A Choice

A Choice
Merantau



Sekitar satu bulan setengah om Ilham dan istrinya tinggal di kampung, mereka sengaja mengambil cuti mengajar selama beberapa bulan karena memang sejak mereka menikah belum mengambil masa cutinya.


"Nak, kamu cutinya berapa lama?. tanya nenek Sarah pada anaknya Ilham.


"Saya ambil cuti 2 bulan Bu, yaah mumpung ada waktu jadi Ilham sekalian ambil cuti 2 bulan soalnya kan pas Ilham menikah nggak ambil cuti".


"Ooh jadi kamu disini udah nggak lama lagi yah, soalnya kan udah sebulan setengah kamu disini".


"Iyya Bu, tapi inshaa Allah Ilham akan sering-sering pulang kok. Ilham akan berusaha untuk pulang yaah minimal 2 tahun sekali, supaya kita rayain lebaran bergantian, tahun ini di rumah ibu, berarti tahun depan di rumah mertua Bu".


"Gitu ya?, ya udah. Ibu cuma bisa doain semoga kamu baik-baik saja selama disana"


Memang waktu cuti saat menikah sengaja tidak di ambil karena om Ilham ingin gunakan untuk pulang ke kampung halamannya yang sudah sekitar 3 tahun ia tak pernah pulang karena alasan biaya yang dulu masih sangat sulit. Saat om Ilham menikah, memang tak ada satupun dari keluarga mempelai pria yang datang.


Karena orang di kampung saat itu berpikir lebih baik uang tiket pulang perginya digunakan untuk acara resepsi di sana. Lebih bermanfaat. Lagian disana juga ada guru dri om Ilham yang sudah dianggap sebagai orang tuanya dan di sana pun om Ilham dianggap sebagai anak. Beliaulah yang menggantikan posisi nenek Sarah.


Mereka hanya mampu mendoakan agar acaranya dapat terlaksana dengan baik dan tidak ada kendala apapun.


Dan saat itu belum ada yang memiliki hp secanggih sekarang yang dapat berkomunikasi melalui video call , hanya saat mereka datang ke kampung barulah mereka dapat bertemu dan melihat secara langsung menantunya tersebut.


Mereka pulang untuk berlibur, menikmati honeymoon, sekaligus ingin menjemput Salsa. Salsa aangat merasa bimbang dan takut juga belum siap jauh dari orang tua dan adiknya yang masih kecil. Rasanya belum puas Salsa bermain dengan adiknya tersebut.


Salsa masih sangat ingin menikmati dan merasakan bahagianya memiliki adik yang sangat di tunggu-tunggu selama ini. Namun semua itu harus terenggut oleh keinginan kedua orang tuanya yang menginginkan ia sekolah di Sulawesi.


Hari ini adalah hari lebaran idul Adha, Salsa dan kedua sahabatnya datang bersilaturahmi ke rumah para guru dan juga tetangganya. Dimulai dari tetangga yang terdekat, tak ada satupun rumah yang mereka lewati.


Mereka sangat menikmati lebaran saat ini karena Salsa dan kedua sahabatnya berpikir, belum tentu di tahun-tahun berikutnya mereka akan melakukan hal itu bersama-sama.


Mereka sangat memanfaatkan waktu kebersamaan saat itu. Mereka juga tak lupa datang ke rumah ustadzah Ifa guru mengajinya yang telah dengan sabar membimbing dan mengajari mereka mengaji hingga dapat membaca seperti saat ini.


Mereka tak lupa berterima kasih kepada semua gurunya karena tanpa mereka, mungkin Salsa tak akan sepandai dan mungkin saja tanpa mereka salsa dan juga temannya tak dapat menikmati indahnya kebersamaan yang mereka rasakan saat ini.


"Nak Salsa, kamu beneran akan lanjut sekolah di Sulawesi?"


Begitulah pertanyaan yang Salsa dengar hampir di setiap rumah yang mereka datangi, terutama ustadzah Ifa yang menanyakan hal yang sama pada Salsa.


"Iya ustadzah." Jawab Salsa singkat.


"Wah kapan kamu mau kesana? Habis lebaran ini?" Selidik ustadzah Ifa.


