
...HAPPY READING...
...***...
Caramel sampai dirumah sekitar pukul 6 sore. Karena perjalanan dari rumah Andika ke rumah Abisatya memerlukan waktu yang lama. Ia melihat keluarga Abisatya sudah mulai makan malam. Donna yang melihat kedatangan Caramel melihat dengan sinis karena Caramel pulang terlambat.
"Lihat tuh, wanita macam apa dia!!!",sindir Sisca.
Arzan yang melihat kedatangan mamanya langsung berjalan menghampiri Caramel. "Mamel, ayo makan?",ajak Arzan menarik lengan Caramel.
Caramel tersenyum manis melihat ajakan dari Arzan. Ia lalu duduk berjongkok dihadapan sang putra. Ia sesekali melirik keluarga Abisatya yang sedang mengejeknya saat ini. "Nanti ya sayang, Mamel belum bersih-bersih badan. Nanti baunya menyengat lagi di seisi ruangan. Kamu makan dulu ya?",kata Caramel sambil mengelus kedua lengan Arzan.
"Tapi nanti Mamel nyusul kita makan malam ya?",pesan Arzan.
Tidak terasa mata Caramel berkaca-kaca. Ia saat ini sedang butuh pegangan tubuh supaya ia tetap berdiri kokoh dan tegak. Semua orang telah membohongi dirinya, tetapi tidak dengan Arzan. Anak kecil dengan senyuman yang manis yang hanya menjadi semangat hidup buatnya. "Iya sayang. Nanti Mamel akan menyusul. Tapi, kalau Mamel tidak turun dari kamar utama, kamu jangan menunggu Mamel ya?",pesan Caramel.
"Iya Mamel. Ya udah, Mamel segera ke kamar ya?. Arzan melihat Mamel, sepertinya Mamel kelelahan!",kata Arzan lalu ia memeluk Caramel sebentar dan kembali ke meja makan.
Caramel hanya melihat Arzan berlari kecil ke arah meja tamu. Ia juga melihat Rei membantu Arzan untuk kembali duduk dengan baik. Dia, orang yang seharusnya menjadi penopang hidupku tapi dia tidak pernah peduli sedikitpun tentang hidupku. Dia, orang yang seharusnya menjadi tulang rusukku, tapi dia sama sekali tidak menjadi tulang rusukku. Lalu Caramel berjalan perlahan menaiki anak tangga satu demi satu dengan tubuh yang sudah tidak kuat lagi, tapi ia harus kuat untuk menghadapi kehidupan yang sangat kejam ini.
Rei hanya mencuri pandang dengan sikap Caramel yang tidak seperti biasanya. Biasanya ia yang selalu bersemangat menjalankan kewajiban dirumah, tapi kali ini ia tidak menemukan semangat dalam hidup Caramel lagi. Ada apa dengan wanita itu?. Tumben banget dia tidak bersemangat? batin Rei yang bertanya dalam hati kecilnya itu.
"Kamu lihat itukan Arzan?. Bagaimana tingkah dan polah laku mama kamu?",kata Donna yang mencoba menjelek-jelekkan Caramel tepat dihadapan sang putra.
"Maksud Oma apa?",tanya Arzan polos.
"Mana ada wanita yang sudah bersuami pulang sampai malam seperti ini!!",oceh Donna.
"Mama!!". Rei tidak suka mamanya menjelek-jelekkan Caramel tepat dihadapan sang putra.
"Kenapa Rei?. Kamu ingin membela istri kamu yang kurang ajar itu?",sindir Donna.
Rei menghela nafasnya kesal menahan amarah yang sudah memuncak karena sikap mamanya. "Sayang, kamu sudah selesai makan malamnya?",tanya Rei kepada Arzan.
Arzan melihat makanan yang masih setengah piring. Ia tahu saat ini papanya sedang marah dengan Oma. "Udah Pa",jawab Arzan.
Rei mengelus kepala Arzan dengan lembut. "Kamu sekarang ke kamar ya, sayang. Dan segera mengerjakan PR. Katanya tadi ada PR menggambarkan?",kata Rei.
"Iya pa". Arzan mengerti maksud dari papanya. Ia lalu turun dari kursi dan berjalan menuju ke kamarnya.
Rei membanting sendok dan garpunya tepat di atas piringnya. Hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. "Maksud mama apa?. Kenapa Mama menjelekkan Caramel tepat dihadapan Arzan?. Arzan itu masih anak kecil Ma. Dia tidak boleh mendengarkan hal-hal yang seperti itu. Itu akan membuat dampak buruk pada Arzan dimasa yang akan datang!. Rei tahu, bagaimana mama dan Sisca membenci Caramel, tapi tidak seperti ini juga!!!",jelas Rei.
