A Choice

A Choice
Perasaan Yang Berbeda



...HAPPY READING...


...*****...


Caramel sudah sampai di cafe yang di sharelok oleh Lili. Lili menunggu di salah satu tempat yang lumayan agak besar. "Hai Mel!!!",teriak Lili melambaikan tangan ke arah Caramel.


Caramel melihat Lili. Ia segera menghampirinya dengan malas. Sesampainya di tempat, ia langsung duduk. "Mana si Alvaro?",tanya Caramel malas.


"Dia belum datang Mel. Sepertinya dia akan terlambat deh!",tebak Lili.


"Kapan dia minta return seperti ini?".


"Kemarin sore Mel. Gue mau ngabarin loe, takut ganggu loe!. Ya udah, gue buat keputusan sendiri buat meeting lagi. Gak apa-apa kan Mel?",jelas Lili.


"Gak apa-apa Li. Yang penting dia gak minta aneh-aneh seperti kemarin!".


Lili melihat wajah Caramel yang tidak seceria seperti hari-hari kemarin. "Loe masih sakit Mel?",tanya Lili.


"Enggak".


"Kenapa muka loe gak enak dipandang sih?",sindir Lili.


"Gue gak tahu Li. Akhir-akhir ini masalah selalu ada dihidup gue".


"Soal apa lagi?. Suami loe yang resek itu?",tebak Lili.


"Itu juga termasuk. Gue penasaran Li, siapa orang tua kandung Tiara dan siapa mantan tunangan dari Rei. Teka-teki itu sama sekali belum ada yang terjawab Li",jelas Caramel.


Lili melipat kedua tangannya didepan dada dan menyenderkan punggung. "Berarti loe penasaran sama mereka. Udahlah Mel, loe gak usah ambil pusing. Gue yakin suatu saat nanti dari duanya pasti akan terjawab. Termasuk bertemu langsung sama kedua orangtuanya Tiara!".


"Iya Li. Gue juga berharap kedua orangtuanya Tiara adalah orang baik-baik".


"Kita berdoa aja Mel!".


Alvaro melihat Lili dan Caramel sudah berada di lokasi. Ia tersenyum melihat Caramel sudah kembali masuk kerja. "Selamat pagi Nona Lili dan Nona Caramel!",sapa Alvaro dengan penuh semangat.


Lili mempersilahkan Alvaro untuk duduk sedangkan Caramel jenggah melihat sang mantan kembali bertatap muka dengannya.


"Udah pesan?",tanya Alvaro yang sudah duduk di antara mereka berdua.


"Nanti aja pak. Kita masih kenyang",jawab Lili sopan.


Caramel bertatap muka langsung ke sumber suara. "Mau loe apa Al?. Gue dan Lili udah capek loh meeting terus. Terus yang salah sama pelanggan loe yang bagian mana?",tanya Caramel yang sudah tidak sabar ingin segera ke kantor.


"Nyantai aja dong Mel. Bagaimana kabar loe, udah baikan?",tanya Alvaro santai.


Pandangan sekarang tertuju kepada Lili yang sudah pasang badan. "Gue. Gue emang kenapa?",tanya Caramel dengan memandang sadis ke arah Lili, sedangkan Lili hanya melihatkan gigi yang putihnya.


"Katanya loe sakit. Kemarin gue ngajak loe meeting lagi, tapi berhubung loe gak ada, gue undurkan aja hari ini. Dan Alhamdulillah loe udah sembuh bukan",jawab Alvaro.


"Gue gak apa-apa. Dan gue minta langsung ke intinya. Loe maunya apa?",tanya Caramel kesal.


Alvaro menyerahkan berkas didepan meja Caramel. "Salah satu pelanggan gue mau return. Mereka gak suka sama motifnya".


Caramel langsung mengecek berkas dan brosur yang ada di atas meja. "Barang-barangnya gak ada yang reject kan?".


"Gak ada. Mereka yang gak suka sama motifnya".


"Gak bisa Al. Soalnya barang-barang yang kami kirim berkualitas nomer satu. Dan kalau pun pelanggan loe gak suka karena motifnya dan bukan karena reject maka akan mendapatkan potongan 2%. Kita juga udah rugi untuk biaya lain-lainnya",jelas Caramel.


"Ok. Kalau dapat potongan sebanyak 2%",jawab Alvaro santai.


Lili tercengang mendengar jawaban yang santai dari Alvaro. Loh... loh... bukannya dia kemarin gak mau rugi dan gak mau dipotong sepersenpun. Lalu kenapa hari ini seakan-akan sangat mudah. Gak bener nih cowok! batin Lili.


"Terus masalahnya dimana Alvaro?. Loe pagi-pagi buta minta meeting seperti ini. Dan dengan mudahnya loe bilang OK!!!. Waooooo!!!",seru Caramel tidak mengerti jalan pikiran Alvaro.


"Gak ada masalah Mel. Yang gue mau, pagi ini gue ingin melihat keadaan kamu, baik-baik aja. Itu udah cukup buat gue!!!",jawab Alvaro.


Caramel menghela nafas kasar. Bisa-bisanya Alvaro menyampingkan perasaannya dengan pekerjaan. "Gue udah tebak itu!". Caramel beranjak dari kursi dan pergi begitu aja.


"Mel..!!!",panggil Lili yang juga langsung mengejar Caramel.


Alvaro melihat kepergian Caramel dengan senyuman yang mengembang.


