A Choice

A Choice
Oleh-oleh Caramel



...HAPPY READING...


...*****...


Arzan menggandeng Caramel untuk masuk kedalam rumah. Ia sudah tidak sabar lagi untuk membuka oleh-oleh yang dibawakan oleh Caramel.


"Kamu udah pulang sayang?",tanya Bunda yang sedang sibuk didepan dapur.


"Iya bun. Baru aja".


Arzan membuka paper bag yang berisi martabak telur dan martabak manis. Arzan kegirangan yang tak terhingga. "Ini enak banget Mamel",oceh Arzan sambil menikmati jajanan yang legendaris itu.


"Papa gak dibagi ini sayang?",goda Rei yang sudah duduk disamping sang putra.


"Papa mau?",tanya Arzan.


"Mau banget sayang".


"Mas Rei serius?. Ini manis loh mas?",tanya Caramel yang melihat Rei sudah memegang martabak manis.


Rei mulai ragu untuk memakan makanan yang tidak terlalu asing. Tetapi baginya makanan ini selalu ia hindari karena terlalu manis. Ia lalu melihat sang putra makan dengan lahapnya jadi ia merasa penasaran. "Enggak kok. Kata siapa?". Rei mulai memasukkan martabaknya tepat didalam mulut. Rasanya begitu enak tetapi tidak terlalu manis.


"Bagaimana pa?",tanya Arzan yang antusias dengan melihat mimik sang papa terlalu datar.


Rei memberikan kedua jempol kepada sang putra. "Mantap sayang". Ia lalu menikmati makanan tersebut.


Caramel melihat Rei tidak percaya. Bisa-bisanya seorang tuan Reizo makan, makanan seperti ini.


"Kamu gak mau cicipi?",tanya Rei sambil menyodorkan martabak manis itu.


"Enggak mas. Thanks!". Caramel menolaknya karena melihat Rei memakan-makanan dengan lahap seperti ini aja membuat perutnya merasa kenyang. "Ya udah mas, aku mau mandi dulu!",pamit Caramel yang pergi menuju kamarnya.


Bunda melihat Rei dan sang cucu sedang menikmati cemilan itu merasa bahagia. Sikap Rei terhadap dirinya juga banyak perubahan. Dulu Rei seseorang yang bersikap aja terhadap siapapun termasuk orang yang ia kenali.


*


*


*


*


*


Tiara sedang duduk-duduk dihalaman belakang cafe. Ia sedang memikirkan bagaimana mencari tahu hubungan kakaknya dengan Alvaro. Sialan kakak Rei, ngapain juga sih pakai ngancem-ngancem segala soal ini. Ngapain juga dia mencari tahu hubungan mereka berdua? keluh Tiara dalam hati.


Calvin yang sedari tadi duduk didepan Tiara hanya menatap Tiara dengan perasaan yang menghangat. "Loe lagi mikirin apa sih Ra?. Serius amat hidup loe?",goda Calvin.


Tiara mengacuhkan pertanyaan Calvin. Makhluk yang selalu mengganggu hidupnya ini.


"Masalah lagi sama kakak ipar loe?",tebak Calvin santai.


"Loe bisa gak sih, gak usah ikut campur urusan orang lain. Gue ingin hidup tenang tanpa pertanyaan loe yang terlalu kepo sama urusan gue!!",kesal Tiara.


"Tiara yang cantik jelita seperti bulan purnama yang selalu bersinar di langit, gue kepo karena gue kenal siapa kakak ipar loe itu. Jadi, gue terlalu kepo banget malahan",seru Calvin


"Kata-kata loe basi tau!".


"Kok basi sih. Loe gak percaya sama gue, kalau gue kenal sama kakak ipar loe itu?. Reizo Darma Abisatya keturunan keluarga Abisatya. Mana ada sih orang yang gak kenal Abisatya?",oceh Calvin panjang lebar.


"Gue tau itu Vin. Siapa yang gak kenal sama keluarga mereka. Mereka udah kaya raya dari lahir. Sedangkan keluarga gue biasa-biasa aja. Gue heran, kenapa nenek lampir itu bisa menjodohkan mereka. Loe tahu sendiri kan, kalau tuan Rei seperti mempunyai perilaku ganda",celetuk Tiara.


"Loe salah Ra. Rei itu punya karismatik yang berbeda. Karismatiknya itu terlalu kuat. Makanya, orang yang gak kenal lebih dalam sama dia, mungkin kebanyakan orang akan mengatakan bahwa dia mempunyai perilaku yang ganda. Seperti loe itu",bela Calvin.


"Kayak loe udah kenal lama aja sama dia",sahut Tiara tidak terima. Lalu ia pergi meninggalkan Calvin seorang diri.


Kafe hari ini setelah jam istirahat begitu ramai. Tiara sedang berjalan menuju meja yang ada di ujung taman. "Selamat siang Ibu. Mau pesan apa?",tanya Tiara yang menunggu pesanan ibu yang sedang bermain ponsel.


"Jus strawberry satu sama Wagyu beef black pepper satu mbak",jawab salah satu tamu yang sedang asyik bermain ponselnya.


"Ok ibu. Tambahnya apa lagi Bu?",tanya Tiara sopan.


