
...HAPPY READING...
...*****...
Rei clingak-clinguk mencari celah supaya bisa masuk kedalam kamar Tiara. Ya Tuhan, lindungilah saya!!!. Rei dengan perasaan campur aduk berjalan ke arah kamar Tiara. Kamar seorang gadis remaja. Ia berdiri tepat didepan kamar Tiara. Ia memegang handel pintu dengan sangat pelan sekali. Berjalan mengendap-endap seperti ingin mencuri sesuatu dari kamar Tiara. Ia melihat sisir Tiara tergeletak di meja rias. Rei berinisiatif mengambil rambut yang terdapat di sisir milik Tiara. Mengambil sedikit rambut dan meletakkan didalam plastik kecil. Yesss!!!. Akhirnya rencana gue berhasil! batin Rei yang bersorak gembira. Ia dengan cepat keluar dari kamar Tiara dengan kecepatan tinggi. Sesampai di depan pintu, ia melihat Arzan yang sedang berjalan menuju kamar sang Mama.
Arzan terkejut papanya keluar dari kamar tante Tiara. "Papa!".
"Sstttttt!!!". Rei memberikan sebuah gerakan supaya Arzan tidak berisik. Ia berjalan menghampiri sang putra.
"Kenapa papa keluar dari kamar tante Tiara?",tanya Arzan pelan sesampai Rei menggendong sang putra di lengannya.
"Oh... papa tadi ingin mencari kamu sayang. Ternyata kamu tidak ada didalam kamar",jawab Rei mencari alasan.
"Kita udah menunggu papa di ruang makan".
"Maaf ya sayang, papa terlalu lama keluar dari kamarnya!".
Lalu Rei mengajak Arzan untuk pergi bersama ke ruang makan. Ia duduk didekat sang istri.
Caramel mengambil nasi dan beberapa lauk di piring Rei. Ia menyiapkan dengan sangat telaten.
"Maaf ya bunda, gara-gara saya, semuanya jadi menunggu!",ucap Rei sungkan.
Tiara melirik ke arah Rei dengan wajah malasnya. Untung kamu orang kaya kak, kalau gak, mungkin nenek lampir itu gak akan jodohin kamu dengan kakak Amel.
"Gak apa-apa nak Rei. Kami merasa senang nak Rei berada ditengah-tengah kami",kata Bunda.
"Iya bunda. Mungkin kita akan menginap di sini lebih lama lagi. Apakah boleh bunda?",tanya Rei.
Caramel yang mendengar permintaan Rei langsung menghentikan aktifitasnya. Nih orang serius ngomongnya apa hanya bercanda?. "Mas serius?. Disini beda loh mas sama dirumah utama. Dirumah utama, semua tersedia. Dan mas yakin akan menginap dirumah ini?",tanya Caramel.
"Kenapa Mel?. Kamu gak percaya sama saya?",tantang Rei.
"Bukan. Bukan gak percaya sama mas. Tapi, keadaannya berubah mas. Dirumah utama mas tinggal meminta sama bibi. Tapi, disini beda mas. Disaat aku harus pergi bekerja, mas harus mandiri dirumah ini. Tidak ada bibi dan tidak ada pembantu!!",jelas Caramel. Karena ia tidak mau membebani sang bunda tentang permintaan aneh-aneh dari Rei. "Apakah mas sanggup tanpa bibi dan tanpa AC dikamar?".
Rei terdiam sejenak. Memang yang dikatakan oleh istrinya itu ada benarnya. Tapi, ia sangat-sangat curiga tentang seluk beluk Tiara.
"Udah... udah.. kok malah berdebat sih pagi-pagi. Kita sarapan dulu ya??",ajak Bunda dengan ramah.
Lalu satu keluarga kecil itu sarapan dengan lahap. Apa lagi Arzan yang sarapan tidak seperti biasanya.
Rei mengacak rambut sang putra. "Pelan-pelan dong sayang!",saran Rei karena Arzan makan dengan sangat lahapnya.
