
...HAPPY READING...
...*****...
Caramel sudah membersihkan mejanya dengan rapi. Berkas-berkas yang berhamburan tadi ia tata rapi di rak buku. Hari ini tidak seperti hari biasanya, karena hari ini begitu banyak pekerjaan yang membutuhkan pikiran dan tenaga yang ekstra.
Drtt... Drtt... Drtt...
Caramel mengambil ponselnya di atas meja. Ia melihat sebuah layar ponsel dengan nama yang tak asing baginya. "Assalamualaikum tuan!".
"Loe mau pulang jam berapa?. Oh... atau jangan-jangan loe masih ada janjian sama mantan terindah loe?",sindir Rei yang sedang santai di atas ranjang.
"Ini mau pulang tuan. Arzan jadi tuan jemput kan?",tanya Caramel.
"Kalau saya gak jemput Arzan, anak saya bisa kelaparan di sekolahnya!!".
"Kok tuan bicaranya seperti itu sih!!. Kalau tuan gak mau jemput Arzan, saya juga gak memaksa itu. Tapi, tuan sendiri yang meminta!!!",sahut Caramel tidak terima. "Lain kali, tuan gak usah jemput Arzan. Biar saya saja!!!".
Tut... Tut... Tut...
Caramel mematikan ponselnya secara sepihak, ia tidak menyangka bila Rei berbicara seperti itu. Ia bisa memaklumi bila Rei memarahi dirinya, tapi tidak dengan Arzan. Ia menyandarkan punggungnya, rasanya lelah dan letih jadi satu.
Tok... Tok... Tok...
Lili masuk kedalam ruangan Caramel. "Loe belum pulang Mel?",tanya Lili yang langsung duduk di kursi.
"Lagi beres-beres Li. Loe sendiri bagaimana?. Kenapa loe masih disini?",tanya Caramel balik sambil menyelesaikan berkas-berkas.
"Kak Cakra ngajak lembur buat tender sama perusahaan Kharisma".
"Loh bukannya udah clear semua perinciannya Li?",tanya Caramel curiga.
"Iya, tapi Bu Kiya minta bahan-bahan lebih miring sedikit, makanya kita akan cari beberapa supplier. Gue bingung, harga yang seperti apa Bu Kiya mau?",oceh Lili.
"Lalu kenapa Bu Kiya gak bilang dari awal pada saat meeting. Kenapa baru sekarang?".
"Gue juga gak tahu. Makanya Kak Cakra diminta oleh Pak Dendi buat mengecek semuanya. Gue takut tender ini gak goal Mel?. Gak biasanya perusahaan ternama minta sesuatu yang sangat mustahil bagi gue".
Caramel menghela nafas kasar. Masalah yang tidak disangka-sangka datang lagi. "Gue yang akan menghubungi Bu Kiya sendiri Li. Maksudnya beliau apa meminta barang yang harga di bawah rata-rata. Setiap barang ada kualitas dan harganya masing-masing Li. Kalau Bu Kiya meminta harga yang lumayan miring, lalu bagaimana dengan kualitas yang dimiliki barang tersebut. Kayaknya gak bisa Li. Loe tahu sendiri perusahaan Kharisma begitu maju dan jaya. Ya kali, meminta barang yang tidak berkualitas. Perusahaan kita aja menonjolkan kualitas dan kuantitas. Lalu kenapa perusahaan Kharisma meminta seperti itu?. Aneh!!!",oceh Caramel.
"Gue juga gak tahu Mel. Makanya, gue sama kak Cakra juga bingung".
"Lalu kenapa Bu Kiya gak ngabari kita?. Kenapa dia malah meminta tolong kepada pak Dendi. Ini itu tender kita Li, tapi kenapa Bu Kiya seakan-akan gak percaya sama kita?. Apa maksudnya coba?",tebak Caramel.
"Gue akan cari tahu sama Kak Cakra, Mel. Gue juga penasaran sih soal itu. Gak biasanya klien kita itu langsung menghubungi pak Dendi sendiri".
"Ok Li. Gue tunggu kabar baiknya. Gue harus pulang sekarang!!!. Rei udah ngoceh gak karuan tentang penjemputan Arzan hari ini".
"Arzan baik-baik aja kan?",tanya Lili khawatir.
"Arzan baik-baik aja kok. Rei nya aja yang gak baik-baik. Gue pulang dulu ya... Bye....!",pamit Caramel yang langsung pergi dari ruangannya.
Cakra yang baru saja keluar dari ruangan melihat Caramel keluar menuju lift.
"Mel, mau pulang?",tanya Cakra yang membuat langkah Caramel berhenti sekejap.
Caramel memalingkan wajahnya kebelakang. "Eh Kak Cakra, iya nih kak. Oh ya, ngomong-ngomong soal tender milik perusahaan Kharisma bagaimana Kak?".
"Loe pasti udah denger dari Lili ya?".
Caramel menganggukkan kepala cepat berharap ada secercah titik terang.
"Gue sama Lili akan mengecek barang dulu Mel. Tadi pak Dendi meminta gue. Gue gak tahu kenapa pak Dendi gak nyuruh loe untuk turun tangan sendiri",jelas Cakra singkat.
"Menurut kakak, pak Dendi gak marahkan dengan kabar ini?",tanya Caramel harap-harap cemas.
"Gue belum bertemu pak Dendi, Mel. Sebab, pak Dendi menghubungi lewat telepon karena sekarang beliau ada diluar kota sedang meeting bersama klien Kalimantan dengan proyek mall".
