
...HAPPY READING...
...***...
Arzan, Caramel dan Rima sedang menikmati makan malam yang Caramel masak.
"Oma, tante Tiara kok gak ada dirumah. Tante kemana Oma?",tanya bocah kecil itu.
"Tante nanti pulang kok sayang. Tapi agak malam. Mungkin main dulu kerumah teman atau sedang mengerjakan tugas kelompok",jelas Bunda.
Caramel yang ada disamping Arzan langsung mengelus rambut sang putra penuh kelembutan. "Sayang, setelah makan malam, kamu langsung masuk kamar dan belajar ya?".
"Iya Mamel. Tapi nanti malam Arzan tidur sama Oma ya Mamel?. Arzan udah lama tidak tidur sama Oma?",pinta Arzan.
"Iya sayang. Nanti biar Mamel tidur sama tante ya!!",jawab Caramel.
Pintu utama terbuka pertanda seseorang masuk kedalam rumah. Caramel dan bunda saling pandang, mereka berpikir yang tidak-tidak.
"Tiara pulang!!!",ucap Tiara dengan lemas dan tidak bertenaga karena ia malas untuk kembali pulang.
"Tiara". Caramel langsung berdiri menyambut sang adik.
Tiara tercengang melihat sang kakak ada di rumahnya. "Kak Amel",ucapnya tidak percaya. Tiara hanya terdiam di tempat. Dia siapa, dia ternyata bukan siapa-siapaku. Bahkan kita tidak ada sama sekali darah yang mengalir ditubuhku. Lalu haruskah aku memeluknya?.
Caramel mendekatinya ingin sekali memeluk dengan erat melepaskan rindu. Tapi sepertinya Tiara menghindarinya karena dia tidak menunjukkan sikap sedemikian seperti Caramel.
Tiara mundur satu langkah menatap Caramel dengan tatapan seperti ingin menunjukkan sesuatu yang tidak sepantasnya ia berada di sini.
"Kamu nggak kangen sama kakak?",tanya Caramel yang melihat perubahan Tiara yang dapat ditebak olehnya.
"Tiara kangen sama Arzan!",elak Tiara yang langsung menghampiri Arzan yang duduk di meja makan. Ia memeluk Arzan dengan erat. Melepaskan kerinduan yang mendalam. Matanya berkaca-kaca menyadari bahwa Arzan bukanlah keponakan atau semacam apa itu. Persetan dengan itu semua.
"Arzan kangen sama tante Tiara!",balas Arzan yang senang karena Tiara memeluknya.
Caramel hanya melihat Tiara memeluk Arzan dengan erat. Ia tahu bahwa sekarang Tiara tidak baik-baik saja dengan ini semua.
Tiara mengacak rambut Arzan gemas. "Makan yang banyak ya sayang!. Supaya Arzan cepat gede dan tumbuh menjadi anak yang baik!".
"Iya tante. Tante apa kabar?",tanya Arzan balik.
"Tante baik-baik aja sayang. Ya udah, tante masuk kekamar dulu ya, mau mandi!",pamit Tiara yang langsung mendapat anggukan dari Arzan. Ia langsung pergi ke kamarnya.
Caramel duduk kembali ke tempat semula dekat dengan sang putra. "Sayang, makannya udah selesai apa belum?",tanya Caramel kepada Arzan, karena ia ingin berbicara empat mata dengan sang ibunda.
"Udah Mamel",jawab Arzan sambil meletakkan sendok dan garpu.
"Good job sayang. Ya udah, sekarang Arzan masuk kekamar ya dan belajar buat besok!".
"Iya mamel". Arzan pergi meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya.
"Maafkan bunda ya sayang, gara-gara bunda kita seperti merasa canggung satu sama lain!",kata bunda mengawalinya.
"Gak apa-apa bunda. Mungkin ini hanya salah paham. Lalu bagaimana dengan Tiara bunda?. Apakah sikap dan sifat Tiara seperti ini?",tanya Caramel.
Bunda menghela nafa kasar. Ia ingin sekali menyumpal mulut sang mantan suaminya itu. Berani sekali dia membuka siapa Tiara sebenarnya. "Itu nanti urusan bunda sayang. Bunda sudah bicara baik-baik dengan Tiara. Mungkin dia butuh waktu untuk menerima kenyataan yang pahit ini",jelas bunda.
