
"syukurlah nak, kamu sudah tidak begitu ketakutan lagi"
Nara menangis di pelukan papanya
"Sudah sudah nak, kamu sudah berusaha, papa bangga sama kamu Nara." Ucap pak Ari mengusap kepala Nara
Tibalah waktunya untuk keberangkatan mereka ke Indonesia. Mereka sudah berada di pesawat. 7 jam kemudia mereka tiba di Jakarta.
Pak Ari dan rekanya berpisah di bandara.
Nara yang begitu lemas, hingga pak Ari membawanya ke rumah sakit terlebih dahulu. Nara sudah masuk ke ruangan rawat inap. Sementara paka Ari mengabari istrinya dan anaknya kalau mereka sudah ada di rumah sakit Jakarta.
Khan begitu kaget, karena adiknya di rawat inap di rumah sakit. Bu Wulanra yang mengetahui itu, sedikit tergerak hatinya untuk segera kerumah sakit.
"Pah" ucap Bu Wulanra memegang pundak suaminya
"Mahh" ucap pak Ari memeluk istrinya.
"Apa yang terjadi pah" ucap Bu Wulanra
"Nara mengalami syok mah" ucap pak Ari tak ingin menceritakan yang terjadi pada istrinya
"Mungkin Nara terlalu kecapean" ucap Bu Wulanra
Bu Wulanra sudah membuka sedikit hatinya untuk Nara. Bu Wulanra merawat Nara di rumah sakit. Hal itu membuat pak Ari bahagia, akhirnya istrinya membuka hati untuk putrinya.
Nara sudah di rawat selama beberapa hari, namun dia tak kunjung bangun. Pak Ari yang sudah kembali bekerja, dan Khan yang sibuk dengan urusannya untuk masuk ke universitas impiannya saat itu membuat waktunya dengan Nara sangat sedikit. Hanya Bu Wulanra yang setia mendampingi Nara.
Di kantor pak Ari sudah menyelesaikan pekerjaannya dan akan menjenguk putrinya di rumah sakit. Pak Ari membeli bunga dan makanan kesukaan Nara. Pak Ari sungguh bersemangat. Kali ini pak Ari tidak di antar oleh pak Rinto. Pak Ari lebih memilih untuk menyetir sendiri.
Brukk,, parrr...
Suara dari mobil pak Ari yang di tambrak oleh truk yang membawa alat berat.
Di perjalanan menuju rumah sakit pak Ari mengalami kecelakaan. Ada truk yang hilang kendali hingga menghancurkan mobil pak Ari. Nara yang belum juga tersadar membuatnya tidak bisa melihat kejadian yang di alami pak Ari.
Pak Ari langsung di bawa ke rumah sakit.
Mengetahui hal itu istrinya langsung menghampiri pak Ari yang sudah berlumuran darah. Dan sudah menjalani pertolongan pertama, saat dokter dan perawat menyiapkan ruang operasi detak jantung pak Ari semakin lemah.
"Papahhh" ucap Bu Wulanra berlinang air mata
"Maafin papa mah, papa tidak sanggup lagi. Tolong jaga Khan dan Nara" ucap pak Ari yang hampir kehabisan nafas
"Tidak pah, papa harus kuat. Mama gak mau jagain Nara. Papa yang harus menjaganya." Ucap Bu Wulanra menangis
"Papa percaya sama mama. Papa ingin sekali melihat Khan dan Nara. Namun papa sudah tidak banyak waktu lagi" ucap pak Ari dengan nafas terakhir nya
Kemudian tangan pak Ari terlepas dari tangan Bu Wulanra. Hal itu membuat Bu Wulanra menangis sungguh dunianya terasa runtuh.
Nara belum juga tersadar. Khan yang mengetahui hal itu membuatnya sungguh meninggalkan ujiannya. Khan langsung ke rumah sakit.
"Papa" ucap Khan menangis melihat papanya sudah benar di kamar mayat
Bu Wulanra yang duduk hanya bisa menangis.
"Pahh, kenapa papa tinggalin kami secepat ini. Papa jawab Khan." Ucap Khan yang pipinya sudah di penuhi air mata
"Mahh dimana Nara"ucap Khan yang masih menangis
"Nara ada di ruang rawat inap. Nara belum sadar Khan" ucap Bu Wulanra yang sudah kehabisan air mata dengan wajah yang pucat
Khan langsung menghampiri adiknya. Dia sungguh tak tahu harus bagaimana. Saat melihat Nara terbaring, dia semakin sedih.
"Nara.. bagaimana ini? Kenapa kamu tidak sadarkan diri juga Nara" ucap Khan menangis memegang tangan adiknya
Dalam ketidak sasarannya Nara juga meneteskan air mata seakan dia tau kalau papanya sudah meninggal. Khan yang melihatnya semakin membuat dirinya sedih.
