A Choice

A Choice
Acara Makan Malam



...HAPPY READING...


...***...


Sebuah mobil keluaran terbaru masuk ke halaman rumah keluarga Abisatya. Disana sudah berjejeran mobil-mobil mentereng yang tidak kalah mahalnya.


Seorang wanita cantik sedang turun dari mobil mewah dengan ajudan yang sudah membukakan pintu sang empu. Wanita cantik itu berjalan layaknya di karpet merah yang sedang digelar. Yang diikuti oleh sang Mama tercinta.


Donna dengan wajah sumringah yang menunggu didepan pintu langsung menghampiri wanita cantik tersebut. "Selamat malam sayang!",sapa Donna bercipika-cipiki dengan wanita cantik yang menjadi tamu utama secara bergantian.


"Selamat malam jeng!",sapa Cathy yang membalas cipika-cipiki.


"Malam juga Jeng",balas Donna. Donna memperhatikan penampilan Key dari atas kepala sampai kaki. "So... So... beautiful Key!",puji Donna berlebihan.


"Tante, please... jangan panggil nama Kiya dengan sebutan Key!. Itu cuma masa lalu Kiya, tante!",mohon Kiya dengan tersenyum manis. Ia tidak mau dipanggil lagi dengan sebuah nama yang membuatnya sangat...sangat kecewa. Nama Key adalah nama panggilan kesayangan dari Rei. Key sendiri adalah sebuah singkatan dari nama mereka berdua. Dan Key dalam bahasa asing adalah kunci. Jadi, Key adalah kunci hati milik Rei dan Kiya. Nama itu sendiri yang membuat Rei pada saat mereka sudah jadian sekitar sepuluh tahun yang lalu.


"Maafkan tante sayang. Tante sangat suka nam itu. Nama itu melambangkan diri kamu sayang. Makanya tante belum bisa melupakan kamu dalam hidup tante. Dan tante masih berharap -",kata Donna terputus setelah Cathy memberikan sebuah isyarat supaya Donna tidak membalas lagi.


Kiya menghela nafas kasar. Ia tahu bahwa ia melakukan kesalahan yang sangat fatal dan mengakibatkan hubungan dengan Rei semakin renggang.


"Itu cuma masa lalu jeng. Kita tidak tahu takdir apa yang akan menghampiri anak-anak kita",ucap Cathy bijak.


"Iya jeng".


Sisca dari kejauhan sudah berteriak memanggil Kiya yang sudah lama tidak berjumpa dengan mantan tunangan sang kakak. "Kak Kiya, apa kabar?",tanya Sisca menghamburkan sebuah pelukan ke Kiya.


"Alhamdulillah baik Sisca. Kamu apa kabar?",tanya Kiya balik yang membalas pelukan dari sang kakak.


"Aku baik-baik aja kak. Lama tidak berjumpa!",jawab Sisca manja.


"Ya udah, kita masuk yuk!",ajak Donna menggandeng Cathy.


Kiya memandang seluruh isi rumah yang terdapat dirumah utama. Penampilan yang tidak banyak berubah. Rumah yang terlihat elegan setiap saat. Ia berhenti sejenak memandang sebuah bingkai foto besar yang terpajang nyata di dinding dengan sempurna. Foto keluarga besar Abisatya. Disana terdapat juga foto keluarga kecil berserta anaknya yang terlihat menggemaskan ialah kelurga Rei. Ia tidak tersadar bahwa ia mengembangkan sedikit senyuman. Hatinya terasa masih ngilu saat Rei menikahi seorang wanita yang tidak Rei kenali. Laki-laki yang ia cintai menikah dengan wanita lagi. Bagaimana perasaanmu, tapi aku yang seharusnya disalahkan atas semua ini. Karena aku yang telah meninggalkan Rei pada saat itu.


Pernikahan Rei tidak tersebar karena pernikahan itu sendiri dilakukan secara diam-diam karena Rei tidak mau seseorang melihat pernikahannya. Tapi, wanita itu tidak asing bagiku?.


Sisca yang tersadar bahwa Kiya berhenti memandangi foto ia segera menghampirinya. "Kak Kiya. Ada apa?. Apakah ada yang aneh sama foto Kak Rei?",tanya Sisca.


Kiya hanya menggelengkan kepala. "Tidak ada Sisca. Hanya saja....". Ucap Kiya terputus karena membayangkan kalau dulu ia menikah dengan Rei, mungkin saat ini ia dan keluarga kecilnya akan bahagia.


"Kak, Kak Rei pasti akan maafin kakak kok. Kakak tahu sendiri kalau kakak adalah hal yang terindah bagi kak Rei, bukan si Caramel itu!",seru Sisca menenangkan Kiya.


"Tapi sekarang sudah beda Sis, Caramel adalah hal yang terindah bagi kakak kamu. Bukan kakak lagi".


