
Setelah ibu Fifi keluar dari ruangan kelas semua anak datang mengerumuni tempat duduk Salsa. semua penasaran dan ingin bertanya latar belakang dan apa alasan Salsa jauh-jauh sekolah ke Pondok ini.
Begitulah kehidupan, ketika ada sesuatu yang baru maka orang lain berebutan dan semuanya ingin tahu mulai awal hingga akhir. Mereka memperkenalkan diri satu per satu dan Salsa belum bisa mengingat nama mereka sekaligus, semua bertanya secara bersamaan hingga membuat Salsa bingung mau jawab yang mana.
Begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh teman-teman baru Salsa. mereka bertanya dan ingin menuntaskan semua jawaban itu dalam sekejap seolah tak ada lagi hari esok yang akan dilewati bersama.
Setelah beberapa saat Salsa bisa menjawab satu per satu pertanyaan mereka yang bahkan ada beberapa yang menanyakan hal aneh menurut Salsa. Setelah semua selesai mendengar dan puas dengan jawaban dari Salsa akhirnya mereka kembali ke aktivitas semula dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
"Hay Salsa, namaku Rani, Maharani Abdillah nama lengkap ku, nama lengkap kamu siapa?". Tanya seorang santriwati yang sejak tadi sibuk menulis dan tidak ikut bergabung dengan teman yang lainnya. Dia mengulurkan tangannya tanda ingin memperkenalkan diri.
"Namaku Ainun Salsabila Fadhil". Jawab Salsa yang juga mengulurkan tangannya.
"Fadhil? Nama ayah kamu ya?". Tanya Rani karena ada nama Fadhil di belakang nama Salsa.
"Iya, nama ayahku Fadhil, makanya namaku ada Fadhil nya di belakang". Jawab Salsa sembari tersenyum.
"sama dong sama aku, namaku Maharani Abdillah, dan nama ayahku Abdillah".
"Asal kamu dimana Rani?"
"Aku aslinya nggak tau Sulawesi atau Jawa. Ayahku asli sini (Sulawesi) dan merantau di Jawa dan ibuku asal Jawa. Nah aku lahir di Sulawesi, terus aku tinggal di Jawa udah lama. Nggak tau deh aslinya dimana. Asli Sulawesi atau Jawa yah?". Tanya Rani pada diri sendiri sambil tertawa karena dia sendiri bingung harus jawab apa ketika ditanya tempat asalnya.
"Berarti kamu blasteran. Blasteran Jawa dan Sulawesi sma kayak kalo bule nikah sama orang Indonesia kan anaknya jadi blasteran". Jawab Salsa yang juga tertawa mendengar penjelasan Rani.
"Iya kali ya. Yah nggak tau juga nih. Asal aku masih anak ayah ibuku nggak masalah mau asli mana. Kalo kamu asli mana?"
"Aku asli Pontianak, ayah ibu, dan aku semuanya lahir disana. Jadi aku nggak bingung kayak kamu". Salsa menjawab sambil melempar candaan pada Rani. Walaupun baru berkenalan, namun mereka berdua langsung terlihat sangat akrab seperti telah lama saling mengenal.
Setelah mereka berdua saling berkenalan datanglah seorang guru yang mengajar pada jam tersebut, namanya pak Rahmat, beliau guru Al Qur'an hadits, dan beliau terlihat seperti orang yang humoris dan baik hati.
"Assalamu'alaikum anak-anak, selamat pagi menjelang siang". Ucapnya pada murid yang berbeda di dalam kelas.
"Wa'alaikumussalam pak, pagi menjelang siang juga pak".
"Sebentar-sebentar, kayaknya saya melihat ada orang baru di kelas ini". pak Rahmat mulai melihat ke arah Salsa.
"Iya pak, namanya Salsa, ponakannya pak Ilham pak". Jawab teman sebangku Salsa.
"oohhh Salsa ya. nama lengkapnya siapa?".
"Nama saya Ainun Salsabila Fadhil pak, panggilannya Salsa". jawab Salsa pada pak Rahmat.
"Salsa. yaaa Salsa. Nama yang bagus, Semoga kamu betah ya sekolah disini, disini tuh orangnya baik-baik kayak bapak ini"
"Duuhh bapak,kami sudah tau kalo bapak baik, dan semoga bapak juga segera bertemu dengan jodoh yang baik pula". Ucap Rani yang memang akrab dengan pak Rahmat.