"Udah...udah. Jangan banyak tanya lagi. Saya sedang pusing saat ini!!!",ucap wanita itu yang memberikan daftar menunya sambil menatap Tiara dengan tatapan tak asing.


Sama dengan Donna. Donna mengingat-ingat siapa wanita yang sedang mencatat pesanannya tersebut. "Kamu. Kamu ngapain disini?",tanya Donna yang menilai Tiara dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia lalu fokus kepada para pelayan lainnya yang memakai seragam yang sama seperti Tiara. Donna lalu tersenyum mengejeknya. "Kamu, kerja disini?",tanya Donna.


Tiara hanya bisa pasrah melihat Donna sedang mengejek dirinya. "Ok Bu, pesanan anda akan kami antar 10 menit lagi. Permisi!!!",kata Tiara mengalihkan pembicaraan yang membuatnya sakit hati dan ia segera masuk kedalam dapur. Tiara lalu memberikan buku pesanan kepada salah satu pengurus yang menangani dapur. Ia berdiri disana sambil menunggu pesanan yang sedang dibuat oleh para chef handal. Seluruh tubuhnya panas dingin setelah mengalami kejadian seperti itu. Mengapa, mengapa harus nenek tua itu yang datang ke kafe ini. Mengapa, aku harus bertemu sama dia disini?. Dimana aku sedang berjuang mencari cuan buat biaya kuliah. Oh Tuhan, kenapa harus seperti ini?.


10 menit berlalu Tiara yang bertugas mengantar makanan ke meja Donna. Ia harus bisa menguasai dirinya sendiri supaya tidak lengah dalam penindasan dari Donna.


Donna menatap Tiara yang sedang meletakkan piring di atas meja. "Udah gak punya uang ya buat biaya kuliah?",ejek Donna. "Anak saya masih tidur dirumah yang kumuh itu?. Anak saya dikasih makan apa sama bunda kamu?",tanya Donna yang membuat Tiara kesal mendengar ocehan dari nenek lampir itu.


"Tante boleh menghina saya. Tapi bukan dengan bunda saya!",pesan Tiara yang sudah selesai mengerjakan tugasnya. Ia lalu melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari meja yang ditempati Donna.


"Dasar anak haram!!!",ucap Donna pedas.


Deg. Tiara menghentikan langkahnya setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Donna. Ia membalikkan badan melihat Donna yang sedang menyunggingkan senyuman khasnya. "Anda tidak berhak mengatakan hal seperti itu kepada saya, nyonya Abisatya. Anda bisa menginjak-injak Kak Caramel dengan cara anda, tapi anda tidak akan bisa menginjak-injak harga diri saya apa lagi keluarga saya. Saya pastikan, anda saat ini sedang kesepian karena tidak ada orang yang anda hina saat ini. Apa lagi, anak anda saat ini sedang berada dirumah kumuh yang menjadi hunian kami. Soooo.... siapakah yang menang saat ini?. Anda ataukah sayaaaa????",telak Tiara yang langsung pergi begitu aja tanpa peduli lagi panggil dari Donna.


"Dasar kurcaci kecillllllll!!!!!.... Tunggu aja balasan dari saaayyyaaaaaa!!!!!!",kata Donna marah.


*


*


*


*


*


Malam Hari.


Tiara memasuki rumah dengan mengucapkan salam. Ia segera masuk kedalam kamar dan membersihkan badan.


Keluarga Rima sedang bersenda gurau diruang tengah sambil melihat Arzan yang sedang mewarnai.


"Bunda mau buat teh hijau, kamu mau sayang?",tanya bunda kepada Caramel.


"Enggak bunda. Caramel udah kenyang".


"Kamu nak Rei?".


"Enggak bunda. Terimakasih",jawab Rei yang sedang membantu Arzan belajar.


Bunda pergi ke dapur membuat teh hijau. Rei yang melihat situasi ini membuat ia duduk disamping Caramel. "Besok pulang jam berapa?",tanya Rei.


"Enggak tahu tuan. Soalnya salah satu klien ada yang komplain soal furniture. Memang kenapa tuan?",kata Caramel.


"Enggak... gak apa-apa. Mungkin lain kali aja",jawab Rei yang berjalan ke arah pintu keluar.


Caramel melihat Rei ada yang berubah. Ada apa dengan makhluk satu ini?. Ia lalu duduk disamping Arzan membantu sang anak yang sedang menggambar. "Sayang, papa kenapa ya?",tanya Caramel kepada sang putra.


"Gak tahu ma".


"Hari ini papa kemana aja sayang?",tanya Caramel lagi.


"Papa jemput Arzan. Setelah itu kita jalan-jalan ma ke supermarket untuk belanja". Arzan polos.


"Terus Arzan minta apa aja sama papa?".


"Arzan gak minta apa-apa sama papa. Tapi.....". Arzan menjeda jawaban yang akan diberikan kepada sang Mama.


"Tapi apa sayang?".


"Tapi Arzan hanya minta sama papa, minta sebuah rumah yang nyaman Mamel",jawab Arzan yang melihat mata Caramel.


Caramel menggangga tidak percaya. Anak sekecil Arzan minta sebuah rumah. Oh My God.......


...*****...


...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...


...Terimakasih ...