
Sebelum Salsa berangkat, kedua sahabatnya juga turut datang untuk melihat sahabatnya pergi menuntut ilmu di pulau seberang. Mereka saling berpelukan disertai Isak tangis yang tak kalah pecah dari para keluarganya.
Difa dan Zahra tidak pernah berpikir bahwa mereka benar-benar akan jauh dari sahabatnya yang paling riang. Namun takdir memang susah di tebak dan sulit di ubah. Sama halnya keputusan keluarga Salsa yang sulit diubah karena mereka benar-benar ingin melihat anaknya sukses suatu saat nanti.
"Kamu bawa baju adik kamu satu lembar, kalo kamu kangen sama adikmu, kamu bisa cium atau peluk bajunya". Ayah Salsa memintanya untuk mengambil baju yang paling sering di pakai oleh adiknya.
"Memangnya dengan begitu bisa terobati ayah?". Tanya Salsa yang penasaran.
"Ya nggak sih nak, tapi setidaknya kamu bisa menghilangkan sedikit rasa rindu kamu pada adikmu".
Tanpa berpikir panjang, Salsa langsung datang ke kamar ibunya dan mengambil satu baju adiknya, baju yang dia ambil berwarna kuning. Baju itulah yang paling sering di pakai oleh adiknya.
Di sepanjang jalan menuju pelabuhan, Salsa terus menangis di pangkuan ayahnya yang tak lama lagi juga akan berpisah. Ayahnya hanya mengantar Salsa sampai di pelabuhan, setelah itu beliau akan kembali ke kampung halamannya.
"Ayah, kenapa ayah nggak mau antar Salsa sampai di Sulawesi?". Tanya Salsa pada ayahnya
"Memangnya kenapa nak?"
" Kan Kalo ayah antar Salsa sampai sana salsa masih bisa berlama-lama sama ayah, Salsa nggak mau ditinggal ayah". Tangisan Salsa semakin pecah setelah mengucapkan kata perpisahan.
"Kamu yang sabar nak, ayah nggak bisa antar kamu kesana, ayah kasian sama ibu. Ibu kerja senrian di rumah". Ayahnya mulai membariskan pengertian pada Salsa.
"Tapi Salsa sedih ayah. Salsa rasanya ingin pulang saja".
"Nak, kamu harus kuat. Kamu harus berusaha agar sukses, bukannya kamu ingin membahagiakan ayah ibu. Kalo kamu ingin kami bahagia maka belajarlah dengan rajin agar kamu sukses".
Dengan tangis yang masih tersedu-sedu, Salsa menjawab dengan singkat "Iyya ayah".
Memang om Ilham dan istrinya memilih diam selama di perjalanan, mereka membiarkan anak dan ayah itu menghabiskan waktunya dengan sebaik mungkin. Walau sebenarnya mereka sangat ingin bicara dan menenangkan Salsa namun mereka masih baru dan masih asing bagi Salsa, terutama Tante Irna.
Tante Irna memilih diam dan hanya mendengar beberapa pembicaraan mereka. Tak semuanya bisa ia dengar karena memang volume suara Salsa saat berbicara dengan ayahnya sangat kecil. Mungkin Salsa memang masih enggan dan masih belum terbiasa dengan Tante Irna.
Walaupun Tante Irna selalu berusaha membuat Salsa senyaman mungkin. Namun masih belum sepenuhnya Salsa merasa nyaman pada Tante barunya tersebut.
Akhirnya mereka sampai di pelabuhan Setelah beberapa jam perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan. Mereka memilih mencari penginapan yang sederhana dan tidak menguras kantong.
Mereka memilih penginapan yang sangat sederhana dengan kasur yang sudah mulai kusam dan hanya bertutup gorden berukuran sedang agar tak semua orang melihat mereka saat tidur.
Tentu ada rasa sedih dalam hati pak Fadhil karena akan jauh dari anak sulungnya yang dari dulu sangat dekat dengannya, namun beliau sangat mahir menyembunyikan rasa sedih tersebut. Dengan memperlihatkan kesabaran dan kelembutan hatinya, sehingga tak semua orang dapat melihat kesedihan yang ada dalam diri pak Fadhil.