"Semoga pak Dendi gak marah ya Kak!",harap Caramel.
"Semoga. Tapi menurut loe Bu Kiya itu seperti apa Mel dari sudut pandang loe?",tanya Cakra.
"Menurut gue sih kak, Bu Kiya orangnya humble dan care sama orang lain. Tapi, entah ya itu kan menurut gue Kak. Tapi, selama ini meeting sama Bu Kiya fine-fine aja", pendapat Caramel. "Apa gue harus tanya langsung aja ya kak sama Bu Kiya sendiri?",idenya.
"Gak usah. Gue sama Lili akan mengecek barang dulu. Kalau seumpamanya barang yang kita cek gak sesuai dengan apa yang kita harapkan, gue akan ngabarin loe secepatnya!!",saran Cakra.
Caramel mengerti penjelasan dari Cakra ia hanya mengangguk kepalanya. "Ya udah kak, gue pulang dulu ya?. Keburu malam nanti!".
"Oke Mel. Hati-hati dijalan!",pesan Cakra sambil melambaikan tangannya.
*
*
*
*
*
Rei dan Arzan sedang duduk bersantai di gazebo. Bunda sedang membuat sesuatu didapur.
"Enak ya pa kita tinggal dirumah Oma Rima?",oceh Arzan sambil memberikan makan kepada ikan-ikan kecil di kolam ikan samping gazebo.
Rei mengacak rambut Arzan pelan dan penuh kasih sayang. "Arzan bahagia tinggal disini?",tanya Rei memastikan.
"Bahagia banget pa. Oma Rima gak banyak menuntut dan gak pernah melarang Arzan untuk melakukan sesuatu. Sedangkan Oma Donna, selalu berteriak dahulu sebelum Arzan melakukan sesuatu!",oceh anak kecil itu.
Rei tertegun mendengar pengakuan dari sang putra.
"Arzan ingin sekali pa, punya rumah kecil yang sederhana tetapi didalamnya penuh dengan kebahagiaan seperti rumah teman Arzan, namanya Selina".
"Selina".
"Iya pa".
"Kapan kamu ke rumah Selina sayang?",tanya Rei penasaran.
"Papa lupa ya, dulu Arzan sama Mamel kan ke acara ulangtahun Selina. Tante Lili juga ikut kok".
Rei kembali mengingatnya. "Oh ya, maaf sayang. Papa lupa".
"Rumah Selina itu terletak di perumahan pa. Walaupun kecil tetapi sangat nyaman sekali".
"Iya sayang".
"Arzan mohon ya pa, buatkan rumah buat Arzan dan Mamel untuk tempat tinggal?",mohon Arzan dengan mata penuh harap.
"Papa mau tanya sama Arzan. Apakah ini permintaan Arzan sendiri atau Mamel?",tanya Rei.
"Ini permintaan Arzan sendiri pa. Arzan hanya meminta itu kepada papa. Arzan janji, Arzan akan menjadi anak yang baik dan patuh sama Mamel dan papa Rei".
"Sayang, bukannya papa gak mau buat rumah untuk Arzan dan Mamel. Tetapi, papa takut disaat papa gak dirumah, kamu dan Mamel sendirian dirumah. Papa hanya takut itu sayang. Dan kalau papa dan mama kerja siapa yang akan jaga Arzan dirumah",jelas Rei kepada sang putra.
"Kita tinggal di komplek pa. Kan ada pak satpam yang jaga. Dan juga pada saat Arzan pulang Mamel juga udah dirumah kok",ucap Arzan.
"Arzan....".
Arzan meneteskan air mata. "Pa, Arzan gak mau Mamel kelelahan pada saat dirumah besar. Arzan mau membantu Mamel, tapi Arzan pasti gak diizinkan buat bantu-bantu dirumah. Arzan kasihan pa sama Mamel",sedih Arzan dengan wajah yang muram.
Deg. Hati Rei terenyuh mendengar pengakuan Arzan. Anak sekecil itu sudah bisa menilai apapun yang terjadi disekitarnya. Rei memeluk Arzan penuh sayang.
"Arzan sayang pa sama Mamel. Arzan gak mau Mamel sampai jatuh sakit",tangis Arzan pecah dipelukan sang papa.
Sebuah mobil masuk ke dalam lingkungan depan rumah. Ialah Caramel yang baru saja pulang. Ia memarkir mobilnya didekat mobil sang suami. Ia turun dari mobil dan melihat Rei dan Arzan saling pelukan. "Sayang Arzan!!!",panggil Caramel.
Arzan yang melihat sang Mama memanggilnya langsung berlari menghampiri sang Mama. "Mama, Arzan kangen!!!",peluk Arzan dengan erat.
Caramel tersenyum manis. "Mama juga kangennnnnnnn bangetttttttttt sama Arzan!".
Arzan melepaskan pelukannya dan mencium pipi sang Mama.
"Tebak mama pulang bawa apa?",tanya Caramel kepada sang putra.
"Pasti kesukaan Arzan kan Ma!!!",tebak Arzan.
"Iya dong!!".
Rei melihat dari kejauhan. Betapa hatinya tersentuh melihat kebahagiaan di antara mereka berdua. Kebahagiaan yang sangat sederhana yang mereka mau bukan berlebihan. Maafkan papa ya sayang, papa tidak terlalu peka terhadap kalian berdua. Entah, papa yang terlalu egois atau papa yang terlalu membenci mama kamu tentang pernikahan ini.
...*****...
...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...
...Terimakasih...