A Choice

A Choice
Sebuah Fakta Baru



...HAPPY READING...


...***...


Belanja-belanjaan yang sudah tersusun rapi di bagasi mobil dengan bantuan karyawan Mall. Caramel menutup pintu mobil dan mengucapkan banyak terimakasih kepada karyawan Mall karena sudah membantu menata dan meletakkan didalam bagasi mobil.


Lili membersihkan kedua tangan dengan cara menepuk-nepuk kedua tangannya. "Mimpi apa semalam gue, belanja begitu banyak!!",oceh Lili yang merasa lelah membawa barang-barang belanjaan. Ia membuka pintu mobil dan masuk kedalam.


Caramel membuka pintu bagian pengemudi dan mengemudi dengan kecepatan sedang. "Menurut loe, gue gak kaget apa. Seorang Tuan Reizo Darma Abisatya belanja keperluan bulanan?",cicit Caramel. "Biasanya aja Bi Dewi sama Bi Siti".


"Mungkin dia sedang gabut kali, Mel. Jadi ingin belanja bulanan".


"Dia itu gak ada kata gabut dalam dunianya. Beda sama kita, Li".


"Ya siapa tahu. Kita otw kantor dulu nih?".


"Iya. Masih siang juga. Kita masih dalam jam kerja Li. Ketahuan sama bos bisa-bisa kita dipecat!!!".


Hahahaha.....tawa mereka pecah memenuhi seisi mobil.


*


*


*


Rei sudah sampai di perusahaannya. Ia duduk di singgah sananya. Ia menerima sebuah notifikasi bahwa kartu Black Card baru saja digunakan dengan sejumlah uang yang sudah tertera.


Mike masuk kedalam ruangan karena Rei memanggil lewat sambungan telepon. "Ada yang bisa saya bantu tuan?",tanya Mike sopan.


"Saya mengirim email ke kamu. Ini ada kebutuhan barang belanjaan yang karyawan mall ambil. Dan silakan di cross cek barang apa yang tidak ada dan ada di sana!!",perintah Rei.


Mike mengambil sebuah kertas yang ada didepan meja.


Glek.


Begitu banyak daftar barang belanjaan yang ada di dalam kertas tersebut dengan harga yang sudah tertera. Ini tuan Rei kurang kerjaan atau apa ya! keluh Mike karena kerjaan ini tidak penting sama sekali. "Baik tuan, saya akan cross cek",jawab Mike keluar dari ruangan Rei.


"Kita lihat aja, Mel. Loe menambah barang belanjaan gue atau tidak",ucap Rei dengan sorot mata yang tajam.


Mike meneliti daftar barang belanjaan dengan email yang masuk. Email yang masuk itu adalah daftar pengeluaran yang ada di black card. Beberapa menit kemudian akhirnya Mike selesai mengcross cek pengeluaran yang tertera. Ia segera melapor ke Rei. "Tuan, semua daftar barang belanjaan semua sama pada daftar yang tuan minta",ucap Mike.


"Serius?",tanya Rei tidak percaya.


"Saya serius tuan. Ini". Mike memberikan tanda bukti yang sudah ia centang dengan jeli.


Rei menerima dan mencocokkan hasil yang sama. Sulit di mengerti ini wanita, mengapa dia selalu mematuhi perintah ku!. Padahal aku selama ini selalu membuat dia terluka dan sakit hati. Tapi, dia tidak sekalipun ingin bercerai dengan ku.


"Bagaimana tuan?. Apakah ada hal yang mengganjal?",tanya Mike yang begitu penasaran dengan tingkah aneh Rei yang tidak masuk akal.


"Lupakan Mike!!. Baju tadi pagi udah kamu laundry?".


"Udah tuan. Udah saya taruh di dalam mobil".


"Ok. Hari ini ada jadwal metting tidak?",tanya Rei.


Mike mengambil sebuah buku schedule. Ia memeriksa hari ini. "Tidak ada tuan. Tuan mau ke tempat sesuatu?".


*


*


*


Caramel sudah sampai didepan perumahan yang ia rindukan beberapa Minggu ini. Rumah sederhana yang penuh dengan kenangan dan kebahagiaan. Aku pulang Bun! batin Caramel memandang depan rumah yang bercat kuning itu. Ia melamun membayangkan kebahagiaan yang dulu tercipta sebelum ia menjadi salah satu keluarga dari Abisatya.


Lamunannya tiba-tiba hilang karena suara ponselnya. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas. Sebuah nama yang saat ini ia kecewa terhadapnya. "Assalamualaikum?",sapa Caramel.


"Biar gue yang jemput Ar",ucap Rei yang sama sekali tidak membalas salamnya.


