You're My First Love

You're My First Love
Penyakit pak Indra



Di sisi lain pak Indra merasa kurang enak badan, dan sudah merasakan hal itu berhari-hari. Pak Indra segera ke dokter untuk memeriksa keadaannya. Pak Indra menjelaskan keluhanannya dan segera di periksa oleh pak dokter.


"Bagaimana dokter? Apa yang terjadi di dalam tubuh saya, hingga saya merasa sangat sakit?" Tanya pak Indra menahan rasa sakitnya


"___" dokter hanya terdiam dan terpaku pada pak Indra dan posisi kedua tangannya di dekat dagunya


"Dok?"


"Begini pak, saya kurang begitu yakin memberitahu pada bapak. Namun bapak harus siap."ucap dokter mengusap wajahnya


"Saya siap dokter. Katakan saja pada saya dok." Ucap pak Indra


"Menurut pemeriksaan saya, bapak mengalami kanker pankreas stadium 4 pak. Mungkin selama ini bapak merasa sakit namun bapak tidak segera ke dokter." Ucap Dokter tidak tega


"Apa dok?. Saya kanker pankreas stadium akhir??" Tanya pak Indra melebarkan kedua matanya


"Iya pak" ucap dokter mengangguk


"Saya mohon dokter, saya masih ingin hidup. Anak dan istrinya saya membutuhkan saya dokter. Tolong bantu saya dokter" ucap pak Ari memegang kedua tangan dokter dan matanya yang berkaca-kaca


"Maaf pak, kami tidak bisa berbuat banyak." Ucap dokter menghelai nafas


"Dokter, saya mau melakukan apa pun, jika pun saya harus di operas, saya siap dokter." Ucap pak Indra memohon lagi


"Pak, sebagai dokter bukannya saya tidak ingin membantu bapak, namun ini sudah terlambat. Jika sekarang kita melakukan operasi, nyawa bapak bisa melayang di ruang operasi." Ucap dokter dengan nada yang rendah


"___" pak Ari hanya menunduk dan mengusap wajahnya


"Baik dokter, terimakasih atas penjelasannya." Ucap pak Ari berdiri dan meninggalkan ruangan dengan wajah yang memprihatinkan


Pak Ari menjauh dari rumah sakit dan menuju rumah ibunya Bu Dewi. Bu Dewi dan suaminya pak Hendra, tinggal di sebuah perumahan yang tidak jauh dari kota dan berdekatan dengan rumah Angraini. Namun rumanya tidak berhadapan. Melainkan saling membelakangi.


Setibanya di rumah Bu Dewi, pak Indra masuk ke sebuah toko alat musik yang tidak asing adalah milik pak Hendra papanya pak Ari.


Pak Hendra melihat anaknya duduk di sofa dan termenung lesu.


"Indra, apa yang kamu lakukan di sini" ucap pak Hendra mendekati pak Indra


"Indra ingin mampir aja yah" ucap Hendra menutupi kerapuhannya dan menjabat tangan pak hendra


"Kamu sendirian nak?" Tanya pak Hendra


"Iya yah"


"Ibumu ada di rumah, temui ibumu sebelum pulang. Ibumu sangat merindukan mu" ucap pak Hendra menepuk pundak pak Indra


"Iya pah, Indra samperin ibu dulu" ucap pak Indra tersenyum dan keluar dari toko


Pak Indra berjalan ke keluar toko menuju rumah papanya dan ibunya yang berada di samping toko.


Pak Indra berjalan ke keluar toko menuju rumah papanya dan ibunya yang berada di samping toko. Lalu pak Indra mengetuk pintu rumah.


"Indraa" Ucap Bu Dewi bahagia


"Iya Bu" ucap Indra menjabat tangan ibunya


"Dimana menantu dan cucu ibu?" Tanya Bu Dewi masih berseri-seri


"Mereka di rumah Bu, Indra sendiri ke sini"


"Ayo, masuk nak" ucap be Dewi merangkul pak Indra. Mereka duduk di sofa


Indra dengan perasaannya beradu. Sebenarnya dia ingin bercerita pada Bu Dewi. Namun di sisi lain pak Indra juga tak ingin menghapus senyum Bu Dewi.


Pak Indra sangat frustasi, hingga Bu Dewi yang melihatnya bertanya sendiri.


"Ada apa nak? Kamu bertengkar dengan Sri? Atau ada masalah di kantormu?" Tanya Bu Dewi memegang pundak putranya yang sedang terlihat tidak baik-baik aja


"Bu.." ucap pak Indra memegang kedua tangan ibunya dengan air mata yang hampir tumpah


"Ada apa nak?" Tanya Bu Dewi yang langsung bisa merasakan kesedihan putranya


"Indra sakit Bu" ucap pak Indra meneteskan air mata yang dari tadi dia tahan


"Kamu sakit apa nak? Kita pergi ke dokter yah?"