Sisca memegang tangan Kiya. "Kata siapa Caramel bisa menggantikan kak Kiya, hubungan kak Rei sama Caramel tidak seperti kakak bayangkan!".


Kiya memandang Sisca seketika. Apa maksudnya coba?. Bukankah hidup mereka bahagia?. Bukankah Rei sangat mencintai sang istri?. Lalu mengapa Sisca mengatakan demikian?. "Sis, jangan bicara sembarangan kalau kakak kamu sampai mendengar hal itu, dia pasti akan marah besar nanti!",saran Kiya.


"Kenapa Sisca harus takut kak?. Bukankah Kak Kiya dan Kak Rei sedang tidak baik-baik saja?",ucap Sisca teringat akan Kiya menampar sang kakaknya.


"Sis, ini bukan masalah kamu. Ini masalah orang dewasa. Kamu belum ngerti soal ini",sahut Kiya tidak terima Sisca ikut campur dalam masalah pribadinya dengan Rei.


Kiya langsung menghampiri sang Mama dan Donna yang sudah berada di meja makan. Ia duduk di sebelah sang Mama. Ia melihat kursi-kursi yang masih kosong belum terisi oleh penghuni rumah utama. "Tante, kok masih sepi. Dimana yang lainnya tante. Seperti istri Rei dan anak Rei?",tanya Kiya dengan rasa penasaran karena Donna telah mengundang makan malam dirumah utama.


Donna dengan santainya dan tersenyum manis. "Istri dan anak Rei sedang liburan sayang. Mungkin besok pulangnya",alasan Donna yang masuk akal.


Mulut Kiya membentuk huruf o tanda mengerti. Cathy yang merasa risih atas pertanyaan sang putri langsung menyenggol lengan dengan pelan memberikan Kiya isyarat supaya Kiya tidak membahas istri dari Rei. Tapi Kiya masih saja keras kepala dengan pendiriannya. "Liburan kemana tante?".


"Liburan ke Bandung sayang. Soalnya di sekolah Arzan ada sebuah kegiatan outbond dan Family gathering. Maafkan mereka ya, tidak bisa ikut ngumpul makan malam dengan kita?",ucap Donna mencari alasan yang masuk akal supaya Kiya percaya dengannya.


"Tidak apa-apa kok tan. Mungkin lain kali kita bikin acara lagi seperti ini. Lalu dimana Rei tante?".


Donna kesal dengan sikap Rei yang tidak bisa bersahabat dengannya lagi. Ia tahu saat ini Rei sedang marah dengannya. "Nanti Rei juga kesini sayang".


Disisi lain Rei sedang berada diruang kerja. Ia sedang menikmati susu jahe yang sudah dingin pemberian dari Caramel sebelum Caramel pergi dari rumah ini. Enak sih, tapi sayang sudah dingin. Bi Dewi memang jago kalau buat susu jahe seperti ini!! batin Rei menikmatinya.


Tok... Tok... Tok...


Rei menjawab dari dalam bahwa mereka yang sedang mengetuk pintu dipersilahkan masuk kedalam.


Sisca masuk dengan terburu-buru. Ia melihat Rei yang masih memakai kaos t-shirt dengan celana pendek. "Kakak apa-apaan sih, kok belum siap-siap?",oceh Sisca kesal.


"Siap-siap kemana sih. Sepertinya hari ini kakak sudah menjalankan tugas kakak dengan baik".


Sisca mengacak rambutnya kesal karena sang kakak tidak terlalu peka. "Hari ini adalah hari penyambutan kak Kiya pulang Kak. Seharusnya kakak bahagia dong!!!".


"Memang dia siapa sih, sampai ada hari penyambutan segala!!",ogah Rei malas.


Sisca memegang lengan Rei memaksa Rei ikut dalam acara makan malam hari ini. "Ayolah Kak, kasih Kak Kiya kesempatan lagi... Dia udah tulus loh minta maaf sama kakak!".


"Mau tulus apa gak, itu sudah tidak menjadi prioritas kakak lagi!".


"Kak, Kakak sama kak Kiya itu sangat serasi dan cocok. Bayangkan aja, kakak sama kak Kiya udah bersama-sama bertahun-tahun. Kakak lupa itu?".


Rei menggelengkan kepala tidak mau mengingat lagi. Tapi pendapat Sisca berbeda dengan isi kepala Rei sendiri. Sisca sudah bersorak gembira atas jawaban dari sang kakak.


"Udah... Udah... Kakak mau siap-siap dulu!!!",ucap Rei meninggalkan Sisca di ruang kerja.


"Kemana kak?. Makan malam bersama kan?",teriak Sisca merasa menang atas keras kepala sang kakak.


Rei mengangkat salah satu tangannya ke atas. Ia melambaikan tangannya.


"Apaan sih kak?".


"JEMPUT ISTRI DAN ANAK KAKAK!!!!".


...***...


...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...


...Terimakasih ...