fokus menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Safira sehingga ia terlihat selalu murung dan tiba-tiba menjadi anak yang pendiam.
Salsa mencoba bertanya dan berharap Safira mau terbuka dan menceritakan masalah yang sedang ia hadapi saat ini.
"Fira, ada apa sama kamu? kenapa beberapa hari terakhir ini kamu terlihat sangat murung?, kamu ada masalah apa Fira?".
"Aku sedih Sa. Aku nggak tau harus bagaimana?". Safira mulai cerita dan sepertinya butiran bening dari kedua bola matanya sudah mulai turun.
"Kamu ada masalah apa Fira?. Coba kamu cerita supaya beban di kepala kamu berkurang". Salsa masih bertanya pada Safira sambil memeluknya karena dia sudah benar-benar terlihat lemah saat itu.
"Ayah dan ibuku katanya mau cerai. Aku nggak tau harus bagaimana. Aku nggak mau mereka cerai dan aku jadi korban broken home dari mereka. aku ingin mereka tetap bersama, aku membutuhkan mereka berdua". tangis Safira semakin pecah saat mengucapkan kata-kata perceraian antara ayah dan ibunya.
Salsa kaget bukan main ketika mendengar apa yang diceritakan oleh Safira, jelas ia juga merasa sangat shock karena setau Salsa ayah dan ibu Safira adalah keluarga yang bahagia dan jauh dari masalah apalagi kata perpisahan.
"Astaghfirullahal'adzim yaa Allah. Kok bisa Fir? Kamu yang tabah ya For. Tapi setau aku orang tua kamu baik-baik saja dan mereka terlihat sangat bahagia kalo lagi Dateng kesini jenguk kamu".
Dari kejauhan Rani dan Aini datang menuju kelas, Salsa bingung dan tidak tau harus mencegah mereka datang atau membiarkan mereka tau apa yang dialami oleh Safira. Salsa memberanikan diri bertanya pada Safira.
"Fir, Aini dan Rani Dateng, nggak apa-apa kalo mereka tau masalah kamu". Tanya Salsa dengan ragu.
"Nggak apa-apa Sa. yang penting nggak bocor ke temen-temen yang lain". Jawabnya dengan harapan masalah yang ia alami tidak tersebar.
"Inshaa Allah aman Fira, Rani dan Aini bisa dipercaya kok". Jawab Salsa lega dan meyakinkan Safira bahwa kedua sahabatnya adalah orang yang amanah.
setelah mereka berdua sampai di kelas keadaan kembali hening dan mata Fira menjadi merah karena sudah menangis.
"Wah kamu Spain Safira Sa?. kok dia nangis?". Tanya Rani mencoba membuat Fira tersenyum dan dia berhasil membuat Fira sedikit tersenyum.
"Nggak kok Ran. Aku cuma habis cerita aja".
"Aku boleh tau nggak kamu punya masalah apa? ". Tanya Rani yang memang sangat ingin tau alasan temannya tersebut murung.
"Ayah dan ibunya mau pisah, tapi Fira nggak mau kalo mereka sampe cerai".
Salsa mencoba menjawab rasa penasaran Rani. dan setelah mendengar hal tersebut Rani langsung memeluk Fira dan Aini mengelus2 belakangnya tanda merasa empati terhadap Fira.
"Aku mau minta saran dari kalian? Aku udah nggak bisa mikir apa-apa, aku bingung harus berbuat apa supaya mereka nggak pisah". Fira meminta saran pada mereka bertiga dan Aini memiliki solusinya.
"Kalo menurut aku sih kamu harus bicara sama ayah dan ibu kamu, kamu jelaskan bahwa kamu nggak ingin mereka cerai. apalagi kamu kan punya 3 adik dan kamu juga punya 2 kakak. Jadi kamu diskusikan masalh ini dengan kedua kakak kamu gimana caranya agar orang tua kamu nggak cerai. Kamu harus bisa pertahanin mereka agar tetap bersama. Kami ada untuk mendukung kamu Fira, kamu harus kuat".
"Terus apa yakin mereka mau dengerin anak-anaknya?"
"Kamu harus yakin Fir. kamu harus bisa membuat mereka tetap bersama. Pokoknyakamu harus bisa". Ucap Aini menguatkan dan memberi semangat pada Safira.
"Makasih banyak ya temen-temen. aku akan coba lakukan saran kalian dan semoga ayah ibuku mau dengerin aku".
"Aamiin. intinya selagi masih bisa diperbaiki jangan sia-siakan kesempatan". Ucap Salsa sembari menepuk pundak Safira.
Setelah beberapa hari Safira pulang ke kampungnya untuk menyelesaikan masalah keluarga mereka.
Saat Safira kembali ke sekolah betapa bahagianya dia, keceriaan yang sempat lenyap dari wajahnya sekarang kembali bersinar dan dia langsung datang pada ketiga temannya laku memeluk mereka dan mengatakan bahwa masalah keluarganya telah selesai dan kedua orang tuanya tidak akan berpisah dan akan tetap bersama sampai maut memisahkan.
"*Memang dalam berumah tangga tidak lepas dari masalah, namun alangkah baiknya jika masalah tersebut diselesaikan dengan baik tanpa harus bercerai. Perceraian hanya akan merusak pikiran anak-anaknya dan akan membuat mereka merasa kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Selagi masih bisa bertahan, maka pertahankanlah".
TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR 🙏🙏*
Jangan lupa like dan komentnya kakak☺️