A Choice

A Choice
Mencoba Berani



...HAPPY READING...


...***...


Mike menjelaskan secara detail. "Nanti malam akan ada jamuan dari nyonya Donna, karena acara ini yang menyelenggarakan nyonya Donna dirumah. Karena nona Key sudah pulang dari luar negeri, makanya nyonya Donna sangat bahagia atas kepulangan nona Key!".


Ya, Caramel tahu bahwa mantan tunangannya suaminya itu panggilannya Key. Tapi, ia tidak tahu bagaimana wajah si Key itu sendiri, karena ia sempat mencari di media sosial manapun tidak ada wanita yang bernama Key mantan tuan Rei. Caramel menghela nafas kasar. "Lalu apa yang selanjutnya mama Donna akan lakukan pak Mike?. Apakah mama Donna akan menyeret saya keluar dari rumah utama?",tanya Caramel tentang nasibnya menjadi istri dari Reizo Darma Abisatya.


Hahahaha... tawa Mike pecah ditelinga Caramel. "Siapa yang berani menyeret nona keluar dari rumah utama!!. Tidak ada yang berani nona".


"Lalu saya harus berbuat apa Pak?. Tidak mungkin mama Donna akan membiarkan saya ikut dalam acara makan malam itu, karena bagi mama Donna saya tidak penting dalam hidupnya!",oceh Caramel panjang lebar.


"Nona takut menghadapinya?".


Caramel menggelengkan kepala yakin. "Tidak sama sekali pak. Kalau memang tuan Rei masih mencintainya, tuan Rei akan membuang saya. Tapi, kenyataannya tidak seperti itu bukan".


"Bagus, nona Caramel sangat jenius. Tuan Rei sudah tidak mencintai nona Key. Tapi nyonya Donna ingin memperbaiki semua kesalahpahaman antara tuan Rei dan nona Key",jelas Mike.


"Apakah tuan Rei tahu acara tersebut?",tanya Caramel ragu. Pikirannya Caramel Rei pasti sudah mengetahui rencana sang Mamanya.


"Saya kurang tahu nona. Tuan Rei belum merespon apapun dan belum bercerita tentang acara nanti malam".


"Ok pak Mike. Terimakasih atas info yang anda berikan kepada saya!",ucap Caramel sebelum mematikan ponselnya.


Caramel berjalan mondar-mandir mencari solusi tentang acara nanti malam. Tidak mungkin ia akan stay dikamar terus menerus. Ia memikirkan rencana matang menghadapi masalah yang ada. Dan ia mempunyai sebuah ide yang sangat bagus. Ia bergegas pergi ke ruang kerja Rei lagi. Setelah sang empu mempersilahkan masuk Caramel dengan santai masuk kedalam ruangan tersebut.


"Ada apa lagi?",tanya Rei yang masih duduk di kursi singgahsananya.


"Saya tahu, tuan pasti sudah tahu acara penyambutan kepulangan nona Key!",oceh Caramel.


Rei mengenyitkan keningnya. Dari mana Caramel mengetahui informasi ini?. "Dari mana loe tahu?".


"Siapa lagi kalau bukan dari pak Mike. Pak Mike yang selama ini membantu saya di rumah ini".


"Dasar mulut Mike tidak bisa di kontrol!!!",lirih Rei mengomel kepada sang sekertaris. "Mel, gue gak tahu mama sedang ngerencanain apa. Gue benar-benar gak tahu".


"Itu gak penting bagi saya tuan. Tuan berhak membela mama Donna. Saya tahu, saya di sini hanya keterpaksaan yang mengikat saya di sini".


"Lalu mau loe apa Mel?",tantang Rei.


"Saya dan Arzan tidak akan ikut dalam acara tersebut. Saya tidak mau melukai hati Arzan karena keegoisan Omanya. Arzan tidak boleh mengetahui soal mantan tunangan papanya",jelas Caramel tidak mau menyakiti hati dan perasaan sang putra. "Apa lagi, dia akan diperlakukan istimewa oleh Omanya sendiri. Padahal mamanya tidak sama sekali diperlakukan seperti itu!!".


"Tidak bisa begitu Mel. Kita tinggal seatap, tidak mungkin kamu dan Arzan hanya berdiam diri di kamar",tolak Rei mentah-mentah.


"Kata siapa saya dan Arzan hanya berdiam diri di kamar. Saya dan Arzan akan menginap di rumah bunda. Sampai acara makan malam selesai atau malah besok paginya kita akan kembali pulang",ungkap Caramel meminta agar Rei mengerti perasaan Arzan.


"Jadi, gue enggak melihat Arzan dalam semalam. Itu tidak akan mungkin Mel!",tolak Rei sambil menimang-nimang permintaan Caramel.


