
Salsa berangkat ke sekolah pada jam 8.00 karena jarak antara rumah dan sekolahnya cukup jauh, kurang lebih sekitar 1,5 kl. Dia pergi dengan berjalan kaki. Jika di perjalanan Salsa bertemu dengan pengendara yang dermawan maka sang pengendara tersebut akan menawarkan tumpangan padanya.
Dan benar saja, ada sepeda motor yang lewat dan menawarkan tumpangan kepadanya, orang itu adalah tetangga dari nenek Salsa yang berada di RT yang berbeda dengan Salsa.
“Salsa!, mau ke sekolah?” Tanya sang pengendara motor yang berhenti tak jauh dari langkah Salsa.
“Iyya om, kenapa? Mau nawarin tumpangan yah?” Tanya Salsa sambil tersenyum seolah pertanyaan itu akan menjadi kenyataan.
“iya iya, ayo naik om antar sampai depan sekolah” jawab si om pengendara sambil mengarahkan Salsa untuk naik ke atas sepeda motor yang dikendarainya.
Salsa pun tanpa ragu naik kendaraan tersebut hingga tiba di sekolah. Salsa sekolah di SDN Harapan (Nama samaran) di sebuah kampung yang penduduknya masih minoritas. Dalam satu RT hanya terdapat sekitar 60-70 rumah, dan jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain sekitar 300 meter. Jam pelajaran di sekolah Salsa dimulai pada jam 8.30- 12.00.
karena rumah para guru yang mengajar cukup jauh dari sekolah tersebut hingga pembelajaran dilaksanakan tidak pada jam biasanya yang dilakukan di sekolah-sekolah lainnya yaitu pada jam 07.30.
Saat tiba di sekolah, Salsa langsung mencari Difa sahabatnya. Difa dan Zahra, sahabat SD yang paling sabar dan paling rajin di sekolah Salsa.
“Zahra Zahra, kamu liat Difa nggak?” Tanya Salsa yang mengagetkan Zahra dengan suara cemprengnya.
“ah kamu kebiasaan, panggil orang kayak teriak ada kebakaran” jawab Zahra dengan nada kesal karena telah dikagetkan oleh suara cempreng Salsa.
“iya deehh aku minta maaf, eh Difa mana Ra? Kamu belum jawab pertanyaan dariku?” jawab Salsa dengan nada memelas meminta maaf kepada Zahra sekaligus menanyakan kembali dimana keberadaan Difa sahabatnya yang satu lagi.
“tuh Difa ada di belakang kelas lagi bersih-bersih, sana kamu bantu. Aku sudah membersihkan di depan kelas”. Jawab Zahra sambil mengernyitkan dahi.
“iyya deh” jawab Salsa singkat.
Dengan semangat, Salsa langsung berlari untuk bertemu dengan Difa hanya untuk menceritakan bagaimana perkembangan adiknya pagi ini. Tak pernah bosan Salsa menceritakan tentang adiknya pada teman-temannya.
Karena teman-teman Salsa sangat baik sehingga tak pernah mengeluh mendengar cerita tentang adiknya yang hampir tiap hari Salsa ceritakan, mulai dari betapa rewelnya adiknya, hingga adiknya tertawa pun Salsa ceritakan.
Tidak ada satu momen pun tentang adiknya yang terlewat dari cerita Salsa.. Difa sahabat paling setia mendengar ocehan Salsa mulai dari A sampai Z dan ocehannya hanya seputar adik Salsa yang katanya sangat lucu dan menggemaskan.
Setelah Salsa pulang sekolah, dia sampai di rumah pada jam 12.45. setelah itu dia istirahat sambil bermain dengan Fawwaz adiknya, dan di dapur telah siap makan siang untuk Salsa. Setelah 15 menit meregangkan otot-otot kaki yang pegal karena berjalan kaki, Salsa mandi untuk melaksanakan sholat Dzuhur, setelah itu dia makan dengan lahap karena memang tenaga yang digunakan untuk berjalan kaki dengan jarak 1.5 kl tidaklah sedikit.
"Ibu tidak makan?" Tanya Salsa pada ibunya. "Ibu sudah makan tadi dengan ayahmu". Jawab ibu Fitri.
"Ooh ya udah, berarti semua makanan ini bisa Salsa habisin kan Bu?" Tanya Salsa yang masih belum puas makan.
"Jangan nak, kamu kan mau sekolah lagi, nanti di sekolah ngantuk kalo makan kebanyakan".
"Iyya, nanti habis pulang sekolah kalo mau makan lagi nggak apa-apa".
