
...HAPPY READING...
...***...
Matahari menyinari dunia yang begitu terang. Rei membuka gorden untuk membuat suasana kamar mereka menjadi terang. Sinar matahari langsung menembus kamar utama. Caramel yang masih memejamkan mata merasa terganggu dengan silau sang mentari pagi.
Caramel menutupi wajahnya dengan tangan. Ia mencoba membuka mata perlahan. Ia melihat Rei sedang menyesapi kopi hitam di balkon kamar.
Seseorang mengetuk pintu kamar utama. Dan masuk kedalam kamar utama. Anak kecil yang berlari ke arahku. "Pagi Mamel!!",sapa Arzan yang langsung naik ke ranjang memeluk sang Mama.
"Sayang". Caramel membalas memeluk erat sang putra.
"Bagaimana keadaan Mamel, masih sakit?",tanya Arzan yang melepaskan pelukan.
"Masih sakit sedikit sayang. Dan Mamel sudah mendapat obat dari pelukan tadi",goda Caramel mencubit pipi Arzan yang cubby.
"Arzan ambil sarapan buat Mamel ya?".
"Enggak sayang. Nanti biar Bibi Dewi yang bawa ke atas buat Mamel".
"Mamel cepat sembuh ya?. Sepi kalau gak ada Mamel disisi Arzan!",keluh Arzan manja.
"Iya sayang. Lalu kamu udah sarapan?".
"Udah Mamel sama dokter Yovie".
"Dokter Yovie. Memang dokter Yovie udah sampai sepagi ini?",tanya Caramel.
"Enggak Mamel. Dokter Yovie malam ini tidur dirumah kita. Dia juga lagi sarapan sama Oma dan tante Sisca. Arzan aja yang langsung menghabiskan sarapan dan menemui Mamel ke atas!",jelas Arzan.
Caramel hanya tersenyum melihat tingkah sang putra.
*
*
*
Yovie, Donna dan Sisca sedang menikmati sarapan pagi di meja makan.
"Bagaimana perkembangan kondisi Caramel, Dok?",tanya Donna penuh selidik.
"Belum ada peningkatan Nyonya",jawab Yovie sambil menikmati sarapannya.
"Dokter sedang tidak bertugas bukan. Panggil saya tante saja. Saya tidak mau terlalu formal, Dokter!",saran Donna.
"Baik tante. Caramel saat ini sangat butuh istirahat tante. Tubuhnya ngedrop dan melemah".
"Dia... tidak hamil kan?",tanya Donna berharap ia tidak lagi mempunyai keturunan dari Caramel.
"Tidak tante. Caramel tidak hamil. Dia hanya kelelahan saja. Makanya saat ini ia butuh istirahat yang cukup",jelas Yovie.
"Ohhh begitu. Syukur kalau tidak hamil lagi",sahut Donna. "Lalu dokter sudah tahu, bahwa Key sudah kembali?",sambungnya.
"Udah tante, dari grup teman-teman. Sepertinya dia udah menjalankan bisnis milik keluarganya tante",jelas Yovie.
"Iya. Pada saat acara pembukaan salah satu perusahaan dia muncul dengan sangat tiba-tiba. Kamu juga sudah tahu bahwa Key menampar Rei?",ucap Donna.
Yovie tercengang mendengar penjelasan dari Donna. Ia tidak tahu menahu soal tampar menampar Rei. "Tante yakin?",tanya Yovie tidak percaya.
"Bahkan kamu sendiri tidak yakin Key akan melakukan hal seperti itu di acara resmi itu".
"Bukannya saya tidak yakin tante, gak mungkin Key melakukan hal yang seceroboh itu. Itu tidak mungkin tante?",elak Yovie.
"Yovie, kamu tidak percaya sama tante. Dia melakukan itu tepat dihadapan tante, Vie. Padahal tante sudah berharap dia akan balikan lagi sama Rei. Tapi, kenyataannya dia sudah berubah Vie!",ungkap Donna.
"Tapi tante, cara tante yang salah. Rei udah menikah tante dan udah mempunyai anak dari Caramel. Tapi kenapa tante masih menjodohkan-jodohkan mereka berdua tan, kasihan Arzan nanti?",keluh Yovie memberikan penjelasan kepada Donna supaya Donna tidak lagi membahas Key di mata Rei.
"Karena Key lebih baik daripada Caramel, Vie. Mereka itu jauh berbeda seperti langit dan bumi. Kamu seharusnya sudah tahu bagaimana tipe menantu tante".
"Tante tidak peduli dengan perasaan Caramel. Yang tante pedulikan sekarang, bagaimana Rei dan Key bersama lagi seperti dahulu!",pinta Donna.