Khan tertidur di kursi dan memegang tangan Nara.
Ke selokan harinya Nara telah kembali sadar. Dia melihat kakanya berada di sampingnya. Nara tersenyum saat Khan menjangganya semalaman. Khan juga terbangun. Namun Khan tidak ingin menghancurkan senyum adiknya itu. Khan masih tak sanggup untuk memberitahu Nara.
Nara merasa pusing membuat Khan panik. Tak lama kemudian Nara melihat ayahnya ada dalam kecelakaan. Nara sungguh kaget akan penglihatannya itu. Namun hal itu sudah terjadi.
"Nara kamu tidak apa-apa" ucap Khan panik
"Kak, kita harus cegah papa, agar papa tidak mengendarai mobil malam hari." Ucap Nara dengan panik
Perkataan Nara membuat Khan kaget sekaligus sedih. Khan tidak tau kalau Nara bisa melihat hal buruk yang akan terjadi. Khan mencoba menenangkan Nara. Dia berniat akan memberitahu yang sebenarnya pada Nara.
"Nara.. kamu tenang yahh" ucap Khan menahan air matanya
"Iya kak. Tapi kita harus bilang ke papa"
"Nara.. Papa__" Khan tidak sanggup mengatakannya hingga membuat air mata yang dia tahan jatuh, dan pipi Khan di bagasi air matanya
"Papa kenapa kak?" ucap Nara panik
"___" Khan masih menangis
"Kak Khan apa yang terjadi pada papa?" Tanya Nara yang semakin panik
"Papa sudah meninggal Nara" ucap Khan tidak kuat lagi
"Kaka pasti bercanda" ucap Nara tidak percaya
"Ayo Nara kita temuin papa"
"Apa sih kak. Di mana papa?" Ucap Nara menahan air matanya
Mereka pun menghampiri papanya yang sudah tak bernyawa lagi.
"Engga papa, ini tidak mungkin, papa gak mungkin ninggalin Nara, papa sayang sama Nara kan, papa ini tidak mungkin" ucap Nara meneteskan air matanya
Nara ketika melihat papanya terbaring tak bernyawa lagi.
"Papa sudah meninggal Nara" ucap Khan menangis
"Tidak kan papa, papa dengar Nara kan. Pahhh... Jangan tinggalin Nara. Papa udah janji akan jagain Nara. Papa... Tolong jawab Nara." Ucap Nara menangis dengan tubuhnya yang gemetar
Nara memandangi wajah pak Ari seakan tidak percaya. Dia mencoba membangunkan pak Ari. Namun tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain menangis.
Beberapa jam kemudian pak Ari di bawa pulang agar segera di makamkan.
Semua para rekan pak Ari sungguh kaget atas berita ini. Pak Indra yang mengetahuinya sungguh sangat sedih. Karena kehilangan sosok pak Ari yang begitu baik dan jujur. Pak Rinto sekretaris pak Ari juga merasakan kesedihan yang dalam. Namun pak Rinto harus mengurus pemakaman untuk pak Ari, atasannya juga sahabatnya. Anggraini adik kandung pak Ari sangat kaget mengetahui kabar pak Ari. Angraini sungguh bersedih. David suaminya Anggraini, paman Nara. Juga merasakan kehilangan pak Ari, Kaka iparnya.
Banyak yang datang ke pemakaman pak Ari termasuk rekan bisnisnya. Chan juga datang dan Rayhan.
Beberapa saat kemudian pak Ari telah beristirahat di tempat terakhirnya.
Nara sungguh merasa dunianya telah runtuh. Dia terlihat sangat pucat begitu juga dengan Khan dan Bu Wulanra.
Beberapa hari kemudian Nara masih berdiam diri di kamarnya. Dia tidak ingin berbicara, dia hanya menyalahkan dirinya. Karena dia terlambat mengetahui kejadian yang akan menimpa papa.
Khan yang menyusul ujiannya juga masih merasa sangat kehilangan. Namun dirinya harus kembali bangkit.
Bu Wulanra sungguh kehilangan suaminya. Dia tidak ingin melakukan apa-apa. Bu Wulanra juga kembali membenci Nara. Karena karna ingin menjenguk Nara lah suaminya kecelakaan.
Satu Minggu kemudian, Bu Wulanra buru-buru mengemasi barang-barang Nara. Dia sudah tidak tahan jika ada Nara di dekatnya. Karena baginya Nara lah penyebab kematian pak Ari, suaminya. Bu Wulanra akan menitipkan Nara pada bibinya.