A Choice

A Choice
Pelita Ilmu



Hari pertama Salsa telah resmi menjadi santri di sebuah pesantren yang terlihat sangat sederhana, namun di balik kesederhanaan yang ditampakkan terdapat banyak ilmu yang bisa di dapatkan.


Pesantren "Pelita Ilmu", itulah namanya. tak hanya dari namanya saja yang pelita ilmu. Pesantren ini mengharapkan kepada para santri dan santriwatinya agar menjadi penerang di kegelapan, menjadi tempat yang bisa menerangi segala sisi dengan adanya bekal ilmu yang mereka dapatkan.


Salsa datang ke sekolah bersama ibu Fifi karena om Salsa sedang berada di kampung istrinya, memang sejak mereka datang dari kampung halamannya ia belum pernah bertemu dengan mertuanya. Jadi saat ada waktu omnya menyempatkan diri untuk datang kesana.


Dengan pakaian hijau putih yang dikenakan pada hari saat ia pertama masuk, Salsa kembali teringat akan sekolah di kampung halamannya yang pakaiannya hampir sama dengan pakaian yang digunakan sekarang. Rok hijau, baju putih, dan jilbab hijau yang senada dengan warna roknya.


Jarak sekolah dengan rumah ibu Fifi hanya berkisar 300-400 meter. Jarak yang sangat dekat bagi Salsa dibandingkan dengan jarak sekolah yang ada di kampungnya. Memang kali ini Salsa banyak membandingkan antara sekolah barunya dengan sekolah yang ada di kampungnya.


"Nak, kita ke sekolah naik becak aja ya?". tanya ibu Fifi pada Salsa yang terlihat masih sibuk memperbaiki pakaiannya.


"Ooh iya bu, kita naik becak aja supaya cepat sampai". Jawabnya sambil mencoba memakai jilbab sekolahnya.


"Ya sudah, Ayo kita siap-siap ke sekolah supaya kita tidak telat". Ajak ibu Fifi yang juga sedang bersiap siap untuk mengantarnya.


"Iya Bu". jawab Salsa singkat kemudian mempercepat langkahnya menuju jalan raya untuk menunggu becak yang lewat.


Ketika telah sampai di depan gerbang sekolah, menurut Salsa terlihat banyak perbedaan antara sekolahnya yang ada di kampung dengan sekolah disini, salah satunya perbedaan antara jarak, masalah waktu yang jika di kampungnya bisa datang jam 8.15 dan baru masuk pada jam 8.30, berbeda dengan tempat barunya yang para santri dan santriwati harus datang sebelum jam menunjukkan 7.45. Artinya ada perbedaan satu jam. Ia harus bangun lebih pagi dan harus lebih pagi untuk mempersiapkan diri ke sekolah.


Pesantren ini tak hanya menampung para santriwati, namun ada juga para santri yang tinggal satu atap namun tidak bercampur baur. Terlihat sangat menyejukkan mata ketika melihat para santri berjalan dengan membawa buku ataupun kitab untuk persiapan belajar mereka.


Seketika hati Salsa merasa takjub melihat orang-orang di sekelilingnya yang sibuk dengan membaca dan mengaji saat guru mata pelajarannya belum tiba. Tak banyak yang ia lihat karena masih canggung dan malu. hanya sekilas saja ia melihat ke sekelilingnya.


Kelas yang akan menjadi tempat Salsa berasa paling ujung dan paling jauh namun sangat dekat dengan kantin Berkah yang letaknya hanya 50 meter saja. Ia menoleh ke setiap kelas yang ia lewati. Ada yang memperhatikan Salsa ada juga yang berbisik kepada teman lainnya. Entah apa yang mereka bisikkan.


"Assalamu'alaikum ibu". Sapa salah seorang santriwati yang berada di depan pintu.


"Wa'alaikumussalam warohmatullah, sudah jam segini kalian kok belum masuk? gurunya siapa?".


"Belum bu, yang masuk ngajar hari ibu ibu Laila, katanya beliau lagi sakit Bu". jawab santriwati yang lain.


