A Choice

A Choice
Pertengkaran Yang Tak Terduga



...HAPPY READING...


...***...


Caramel sedang memasak. Pikirannya saat ini sedang kacau balau. Memotong-motong wortel dengan suara yang sangat nyaring ditelinga. Rasa kesal dan marah ia tumpahkan di meja dapur ini.


Dewi yang merasa heran hanya terdiam dan mengamati sang majikan. Ia tidak berani menanyakan.


Gue harus bagaimana setelah ini. Apakah perlu gue membangunnya Rei?. Kalau gue salah bertindak, bisa dimaki-maki gue sama dia. Apa perlu gue perlu bantuan dari pak Mike?. Enggak... enggak... enak aja gue minta bantuan sama dia, setelah apa yang ia lakukan terhadap gue tadi! pikir Caramel. Sejenak Caramel melamun ia tidak memperhatikan pisau yang ia pegang saat ini, lalu...


Sretttt....


Pisau untuk memotong wortel itu mengenai jari manisnya. "Auwww.....!". Darah mengalir deras.


Dewi panik melihat sang majikan terluka. "Ibu tidak apa-apa?",tanya Dewi.


"Tidak apa-apa Bi. Tolong ambilkan saya kotak P3K!",perintah Caramel.


"Baik Bu".


Caramel langsung mengucuri luka tadi di air mengalir. Rasa perih luka jari manis tidak sebanding dengan luka hatinya saat ini.


Dewi membantu membersihkan luka yang lumayan dalam. "Apa perlu ke dokter Bu?",tanya Dewi khawatir.


"Enggak usah Bi. Cuma luka sedikit",jawab Caramel sambil menahan sakit.


"Ya udah, biar Bibi yang masak ya Bu!. Ibu istirahat aja. Ibu pasti kecapekan!",saran Dewi.


"Enggak apa-apa Bi?",tanya Caramel.


"Tidak apa-apa Bu. Nanti biar saya berbohong sama Nyonya besar. Kalau ibu yang masak. Saya sudah tahu bagaimana resep ibu memasak",kata Dewi.


"Terimakasih ya Bi. Saya sebenarnya masih sangat lelah. Dari kemarin saya gak istirahat".


"Iya Bu. Istirahat ya Bu".


"Iya Bi. Ya sudah, saya ke kamar atas dulu bi",pamit Caramel yang langsung berjalan ke kamar utama. Rasa lelah dan rasa sakit hati bercampur menjadi satu.


*


*


*


Arzan mengetuk kamar utama. Caramel mendengar dan menjawab silakan masuk.


Cekrek.


Arzan berjalan masuk kedalam. "Mamel".


Caramel masih rebahan di sofa yang berselimutkan selimut tebal. "Sayang, kamu udah bangun?",tanya Caramel kaget sang putra ada disampingnya.


"Kenapa Mamel tidak membangunkan ku?",tanya Arzan polos yang memeluk sang Mama.


"Maaf ya sayang, Mama benar-benar kelelahan saat ini. Mungkin hari ini Mama akan absen dulu tidak ke kantor",ungkap Caramel.


Arzan memegang kening Caramel. Tidak ada tanda-tanda sakit. "Mamel ok?",tanya Arzan khawatir.


"Mamel ok sayang. Mungkin Mamel perlu istirahat sebentar. Supaya badan Mamel fit kembali",kata Caramel.


"Lalu Papa kemana Mamel?",tanya Arzan kepada sang Mama karena tidak ada tanda-tanda papanya ada di samping Caramel. "Lalu kenapa Mamel tidur di sofa?. Kenapa tidak di ranjang?".


"Mama hanya ingin berbaring aja sayang. Papa sepertinya kelelahan sampai papa gak kuat untuk menaiki tangga. Makanya papa tidur di bawah",jelas Caramel.


"Papa dan Mamel baik-baik saja kan?".


"Kita ok sayang. Kamu jangan khawatir kita ya. Sekarang kamu mandi dan bersiap-siap ke sekolah. Mamel akan antar!".


