A Choice

A Choice
Masalah Bisnis



...HAPPY READING...


...*****...


Caramel yang menggangga tidak percaya apa yang sang putra pinta. Ia segera menyusul Rei yang sedang duduk di gazebo depan rumah.


Rei yang sedang bermain ponsel mengalihkan perhatiannya melihat seseorang yang sekarang membuka pintu depan. Caramel berjalan menghampiri Rei.


"Ada apa?",tanya Rei yang masih fokus melihat ke arah ponsel.


Caramel menghela nafas pelan, mengatur nafasnya sebelum ia mengatakan sesuatu yang sangat sensitif baginya. "Hmmm.... tuan, mungkin siang ini Arzan meminta tuan berlebihan ya?. Maaf ya tuan, anak kecil selalu meminta yang gak masuk akal",jelas Caramel sambil melintir puncukkan baju tidur.


"Memang Arzan meminta apa sama gue?",tanya Rei balik.


Ha... Caramel tercengang mendengar pertanyaan dari Rei. Bukankah anaknya minta sebuah rumah yang nyaman?. "Hmmmmm.....". Caramel gelisah harus menjawab apa. Ia terlalu takut untuk mengatakan sesuatu yang Arzan minta.


"Itu udah menjadi tugas saya menjadi papanya. Dan satu lagi, loe jangan panggil lagi gue tuan. Gue gak mau, bunda tahu soal ini dan mendengarnya langsung",ucap Rei.


Ha... Caramel tercengang lagi dengan permintaan sang suami. "Lalu saya harus panggil apa tuan?".


"Terserah loe!. Gue gak mau mendengar lagi kata tuan!!!",pinta Rei dengan nada penegasan.


"Baik tuan".


Rei melototkan kedua mata dengan sangat bulat menatap kedua mata Caramel.


"Eh... baik Mas",jawab Caramel cepat dan menyunggingkan senyuman manis.


"Ya udah buatkan gue salat buah!!!".


"Baik Mas",jawab Caramel yang pergi dari hadapan sang suami. Ia melirik sekilas ke arah Rei yang tengah sibuk bermain ponselnya. Ia tersenyum manis mengingat Rei memintanya untuk memanggil dengan sebutan lain selain tuan. Hatinya berbunga-bunga seperti mendapat hadiah yang sangat luar biasa. Lalu ia segera bergegas membuat salat buah sebelum dia sadar bahwa dirinya memandanginya saat ini.


*


*


*


*


*


Tiara keluar dari kamar. Ia melihat sang bunda sedang menikmati teh hijau di ruang tengah. "Kak Amel dimana Bun?",tanya Tiara.


"Kakak kamu sedang di dapur. Entah mau buat apa. Ada apa sayang?",tanya Bunda.


"Gak apa-apa Bun. Ya udah, Tiara mau ke depan dulu ya bun, nunggu bakso lewat!!",kata Tiara yang langsung bergegas ke depan menunggu tukang bakso lewat. Tiara melihat Rei yang sedang sibuk dengan dunianya. Dia duduk santai di gazebo depan rumah. "Mumpung dia sendirian. Gue akan buat perhitungan sama dia soal nyokapnya!",tekad Tiara yang menghampiri kakak iparnya. "Hmmmm.... Hmmmm....". Tiara pura-pura berdehem supaya Rei tersadar bahwa di sampingnya ada seseorang.


Rei mengalihkan perhatian dari ponselnya. "Ada apa?".


Tiara melihat Rei penuh kebencian yang mendalam. "Kakak kapan pulang kerumah kakak sendiri?",sindir Tiara yang berdiri di dekat gazebo.


"Loe ngusir gue ceritanya?",tanya Rei balik yang langsung melihat ke arah Tiara.


"Menurut kakak?".


"Ckkkk... Loe mau cari masalah sama gue?".


"Gue gak cari masalah sama kakak. Tapi, keluarga kakak sendiri yang senang mencari masalah sama kita",jawab Tiara santai yang ikut duduk di gazebo.


"Maksud loe?".


"Tuh mama kakak yang cari gara-gara sama Tiara. Tiara tahu sih, kalian kaya raya tapi bukan berarti kalian bisa menginjak-injak harga diri kita!",oceh Tiara menohok.


"Baginya mungkin penting kali ya.... Sampai-sampai mama kakak manggil Tiara beberapa kali".


"Whatever, itu bukan urusan gue... Terus bagaimana tugas yang gue berikan sama loe?. Udah tahu semuanya?",tanya Rei.


"Buat apa sih kak, kakak tanya soal mantan kak Amel?. Kak Alvaro itu cuma masa lalu kakak. Gak mungkin mereka main di belakang kakak",jelas Tiara yang tidak mau kakaknya kena masalah gara-gara mantan pacarnya.


"Loe ingin bukti?".


"Emang ada".