"Hehehe, jelas dong, bapak harus bersikap baik sama siapapun, dimana pun dan kapan pun". pak Rahmat membalas ucapan Rani dan tersenyum.
Senyum pak Rahmat memang membuat para wanita di sekelilingnya merasa telah melihat duplikat dari nabi Yusuf, beliau tinggi, badannya tegak, pintar, humoris, dan sangat lucu, sangat pandai mencairkan suasana yang awalnya kaku menjadi seperti ada komedian yang datang di tengah-tengah para santriwati.
sebelum masuk ke pembelajaran memang pak Rahmat dikenal sebagai guru yang terlebih dahulu memberi semangat dan pemanasan sebelum belajar seperti menceritakan tentang sesuatu yang lucu, memberikan motivasi tentang para pencari ilmu, bahkan terkadang bercerita tentang hal-hal yang lucu.
"Aamiin yaa Allah". Jawab para santriwati.
Jam telah menunjukkan pukul 10.10 dan lonceng pun berbunyi, tanda bahwa jam istirahat telah tiba. Pak Rahmat juga telah selesai mengajar dan membaca doa penutup belajar.
Salsa masih duduk di kursinya, dan menulis penjelasan yang diberikan saat pelajaran yang pak Rahmat berikan tadi.
"Salsa." panggil Rani.
"Iya Ran, kenapa?
"Kamu nulisnya masih lama nggak?".
"Bentar lagi kok, kenapa emangnya?" Tanya Salsa.
"Aku mau ajak kamu ke kantin".
"Ohh bentar ya, dikit lagi nih. Oh iya, di kantin jual apa aja Ran?".
"Ada banyak Sa, kalo kamu laper ada nasi uduk, nasi kuning, bisa masak mie juga. Terus ada makanan ringan, kayak kerupuk bakwan, somay, pokoknya banyak deh. Kamu harus coba, makanannya enak-enak". Rani menjelaskan apa saja yang di jual di kantin yang akan di datangi oleh mereka.
Di samping Rani ada juga sosok temannya yang juga ikut menunggu Salsa selesai menulis, namanya Nur Aini Ramadhani. Dia cantik, putih, pintar dan setinggi Rani, sekitar 145 cm.
"Aini kamu mau ikut sama aku dan Salsa atau mau ke kantin duluan?". Tanya Rani pada Aini temannya.
"Ikut kalian dong, kasian kamu kalo nunggu Salsa sendiri". Jawab Aini
"Maaf yah teman-teman, kalian harus menunggu aku ke kantin. kalo kalian udah lapar nggak apa-apa kalian duluan aja ke kantin". ucap Salsa merasa tidak enak hati membuat kedua temannya menunggu.
"Nggak masalah kok sa, santai aja". Jawab Rani yang tidak keberatan menunggu teman barunya itu.
"Ayo kita ke kantin, aku udah selesai nulis, sekali lagi maaf membuat kalian menunggu".
"Salsa nggak apa-apa kok, kamu jangan sungkan-sungkan sama kami, kamu kan teman kami jadi kalo ada apa-apa cerita aja". Aini menjawab dengan mantap dan menggandeng Salsa ke kantin.
"Ya udah deh. Makasih ya kalian sudah mau menjadi temanku, semoga kita tetap begini terus sampai kapanpun".
Salsa merasa senang karena hari pertama di sekolah berjalan dengan baik dan semua teman kelas baik padanya dan apa yang Salsa takutkan telah hilang sedikit demi sedikit.
Ia bersyukur karena bisa bertemu Rani dan Aini yang mau menunggu Salsa selesai menulis dan mengajak ke kantin. Kalau tidak begitu, mungkin Salsa tidak akan keluar kelas dan memilih menyibukkan diri dengan menulis dan mengulangi pelajarannya.
HAI KAK.. MAKASIH BANYAK SUDAH MAMPIR UNTUK MEMBACA KARYA KU.
MAAF JIKA BAHASANYA MASIH AMBURADUL. MOHON MAKLUM MASIH PEMULA KAKAK.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN JUGA SHARE YA KAK..
MOHON TUNGGU EPISODE SELANJUTNYA 🙏🙏