"Kenapa tidak mungkin?. Biasanya saya yang mengurus Arzan dari dia bangun tidur sampai dia tertidur lelap. Tuan Rei dimana aja selama ini?. Ini keputusan saya sendiri akan membawa Arzan untuk menginap di rumah bunda. Saya ibunya, saya yang mengurus Arzan dari bayi dan saya berhak untuk itu!!!",tekad Caramel bulat. "Ohhhh.... atau mungkin tuan menginginkan Arzan mengetahui bagaimana kelakuan papanya di belakang dia....!!!",ejek Caramel karena ia sudah naik pitam.


"Jaga ucapan loe, Mel!!!!",bentak Rei. "Gue gak serendah yang loe bilang!!!".


Rei terdiam merasa apa yang dikatakan oleh Caramel ada benarnya juga.


"Saya sama sekali tidak pernah membebani tuan Rei dalam masalah apapun. Apa yang tuan Rei berikan kepada saya, masih ada di tempat yang sama tidak ada yang berubah".


"Tapi Mel, gue udah berusaha memberikan nafkah gue kepada loe. Tapi, loe sama sekali tidak menggunakan sepersenpun. Apa itu juga termasuk salah gue?",tanya Rei.


"Coba tanya sendiri pada diri tuan Rei, apakah tuan Rei ikhlas memberikan semua kemewahan kepada saya. Saya akui, mama Donna tidak menginginkan saya untuk menjadi mantunya. Tapi, tuan memaksa itu semua untuk bisa menikahi saya. Apa itu semua juga salah saya?",tanya Caramel membalikkan pertanyaan lagi kepada Rei.


Rei menghela nafas berat. Berat sekali, seakan-akan seribu durian menghujani dirinya.


"Cukup tuan Rei!!!!. Cukup!!!". Hati Caramel terasa sesak mengingat semua kejadian selama ia menikah dengan Rei. "Saya merasa tidak dihargai sama sekali berada di lingkup ini. Maka dari itu, saya lebih baik menghindar dari mantan tunangan tuan Rei. Karena saya tidak ada apa-apanya dibandingkan beliau".


"Mel....".


"Saya pamit dulu tuan Rei sekaligus saya akan menjemput Arzan sekolah".


"Mel, loe masih sakit Mel?".


Caramel melangkah membuka pintu ruangan tersebut. "Bunda yang akan merawat saya, selama saya tidak berada di sini!!!",sahut Caramel langsung pergi begitu saja dari hadapan Rei.


Maafkan gue Mel yang belum bisa membuka hati gue buat loe. Tapi, gue merasa terbiasa dan nyaman berada di sisi loe, Mel. Gue aja yang terlalu keras kepala dan enggan untuk mengatakan itu semua. Maafkan gue Mellll...... Rei hanya melihat pintu itu tertutup kembali.


Caramel membuka pintu kamar dan menutup kembali. Ia berdiri di sana menangis sejadi-jadinya sampai terduduk di depan pintu. Haruskah aku mengalah untuk sebuah hubungan ini?. Haruskah aku yang menjadi korban dan tersakiti seperti ini?. Maafkan aku Rei yang terlalu lancang untuk hari ini. Aku hanya ingin keadilan berada di pihakku. Tapi, kamu memilih menegakkan keegoisan mu itu. Mana harga diri kamu yang sudah menjadi suami plus ayah bagiku dan bagi Arzan, anak kamu. Kamu tidak bisa menjaga harga diri istri kamu sendiri. Harga diri istri kamu yang sudah di injak-injak oleh Mama kamu sendiri. Caramel bangkit dari keterpurukannya, ia mengambil sebuah tas tenteng yang sudah ia siapkan sebelum ia berpamitan dengan Rei.


Caramel buru-buru keluar dari kamarnya. Ia berpapasan dengan bibi Dewi.


"Loh nona Caramel mau kemana?. Ini udah saya buatkan susu jahe?",tanya Dewi yang sudah membawa baki pesanannya Caramel.


Caramel berhenti sejenak. "Tolong letakkan susu jahenya ke tempat kerja tuan Rei, Bi!. Saya harus pergi sekarang juga!".


"Pergi kemana nona?".


"Saya akan menginap malam ini di rumah bunda dengan Arzan".


"Nona menghindar dari acara nanti malam?",tebak Dewi yang selalu bisa menerka-nerka apa yang menjadi beban bagi Caramel.


"Tepatnya bukan menghindar bi, tapi malas berdebat. Tolong besok siapkan keperluan tuan Rei ya bi, selama saya tidak ada di rumah".


"Baik nona. Hati-hati ya nona!".


Caramel menganggukkan kepala tanda iya. Ia lalu berjalan keluar dari rumah keluarga Abisatya.


...***...


...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...


...Terimakasih ...