
Chan masih penasaran dengan aroma itu hingga dia semakin pusing. Saat Nara membantunya untuk berbaring, akhirnya Chan tidak sengaja memeluk Nara dengan posisi terlentang.
Dug dug dug jantung Chan
"Sudah, pergi sana!" perintah Chan
Nara pun keluar dari kamar suaminya. Dia paham mengapa suaminya sangat membenci dirinya. Hingga dia hanya menurut saja.
...****************...
Suatu hari Nara bertemu dengan wanita yang dilihatnya bersama suaminya, di sebuah restoran. Ternyata wanita itu adalah Bianca. Dia sekarang bekerja di kantor Chan.
Bianca adalah wanita yang sangat mencintai uang. Dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang yang banyak. Suatu hari dia bertemu dengan pak Bram.
Dia setuju dengan pekerjaan yang ditawarkan oleh pak Bram. Mereka pun sengaja mengatur strategi untuk menjatuhkan Chan dengan menempatkan Bianca dekat dengannya.
Apalagi mereka sudah tahu kalau Chan tidak mengingat istrinya. Karena itu, mereka semakin bebas untuk mempermainkan Chan.
"Sepertinya aku mengenalmu" ucap Bianca tersenyum menghampiri Nara
"Maaf, saya tidak" ucap Nara fokus dengan makanan yang ada di hadapannya
"Sialan" batin Bianca dan mencoba memasang senyum palsunya
"Hai. Kenalin Aku Bianca" sapa Bianca tersenyum licik
"Dasar iblis" batin Nara lanjut makan
"Hahhh? kamu tidak menjawab ku?" tanya Bianca tercengang
"Maaf, saya ada urusan" ucap Nara meninggalkan Bianca dan membayar makanannya
"Dasar wanita gak tau diri" teriak Bianca
"___" mendengarkan teriakan Bianca langkah Nara seketika terhenti
"Kenapa kamu berhenti?" tanya Bianca tersenyum licik menghampirinya
"Kamu gak suka dengan ucapan ku?" tanya Bianca tersenyum miring
"Kamu hanya parasit" ucap Bianca tertawa
"Sudah selesai?" tanya Nara menatap Bianca
"___" Bianca mengangkat alisnya
"Kamu mempermainkan orang yang salah" ucap Nara menatap tajam Bianca lalu meninggalkannya
"Sial, dia tidak gampang di jatuhkan" batin Bianca
...----------------...
Di kantor, Chan tidak fokus dengan pekerjaannya. Dia hanya formalitas saja masuk kantor saat ini.
Di samping itu Bianca selalu memasang aksinya liciknya.
"Selamat siang,Pak" sapa Bianca memasuki ruangan Chan
"Ada apa?" tanya Chan memejamkan matanya
"Pak, tadi saya bertemu dengan istri bapak di cafe" ucap Bianca memasang wajah sedih
"Lalu?" tanya Chan masih memejamkan matanya
"Saya melihatnya bermesraan dengan seorang pria. Yang lebih parahnya lagi, dia menampar saya. padahal saya hanya ingin menyapa" ucap Bianca meneteskan air matanya
"Apa?" tanya Chan membuka matanya
"Iya, Pak. Saya juga baru ingat kalau dialah penyebab dari kecelakaan yang bapak alami" ucap Bianca menangis
"Kamu bilang apa?" tanya Chan mendekati Bianca
"Iya, pak. Dia yang telah yang sudah membuat bapak masuk rumah sakit" ucap Bianca menangis tersedu-sedu
"Astaga" ucap Chan mengusap kasar wajahnya
"Bapak yang sabar yah, punya istri sepertinya" ucap Bianca mengusap pundak Chan
"Di hadapan ku saja dia terlihat menurut, ternyata di belakang ku, dia malah berbuat seenak jidat" batin Chan melempar berkas yang ada di hadapannya
"Sabar, Pak" ucap Bianca tersenyum miring
"Pak, bagaimana kalau kita pergi minum saja, agar pikiran bapak lebih fresh" ucap Bianca mulai memasang tanduknya
"Benar juga" ucap Chan mengangguk setuju
Mereka pun pergi ke sebuah bar di kota itu. Di sana sudah ada pak Bram dan anak buahnya, namun tidak memperlihatkan wajah kepada Chan.
"Kita di sini saja pak" ucap Bianca membuka pintu
"Terimakasih" ucap Chan segera duduk di sofa
"Mereka sudah masuk ke dalam ruangan, pak" ucap seorang anak buah pak Bram
"Baik, segera kirimkan mereka minuman. Jangan lupa tambahkan obat yang sudah saya katakan tadi" ucap pak Bram tersenyum miring
"Baik, pak" ucap anak buah itu
Setelah membawakan minuman, dia pun memberi kode pada Bianca tanpa sepengetahuan Chan.