Setelah Salsa pulang dari SD, dia kembali sekolah pada jam 13.30-15.30. nah sekolah ini terletak lebih dekat dibanding dengan sekolah SD. Dan sekolah ini juga berbeda dengan sekolah SD-nya. Kalau di SD Salsa belajar membaca dan berhitung, nah di sekolah ini dia belajar mengaji, mulai dari iqra 1 sampai iqra 6.
Setelah itu dilanjutkan dengan mengaji Al-Qur'an dari juz 1 hingga akhir juz yaitu juz 30. Tak selesai sampai disini, setelah mengkhatamkan Al-Qur'an, kembali dilanjutkan dengan belajar membaca kitab-kitab pemula, seperti kitab fiqhi, kitab shorof karya Kh. Ma’shum Ali , Kitab Hidayatul Shibyan yang di karang oleh Syaikh Sa’id bin Sa’d Nabhan al-Hadrami, Ada juga kitab Tuhfatul Athfal Karya Syaikh Sulaiman bin Hasan bin Muhammad Al Jamzury dan masih banyak lagi.
Sekolah Salsa yang belajar di siang hari bisa dianggap belajar tentang ilmu agama. Di kampung Salsa memang mendirikan sekolah untuk fokus pada ilmu agama Islam, para penduduk sengaja membangun sekolah tersebut agar tidak hanya ilmu dunia yang anak-anak dapat namun dapat diimbangi dengan ilmu agama.
Di malam hari, setiap Jum’at malam sampai rabu malam, kehidupan Salsa tidak seperti anak yang berada di kota-kota lain, pada malam tersebut dia tidak berada di rumah karena pergi ke rumah seorang guru untuk mengaji Al-Qur’an. Disana Salsa juga punya banyak teman sebayanya yang juga mengaji seperti yang dilakukan Salsa.
Setiap malam, Salsa menginap di rumah gurunya tersebut Karena ketika malam hari tidak ada yang diperbolehkan untuk pulang. Jadi, watu malam yang dijalani oleh Salsa dan teman sebayang adalah dengan membantu ustadzah mengikat sayuran yang besoknya akan dibawa ke pasar, ada sayur bayam, kangkung, kemangi, daun sop dan yang lainnya.
Setelah membantu Ustadzah Ifa selesai Salsa dan yang lainnya beranjak ke tempat tidur yang sebelumnya telah mereka persiapkan masing-masing. Salsa lebih senang tidur di bagian pinggir dekat kamar ustadzah Ifa, disampingnya ada Zahra dan juga Difa. Sebelum mata mereka terlelap, terlebih dulu mereka bercerita tentang banyak hal hingga akhirnya satu persatu tertidur bagai dibacakan sebuah dongeng pengantar tidur.
“iiihhhh Difa, Zahra, kalian kok udah pada tidur sih, ceritaku belum selesai nih, ayo dong bangun dengerin” pinta Salsa.
“Udahlah Sa, sekarang waktunya tidur, ingat besok bangun subuh, jangan telat. Ntar di ta'zir (hukuman) sama ustadzah” jawab Difa sudah setengah sadar.
“ah sudahlah, aku juga mau tidur, kalian nggak asyik” gerutu Salsa sambil menarik sarungnya untuk menutup matanya agar bisa tertidur seperti yang lainnya.
Ketika adzan subuh berkumandang, ustadzah Ifa membangunkan anak-anak untuk melaksanakan sholat jamaah.
“ayo anak-anak bangun, kita sholat jamaah” panggil ustadzah Ifa dengan nada lembut.
“Iya ustadzah” jawab salah satu anak dengan tetap memejamkan mata.
“Salsa.. Salsa… bangun. Sudah subuh. Ayo ambil wudhu dan sholat, jangan lupa bangunin yang lain” panggil ustadzah Ifa sambil memegang pundak Salsa.
“iyya ustadzah, Salsa udah bangun nih” jawab Salsa sambil mengucek matanya dan berusaha membuka mata dan duduk bersandar. Salsa memanfaatkan suara cemprengnya untuk membangunkan teman-temannya yang masih terlelap.
“ui uiiiiiiiiiiiiii bangun! Ayok sholat subuh. Yang nggak bangun dan telat jamaah ntar di suruh angkat pasir dari sungai smaa ustadzah” ancam Salsa sambil membereskan tempat tidurnya.
Akhirnya merekapun bangun karena mereka juga tida mau mendapat ta'zir mengangkat pasir dari sungai.
Salsa dan teman-temannya berlomba-lomba bangun untuk melaksanakan sholat subuh secara berjamaah. Setelah itu, Salsa dan yang lainnya secara bersama-sama membaca surah Al-Waqi'ah yang berada di juz 27 setelah surah Ar-Rahman.
Saat mengaji Salsa dan teman-temannya saling membesarkan suara hanya untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih terasa karena bangun terlalu pagi.