"Tiara, nanti berangkatnya bareng kakak ya?",ajak Caramel.
"Gak usah kak. Tiara naik angkot aja!. Udah bisakan Tiara naik angkot!",ucap Tiara menolak ajakan dari sang kakak.
"Bukankah kita satu arah Ra?. Udah lama loh kakak gak nganterin kamu kuliah?",oceh Caramel.
Aduh... Bagaimana ini, aku ada kampus siang. Dan pagi ini aku harus kerja part time di cafe! batin Tiara bimbang. "Gak usah kak. Soalnya nanti Tiara mau pergi dulu ke rumah teman. Soalnya kita mau berangkat bareng ke kampusnya. Biasalah kak banyak tugas dari kampus!",kata Tiara mencari alasan.
Rei hanya melihat tingkah Tiara yang seakan-akan mencari alasan. Bukankah dia kerja part time di sebuah mall. Apakah dia masuk kampusnya siang?. Sehingga menghindari sang kakak untuk mengantarnya! pikir Rei.
"Ya udah kalau gitu. Lalu kamu bagaimana mas, bukankah kamu hari ini cuti kerja?",tanya Caramel.
"Biar aku antar Arzan aja pergi ke sekolah!",jawab Rei.
"Horeeee.... Arzan mau diantar sama papa!",oceh Arzan bersorak gembira.
"Ya udah kalau gitu!!. Aku berangkat sekarang ya, takutnya jalanan macet total",pamit Caramel berdiri dari kursi. Rumah bunda dari kantor Caramel lumayan menempuh jarak yang lumayan jauh. Butuh 45 menit menuju perusahaan.
"Ok!",jawab Rei. Caramel mencium tangan Rei dan bunda. Tidak lupa mencium pipi sang putra. "Belajar yang rajin ya sayang!!. Bye... Bye...",pamit Caramel.
"Iya mamel. Mamel ati-ati ya!",pesan Arzan mencium pipi sang Mama.
"Iya sayang. Assalamualaikum!",pamit Caramel sebelum meninggalkan rumah.
"Walaikumsalam!".
*
*
*
*
*
Caramel mengemudi kendaraan dengan kecepatan sedang. Ia memasang earphone ke telinganya memanggil Lili dengan ponselnya. "Assalamualaikum Li. Loe nebeng gue apa gak nih?".
"Walaikumsalam Mel. Gak Mel. Gue naik mobil sendiri. Loe udah masuk kerja?",tanya Lili.
"Loe jangan ke kantor ya!",sahut Lili.
"Kenapa?".
"Pagi ini ada meeting dengan mantan loe lagi!".
"Ada apa lagi ?. Bukannya semua udah di ACC sama perusahaannya dia?",kata Caramel.
"Katanya salah satu barang yang kita kirim tidak sesuai dengan produk yang diminati oleh pelanggan Mel. Gue kemarin juga bingung bagaimana cara menanganinya!".
"Produk yang mana lagi Li?. Semua produk yang keluar dari perusahaan kita, semua udah sesuai prosedur perusahaan. Gak bisa gitu dong, Al membatalkan salah satunya. Bisa rugi perusahaan kita Li", kesal Caramel.
"Iya gue tahu Mel. Kemarin gue udah jelasin semua sama Alvaro. Tapi ya gitu, Alvaro gak mau rugi juga!".
"Ok. Kita meeting dimana?",tanya Caramel.
"Di Cafe Tarian".
"Kok di cafe sih!. Kenapa gak di restoran aja?. Loe mau kejadian kemarin-kemarin keulang lagi Li?".
"Maaf Mel. Tapi ini permintaan Al. Gue gak menolak permintaan Al, dia juga klien kita Mel",jelas Lili.
"Klien yang minta aneh-aneh sama perusahaan kita atau sama gue!!!",kesal Caramel yang langsung mematikan ponselnya secara sepihak. "Dasar Alvaro, kita lihat aja siapa yang benar!. Dari dulu emang dia selalu cari masalah sama gue!".
