A Choice

A Choice
Sebuah Rasa



...HAPPY READING...


...*****...


Caramel masuk kedalam ruangan Lili. Ia duduk di kursi depan meja dengan wajah yang marah dan kesal.


Lili yang melihatnya mengenyitkan keningnya. "Loe kenapa Mel, muka ditekut seperti itu?",tanya Lili.


Caramel menyodorkan ponselnya diatas meja kerja Lili. "Buka aja hp gue!".


Lili yang begitu penasaran langsung gercep mengambil ponselnya. Ia tertuju dengan pesan yang masuk, sebuah foto berdua. Lili tercengang melihat foto berdua antara Caramel dan si mantan. "Serius nih Mel?".


"Masa gue bohong sih Li. Gue heran deh, siapa sih yang menjadi CCTV gue!. Bukankah loe duduk disamping gue, lalu loe dimana pada saat foto itu diambil. Rese' gak tuh!!!",kesal Caramel.


"Ini sepertinya sengaja di edit Mel. Jaman sekarang semakin canggih loh Mel. Cuma foto-foto seperti ini gampang kalau di edit mahhh".


"Lalu gue harus bagaimana Li?. Gak mungkin kan gue harus selidik satu persatu para pengunjung disana!".


Lili berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan mondar-mandir mencari ide memecahkan masalah sang sahabat. Sedangkan Caramel memainkan bolpoin dengan cara mengetukkan ke meja.


"Ahaaaa....!",teriak Lili bersemangat.


Caramel kaget mendengar teriakan Lili. "Loe lama-lama nyebelin ya Li!!!",keluh Caramel.


Lili kembali duduk ke singgah sananya. "Kalau suami loe seperti itu, tandanya dia mulai cemburu Mel sama loe",tebak Lili dengan penuh semangat dan berbunga-bunga.


"Liliku sayang, seorang Rei gak akan pernah cemburu ataupun jatuh cinta sama Upik abunya",sahut Caramel.


"Loe pernah nonton sinetron gak sih?. Sekarang, jamannya udah berubah Mel. Seorang Upik abu, bisa mengubah seorang pangeran yang sangat tampan dan kaya jatuh cinta sama Upik abunya!",cerita Lili yang asal.


"Korban sinetron itu, Li. Udah ah, lama-lama gue curhat sama loe, gak ngefek sama gue. Malah buat gue tambah pusing!",kesal Caramel yang langsung meninggalkan ruangan Lili.


"Wooyyyy,,, gue belum selesai memberikan saran sama loe, Mel!!!!",teriak Lili.


*


*


*


*


*


Rei memberikan sebuah plastik kecil kepada Mike. "Itu hasil berburu gue hari ini!",ucap Rei yang sedang duduk santai di kursi restoran.


Mike mengambilnya dan mengamati sesaat sebelum masuk kedalam sakunya. "Baik tuan".


"Hasilnya berapa hari?".


"Paling lama satu Minggu tuan".


"Bisakah dipercepat?",tanya Rei.


"Itu udah paling cepat tuan".


"Ok. Lakukan tugas ini dengan teliti dan jangan sampai teledor. Gue gak mau, ada kesalahan sedikitpun",ancam Rei.


"Baik tuan. Bila nanti hasilnya keluar, saya akan langsung memberikan semuanya kepada tuan".


"Ok. Kembalilah bekerja. Gue mau nikmati dulu hari liburnya!".


"Baik tuan. Permis!",pamit Mike yang berlalu dari tempat duduk.


Rei menikmati desert restoran tersebut. Tapi, tiba-tiba ponselnya berdering mengganggu ketenangan hari ini. "Hallo Ma".


"Sayang, kamu kemana aja?. Kenapa belum pulang?. Kamu betah tinggal di rumah yang kumuh itu?",kata Donna yang membuat berisik ditelinga Rei sampai-sampai Rei menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Please Ma... Ini pilihan Rei!".


"Rei, kamu membantah Mama?",sahut Donna tidak terima.


"Bukan Ma. Rei tidak ada maksud membantah Mama. Tapi please, Rei tenang Ma disini",ucap Rei.


"Rei,,, mama lakukan ini semua buat hubungan kamu dan Key supaya membaik. Bukan kamu sama perempuan itu".


"CUKUP REI!!!!!!.... Mama gak mau mendengar alasan apapun dari kamu. Mama ingin hubungan kamu dan Key berjalan seperti sediakala, sebelum ada perempuan itu. Mama ingin, punya cucu dari orang yang terpandang. Bukan seperti perempuan yang sekarang menjadi istri kamu!!!".


