A Choice

A Choice
Tanya Hati



...HAPPY READING...


...***...


Caramel sedang menunggu diruang tunggu sekolah Arzan. Kepalanya masih terasa sangat berat buat aktivitas, apa lagi menambah pikiran soal makan malam di kediaman Abisatya.


Alvaro melihat Caramel sedang menutup mata sambil memijat kedua pelipis kanan dan kiri. "Loe baik-baik aja Mel?",tanya Alvaro yang mengagetkan Caramel.


Caramel membuka mata dengan sempurna. Alvaro. "Gue baik-baik aja. Loe jemput Selina?".


"Iya. Siapa lagi yang akan gue jemput. Gue gak mungkin kan jemput anak loe!",jawab Alvaro menggoda.


"Lalu Rania kemana?".


"Dia lagi ada meeting sama klien. Kalau gue sering jemput Selina, kita akan sering bertemu!".


"Terus apa hubungannya sama gue?. Loe maupun Rania yang jemput Selina, itu tidak mempengaruhi apapun tentang gue!",sewot Caramel.


Alvaro sadar saat ini memang tidak mudah membuat Caramel seperti dulu. Dia sudah bergelar seorang istri dan ibu buat anaknya. "Mel, gue ingin kita berteman walaupun loe sudah mempunyai kehidupan sendiri bersama Reizo. Tidak ada salahnya bukan!".


"Itu salah Alvaro, enggak ada sebuah pertemanan dan persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Apa lagi kita dulu mempunyai sebuah hubungan. Kita sudah bekerjasama dalam dunia bisnis, itu sudah cukup dan profesional bukan!",jelas Caramel kepada Alvaro menjelaskan status mereka berdua.


"Tapi Mel?".


"Cukup Alvaro!!!. Gue gak mau Rania salah paham tentang hubungan kita. Karena Rania belum tahu tentang masa lalu kita!!!",cegah Caramel tidak mau terlalu jauh lagi.


Semua siswa TK kecil sudah keluar dari ruangannya. Arzan dan teman-teman berhamburan pergi keruang tunggu.


"Mamel!!!!",teriak Arzan yang sudah melihat sang Mama menunggu disana. Ia segera berlari berhamburan memeluk sang Mama.


"Sayang!!". Caramel berjongkok supaya mudah membalas pelukan sang putra.


"Mamel udah sehat?",tanya Arzan.


"Alhamdulillah mamel udah sehat sayang".


"Loe sakit Mel?",tanya Alvaro yang mendengar percakapan anak dan ibu tersebut.


Caramel melirik sekilas kearah Alvaro karena ia masih berdiri disana.


"Hallo Om Alvaro!!",sapa Arzan.


"Hallo sayang!!",balas Alvaro sambil mengusap rambut Arzan dengan lembut dan gemas. "Mama kamu sedang sakit apa sayang?",sambung Alvaro yang bertanya kepada Arzan, karena anak kecil tidak akan pernah bohong dan berkata jujur.


Arzan melirik sekilas ke Caramel untuk meminta persetujuan. "Tidak tahu Om".


Alvaro menatap lekat-lekat Caramel yang sudah berdiri disamping Arzan. "Apa Rei memperlakukan kamu buruk, Mel?".


Caramel tidak mengerti kenapa Alvaro bisa bicara seperti itu. "Itu bukan urusan loe, Varo. Gue sakit atau enggak, itu gak akan pernah menyusahkan loe",kesal Caramel kepada sang mantan. Lalu ia mengalihkan pandangan tajamnya menjadi lembut kepada sang putra. "Sayang, ayo kita pulang!!",ajak Caramel yang mengandeng tangan Arzan. Mereka berdua berjalan beriringan yang membuat Alvaro hanya melihat mereka berdua menjauh.


"Om Alvarooooo!!!",panggil Selina dari kejauhan.


Alvaro mengalihkan perhatian kepada bocah gadis cilik yang menghampirinya. "Hallo sayang!",sapa Alvaro penuh dengan bahagia.


"Maaf lama ya Om nungguin Selin?",oceh bocah cilik yang tidak enak kepada Alvaro.


"Gak apa-apa kok sayang. Om baru aja datang!!. Kita pulang sekarang?".


"Iya Om. Selin udah capek!".


"Ok!". Alvaro mengandeng gadis cantik itu. Mereka berdua masuk kedalam mobil menuju kediaman Rania.


Malam Hari


Donna sudah siap dengan gaun yang sangat cantik khusus malam ini. Ia mempersiapkan segala sesuatu dengan sempurna. Ia menyuruh dan berpesan kepada seluruh asisten rumah tangga agar tidak membuat kesalahan sedikitpun. Lalu ia ingat dengan cucu kesayangannya karena ia dari tadi siang belum sama sekali bertemu dengan Rei. "Bi, panggilkan Arzan cucu saya!!. Saya dari tadi belum melihat cucu kesayangan saya!!",perintah Donna.


Dewi hanya berdiam diri mencari jawaban yang tidak menyakiti sang majikan.