"Inshaa Allah, katanya sekitar seminggu setelah lebaran, kalo nggak ada halangan". Salsa merasa sedikit sedih karena setelah ini ia tidak akan merasakan indahnya silaturrahmi ke setiap rumah ketika lebaran.


"Aamiin, terima kasih banyak doanya ustadzah, inshaa Allah Salsa akan berusaha agar bisa membahagiakan orang tua dan membuat para guru bangga terhadap Salsa".


"Aamiin. Ya sudah kamu makan dulu nih kuenya, kue buatan ustadzah nggak banyak, ala kadarnya aja ya". Ustadzah Ifa menyodorkan kue lebarannya.


Setelah dari rumah ustadzah Ifa Salsa dan kedua temannya masih melanjutkan jalan-jalannya ke rumah guru-guru yang lain. Ketika di tengah jalan mereka bertemu dengan teman atau adik-adik yang juga sedang silaturahmi dan jika tujuannya sama maka mereka akan pergi bersama.


"Zahra, Difa, jadi kalian nanti mau lanjut dimana?. Jadi nggak kalian mondok bareng?"


"Inshaa Allah Sa, tapi nggak tau si ibu biarin aku atau nggak?". Jawab Difa


Karena Difa adalah anak perempuan paling tua jadi terkadang orang tua Difa masih merasa takut menyekolahkan Difa jauh-jauh. Difa memiliki kakak laki-laki yang umurnya 2 tahun di atas Difa.


Sedangkan Zahra adalah anak kedua dari 2 bersaudara, kakaknya perempuan, umurnya 3 tahun diatas Zahra.


Hanya Salsa lah yang tidak memiliki kakak, namun dia tetap bersyukur karena masih diberikan adik selucu Fawwaz.


Setelah adzan Dzuhur berkumandang, mereka numpang sholat terlebih dahulu, setelah itu mereka bertiga masih tetap semangat silaturahmi. Entah sudah berapa puluh rumah yang mereka kunjungi hari ini. Pokoknya satu hari full waktu mereka digunakan untuk berjalan-jalan dengan sahabatnya.


Beberapa hari kemudian tibalah saatnya Salsa pergi. Ibunya mempersiapkan segala kebutuhan Salsa dan memasukkannya ke dalam koper.


Sebenarnya ibu Fitri juga sangat sedih karena akan ditinggalkan oleh anaknya tersebut, namun beliau harus terlihat kuat dan bahagia karena anaknya dengan susah payah mereka membujuk Salsa agar mau sekolah di Sulawesi.


Berbeda dengan karakter ayahnya yang tetap terlihat sangat tenang walau anak pertamanya itu akan pergi jauh, karena memang ayah Salsa selalu berpesan 'jika kamu ingin sukses jangan tanggung-tanggung, sekolahlah yang jauh agar kamu tidak selalu ingat pulang dan kamu bisa sukses'. Itulah kalimat dari ayah Salsa yang membuat Salsa kuat untuk menjalani semua ini.


Ketika mereka berpamitan semakin deras lah air mata yang Salsa dan ibunya keluarkan. mereka berpelukan sangat erat dan Fawwaz tetap berada di gendongan ibunya.


Salsa memeluk ibu dan juga adiknya.


Saat Salsa berjalan adiknya juga menangis, entah karena ia tahu bahwa kakaknya akan pergi jauh atau Fawwaz menangis karena melihat ibu dan kakaknya yang menangis. Tidak ada yang bisa mengartikan tangis Fawwaz saat itu.


Saat Salsa melihat adiknya yang menangis ia kembali dan berlari untuk memeluk dan mencium adiknya tersebut.


Salsa tak pernah menyangka bahwa ia akan merasakan indahnya memiliki adik dan bermain bersamanya, namun rasa tersebut hanya ia rasakan kurang lebih dua tahun.


Salsa pun masuk ke dalam mobil sambil melambaikan tangannya.


Lambaian tangan dan tangis ibunya masih terlihat hingga jauh. Salsa diantar oleh ayahnya hingga ke pelabuhan.


Ibunya tidak ikut karena di rumahnya masih banyak yang harus ia kerjakan, ia juga tidak bisa bepergian jauh karena sering mabuk perjalanan, terlebih lagi ia tak tega membawa Fawwaz karena mengingat ia masih sangat kecil.