
Beberapa bulan setelah kelulusan Salsa, datanglah om dan istrinya. Irna, itulah nama istri dari omnya Salsa, mereka datang tak hanya berdua, ada juga tamu yang baru menginjakkan kakinya di kampung Salsa yang asri, namanya ibu Fifi. Beliau adalah guru dari omnya Salsa, alasan ia datang kesini dengan adalah untuk berobat dan sejak dulu beliau juga sangat ingin datang ke kampung ini. Namun karena ada beberapa kendala hingga baru sekarang keinginan ibu Fifi tercapai.
Mereka tiba dirumah pada malam hari. Setelah acara peluk-pelukan untuk membayar sedikit rasa rindu dengan keluarga, akhirnya mereka memilih segera istirahat agar keesokan harinya kembali fit dan rasa lelah setelah seharian berada di perjalanan dapat sedikit terobati.
Ada banyak hal yang ingin keluarga Salsa tanyakan dan ceritakan. Terutama kepada istri Omnya, Tante Irna yang baru pertama kali datang ke rumah mertuanya. Walaupun mereka masih merasa canggung karena baru pertama kali bertemu, namun mereka terus berusaha akrab.
Melihat tante Irna dan ibu Fifi berada di dapur pagi-pagi buta membuat nenek Sarah segera menghampiri mereka.
“Kalian ngapain nak? Kok pagi-pagi begini sudah di dapur? Ayo ayo kita ke teras aja. Kerjaan dapur bisa nanti”. Cegah nenek Sarah agar mereka keluar dari dapur.
“Nggak apa-apa bu, Cuma bisa kerja sebisanya kok, nggak maksa juga, takut ada yang salah”. Jawab tante Irna
Memang mereka belum terlalu paham memasak dirumah nenek Sarah karena disana memasak menggunakan kayu bakar, sedangkan di Sulawesi sudah sangat jarang ditemukan hal demikian.
Di siang hari nenek Sarah berada di dapur untuk mempersiapkan makan siang.
"Nak Irna, kamu kalo sarapan biasanya makan apa?" Tanya nenek Salsa pada menantu barunya.
“Nggak usah repot-repot bu, kami bisa kok masak sendiri”. Pinta tante Irna karena merasa tidak enak hati.
“Nggak apa-apa kok, Cuma masa dikit, menu sederhana. Ala rumahan” jawab Nenek Sarah sambil tersenyum.
"Ya sudah, Terserah ibu saja, saya apa aja makan kok Bu, nggak pilih-pilih inshaa Allah" jawab menantunya dengan sangat sopan.
"Kalo ibu Fifi gimana? Sama aja? Bisa makan apa aja kan?. Nenek Salsa masih bertanya karena beliau takut tidak suka dengan masakan yang akan dibuatnya.
"Iyya Bu, kami inshaa Allah makan apa aja".
Setelah beberapa lama berfikir akhirnya nenek Sami masak ikan, tempe, dan sayur Sop. Tak lupa dengan sambal khas buatan nenek Salsa yaitu sambal terasi. Makanan ala rumahan yang sederhana telah siap disajikan.
Nenek Sarah, beliau ibu dari ibunya Salsa. Nenek Sarah sangat menyayangi Salsa karena ia adalah cucu pertama dalam keluarganya.
Setelah sarapan selesai barulah mereka bercerita banyak tentang Sulawesi, keluarga Salsa juga bertanya banyak tentang awal mula tante Irna bertemu dengan omnya Salsa yaitu om Ilham. Mereka juga menceritakan tentang sekolah yang akan menjadi tempat Salsa.
ditengah-tengah cerita tiba-tiba ibu Salsa mengatakan
"Bu, Tuh Salsa masih ragu kayaknya mau sekolah di Sulawesi" kata ibu Salsa.
"Loh kenapa? Disana tu bagus sekolahnya, kamu akan punya banyak teman, kamu juga akan belajar banyak disana". Ibu Fifi mulai menjelaskan keadaan di sekolah yang akan di tempati oleh Salsa
"Nggak tau tuh dia, katanya nggak mau ninggalin ayah ibunya apalagi adiknya, berat banget".
"Kalo mau sekolah dan sukses itu jangan setengah-setengah, kamu kan mau buat keluarga kamu bahagia, jadi kamu harus ikhlas berkorban, terutama jauh dari keluarga kamu".