"Kenapa dia aja, panggilkan cucu saya!!!",perintah Donna lagi dengan nada yang tinggi.


Dewi ketakutan harus menjawab apa. kedua tangannya melintir baju bawah untuk mengurangi kegugupan yang ada. "Maaf nyonya, aden Arzan tidak ada dirumah".


Donna terbelalak karena keterkejutannya. "Cucu saya tidak ada. Lalu dimana dia?".


"A...Aden Arzan, dibawa sama nona Caramel nyonya!",jawab Dewi terbata-bata.


"APAA, saya tidak salah dengar bukan?",tanya Donna tidak percaya apa yang dikatakan oleh Dewi.


"Nyonya tidak salah mendengar. Memang aden Arzan dibawa sama nona Caramel".


Rahang Donna mengeras dan kedua tangan mengepal. Bisa-bisanya Caramel membawa cucu kesayanganku tanpa seizin dari Omanya!!!. "REIIIII.... REIIIII....!!!", panggil-panggil Dona dengan berteriak.


Dewi lalu berlalu mencari Reizo diruang kerjanya. Reizo tidak akan mendengar teriak atau panggilan dari luar. Karena di ruang kerja Rei kedap suara. Ia mengetuk pintu.


"Masuk!",jawab si empu.


Dewi masuk kedalam sampai tergopoh-gopoh.


"Ada apa bi?".


"Itu tuan... itu tuan....". Ucap Dewi terbata-bata karena merasa takut bila akan terjadi perang dunia entah ke berapa.


Reizo mengerutkan keningnya tidak mengerti maksud pembantunya itu. "Ita itu apa. Yang jelas dong bi!!".


"Itu tuan, nyonya marah besar karena nona Caramel membawa Arzan pergi".


Rei segera meninggalkan ruangan untuk turun menemui sang Mama. Ia sebenarnya malas akan turun ke bawah. Karena ia tidak menyiapkan apapun yang spesial untuk malam ini. Ia memakai kaos t-shirt dan celana panjang tanpa berganti baju dahulu. "Ada apa ma?",tanya Rei setelah sampai didepan mamanya.


"Seharusnya mama yang tanya sama kamu Rei, acara sepenting ini kenapa Arzan bisa-bisanya pergi dengan Caramel tanpa sepengetahuan mama Rei?",tanya Donna menggebu-gebu.


"Lalu mengapa mama membuat acara seperti ini tanpa sepengetahuan dari Rei ma?. Rei gak akan tahu acara ini kalau Caramel gak bilang sama Rei",kesal Rei terhadap sang Mama.


"Mengapa mama harus memberitahukan acara ini. Acara ini yang membuat mama, atas kepulangan Key. Calon tunangan kamu, Rei!",jelas Donna tidak mau kalah.


Rei hanya tersenyum kecut mendengar sang Mama mengatakan seperti itu. Ia tahu, dulu Key memang calon tunangannya, tapi sekarang situasinya sekarang beda. "Ma, Rei udah nikah. Dan udah mempunyai Arzan. Kenapa Mama masih ngungkit-ngungkit Key terus menerus".


"Ingat ya, Caramel bukan mantu idaman mama untuk menjadi istri kamu, Rei!!". Donna mengingatkan Rei.


"KALAU CARAMEL BUKAN MANTU IDAMAN DARI MAMA, MENGAPA MAMA DULU BERSIKUKUH UNTUK MENIKAHKAN REI, MAAA!!!",bentak Rei balik. Dulu hatinya sakit seperti tersayat belati karena pernikahan yang mendadak dan paksaan dari sang Mama.


Donna kalah telak. Ia tahu dulu memang keputusan yang sangat berat baginya. Ia takut Sisca akan masuk jeruji besi karena Sisca baru saja membuat Icha, adik tiri Caramel mengalami kecelakaan. Kecelakaan itu sudah diatur oleh Monna dan Sisca secara diam-diam karena Monna ingin mendapatkan calon besan yang kaya raya dan Monna menargetkan keluarga Abisatya untuk menjadi calon besan. Ia juga tidak mau Caramel terus menerus tinggal dirumahnya. Karena itu akan menambah beban hidup keluarnya Monna. Caramel yang terus menerus didesak oleh Monna, akhirnya luluh juga untuk menikah dengan salah satu pewaris keluarga Abisatya. Monna sangat bahagia ketika Caramel berhasil masuk kedalam rumah Abisatya. Ia akan mempunyai tambang emas yang dapat ia jadikan sumber keuangannya, tetapi Caramel bersikukuh untuk menyekolahkan adiknya yang ia anggap adik kandung yang bernama Tiara. Monna marah besar kepada Tiara dan Melati, bunda dari Caramel. Monna menemui Tiara dan Melati tanpa sepengetahuan Caramel. Monna ingin Tiara tidak menerima uang sepersenpun dari Caramel. Karena Monna lah yang berjasa atas apa yang di peroleh Caramel selama ini.


...***...


...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...


...Terimakasih ...