
...HAPPY READING...
...***...
Caramel sudah sampai di kantor ia bekerja. Ia masuk kedalam ruangannya. Ia duduk di kursi singgah sananya. Kepalanya terasa berat dan pusing memikirkan kejadian tadi pagi. Ia mengusap rambutnya dari depan kebelakang. Kenapa jadi gue yang disalahkan. Gue gak tahu siapa mantannya dan gue gak tahu apa penyebabnya mereka berpisah. Gue harus gimana ya?.
Lili masuk kedalam ruangan Caramel yang tanpa permisi. Ia melihat Caramel sedang kacau balau. "Kenapa loe, Mel?",tanya Lili yang duduk di hadapannya.
"Gue pusing banget Li, hari ini. Tadi gue bertengkar dengan Rei",jelas Caramel.
"Serius loe!!!!",sahut Lili tidak percaya karena selama ini Caramel diam. "Seorang Caramel ngajak ribut seorang tuan Rei,,,, bravo...bravo loe, Me!!!",salut Lili.
"Gue benar-benar frustasi Li. Gue tanya sama Pak Mike, tapi tidak ada jawabannya. Yang membuat gue kecewa adalah bau alkohol yang menyengat ditubuhnya. Apa lagi Mama Donna memojokkan gue, kalau semua gara-gara gue. Dan satu lagi, ternyata tadi malam Rei bertemu dengan mantannya. Entah dimana....",jelas Caramel.
"Mantannya. Serius loe, Mel?",tanya Lili tidak percaya.
"Iya. Gue juga baru tahu itu, sebelum gue nganter anak gue ke sekolah. Ternyata selama ini mereka hanya menganggap gue babu mereka",jelas Caramel menghela nafasnya kasar.
Lili memeluk sang sahabat. "Gue tahu Mel, beban yang loe tanggung terlalu berat. Tapi, loe harus ingat Arzan anak loe. Walaupun mereka menganggap loe seperti sampah dirumahnya, tapi anak loe gak akan pernah membiarkan seorang ibu diinjak-injak harga dirinya setelah Arzan dewasa nanti. Percaya sama gue!". Lili melepaskan pelukannya.
"Mungkin seperti itu, Li. Ya udah, hari ini kita ada meeting tidak?",tanya Caramel.
"Ada, bersama ibu Kiya, perusahaan Kahrisma",jawab Lili memberikan berkas yang harus dibahas nanti.
"Gue iri deh sama Ibu Kiya. Dia cantik, tinggi, lulusan luar negeri, kaya dan satu lagi pesonanya membuat siapa saja jatuh hati kepadanya",ungkap Caramel memuji kecantikan Kiya.
"Hallooooo.... Dia model ternama Mel. Mana mungkin kita sebanding dengan dia. Loe yang harus banyak bersyukur Mel. Loe cantik, walaupun tidak tinggi. Tapi loe harus bangga, seorang tuan Reizo Darma Abisatya adalah suami sah loe. Lebih bangga yang mana coba!",kata Lili mencoba membuat Caramel merasa lebih dari seorang Kiya, sang model.
"Beda jauh kali Li, kelasnya!",sahut Caramel. "Ya udah, kita berangkat nanti atau sekarang?".
"Sekarang dong. Hari ini yang mencari tempat meeting adalah Bu Kiya, jadi gue gak perlu repot-repot cari referensi tempat baru lagi".
"Enak dong kita".
"Gue yakin, kelas dia benar-benar kelas atas. Kita lihat aja nanti!",tebak Lili.
"Ya iyalah, katanya dia model".
*
*
*
Akhirnya mereka telah berangkat ke sebuah restoran yang telah dipesan oleh Adzkiya. Sebuah restoran mewah dengan bintang lima.
Caramel dan Lili sedang duduk menunggu sang klien datang.
"Benarkan tebakan gue. Gue gak salah bila seorang Kiya adalah seleranya tinggi. Kita tidak sebanding dengannya",oceh Lili.
Seorang pelayan menyiapkan hidangan spesial di restoran tersebut. Caramel dan Lili menikmati dengan senang.
"Menu pembukanya benar-benar spesial. Gue harus datang lagi sama pacar gue....",oceh Lili yang tidak tahu malu.
Caramel kaget dan tersedak Lili mengatakan sama pacar. "Emang loe udah punya pacar?",tanya Caramel meyakinkan perkataan Lili tersebut.
"Maksud gue, nanti. Gue aja belum selesai ngomong, loe udah tanya aja sama gue!",elak Lili yang menikmati menu pembuka.