Ibu Fifi juga salah seorang guru di sekolah yang akan ditempati oleh Salsa. Beliau adalah guru mata pelajaran Bahasa Arab. Ibu Fifi adalah seorang guru yang sangat sabar dan penyayang, beliau terus mencoba memberikan gambaran indahnya sekolah di sana dan mencoba mengambil hati Salsa agar ia mau sekolah di Sulawesi.
Tante baru Salsa, tante Irna yang juga istri omnya itu, ia juga selalu memberi semangat dan sering menasehati Salsa agar ia mau ke Sulawesi. Ia juga mengatakan bahwa disana juga akan ada keponakannya yang sebentar lagi akan sekolah ditempat Salsa nanti.
Di sela-sela waktu senggang, mereka sedikit bercerita kepada Salsa.
“Nak, kamu kalo sekolah di Sulawesi nggak perlu bingung mau tinggal dimana, nanti kamu tinggal di rumah sama tante”.
“Oh, gitu ya tan? Memangnya sekolahku itu jauh dari rumah? Kalo mau ke sekolah naik apa?”.
“Yah lumayan nak, kalo kamu mau ke sekolah naik motor sama om kamu, beliau kan juga ngajar di sekolah yang akan kamu tempati nanti”.
Mengingat di SD dulu Salsa sering jalan kaki, ketika mau lanjut sekolah di Sulawesi sudah berbeda. Ia tak lagi jalan kaki seperti dulu, ia akan berangkat ke sekolah bersama omnya.
“Terus pulangnya gimana? sama om juga?” Mulai banyak pertanyaan yang Salsa keluarkan karena mulai penasaran dan tertarik.
“Ya sama om kamu, kan yang ngajar om kamu, jadi jam pulangnya juga pasti sama”.
Setelah beberapa hari berada di kampung, keluarga nenek Sami pergi berziarah ke makam para ulama besar yang ada di daerahnya. Mereka juga jalan-jalan ke tempat-tempat wisata yang berada di sekitarnya seperti taman alun-alun kapuas yang memiliki replika Tugu Khatulistiwa di salah satu sudut taman, mereka juga pergi ke masjid Jami Pontianak yang biasa juga di kenal dengan nama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman, Masjid ini dapat menampung 1.500 jamaah. Sungguh Masjid yang sangat megah.
Setelah dari masjid, tak lupa mereka membeli cenderamata yang berada di pasar tradisional, pasar itu terletak di sisi kira pintu masuk Masjid.
Setelah sekitar satu bulan ibu Fifi berobat dan tinggal di rumah nenek Sami, beliau pamit pulang lebih dulu karena alasan ada beberapa pekerjaan yang ditinggalkannya.
Beliau pulang dengan membawa banyak kenangan tentang indahnya kampung halaman yang selama ini sangat penasaran akhirnya terbayarkan dengan puas tanpa kecewa.
Sudah berasa keluarga sendiri, kepergian ibu Fifi diiringi tangis sekeluarga, begitu pula dengan ibu Fifi yang juga sangat sedih karena hanya beberapa hari merea bersama.
“ibu tunggu kamu di Sulawesi sayang!”. Ibu Fifi berkata pada Salsa yang juga menangis.
“Inshaa Allah bu, doakan semoga dimudahkan dan nggak ada kendala apapun”. Jawab pak Fadhil pada ibu Fifi.
“inshaa Allah pak, semua akan mudah jika kita mau berusaha dan saya yakin Allah juga ridho dengan niat baik kita”. Jawab ibu Fifi sambil bersalaman dengan keluarga yang lain karena memang cukup banyak yang datang untuk melihat ibu Fifi pulang, terutama para tetangga.
Ibu Fifi pun pergi dan keluarga nenek Sami tak henti melambaikan tangan hingga mobil yang mengantar ibu Fifi tak terlihat lagi dari pandangan mereka.
Beberapa hari telah berlalu sejak pulangnya ibu Fifi, dan keluarga Salsa kembali bersilaturrahmi ke rumah keluarga almarhum bapaknya bu Fitri, kakek Salsa.
Kampung kakek Salsa memang lumayan jauh dari kampungnya. Jadi mereka juga jarang bertemu dan keluarga nenek Sami selalu menyempatkan datang ke sana jika keluarganya sedang berkumpul semua seperti saat ini.