Bunda memegang kedua pipi sang putri sulung. Ia mengerti apa yang dimaksud Caramel, tetapi kita tidak pernah mengerti apa yang diharapan oleh Tiara. "Bunda sangat mengerti sayang. Tapi, ini masalah hatinya Tiara sayang. Bunda sudah bicara baik-baik sama Tiara, dan Tiara mengerti maksud dari bunda. Tapi, itu semua tidak mudah buat Tiara sayang. Dia hanya butuh ruang dan waktu untuk bisa menerima keadaan ini",jelas Bunda.
"Iya bunda. Amel ngerti. Nanti biar Amel bicara sama Tiara ya Bun, Amel gak mau nyakiti perasaan Tiara!".
Bunda memeluk Caramel mengerti bagaimana Caramel mengkhawatirkan keadaan sang adik. "Iya sayang".
*
*
*
Caramel mencoba mengetuk pintu kamar Tiara. Ia berharap semoga Tiara mau mengobrol dengannya walaupun sebentar. "Ra, ini kakak. Bisa bicara sebentar?",kata Caramel yang masih setia didepan pintu kamar.
Tiara yang sedang mengeringkan rambut mendengarkan apa yang disampaikan sang kakak. "Masuk, gak dikunci!",teriak dari dalam kamar.
Lega. Caramel tersenyum manis mendengarkan jawaban dari sang adik.
Ceklek.
Caramel membuka pintu kamar dengan perlahan. "Kamu sedang apa Dik?",tanya Caramel basa-basi.
"Kakak lihat sendiri kan Tiara sedang apa!",ketus Tiara yang masih mengeringkan rambut dengan handuk kecil.
"Kok gitu sih jawabnya Dik!". Caramel merasa hatinya sakit karena Tiara berbicara dengan nada yang tidak senang.
"Gak usah basa-basi deh Kak. Tumben kakak malam-malam di sini?. Ada apa?. Sedang bertengkar sama Kak Rei?",tanya Tiara.
"Ra, apa kakak mengganggu waktu kamu?. Apa kakak tidak boleh menginap disini?",tanya Caramel yang masih berdiri didekat ranjang.
"Ngapain kakak tanya sama Tiara, inikan rumah kakak bukan rumah Tiara!",ketus Tiara.
"Ra. Kakak ngerti kamu marah sama ayah dan bunda. Bahkan kamu marah sama keadaan. Tapi... tapi kita sangat menyayangi kamu, Ra. Kakak janji, kakak akan mencari orang tua kandung kamu. Kakak akan mempertemukan kalian!!!".
Tiara tersenyum tidak percaya. "Buat apa Kak!!!. Buat apa!!!. Tiara gak akan pernah ingin bertemu dengan orang tua kandung Tiara, SAMPAI KAPANPUN!!!".
"Iya, kakak gak akan mencari orang tua kamu. Tapi, tolong jangan seperti ini Ra. Kamu adik kakak sampai kapanpun. Dan kakak minta maaf bila selama ini tante Monna menyakiti kamu. Kakak benar-benar tidak tahu sayang!",jelas Caramel.
"Tidak apa-apa kakak. Memang Tiara pantas mendapatkan ini semua. Mendapatkan caci dan maki dari orang-orang yang membenci Tiara!".
"Enggak sayang. Mereka tidak tahu bagaimana kamu tulus untuk menyayangi orang lain. Mereka tidak tahu bagaimana menghargai seseorang yang ada didekat kita. Sayang, ini janji kakak dari dulu. Kakak akan selalu membantu kamu dalam masalah apapun. Termasuk biaya kuliah kamu. Kakak gak mau kamu dipandang rendah lagi sama seseorang!",ucap Caramel memeluk Tiara.
Tiara menangis tersedu-sedu dipelukan sang kakak. "Maafin Tiara Kak. Maafin Tiara!!!. Tiara seharusnya bersyukur memiliki kakak dan bunda yang sangat menyayangi Tiara. Tiara tidak tahu apa yang terjadi bila bunda tidak menemukan Tiara pada saat itu. Tiara takut Kakkkkk!!!".
Caramel ikut tersentuh hatinya atas perkataan Tiara. Ia memeluk sang adik dengan erat sambil menenangkan bahwa dia akan baik-baik saja bial ada disampingnya dan Bunda.
...***...
...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...
...Terimakasih ...