"Tidak usah Mamel. Biar nanti Arzan minta tolong sama pak Ehsan untuk mengantar Arzan. Mamel istirahat yang cukup ya!".


"Tidak bisa sayang. Mamel ada janji, Mamel lupa kalau nanti Mamel akan main ke rumah Oma Rima",kata Caramel.


"Arzan ikut ya Mamel?. Pleaseeeeee!",mohon Arzan.


"Kapan-kapan ya sayang. Soalnya Mamel ada keperluan sama Oma Rima",kata Caramel was-was karena ia takut Arzan akan kecewa.


"Arzan tahu kok Mamel. Kalau Arzan tidak boleh bertemu dengan Oma Rima",ucap Arzan kecewa dan menundukkan kepala.


Caramel terenyuh dengan kekecewaan anak kecil itu. Lalu ia memposisikan duduk di dekat sang anak. "Kamu tahu sendiri bagaimana Oma Donna melarang kamu sayang. Tapi, Mamel janji, besok akan ajak Oma Rima jemput kamu?. Bagaimana?. Sekalian kita belanja?",ide Caramel supaya Arzan mengerti.


Arzan langsung setuju dan berloncatan ke sana kemari.


Maafkan Mamel ya sayang. Mamel tidak berhak atas kamu. "Mamel punya tugas khusus buat kamu hari ini?".


"Tugas khusus apa lagi Mamel",jawab Arzan.


"Mamel minta tolong, tolong bangunkan papa Rei ya?. Mamel mohon sayang?",pinta Caramel memohon.


Arzan dengan siap dan hormat kepada Caramel. "Siap Mamel! Tugas ini sangat mudah buat Arzan!",jawab Arzan yang langsung berhamburan keluar dari kamar utama.


*


*


*


Donna sedang membaca sebuah majalah fashion di ruang tengah. Ia melihat Rei dan Arzan keluar dari ruang tamu. "Sayang, kenapa dari ruang tamu?",tanya Donna bingung karena pagi-pagi buta.


"Nanti aja Ma penjelasannya!",jawab Rei yang malas pagi-pagi harus berdebat dengan sang Mama. Ia dan Arzan menaiki anak tangga. Setelah sampai didepan pintu ia menyuruh anaknya untuk bersiap-siap berangkat sekolah.


Arzan langsung berlari masuk kedalam kamar menyiapkan keperluan yang dibutuhkan untuk pergi ke sekolah.


Cekrek...


Rei masuk kedalam kamar. Ia melihat kamar sudah bersih dan rapi. "Mel... Mel....!",panggil Rei tetapi tidak ada jawaban dari Caramel. Ia mendengar suara air gemericik dari kamar mandi. "Mungkin dia sedang mandi". Rei rebahan lagi di ranjangnya.


Caramel sudah siap untuk keluar dari wald in closed. Ia melihat Rei rebahan lagi di ranjang.


"Kenapa gak bangunin gue?",tanya Rei sarkas.


"Maaf tuan, tadi saya bangun kesiangan",jawab Caramel.


Rei memposisikan badannya duduk. Ia melihat jari manis Caramel di perban. "Jari loe kenapa?",tanya Rei.


"Tadi tidak sengaja terkena pisau tuan. Oh ya, air hangatnya sudah siap bila tuan mau mandi",kata Caramel.


"Loe gak tanya, kenapa gue tidur di bawah?",ucap Rei.


Buat apa gue tanya tuan, kalau ujung-ujungnya gue yang sakit hati nanti karena perkataan tuan sendiri batin Caramel. "Saya hanya ingin menjaga privasi tuan. Karena saya tidak mau ikut campur masalah tuan",jawab Caramel bijak.


"Sama aja loe gak peduli sama gue!",keluh Rei yang langsung berjalan sengaja menyenggol bahu Caramel.