Memang ibu Laila guru sejarah yang mengajar di sekolah tersebut sudah sering sakit karena faktor umurnya yang tidak lagi muda. Beliau mengabdi di sekolah sudah sekitar 20 tahun lebih, sejak umurnya 27 tahun. guru yang paling sabar dan paling rajin yang pernah diceritakan ibu Fifi pada Salsa kala itu.


"Ooh yaa Allah. Kalian sudah ada yang menjenguknya atau belum?".


"Ya sudah kalian belajar masing-masing saja dulu, nanti kalo ada yang belum kalian pahami bisa tanyakan kepada ibu Laila atau guru Kalian yang lainnya".


"Iya Bu. Ini siapa Bu?". tanya yang lain karena penasaran dengan Salsa yang berdiri di samping ibu Fifi dan hanya diam saja.


"Oh ini Salsa. Dia baru masuk hari ini, kalian jaga adik Salsa yah, dia datang jauh-jauh dari kampungnya untuk belajar. jadi kalian harus sering-sering kasih semangat sama adik Salsa supaya dia tidak merasa sendiri dan belajarnya semangat ". Ibu Fifi menitipkan Salsa pada kk kelasnya yang sudah berada di kelas 9 MTs.


"Hai adik Salsa. nama kakak Safira, kamu bisa panggil kak Fira". Ada satu suara yang memperkenalkan namanya dengan melemparkan senyum manisnya, Fira namanya. Dia adalah siswa yang cantik, ramah, pintar dan cukup aktif serta mudah bergaul dengan orang-orang yang baru dilihatnya.


Salsa hanya tersenyum dan menunduk tanpa berkata apapun tanda ia masih merasa malu dan wajah-wajah yang berada di depannya saat ini masih terasa asing baginya.


"inshaa Allah Buu". Jawab mereka serentak dan sedikit membungkukkan badannya tanda penghormatan kepada guru mereka.


"Ya sudah, ibu ke kelasnya Salsa dulu, kalian selamat belajar dan jangan lupa berdoa dulu". ibu Fifi pamit kepada mereka yang masih berdiri dan melihat Salsa. seperti ingin menanyakan banyak hal padanya.


Tiba di kelas yang akan menjadi tempat Salsa selama kurang lebih setahun, yaitu kelas 7 MTs. Ketika Salsa dan ibu Fifi berada di depan pintu kelas, suara yang sebelumnya beradu dengan sedikit berteriak bersahut-sahutan, ada yang bernyanyi, ada juga yang hanya duduk dan bercerita dengan teman lainnya, seketika menjadi hening dan berubah menjadi saling berpandangan.


"Assalamu'alaikum nak". Ucap ibu Fifi ketika masuk ke dalam kelas diikuti oleh Salsa.


"Wa'alaikumussalam Bu". Jawab mereka serentak dan memperbaiki posisi duduknya.


"Perkenalkan ini Salsa teman baru kalian, dia keponakannya pak Ilham, apa kalian pernah diajar oleh pak Ilham?". Tanya ibu Fifi.


"Pernah bu, pak Ilham guru bahasa Inggris kan bu".


"Iyya. Pak Ilham guru bahasa Inggris kalian, nah sekarang Salsa adalah teman kalian dan kalian harus belajar sama-sama dengan Salsa".


Selain kelas 9 yang dilalui tadi, semua kelas tidak ada gurunya, begitu pula kalas 7 yang tidak ada gurunya karena mereka sedang mengadakan rapat antar guru dan pembina yang berada di lingkungan pondok. Rapat tentang keadaan beberapa fasilitas kelas yang kurang lengkap .


"Kalian sampaikan pada wali kelasnya bahwa ada santriwati baru yang masuk jadi Salsa akan di tambahkan di absen kalian".


"Iya bu, nanti saya beri tahu ibu wali kelas kalo ada santriwati baru" . ucap seorang anak yang dari tadi memandangi Salsa, sepertinya dia tidak sabar ingin berkenalan dengan Salsa.


setelah mengantar Salsa ke kelas, ibu Fifi keluar dan kembali melanjutkan aktifitasnya yang lain. ibu Fifi pamitan kepada teman kelasnya dan tak lupa memberi semangat pada Salsa si murid baru yang masih jaim di depan teman-temannya yang baru.