"Memang kenyataannya seperti itu Rei!!. Kenapa kamu membelanya?. Oh..... jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta sama wanita miskin itu?",kata Donna.
"Maaa... Please!!!... Cukup hanya wanita yang membenci Rei saat ini Key, bukan Caramel!!!".
Donna menyilangkan kedua tangannya tepat didepan dada. "Maksud kamu, kamu mengharapkan Caramel?",tanya Donna tidak percaya.
"Lalu siapa lagi yang Rei harapkan Ma?. Si Key. Mama udah tahu bagaimana Key memperlakukan Rei pada saat pameran itu. Apa Rei mau ingatkan lagi?",kesal Rei. "Dan Mama sendiri yang menjodohkan Rei dengan Caramel. Apa itu masih kurang Ma?".
"Rei kurang apa Ma Dimata Key. Rei selalu memberikan apapun yang terbaik buat Key. Tapi apa, Key malah mengkhianati Rei. Udahlah Ma, jangan ungkit si Key lagi. Rei tahu, Rei belum move on dari Key. Tapi saat ini Rei ingin mencoba lagi melupakan Key",ungkap Rei.
"Tapi kamu jangan jatuh cinta ya sama Caramel!!!. Ingat itu!!!",pesan Donna sambil menunjuk jari telunjuk.
Rei hanya menyenderkan punggungnya di kursi makan. Hatinya saat ini sedang galau dan gelisah.
*
*
*
Caramel masuk kedalam bathtub dengan keadaan pakaian masih terpakai. Ia duduk didalam bathtub menyalakan air. Air mulai mengucuri seluruh tubuh Caramel. Ia memeluk kedua kakinya. Ia mulai menangis sejadi-jadinya dalam air yang terus mengguyur tubuhnya itu. Kenapa Tuhan, kenapa ini semua harus terjadi?. Aku tidak mau mengetahuinya Tuhan, tidak mau... Bagaimanapun Tiara adalah adik kandungku, anak dari ayah dan bunda. Tapi, kenapa Ayah dan Mama Mona mengatakan bahwa Tiara bukan adik kandungku. Kenapa mereka sangat jahat terhadap kita!!!. Mengapa Tuhan, mengapa Engkau memberikan aku sebuah takdir yang sangat kejam?. Lalu bagaimana dengan perasaan Tiara bahwa dia bukan anak dari ayah dan bunda, apakah hatinya akan hancur seperti aku saat ini?. Tidak... Aku tidak akan membiarkan Tiara pergi dari hidupku. Aku tidak mau. Tangis Caramel pecah diiringi dengan kucuran air yang terus menerus mengalir.
Disisi lain Rei sudah selesai makan malam. Ia segera pergi ke kamar utama, ingin menanyakan sesuatu kepada Caramel tentang kepulangan yang terlambat ini. Ia melihat seisi kamar kosong tidak ada tanda-tanda orang. Tetapi, ia mendengarkan suara gemericik air yang sedang mengalir. Rei berjalan mendekati kamar mandi, mungkin Caramel sedang mandi. Ia berjalan mondar-mandir menunggu Caramel keluar dari kamar mandi.
2 menit.
3 menit.
5 menit.
7 menit.
10 menit.
Lama. Ia masih setia menunggu didepan pintu kamar mandi. Suara air kran yang masih terus bergemericik. "Dia ngapain sih di kamar mandi. Gue udah nunggu sepuluh menit juga!!!",kesal Rei yang melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan.
Tok... Tok... Tok...
"Mel....".
"Mel...".
"Mel...".
"Loe Ok!!!".
"Mel...".
Rei tidak henti-hentinya mengetuk pintu dan memanggil nama Caramel. Ia semakin panik dan khawatir terhadap Caramel yang ada didalam kamar mandi. "Jangan... Jangan dia...!!!",pikir Rei yang membayangkan sesuatu terjadi terhadap Caramel. Lalu ia berusaha mendobrak pintu kamar mandi. Susah. Ia berusaha sekuat tenaga mendorong pintu kamar mandi dengan tubuh bagian kanan. "Ihhhh.... Mel, gue mohon jawabbbbb!!!!",teriak Rei dari luar. "Mellll". Rei berusaha lagi dengan tenaga dalam dan dalam hitungan ke tiga, akhirnya pintu terbuka. Ia tercengang melihat Caramel yang sedang tidak baik-baik saja dengan bathtub penuh dengan air yang terus mengucuri tubuh mungil Caramel. "Caramelllll".
...***...
...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...
...Terimakasih ...