Rei menunjukkan sebuah hasil foto yang masih tersimpan di galerinya. Ia menunjukkan dengan tangan kanan tepat di wajah Tiara. "Lihat ini!!!!".


Tiara yang melihatnya tercengang dan akhirnya tertawa terbahak-bahak karena tersadar bahwa sekarang teknologi modern semakin canggih. "Kakak yakin mereka hanya berdua?",tanya Tiara balik.


Rei yang mendengar satu perkataan yang panjang dari Tiara langsung menyembunyikan ponselnya. "Maksud loe, gue bohong itu akan hal ini?".


"Kakak ipar ku sayang, kakak itu terlalu naif atau bagaimana sih?. Jaman sekarang semakin canggih dan modern Kak. Semua yang berhubungan dengan teknologi itu sangat mudah untuk kita otak-atik sendiri",jelas Tiara mengejek Rei.


"Tapi.....".


"Tapi apa kak?. Kakak gak percaya sama kak Amel?. Kak Amel setelah menikah itu hanya memikirkan bagaimana cara membayar kuliah Tiara, gak ada yang lain. Atau memikirkan hal-hal yang begitu buruk buat harga diri kita. Kak Amel itu smart kak, gak mungkin Kak Amel mempunyai hubungan lagi sama kak Alvaro. Itu mustahil kak. Atau..... mungkin kakak terlalu cemburu sama kak Alvaro, sehingga kakak membuat semua ini seperti sungguhan supaya Kak Amel merasa bersalah sama pernikahan kalian".


"Tiara.... Stopppppp!!!!.... Kata-kata loe terlalu berlebihan Ra!!!!.... Gue sama sekali gak ada niatan buat Amel merasa bersalah sama pernikahan kita. Apa lagi hanya mengedit foto-foto yang gak ada gunanya sama sekali sama hidup gue!!!",terang Rei supaya sang adik ipar tidak berbicara tentang keburukannya.


"Kalau itu gak ada gunanya buat hidup kakak, lalu buat apa kakak mengungkitnya!!!. Kak Amel selama menikah dengan kakak, kak Amel selalu mendapatkan masalah entah itu dari mana. Dan satu lagi kak, aku gak akan biarkan kakakku menanggung derita dari nenek lampir seperti mama Donna itu!!!. Karena yang Tiara tahu, Mama Donna sama jahatnya seperti tante Monna yang ingin selalu menang sendiri!!!!",oceh Tiara yang langsung pergi begitu aja tanpa pamit.


Rei kesal melihat Tiara yang seakan-akan tahu tentang kehidupannya.


Caramel datang membawakan salat buah permintaan sang suami. "Ini mas!",kata Caramel dengan senyuman manisnya.


"Gue gak butuh itu!!!",jawab Rei yang langsung melemparkan salat buah ke sembarang tempat dan pergi masuk kedalam begitu saja.


Deg. Caramel hanya melihat buah-buahan segar berserakan di atas lantai yang tidak bersalah itu. Ada apa dengan mas Rei saat ini?. Baru beberapa menit aku tinggal udah berubah moodnya?. Apakah ada masalah lagi sama seseorang? pikir Caramel dalam hati.


Drtttt... Drttt... Drttt...


Ponsel Caramel berdering menandakan sebuah panggilan masuk. Lalu ia menggeser tombol hijau. "Hallo kak, bagaimana kak?".


"Gak sesuai harapan kita Mel. Bahan-bahan yang mereka gunakan dibawah standar kita. Kalau kita memaksa menggunakan furniture itu, kemungkinan besar baru beberapa bulan pasti cepat rusak dan gak berguna lagi",jelas Cakra tentang hasil meninjaunya dengan Lili.


Caramel mengusap wajahnya gusar. Masalah apa lagi ini Tuhan?. "Ok kak, nanti gue akan bilang sama Bu Kiya soal ini. Karena kita mengutamakan kualitas yang terbaik bagi konsumen".


"Ok Mel. Gue akan nyuruh Lili untuk mengatur jadwal loe sama Bu Kiya secepatnya!!. Gue gak mau loe terbebani tentang masalah ini, karena Pak Dendi sedang berlibur ke luar negeri".


"Iya Kak. Makasih ya kak, udah bantu gue sejauh ini. Baru kali ini gue punya masalah tentang kualitas furniture".


"Iya sama-sama. Ya udah, good night and see you tomorrow!!!".


"Ok kak... Bye...".


Klik....


Caramel mematikan ponselnya. Ia duduk di gazebo memikirkan masalah tentang besok meeting dengan Bu Kiya. Dan ia membrowsing beberapa CV furniture yang termurah di dekat perumahannya. "Ayo Caramel, loe pasti bisa dan menemukan harga yang cocok untuk saat ini!!!!.... Perjuangan loe gak akan sampai disini gara-gara masalah harga!!!",tekat Caramel dalam dirinya sendiri.


...*****...


...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...


...Terimakasih ...