Caramel menggelengkan kepala. Ia melihat Lili yang sedang menikmati makanan menu pembuka. Seandainya loe tahu Li, makanan ini ada yang lebih enak dari pada di restoran ini. Yaitu dirumah utama. Kalau ada acara di rumah utama selalu mengundang chef-chef ternama tanah air. Mereka membuat hidangan untuk para tamu kita.
"Thanks",ucap Kiya yang sangat sopan terhadap pelayan.
"Your welcome Nona",jawab pelayan sebelum pergi.
"Bagaimana Bu Caramel dan Bu Lili?",tanya Kiya yang menatap Caramel tajam.
"Menu pembukanya benar-benar enak dan juicy Bu Kiya. Kami benar-benar menikmatinya",jawab Lili.
"Syukur kalau kalian sangat suka. Jadi pelayan kami sangat memuaskan bukan",sindir Kiya.
"Terimakasih Bu Kiya, sudah menjamu kita sangat baik!",kata Caramel.
"Sama-sama Bu Caramel. Bukankah makanan ini lebih dari yang Bu Caramel rasakan bukan?",ucap Kiya dengan menatap Caramel mematikan.
Caramel dan Lili saling pandang satu sama lainnya.
"Maksud Bu Kiya, apa ya?",tanya Caramel curiga.
"Hahaha... Maksud saya, ini tidak sebanding dengan menu yang biasanya Bu Caramel makan. Malah bisa lebih, mungkin!!!",goda Kiya dengan nada jenakanya.
"Tidak juga Bu. Malah ini sangat enak dan fresh",jawab Caramel tidak ada yang ia curigai.
"Oh ya, Bu Lili dan Bu Caramel sudah menikah?",tanya Kiya tiba-tiba.
"Hahahaha..". Tawa Lili.pecah. "Saya aja pacar belum punya Bu. Apa lagi menikah!",jawab Lili. "Yang sudah menikah itu Bu Caramel Bu",ungkap Lili.
Caramel hanya diam dan tersenyum.
"Seriusan?".
"Iya Bu. Dia malah nikah sama konglomerat Bu!",kata Lili yang sudah tidak bisa dikontrol. Caramel dengan cepat menginjak kaki Lili dengan kasar.
"Auwww... sakit Mel!",keluh Lili pelan.
"Maksudnya konglomerat, apa ya?",tanya Kiya yang pura-pura polos.
"Gak usah didengerin apa yang dibicarakan Bu Lili Bu. Dia hanya bercanda aja!",kata Caramel supaya Kiya tidak percaya dengan ucapan Lili.
"Oh begitu. Saya tahu bagaimana tipe dari Bu Caramel. Yang saya lihat dari tipe Bu Caramel adalah sosok yang tampan, sepertinya kaya dan mapan dan tinggi. Benar begitu?",tebak Kiya.
"Hahaha ... Tidak juga Bu. Bukankah itu tipe ibu Kiya sendiri. Bu Kiya sangat cantik, elegan, dan juga sukses dalam dunia bisnis maupun model. Laki-laki mana yang tidak jatuh hati kepada Bu Kiya?",kata Caramel mencoba menetralisir supaya tidak membahas pernikahannya.
"Hahahaha.... Tapi sayangnya dia tidak mengharapkan saya lagi Bu Caramel. Dia memilih wanita pilihan mamanya",jawab Kiya.
"Oh ya.... Wah, pasti laki-laki itu menyesal dikemudian harinya. Tidak seharusnya Bu Kiya merasakan sakit hati seperti saya-saya ini. Bu Kiya aja di sia-siakan, apa lagi wajah pas-pasan seperti saya!",sahut Lili yang langsung menyahut tanpa permisi.
"Semua wanita terlahir cantik-cantik Bu Lili. Hanya nasib dan takdir yang menentukan itu semua. Bukan rupanya, harta maupun tahta yang mereka miliki. Hanya saja hati yang tidak bisa memilih apa yang kita mau atau tidak",ucap Kiya.
Lili bertepuk tangan memberikan sanjungan kepada Kiya karena kata-kata yang sangat indah dan sangat menyentuh. "Kirain yang hanya patah hati kita-kita yang wajah pas-pasan. Ternyata orang cantik juga pernah patah hati ya!!!",goda Lili.
Tawa Kiya pecah mendengar banyolan dari Lili. Andai waktu bisa aku putar, aku akan memutarnya sehingga aku tidak mengenalnya sama sekali.
...***...
...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...
...Terimakasih ...