Nyusss.... Bau alkohol yang Caramel rasakan cukup kuat. Jadi tadi malam dia mabuk-mabukan. Pantas saja gak kuat masuk ke dalam kamar. "Siapa yang tidak peduli sama tuan?. Bukankah tuan sendiri yang tidak peduli sama saya?",cicit Caramel.


Perkataan Caramel membuat Rei berhenti seketika. Dan menengok ke belakang.


"Selama menjadi istri tuan, apakah tuan pernah memperlakukan saya seperti istri tuan",oceh Caramel. "Saya istri sah dari tuan Rei. Tapi, tuan selalu memperlakukan saya seperti seorang boneka yang tuan minta".


"Jaga ucapan loe, Caramel!",kata Rei dengan nada tinggi. "Gue tidak pernah minta loe untuk menjadi istri gue!. Apa lagi bagian dari hidup gue!!!!",bentak Rei.


Deg. Hati Caramel hancur seketika mendengar Rei bicara seperti itu. "Lalu buat apa saya ada di sini?. Buat apa tuan?",tanya Caramel berkaca-kaca. "Buat teman tidur tuan ataukah buat bisnis tuan?".


"BUAT BALAS DENDAM DENGAN MANTAN PACAR GUEEEE!!!!!! PUASSSS LOEEEE!!!!!",teriak Rei yang langsung pergi dari kamar utama.


Hiks... Hiks... Hiks... Jadi selama ini gue hanya buat balas dendam dengan mantannya!!! Tega loe, Rei. Caramel lemas tidak bertulang. Ia lalu terduduk di ranjang yang begitu besar baginya.


Donna yang melihat Rei menuruni anak tangga merasa penasaran karena Rei masih memakai pakaian kemeja putih dengan berjalan tergesa-gesa. "Sayang, kamu mau kemana?",tanya Donna.


Rei tidak menyahut dan langsung pergi ke depan rumah menaiki mobil pribadinya.


Caramel keluar dari kamar utama dan memanggil Arzan untuk keluar dari kamarnya. "Ayo sayang!!!!".


"Siap Mamel",jawab Arzan yang bersemangat empat lima.


Mereka berdua menuruni anak tangga dengan bergandeng tangan.


Donna dan Sisca yang sudah duduk di meja makan menunggu kehadiran Caramel dan Arzan.


"Orang yang ditunggu datang juga!",sindir Sisca.


Caramel menghela nafas pelan. "Sayang, kamu tunggu di mobil ya?",perintah Caramel.


"Kita tidak sarapan dulu Mamel?",tanya Arzan.


"Nanti kita sarapan diluar ya!".


"Baik Mamel". Arzan langsung berlari ke depan rumah.


"Kamu ingin membunuh cucu saya dengan perlahan?",tanya Donna marah. "Dan kamu sudah membuat anak saya marah pagi ini?".


"Ma, Mas Rei sudah besar. Mas Rei seharusnya sudah tahu mana yang baik dan buruk. Dan seharusnya pagi ini yang marah bukan mas Rei, tapi saya. Coba Mama tanyakan kepada Mas Rei, apa yang Mas Rei katakan. Dan apa yang Mas Rei lalui tadi malam",oceh Caramel yang langsung berjalan keluar tetapi sebelum ia melangkah kaki semakin jauh Donna langsung menyindirnya.


"Karena tadi malam Rei bertemu dengan mantannya!!!",kata Donna.


Caramel langsung berhenti seketika. Haaa.... bertemu dengan mantannya.


"Rei ditampar di depan umum dan itu membuat harga diri Rei berantakan. Dan mantannya sudah tidak sejalan lagi dengan Rei. Kamu puas membuat mereka bertengkar semalam?. Dan kamu puas sudah memisahkan cinta mereka?",oceh Donna yang menyalahkan Caramel.


Caramel menengok ke belakang melihat ekspresi dari Donna. Wajah Donna marah terhadap Caramel. Apa hubungannya dengan gue???.


...***...


...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...


...Ternyata...