*
*
*
*
*
Tiara berpamitan sama bunda dan juga kakak iparnya, Rei. Ia berangkat kuliah dengan naik angkot diperempat perumahan.
Rei dan Arzan menaiki mobil yang melewati perempatan yang dilalui oleh Tiara. Rei menghentikan mobilnya tepat di depan halte.
Tiara yang melihat Rei berhenti didepannya merasa kesal. Karena yang pasti Rei mau menghinanya.
Rei membuka pintu kaca mobil. "Masuk!!!",perintah Rei yang tak terbantahkan.
"Buat apa kak?. Gak mau. Tiara lebih baik naik angkot daripada harus naik mobil orang kaya!",kesal Tiara dengan wajah yang kesal.
"Masuk gak?. Kalau gak, gue akan bilang sama kakak loe, kalau loe mengambil kerja part time di mall",ancaman mau Rei keluar lagi.
Tiara menghela nafas malas dengan ancaman dari Rei. Dasar tukang ngancam!!!.
"Ayo!!!",teriak Rei yang membuat otomatis Tiara masuk dengan malas.
Arzan yang duduk dijok belakang hanya bisa berdiam diri. Karena sang papa berkata supaya ini menjadi rahasia mereka berdua bahwa Tiara satu mobil bersamanya.
Rei mengantar kesekolah Arzan dahulu. Lalu mengantar Tiara. "Gue ada tugas penting buat loe!!",kata Rei tiba-tiba mengatakan dengan sengitnya.
Tiara menoleh memandang Rei penuh curiga. "Tugas apa lagi Kak?. Kalau kakak ngancem aku terus, terserah kakak. Karena aku udah gak kerja disana lagi!".
"Kakak akan kasih berapapun yang loe minta. Asal kamu kasih info soal kakak Amel dengan mantannya itu".
Tiara tertawa ngakak mendengar permintaan Rei yang tidak masuk akal. "Hahahaha.... Kak Rei serius?. Bukankah Kak Rei bisa mengetahui apapun tanpa mencari tahu sendiri",sindir Tiara.
"Gue hanya perlu masa lalu kakak loe aja. Bukan tentang mantannya itu. Loe jangan salah paham Ra!!!".
"Tiara tahu kok, sekarang kakak udah mulai jatuh cintakan sama kak Amel?",ucap Tiara dengan percaya diri.
"Hahahaha... Loe serius tanya kakak seperti itu?".
"Iya. Lalu buat apa kak Rei peduli tentang masa lalu kak Amel seperti apa. Itu gak penting buat Kak Rei. Kak Amel melakukan itu semua karena Mak lampir yang menyuruh Kak Amel menikah dengan kak Rei. Dan sampai saat ini, Tiara yang menanggung derita dari Mak lampir itu",jelas Tiara yang merasa amat kecewa dengan keputusan Monna.
Rei tersenyum smirk. "Kalau loe gak mau menanggung derita yang lebih lama lagi, kenapa loe masih stay di situ?. Bukankah loe bukan anak kandung dari mereka!".
Deg. Tiara tercengang mendengar langsung dari Reizo, kakak iparnya. "Dari mana kakak tahu?",tanya Tiara menggebu-gebu. "Apakah Kak Amel yang memberitahukan, bahwa Tiara bukan adik kandungnya?",sambung Tiara marah dan kecewa menjadi satu.
Rei tidak boleh gegabah dalam menjawab setiap pertanyaan dari Tiara. Ia tidak mau Caramel akan terbebani dengan masalah ini. "Bukan. Kakak udah tahu dari sebelum kakak menikah dengan kak loe!".
Dada Tiara terasa sesak untuk sekedar bernafas. Bahwa kenyataan lebih menyedihkan dari sebelum ia mengetahui semuanya. Matanya yang cerah sekarang menjadi berkaca-kaca. Ia kecewa dengan semua keadaan yang seperti ini. Andai saja ia bisa memilih, ia memilik tidak dilahirkan ke dunia ini.
...*****...
...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...
...Terimakasih ...