Yovie meletakkan sendok dan garpu karena sudah tidak selera makan. Karena ia tidak mau bila Rei dan Caramel berpisah begitu saja. Menurutnya mereka berdua adalah pasangan yang serasi. Tapi... tunggu...tunggu... Ditampar, buat apa Key menampar Rei tanpa sebab? pikir Yovie keras.
*
*
*
Rei menengok kebelakang karena sepertinya Caramel sedang bercanda dengan seseorang. Ternyata Arzan, ia segera masuk kedalam kamarnya. "Hallo anak papa!",sapa Rei yang langsung mendekat ke ranjang dan ikut bersenda gurau di atas ranjang. "Udah sarapan sayang?".
"Udah Pa. Tapi Mamel belum sarapan pa",jawab Arzan yang lucu.
"Ya udah, kamu nungguin mamel. Papa akan ambil sarapan buat Mamel",kata Rei kepada sang putra.
"Enggak usah mas. Biar nanti saya ambil atau bibi Dewi antar". Cegah Caramel karena tidak mau memberatkan Rei.
"Nggak apa-apa Mamel. Biar papa Rei yang ambil, biar Mamel cepat sembuh dan nanti Arzan sekolah biar Mamel yang antar!",renggek Arzan.
"Ya udah, papa ambilkan ya!",kata Rei yang membuat Arzan bersorak gembira. Rei keluar dari kamar menuju lantai bawah.
"Sayang, kenapa menyuruh papa Rei yang ambil sarapan buat Mamel?. Mamel jadi gak enak sama papa Rei",kata Caramel sungkan.
"Kenapa tidak enak Mamel sama papa Rei?. Atau gak enak sama Oma Donna?",ucap Arzan tiba-tiba.
Caramel langsung menutup mulut Arzan pelan. Ia menggelengkan kepalanya bahwa itu tidak baik diucapkan oleh Arzan. "Jangan bicara seperti itu ya sayang, Mamel gak mau Arzan bicara seperti itu. Itu sama aja Arzan tidak sayang sama Oma Donna",jelas Caramel pelan.
"Tapi Mamel?. Arzan ingin Mamel bahagia. Arzan gak mau Mamel sakit seperti ini. Bila Papa Rei yang sakit, Mamel selalu menjaga Papa Rei dengan baik. Dan biarkan papa Rei merawat Mamel dengan baik juga, disaat Mamel sakit seperti ini!!",kata Arzan sedih.
Caramel tidak sengaja meneteskan air mata. Anak sekecil Arzan terlalu peka terhadap perasaan ibunya. Ia lalu memeluk Arzan dengan erat.
*
*
*
Rei menuruni anak tangga melihat semua penghuni rumah ini sedang menikmati sarapan pagi. Tapi tidak dengan Yovie yang sudah selesai sarapan pagi walaupun di piringnya masih terdapat banyak makanan. Rei menghampiri mereka semua. "Loe lagi diet Vie?. Atau sarapan pagi ini yang tidak enak?",tanya Rei yang duduk di samping Yovie.
"Lagi tidak selera makan aja Rei. Bagaimana Caramel, udah bangun?",tanya Yovie mengalihkan perhatian supaya tidak membahas sarapan pagi yang sangat membosankan ini.
"Udah. Dia sedang bersama Arzan",jawab Rei yang menyiapkan makan di piring.
"Caramel udah sarapan?. Kok loe mau sarapan?",tanya Yovie penuh selidik.
Donna membantu Rei mengambil nasi dan lauk pauk di atas piring.
"Thanks Ma",ucap Rei kepada sang Mama.
"Ini bukan buat gue, tapi buat Caramel!",jawab Rei yang meninggalkan meja makan.
Donna dan Sisca tercengang mendengar jawaban dari Rei. Mereka berdua saling pandang. Sialan umpat dalam hati.
Yovie tersenyum tipis melihat wajah Donna dan Sisca yang terlihat kesal bahwa makanan tadi buat sarapan Caramel yang sedang sakit. Boleh gak sih, wajah mereka gue foto dan gue jadikan background di ponsel mereka berdua?. Terlalu lucu soalnya!!. Yovie lalu pamit untuk pergi ke atas mengecek kondisi Caramel.
Sedangkan Donna dan Sisca mengambil napkin di atas paha dan melemparkan napkin itu di atas meja makan dengan kesal.
Bisa-bisanya Caramel menyuruh Rei untuk mengambil sarapannya?. Memang dia siapa dirumah ini?. Dasar wanita sialannnnn!!!! umpat Donna dalam hati.
...***...
...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...
...Terimakasih ...