Salsa memilih tidur berdua dengan ayahnya karena dia sangat paham esok hari ia takkkan bisa tidur bersama lagi. Salsa akan jauh dari pelukan hangat sang ayah yang selama ini selalu ia rasakan.
Ia takkan lagi menemukan menu masakan ibunya, bumbu kacang kesukaannya, serta ikan gabus kuah kuning yang selama ini selalu menjadi makanan favorit Salsa selain udang tumis kecap yang sering nenenknya buatkan untuk Salsa.
Salsa tidur dengan keadaan yang tidak seperti biasanya. Ia tidur hanya dengan ayahnya, tanpa ada Fawwaz adiknya yang sering ia ganggu sebelum tidur hingga membuat ibunya menegur Salsa hampir setiap malam. Namun Salsa tidak pernah bosan mendengar Omelan dari ibunya tersebut. Dia lebih menikmati sentuhan tangan mungil dari adiknya dibanding dengan mendengarkan teguran dari ibunya.
"Salsa jangan ganggu adikmu, dia lagi tidur. Kalo diganggu terus ntar rewel"
"Nggak Bu, Fawwaz itu adik yang pinter. Dia nggak rewel kok Bu". Jawab Salsa yang masih terus mengganggu tidur adiknya. Dia mencium, menekan hidungnya dan masih banyak lagi yang sering ia lakukan terhadap adiknya .
Sekarang ia harus terbiasa hidup tanpa orang tua dan juga adiknya. Dia hanya bisa memeluk baju adiknya yang ia bawa dari rumahnya.
Pagi telah tiba. Dan pagi ini mereka gunakan untuk sedikit berolahraga dengan berjalan-jalan di dekat penginapan yang mereka tempati. Sambil mereka mencari makan dan membeli sedikit makanan untuk persiapan di kapal nanti.
Ketika mereka selesai sarapan dan sedikit berbelanja kebutuhan, akhirnya mereka pulang. Karena kapal yang akan membawa Salsa ke daerah seberang berangkat pada jam 10 pagi ini.
Akhirnya mereka meninggalkan penginapan setelah mereka membereskan semua barang bawaannya. Mereka berjalan menuju pelabuhan, dan Salsa masih terus saja menempel pada ayahnya.
Sesampainya di pelabuhan. Ayah Salsa juga ikut naik. Tapi hanya untuk membawakan barang milik salsa ke dalam kapal. Setelah sekitar 30 menit mereka menunggu akhirnya ada pengumuman bahwa sebentar lagi kapal akan berlayar dan bagi pengantar di sarankan agar meninggalkan kapal.
Mendengar pengumuman tersebut, Salsa langsung menangis dan memeluk ayahnya seolah tak membiarkan ayahnya pulang. Namun, hal tersebut tak berarti ayahnya akan tetap disitu. Ayahnya memberi pengertian dan menenangkan salsa.
Ayahnya keluar dari kapal ditemani Salsa yang masih menangis. Dan dengan berat hati ayahnya meninggalkan Salsa bersama omnya.
Pesan pak Fadhil adalah agar Salsa tetap semangat dan jangan menyerah. Untuk menjadi orang sukses Salsa harus rela jauh dari keluarganya.
Mendengar nasihat dari ayahnya, Salsa berusaha menjadi anak yang tegar dan tidak mudah putus asa. ia mengiklaskan kepergiannya merantau jauh demi menjadi anak yang sukses dan dapat membahagiakan orang tua, keluarga, dan para gurunya yang berada di kampung halamannya.
Salsa berniat dalam hati bahwa kepergian dan tangisan mereka akan di balas dengan kesuksesan suatu saat nanti dan itulah harapan Salsa.
salsa melambaikan tangan pada ayahnya dan meminta doa agar Salsa kuat dan ikhlas.
semakin jauh langkah ayahnya semakin tak terlihat dan kapal pun mulai berlayar menuju tempat baru Salsa.