"Tebakan loe emang selalu tepat Mel!",kata Lili mengikuti langkah Caramel.


"Cowok memang mudah ditebak. Udah gak usah di bahas tuh cowok. Kita langsung pergi aja ke kantor!",ajak Caramel sesampainya diparkiran.


*


*


*


*


*


"Ingat ya pesan kakak!!!. Loe harus cari tahu masa lalu kakak loe dengan si cowok brengsek itu!!!. Kakak akan kirim uang ke rekening loe!",kata Rei sebelum pergi meninggalkan Tiara didepan halte.


"DASAR KAKAK IPAR BRENGSEKKKKKK!!!!",umpat Tiara kesal melihat kepergian mobil Rei.


Rei melihat Tiara dari kaca spion mobil. Ia tersenyum puas melihat Tiara marah seperti itu.


Tiara berjalan beberapa meter dari halte untuk menuju ke kafe tempat ia bekerja. Ia berjalan dengan gontai. Tiba-tiba Calvin datang entah darimana dia berasal. "Pagi cantik!!!",sapa Calvin mengikuti langkah Tiara dengan berjalan beriringan.


"Loe ngapain sih ngikutin gue mulu!",kata Tiara berdecak kesal melihat Calvin selalu mengikuti seperti anak yang mengikuti induknya.


"Ya kerjalah Ra. Loe tahu sendiri gue juga kerja part time dikafe",jawab Calvin.


"Kerjaan part time loe terlalu banyak buat mahasiswa seperti loe!!. Loe gak takut di DO apa!",oceh Tiara.


"Kalau gue di DO, gue akan pindah kuliah sama seperti loe!",jawab Calvin santai.


"Terserah loe!. Yang penting loe gak ganggu gue kerja . Ok!!!".


Tiara langsung pergi untuk berganti baju. Di kafe tersebut disediakan sebuah seragam dan kamar mandi buat mengganti baju karyawan.


*


*


*


*


*


Caramel masuk kedalam ruangan. Ia mengecek beberapa email yang masuk. Dan membaca satu persatu.


Drrttt... Drrttt... Drttt...


Sebuah pesan masuk kedalam ponselnya. Ia mengambil ponsel dari dalam tas. Ia menggangga tidak percaya membuka pesan yang masuk. Sebuah foto yang posisinya sedang berdua dengan Alvaro. "Loh bukankah ini tadi pagi!",oceh Caramel dengan kesal. Lalu ponsel pun berdering pertanda panggilan masuk. Ia ragu mengangkat atau tidaknya sebuah panggilan tersebut. Lalu dengan hati yang berkecamuk ia mengangkat teleponnya. "Hallo tuan".


"Hebat ya, baru beberapa menit loe keluar dari rumah, loe udah main berdua aja sama si brengsek itu!",oceh Rei diseberang sana.


"Tuan, ini salah paham. Tadi Al ngajak kita untuk meeting bersama Lili. Lili juga ada kok disitu!",jelas Caramel.


Hahahaha... tawa Rei mengisi suara yang khasnya dengan penuh kebencian. "Loe pikir gue bego apa!!. Jelas-jelas kalian sedang berdua!!",elak Rei.


"Tuan!".


"Loe mau balas dendam dengan cara seperti ini?. Maaf ya nona Caramel terhormat, itu tidak mempengaruhi gue. Loe bisa bertingkah semaunya loe, silahkan!. Asal loe ingat, loe keluar dari rumah, dimanapun loe berada, loe bawa nama besar keluarga Abisatya. Dan loe harus jaga nama itu dimanapun!!",pesan Rei yang langsung mematikan secara sepihak.


Ha... Shitttt... Kenapa gue yang disalahin sih!. Lalu siapa yang mengirimkan foto ini. Lalu dimana Lili?. Bukankah Lili duduk disebelah gue! pikir Caramel sambil memperlihatkan foto digaleri ponselnya.


*


*


*


*


*


Mike yang ada disamping Rei hanya tersenyum melihat tingkah Rei yang sangat membingungkan.


Rei menghadap ke depan dan melemparkan ponselnya diatas meja. Ia melihat Mike yang tersenyum. "Mike!!. Loe ngapain senyum kayak gitu?",kesal Rei.


Mike dengan cepat mengubah senyumnya menjadi wajah yang tegang. "Oh... tidak tuan. Maafkan saya!".


"Loe senang lihat gue marah-marah seperti ini?",tanya Rei dengan sarkas.


"Tidak tuan. Hanya saja saya tidak mengerti tuan marah-marah seperti ini kepada nona Caramel. Ayolah tuan, nona Caramel bekerja diluar rumah, otomatis dia akan menemui beberapa klien dan koleganya. Tidak mungkin semua klien dan koleganya wanita semuanya tuan. Dan selama ini tuan juga bertemu bahkan mengobrol dengan wanita banyak, itu biasa saja kan tuan!",jelas Mike panjang lebar.


"Loe pikir, gue sedang cemburu sama si Caramel?",tanya Rei bingung sendiri dengan pertanyaan yang tidak masuk akal.


"May be",jawab Mike singkat mengangkat kedua bahunya.


Rei mengangga tidak percaya. Ia mengambil buku diatas meja dan melempar ke arah Mike, tetapi buku yang ia lempar langsung ditangkap oleh Mike dengan santai. "SIALAN LOEEEEE!!!!!!!!".


...*****...


...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...


...Terimakasih...