
...HAPPY READING...
...*****...
Pagi Hari
Dua hari ini Caramel dan Arzan di antar oleh Rei. Arzan merasa bahagia selama dua hari berturut-turut. Ada yang berubah dari sang papa. Papa yang selalu cuek dengan sang Mamel, kini entah mengapa berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Seperti biasa Caramel yang turun dari mobil mengantarkan sang putra masuk kedalam sekolah. Ia segera berpamitan manis dengan sang putra.
"Bye... bye... Mamel dan papa!!!". Arzan melambaikan tangan sambil masuk kedalam gedung sekolah. Dan begitu Caramel masuk kedalam mobil.
Rei mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia mencuri pandang sang istri. Karena tidak seperti biasanya sang istri diam seribu bahasa seperti ini. "Loe baik-baik aja kan?",tanya Rei basa basi.
"Iya mas. Aku baik-baik aja. Ada apa ya mas?",tanya balik Caramel yang memperhatikan Rei seperti salah tingkah.
"Gak biasanya loe diam seperti ini!".
Caramel menahan senyum karena tidak biasanya Rei peduli terhadap hidupnya. "Biasa mas, masalah kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasiku".
"Kenapa?. Loe kalah tender?",seru Rei seperti orang yang sedang mengejeknya yang membuat nyali Caramel menciut.
Tidak biasanya seorang Caramel kalah dalam tender apapun. Dan baru kali ini menjadi pengalaman yang pertama dalam perjalanan karirnya selama ia bekerja. "Bukan kalah sih. Tepatnya klien aku minta barang yang sesuai harga di bawah standar mas. Dan aku bingung harus mencari barang kemana. Soalnya perusahaan yang aku jalani ini, mengutamakan kualitasnya".
"Terus loe terima tender itu?".
"Udah terlanjur mas. Soalnya dari pertama kali sih mereka gak minta macam-macam, tapi setelah udah dijalankan setengahnya mereka baru request sama kita".
"Ya loe, klaim dong pihak sana. Mereka gak bisa seperti itu meminta sesuatu yang sangat mustahil bagi perusahaan loe!".
"Udah mas. Kita udah mencoba klaim. Tapi mereka bersikukuh meminta permintaan itu".
"Jaman modern seperti ini kok minta macem-macem. Dan harga di bawah standar pula. Emang perusahaan mana sih?",oceh Rei merasa kesal dengan cerita dari Caramel.
"Perusahaan Kahrisma mas".
Deg. Rei seketika menginjak rem dengan mendadak yang membuat Caramel terbentur dengan dashboard mobil yang mengenai keningnya.
"Auwww......". Caramel kesakitan yang mengakibatkan keningnya berdarah karena luka.
"Loe gak apa-apa Mel?",tanya Rei panik dan mengecek keadaan Caramel dengan teliti.
"Gak apa-apa mas. Hanya saja luka sedikit kok!",ucap Caramel sambil mengambil tisu untuk mengelap darah segar yang keluar dari luka tersebut.
Rei mengecek dibagian kening, benar ada luka yang mengeluarkan darah segar. "Jangan tisu!!!",perintah Rei yang melarang Caramel mengelap lukanya menggunakan tisu. Rei mengambil kotak P3K dibagian jok belakang kursi. "Dimobil gue ada kotak P3K kok!!". Ia mengambil kapas dan memberikan sedikit alkohol untuk memberikan luka Caramel.
"Awww...!!!".
"Loe gak apa-apa?",tanya Rei khawatir yang masih memegang kapas yang bekas luka.
"Ok mas. Aku gak apa-apa. Biar aku bersihin aja ya, mas lanjutkan nyetirnya",kata Caramel yang mengambil bekas kapas yang Rei gunakan ditangannya.
"Baiklah!!!". Rei lalu melanjutkan mengemudi dengan pelan. Sedangkan Caramel melanjutkan memberikan betadine dan memberikan plester pada luka.
"Jadi loe bekerja sama sama perusahaan Kahrisma?",tanya Rei yang masih penasaran dengan Caramel mengenai tendernya.
"Sebenarnya ini tender Pak Dendi mas. Berhubung pak Dendi sedang cuti, maka di alihkan sama aku mas. Memangnya kenapa ya mas?",tanya Caramel yang tidak begitu penasaran dengan perusahaan Kahrisma.
Rei merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Caramel. "Mmmm...enggak apa-apa kok. Cuma kaget aja. Soalnya perusahaan Kahrisma itu perusahaan yang lumayan cukup besar, bisa dikatakan dibawah perusahaan gue sih!".
"Lalu?".
"Ya gak apa-apa".