"Baik tuan", jawab Caramel malas yang langsung dimatikan sepihak oleh Rei. Ia menghela nafas pelan mengisi rongga-rongga dengan udara segar, supaya ia bertamu ke rumah bunda dengan perasaan bahagia. Ia segera turun dari mobil tidak lupa dengan bingkisan oleh-oleh yang ia beli tadi di supermarket. Ia berjalan perlahan menuju pintu utama. Bunda, andaikan dulu aku menolak perjodohan ini, mungkin aku sudah membahagiakan bunda dengan caraku. Dengan cara yang sederhana. Tapi, takdir Amel tidak semulus cerita di novel ataupun di telenovela yang pernah Amel tonton sebelumnya. Kehidupan Amel penuh drama yang tidak bisa Amel ceritakan bunda, karena Amel tidak mau bunda memikirkan Amel seperti anak kecil lagi.


Tok... Tok... Tok...


Caramel mengetuk pintu pelan. Ia melihat seorang wanita setengah tua membukakan pintu dengan tergopoh-gopoh dengan baju gamis berwarna ungu muda. Wanita yang sudah berkeriput tetapi kecantikannya tidak luntur sama sekali. Wanita yang melahirkan aku dan mengandung aku selama 9 bulan lebih itu. "Bunda",kata yang pertama kali Caramel ucapkan dengan lembut.


"Amel". Bunda tidak percaya bahwa Caramel berkunjung ke rumah sederhana itu. Ia memeluk erat anak sulungnya itu. "Bunda kangen sayang". Mata bunda berkaca-kaca memeluk sang putri yang ia rindukan selama beberapa Minggu ini.


Caramel sudah terisak-isak di pelukan sang bunda. "Amel juga kangen banget sama bunda",lirih Caramel disela isakan tangisannya.


Bunda melepaskan pelukannya lalu memperhatikan Caramel dari rambut sampai ujung kaki. "Kamu baik-baik sajakan sayang?",tanya Bunda khawatir.


"Amel baik-baik saja bunda".


"Ya udah, kita masuk kedalam yuk!",ajak bunda sambil merangkul sang putri. "Ar tidak ikut sayang?",tanya Bunda.


"Cucu bunda belum pulang. Ar baru dijemput oleh mas Rei".


Bunda mempersilahkan Caramel duduk di sofa walaupun tidak seenak di sofa di keluarga Abisatya.


Caramel terenyuh mendengar bunda merendahkan dirinya sendiri. "Bunda...",panggil Caramel supaya bunda tidak merendahkan dirinya sendiri. "Amel kesini kangen sama Bunda, bunda jangan bicara seperti itu lagi ya. Bunda bicara seperti itu hati Caramel hancur, Bun?",lirih Caramel memegang tangan Rima penuh lembut.


Bunda menundukkan kepalanya terisak. "Memang kenyataannya seperti ini sayang. Disini tidak seenak dan senyaman di rumah Abisatya".


"Tapi Caramel tidak pernah membandingkan apapun Bun. Bunda yang lebih utama daripada mereka. Bunda yang paling Amel sayang dan cintai daripada mereka. Bunda tidak ada perbandingan apapun yang layak disandingkan dengan bunda",kata Caramel mencium tangan Rima.


"Terimakasih sayang, kamu tidak melupakan bunda kamu!".


"Tidak akan pernah dan tidak akan terjadi Bun. Bunda adalah malaikat buat Amel".


Mereka berdua berpelukan lagi melepaskan sebuah rindu yang lama mereka pendam.


Andai Bunda tahu bagaimana hidupku dirumah Abisatya. Pasti bunda tidak akan merelakannya melepaskan aku untuk menikah dengan seorang Rei yang notabene seorang pemuda kaya raya. "Oh ya Bunda, dimana Tiara?",tanya Caramel yang melepaskan pelukan.


"Adik kamu belum pulang sayang. Dia masih mengerjakan tugas dirumah temannya",jawab Bunda. "Oh ya, bunda sampai lupa buatkan kamu minum",sambungnya yang langsung berjalan ke dapur.


"Tidak usah Bun. Amel tidak haus",seru Caramel yang tidak didengarkan oleh bunda. Ia melihat beberapa foto pernikahannya yang terpajang di tembok ruang tamu. Kebahagiaan yang semu. Ia berjalan memasuki kamar Tiara. Kamar yang dulu ia tempati bersama adiknya itu. Kamar yang penuh canda dan tawa yang ada. Ia menyentuh setiap sudut ranjang yang tidak terlalu besar itu. Buku-buku masih berjajaran dengan rapi di lemari buku. Buku-buku yang setiap saat ia baca sebelum tidur. Ia membuat beberapa laci yang terdapat foto album keluarga. Terakhir ia membuka sebuah laci bawah yang terdapat banyak kertas yang berserakan. Caramel mencoba mengambil salah satu kertas yang berserakan itu. Dan ia tercengang membaca transaksi pengiriman rekening Tiara Diandra Atmaja ke rekening Mona Widyastuti. Ia mengambil lagi transaksi yang sama dengan jumlah yang berbeda-beda. Ia mengacak-acak kertas-kertas itu sampai berserakan dilantai. "Apa-apaan ini!!",lirih Caramel kesal membaca transaksi itu. Kepalanya terasa berat memikul beban yang teramat dalam. Jantungnya seakan berhenti berdetak menerima kenyataan yang pahit ini. Ia berdiri mengusap wajah dengan perasaan yang gusar.


...***...


...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...


...Terimakasih ...