"Tidak Bu. Tadi Indra dari dokter. Indra diVonis kanker pankreas stadium akhir Bu." Ucap Indra menangis tersedu-sedu


"___" Bu Dewi sungguh kaget dan memeluk pak Ari


"Maafin Indra Bu. Indra harus meninggalkan dunia ini lebih dulu" ucap pak Indra yang masih menangis


"Anak ibu yang malang" ucap Bu Dewi menangis


"Selama ini kamu sudah menjadi anak ibu, kamu sudah melakukan tugas mu sebagai anak , sebagai suami, dan sebagai papa. Ibu bangga sama kamu nak. Namun ibu tidak bisa berbuat apa-apa lagi untukmu." Ucap Bu Dewi mengusap punggung Indra


"Bu.. aku ingin bercerai dengan Sri. Aku tidak ingin dia menangisi kepergian ku Bu. Jika aku sudah tidak di dunia ini, tolong Bu jangan beritahu pada Sri dan Chan tentang penyakit ku Bu. Aku tidak ingin membuat mereka kehilangan dan sedih berlarut-larut." Ucap pak Indra memohon pada Bu Dewi


"Biar saja mereka tahu nak, agar mereka tidak merasa sakit di kemudian hari" ucap Bu Dewi menyarankan


"Tidak Bu. Mereka akan bersedih"


"Baik nak, jika itu yang kamu inginkan."


Pak Indra bermalam di rumah papanya. Ke esokan harinya pak Indra pulang ke rumah, karena hari itu hari Minggu jadi pak Indra tidak perlu terburu-buru masuk ke kantor.


Kembali ke Nara


Nara sudah merasa lebih ringan. Hingga dokter menyetujui kepulangannya. David juga sudah berada di rumah sakit. Anggraini pun berkemas dan Nara sudah berganti pakaian.


Nara di rangkul oleh David dan Angraini menuju mobil. Mereka bertiga pulang kerumah. Di rumah sudah ada kamar Nara. Kamarnya berada di lantai dua, dan memiliki jendela yang lumayan lebar. David sudah mengganti sprei dan mengganti gorden. David membuat ruangan sedemikian bersih rapi dan harum, agar Nara betah tinggal di sana.


Setibanya di rumah, Anggraini membuatkan teh hangat untuk Nara yang hanya terduduk di sofa dengan tatapan kosongnya.


Nara sungguh hilang semangat. Hal itu membuatnya hanya diam seribu bahasa. Anggraini pun mengerti dengan keadaan Nara. Anggraini sangat tulus pada nara, begitu pula dengan David.


Nara sudah minum air hangat, Anggraini kemudian mengantarnya ke kamar agar dia bisa istirahat.


"Nara, mulai sekarang kamu tidur di sini ya nak. Kalau perlu sesuatu, kamu bisa panggil bibi atau paman."


"___" Nara hanya mengangguk


"___" Anggraini tersenyum dan menyelimuti Nara, lalu keluar dari kamar Nara.


Di kamar Nara hanya terbaring menatap keluar jendela Kaca yang sengaja di buka pamannya agar Nara bisa memandang keluar. Udara yang masuk dari jendela membuatnya menghirup udara dan menghelai nafas.


Di sisi lain, Khan sangat sibuk dengan urusannya, dia yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi membuatnya tidak banyak waktu di rumah. Hingga Khan tidak mengetahui kalau adiknya Nara sudah tinggal di rumah bibi mereka.


Bu Wulanra saat ini merasa lega di rumah. Karena tidak ada Nara di dekatnya. Bu Wulanra hanya bersantai di rumah. Dia juga sesekali arisan dengan teman-temannya.


.


.


Beberapa hari kemudian Chan berkunjung ke rumah kakeknya, dia ingin mengisi liburannya bersama kakek dan neneknya. Karena bulan depan dia harus pergi untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Chan sangat bahagia bertemu dengan kakek-neneknya.


"Chan kenapa mamamu tidak ikut? Tanya Bu Dewi


"Biasa nek, mama lagi sibuk" ucap Chan yang tidak tahu kalau papa dan mamanya akan bercerai


"___" Bu Dewi hanya mengangguk


"Nenek, Chan akan bersama nenek dan Kakek selama beberapa hari ini. Aku harap nenek tidak bosan dengan Chan" ucap Khan terkekeh


"Nenek tidak bosan Chan, kakek mu tuh yang tukang perintah kalau Chan di sini" ucap Bu Wulanra tersenyum


"Hahah.. kakek masih sama ya nek"


"Dari dulu kakek mu begitu" ucap Bu dewi terkekeh


"Haha.. kakek memang yah."


"Bagaiman dengan pendidikan mu Chan?" Tanya nenek meletakkan jus untuk Chan


"Chan akan berangkat minggu depan nek, itu sebabnya Chan datang kesini. Chan akan merindukan Kakek dan nenek." Ucap Chan manyun


"Nenek juga akan merindukan Chan nantinya" ucap nenek menepuk pundak Chan


"Chan sudah urus semua keperluan Chan nenek. Chan harus istirahat sekarang" ucap Chan memeluk Bu Dewi


"Apa pun yang terjadi kamu harus kuat ya Chan" ucap nenek mengusap kepala Chan


"Siap nenek" ucap Chan tersenyum


"Ya sudah kamu istirahat sana. Ucap nenek tersenyum


"Iya nenek" ucap mencium pipi neneknya dan meninggalkan nenek menuju kamarnya di lantai dua. Kamarnya berdekatan dengan kamar Nara. Bentuk rumahnya juga hampir sama ada teras juga di lantai dua. Chan langsung membaringkan tubuhnya di kasur.


.


.


Nara sudah merasa lebih baik. Dia berkeliling di kamarnya. Nara melihat violin yang di belikan oleh pak Ari. Wajahnya yang masih datar seketika merasa sedih lagi. Dia membuka violin itu kemudian memainkannya. Nara memainkan instrumen "my memory", dia memainkannya perlahan dengan menghayati setiap nada membuat suara yang di hasilkan sangat indah.