"Mas kira perusahaan aku gak bisa dipercaya gitu, untuk tender sebesar ini?",oceh Caramel sarkas.
"Bukan. Bukan begitu maksud gue, Mel".
"Ok... Ok Mel. Gue tahu itu".
Caramel mendengus kesal. "Lalu maksud mas apa?".
"Suatu saat loe juga akan tahu Mel".
Caramel langsung menatap Rei dengan penuh tanda tanya. "Tahu apa mas?",tanya Caramel yang dibuat penasaran oleh Rei.
"Gue gak bisa cerita Mel. Gue yakin, suatu saat loe akan tahu sendiri".
"Maksud mas tentang perusahaan Kahrisma?",tebak Caramel.
"Bukan hanya perusahaan Kahrisma aja. Tapi tentang semuanya".
Caramel semakin dibuat bingung oleh perkataan Rei yang entah membahas apa.
Rei menghentikan mobilnya tepat di depan lobi perusahaan. "Selamat bekerja Caramel!",ucap Rei yang membuat Caramel menatapnya dengan terkejut.
Apa???.... Dia ngucapin gue selamat bekerja Caramel?. Gue gak salah ndenger nih!! batin Caramel. "Ok mas. Dan selamat bekerja juga buat Mas Rei!",ucap Caramel yang meraih tangan Rei untuk bersalaman dan mencium punggung tangan Rei.
Rei terkesima dengan sikap Caramel seperti ini. Ini seperti mimpi baginya. Walaupun Rei jarang memberikan tangannya kepada Caramel untuk dia cium, tapi kali ini ada yang berbeda. Hatinya terasa berdesir seperti aliran darah yang mengalir deras.
Caramel lalu keluar dari mobil dan menunggu mobil Rei pergi dari halaman kantornya.
Lili yang baru saja keluar dari mobilnya karena ia memarkirkan mobilnya tepat di depan perusahaan. "Cie... Cie... ada yang sedang berbunga-bunga nih?",goda Lili yang membuat Caramel tersipu malu. "Ih... pipinya seperti kepiting rebus!!!".
"Apaan sih Li?. Memang aneh apa, seorang suami nganter istrinya kekantor?",tanya Caramel yang kesal melihat Lili yang menggodanya.
"Aneh bangetlah. Seorang Reizo Darma Abisatya mengantar istrinya kekantor, tumben banget!!!... Ada apa gerangan?",goda Lili lagi.
"Apaan sih Li!!!. Jangan keras-keras malu di dengar sama karyawan lainnya!",cegah Caramel yang merangkul Lili untuk segera masuk kedalam kantor.
"Gue seneng banget deh, selama 5 tahun lebih loe nikah sama seorang tuan Rei, akhirnya loe berangkat bareng sama dia, dan di antar pula sampai depan halaman kantor!",ucap Lili merasa terharu.
"Tapi, ada kesalnya juga sih Li".
"Kesal kenapa?. Atau loe kesal gak diantar sampai didepan ruangan loe?",goda Lili sekali lagi.
"Gue serius Li.Tadi gue sempat cerita soal tender ini sama Rei, tapi tanggapan dia seakan-akan dia itu kaget dan coba lihat ini...", Caramel menunjukkan bekas luka yang terjadi di dalam mobil.
Lili langsung menatap lekat wajah Caramel. Benar ada bekas luka yang menonjol disana. "Suami loe kdrt?",tanya Lili khawatir sambil melihat lukanya.
"Bukan. Bukan soal itu Li. Ini gue kepentok dashboard mobil gara-gara gue nyebut nama perusahaan Kahrisma",jelas Caramel.
Lili diam sejenak mencerna perkataan yang disampaikan oleh Caramel.
"Gue yakin, yakin seyakin-yakinnya kalau Rei mengenal perusahaan Kahrisma itu sendiri. Entah itu baik atau buruk".
Lili hanya mendengar penjelasan dari Caramel. Ia merasa ada yang janggal dengan Bu Kiya, karena pada saat meeting perdana, mereka tidak meminta apapun itu. Tetapi setelah dijalankan setengahnya, mereka meminta beraneka ragam permintaan.
"Menurut loe, apakah ada yang janggal Li?",tanya Caramel. "Rei juga bilang, suatu saat gue akan tahu yang sebenarnya. Itu yang membuat gue sangat-sangat penasaran tentang perusahaan Kahrisma dan penuh tanda tanya besar dalam pikiran gue".
"Kita harus selidiki tentang perusahaan Kahrisma Mel. Sebelum kita terlambat!",tekad Lili.
"Caranya?".
"Gue punya ide",jawab Lili bersemangat empat lima yang membuat mereka melangkah kali menuju ruangan Lili.
...*****...
...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...
...Terimakasih ...