"Terimakasih, pak" ucap Bianca tersenyum miring
"Pak, Ini minuman kita" ucap Bianca menuangkan minuman ke gelas
"Ini pasti gelas Chan" batin Bianca melihat tanda di gelas
"Silahkan, pak" ucap Bianca memberikan minuman pada Chan
"Terimakasih" ucap Chan segera meneguknya
Bianca juga menuangkan minuman untuk dirinya. Dia semakin senang melihat Chan yang sudah ada dalam genggamannya.
"Pak, sampai kapan bapak tahan dengan istrinya begitu" ucap Bianca yang kini duduk di samping Chan
"Saya juga jijik dengannya" ucap Chan menghabiskan minumannya
"Saya tuangkan lagi pak" ucap Bianca mengambil gelas dari tangan Chan
Beberapa menit kemudian, Chan merasa pusing. Dia tidak ingin berhenti minum, Bianca pun bersedia menuangkan minumannya.
Bianca merasa kalau obat yang dimasukkan anak buah papanya tadi sudah bereaksi. Dia pun memasang aksinya untuk menjebak Chan.
Tidak hanya itu, anak buah pak Bram telah memasang kamera di ruangan itu. Sebagai bukti untuk Nara.
"Pak" bisik Bianca di telinga Chan yang sudah mabuk
"Kamu sangat cantik" ucap Chan tersenyum
Bianca duduk di pangkuan Chan dan meraba kekarnya dadanya.
"Pak, apa yang bapak lakukan?" tanya Bianca kaget, namun dalam hatinya dia sungguh senang
Chan dengan ketidak sadarnya tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Kirim kan pada istrinya!" perintah pak Bram pada anak buahnya
"Baik, pak" ucap anak buahnya
Di rumah, Nara sedang menunggu kepulangan suaminya. Tetapi sudah tengah malam belum juga tiba. Dia sangat cemas, namun juga tidak bisa menghubungi suaminya.
Dia menatap hpnya, tiba-tiba ada video yang dikirim dari nomor tidak di kenal. Dia pun membuka pesan itu, dengan kaget Nara menghentikan video itu.
"Chan" batin Nara sambil menutup mulutnya
"Apa-apaan ini?" tanya Nara dengan mata berkaca-kaca
"Astaga. Dia bersama wanita itu lagi" Ucap Nara menangis
1 jam kemudian, Chan tiba di rumah. Dia di antar oleh anak buah pak Bram.
"Chan" panggil Nara menghampiri Suaminya
"___" Chan yang keadaan mabuk tidak mengatakan apa-apa
Nara sungguh ingin marah pada suaminya itu, namun dia menahan amarahnya karena keadaan suaminya.
Nara pun membantu suaminya untuk melepas sepatu dan Menganti pakaian.
"Kamu jahat" ucap Chan tidak sadar
"Chan? Kenapa kamu jadi begini" ucap Nara dengan mata berkaca-kaca
"Dasar wanita ******" ucap Chan lagi
"Astaga" ucap Nara menahan air matanya dan menyelimuti suaminya
Keesokan harinya, Chan terbangun memegangi kepalanya.
"Astaga kepalaku" ucap Chan
Dia pun mencoba bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Setelah itu, Chan turun untuk sarapan.
"Pagi" ucap Nara tersenyum menutupi amarahnya
"___" Chan tidak menjawab kemudian duduk
"___" Nara berusaha memasang senyum di wajahnya
Setelah makan, Nara meminta izin pada Chan untuk ke supermarket. Namun jawaban Chan sangat menguji kesabarannya.
"Tuan, saya ke supermarket dulu" ucap Nara yang telah selesai merapikan meja
"Ke supermarket atau bertemu dengan pacar kamu?" tanya Chan tanpa menatap Nara
"Haha, pacar? saya tidak punya pacar pak" ucap Nara mencoba mencairkan suasana
"Dasar wanita ******" ucap Chan menatap tajam wajah Nara
"Hmm, saya pergi dulu tuan" ucap Nara tersenyum meredam amarahnya
"Dasar busuk, senyum palsu" ucap Chan kesal
"Maaf, Tuan saya permisi dulu" ucap Nara lagi
"Mengapa kamu jadi begini Chan" batin Nara
"Jangan sampai kamu ketahuan lagi bersama pacar mu, saya akan menceraikan kamu!" tegas Chan marah
"___" Nara menghelai nafasnya
"Dasar gak tau diri" ucap Chan meninggalkan Nara
"Semakin hari, temperamen Chan semakin buruk" batin Nara mengusap dadanya