Tut... Tut... Tut...


sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Donna. Rei merasa kesal kenapa mamanya masih ikut campur dalam masalah pribadinya. Kenapa Mel, kenapa loe datang dengan cara yang tidak tepat waktu?. Andai loe tahu Mel, selama ini gue belum pernah menemukan wanita yang sederhana seperti loe. Pada saat malam hari pun, gue ajak loe makan malam, loe dengan setia ikut menemani makan. Tidak memikirkan berat badan yang akan naik atau lemak yang akan bertambah menumpuk. Loe mengajarkan gue, gak selama kaya raya akan membuat semua orang akan bahagia. Ternyata malah sebaliknya, kebahagiaan datang dari dalam hati yang memancarkan aura-aura bahagia. Dan gue nyaman berada dirumah loe, rumah yang sangat sederhana tetapi begitu banyak kebahagiaan dan kebaikan yang ada didalam rumah tersebut.


*


*


*


*


*


Makan Siang


Caramel dan Lili sedang berjalan menuju kantin yang terdapat di kantor. Mereka berdua berjalan beriringan dengan canda dan tawa. Mereka mengambil makanan dan duduk berhadapan.


"Selamat siang Caramel dan Lili!!!",sapa Cakra salah satu staf karyawan dengan kedudukan yang diatas Lili. Ia membawa nampan yang berisi satu pirang salad sayur dan jus.


"Eh... Kak Cakra...!",sapa Lili dengan gestur yang sangat manja. "Sendiri aja Kak?".


"Iya. Boleh gabung?",tanya Cakra melihat Caramel.


"Oh... Silahkan Kak. Dengan senang hati!!",jawab Lili sambil mendorong kursi yang ada disampingnya.


Caramel yang kesal melihat tingkah manja Lili. Ia lalu mencubit lengan Lili dengan kasar.


"Ouch... sakit Mel!!!",keluh Lili pelan sambil tebar pesona dengan Cakra.


"Maaf ya Kak, Lili emang rada-rada!!!",kata Caramel merasa malu dengan tingkah laku Lili.


"Apaan sih loe,Mel?",keluh Lili tidak terima.


Cakra masih tersenyum manis membenarkan tempat duduknya. Ia duduk di samping Lili. "Selamat makan!".


Lili dengan senyum penuh arti hanya bisa memandang dan mengagumi kegantengan Cakra. "Iya Kak!".


Caramel makan siang dengan tenang.


"Mel, bagaimana masalah dengan perusahaan Alvaro?. Apakah udah selesai?",tanya Cakra yang membuka percakapan supaya tidak canggung, walaupun ia sudah tahu bagaimana Caramel menyelesaikannya.


"Udah kok Kak. Masalahnya udah clear",jawab Caramel santai.


"Lalu kenapa kemarin dengan Lili sangat-sangat rumit dan ruwet?",tanya Cakra penuh curiga.


"Oh itu kak, biasa. Si Alvaro sedang mencari perhatian dari seorang Caramel!!",jawab Lili santai.


Caramel tercengang mendengar jawaban dari Lili, bisa-bisanya Lili membawa masalah kantor dengan urusan pribadinya.


Cakra yang merasa bingung hanya menatap Caramel meminta jawaban yang masuk akal.


"Oh...maksud dari Lili. Memang pak Alvaro seperti itu pak. Menghadapi beliau harus ekstra sabar dan penuh keyakinan diri. Supaya beliau tidak salah paham dengan masalah furniturenya",jawab Caramel mencari alasan yang masuk akal.


"Good job Mel. Loe memang bisa diandalkan Mel. Daripada loe, Li!!!",puji Cakra menatap Caramel.


"What.... gue!!!!",kata Lili tidak terima sambil menunjuk dirinya sendiri. "Kak, tapi tanpa bantuan saya, Caramel juga gak akan bisa menyelesaikan masalah ini. Bukan begitu Mel?". Lili mencari dukungan.


"Liliku sayang, bukankah masalah tadi gue yang nyelesaiin!!!!",balas Caramel penuh kemenangan.


Skakmat...


Lili mati kutu dihadapan orang yang ia sayangi dan kagumi. Siapa sih yang gak suka sama si Cakra. Dia yang begitu perfeksionis, ganteng, tinggi dan kulit putih bersih. Plus baik hati. Cewek mana yang gak klepek-klepek sama dia? puji Lili dalam hati.


...*****...


...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...


...Terimakasih ...