You're My First Love

You're My First Love
Kenyataan yang Menyakitkan



"Jadi dia adikmu?" tanya Chan


"Iya, Nara itu adikku. Kalau ada yang berani menyakiti dia. Aku gak akan mengampuninya" ucap Khan


"I iya, Kak" ucap Chan gugup mengingat kesalahannya pada Nara


"Ayo kita bersulang" Ucap Mika mengangkat gelasnya


Mereka pun bersulang dan minum. Setidaknya Nara merasa bahagia karena Kaka dan sahabatnya mengerti keadaan nya saat ini.


"Nara, kamu bilang saja sama Kaka jika ada yang menyakiti kamu" ucap Khan menghabiskan minumannya


"Kaka" ucap Nara tersenyum


"Bahkan Chan yang menyakitimu. Jangan takut untuk mengatakannya pada Kaka" ucap Khan menuang kembali minumannya


"I iya kak" ucap Nara gugup


"Apakah dia akan memberi tahu perbuatan ku?" batin Chan menatap wajah Nara


Chan tidak ingin memikirkan hal itu, dia pun semakin banyak minum hingga mabuk. Mika pun sudah lumayan pusing hingga dia tidak sanggup menghabiskan minuman nya.


Nara masih kuat, namun dia menahannya agar tetap sadar. Sementara kakanya sudah tertidur.


Keesokan harinya, Chan terbangun dan kaget melihat dirinya berada di pelukan Nara. Dia merasa begitu nyaman saat itu. Namun juga tidak ingin berlama-lama. Dia pun segera melepaskan pelukan Nara yang masih tertidur.


Khan pun terbangun dan sadar kalau mereka tidur di sofa. Dia pun membangunkan Mika dan Nara.


Setelah itu, Khan dan Mika pamit untuk pulang. Chan yang sudah berpakaian rapi turun kebawah namun tidak sempat melihat Khan dan Mika lagi.


"Dimana mereka?" tanya Chan mengagetkan Nara yang sedang menyiapkan sarapan.


"Astaga" ucap Nara kaget


"Sudah pulang" ucap Nara cuek


"Apa yang kamu masak hari ini?" tanya Chan mencoba berbaikan dengan Nara


"Lihat sendiri" ucap Nara masih sibuk


"Apa kamu akan memberi tahu Khan kalau kamu tidak bahagia?" tanya Chan menyeruput teh nya


"Tidak" ucap Nara tanpa menatap Chan


"Bagus lah" ucap Chan menikmati makanannya


Setelah itu, Chan berangkat ke kantor. Dia memang tidak banyak melakukan apa-apa. Namun tidak betah juga berada di rumah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setahun kemudian, Chan juga belum menemukan ingatannya yang hilang. Nara sungguh berusaha keras untuk suaminya namun tidak ada perkembangan juga.


Nara pun menanyakan dokter, dan jawabannya hanya bersabar saja. Setiap hari Nara selalu memberikan yang terbaik untuk suaminya.


Chan perlahan telah mengingat istrinya, namun dia belum berniat untuk memberi tahu Nara, karena ini semua terjadi karena kesalahannya.


"Sayang, kapan kamu akan mengingatku? aku sudah berusaha keras untuk membantumu mengingat ku" ucap Nara menangis di kamar


"Aku sudah mengingat mu" batin Chan mendengarkan ucapan Nara dari pintu


"Aku sungguh gak kuat lagi, menahan derita ini" ucap Nara


"Maafin aku, sayang" batin Chan dengan mata berkaca-kaca


"Aku sangat sedih kehilangan anak kita, di tambah lagi kamu tidak mengingatku. Ini sungguh tidak adil" ucap Nara menangis memeluk foto mereka


"Maaf, Nara. Ini semua karena kesalahan ku" batin Chan meneteskan air matanya


"Bagaimana aku bisa marah padamu? kamu saja tidak mengingatku" ucap Nara dengan dada yang sesak


Chan tidak tahan melihat istrinya menangis karenanya. Dia pun kembali ke kamarnya dan mengingat semua kesalahannya.


Beberapa saat kemudian, Nara pun memasak dia kembali membangkitkan semangatnya. Dia tidak ingin menyerah begitu saja.


"Malam, Tuan" ucap Nara tersenyum tulus


"Jangan panggil aku tuan" ucap Chan duduk


"Lalu?" tanya Nara


"___" Chan tidak menjawab Nara


"Haruskan aku memanggilmu pangeran?" tanya Nara tersenyum menatap Chan


"Tidak juga" ucap Chan melihat sekilas senyum Nara


"Ya, sudah aku panggil Chan saja. Bagaimana?" tanya Nara meletakan makanan di hadapan suaminya


"Terserah" ucap Chan menyeruput tehnya


"__" Nara tersenyum mendengar ucapan Chan


Chan selalu berpikir bagaimana caranya untuk memberitahu pada Nara. Dia pun takut kalau akhirnya Nara menyerah dengannya.


......................


Di suatu malam, Chan mendatangi Nara di kamar anaknya yang sudah tertidur. Dalam keadaan mabuk, Nara begitu kaget melihat suaminya memeluknya.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Chan memejamkan matanya


"Apa pun itu, kamu pasti bisa" ucap Nara mengusap kepala suaminya


"Aku sudah mengingatmu" ucap Chan mabuk


"Kamu tidur lah" ucap Nara mengusap kepala suaminya


"Aku yang sudah membuat kamu begitu menderita"


"Anak kita kehilangan nyawanya karena ulahku"


"Andai saja aku mendengarkan ucapan mu saat itu"


"Aku juga telah meninggalkan mu di dalam mobil, aku melompat keluar hingga aku tidak mengingat mu" ucap Chan tidak sadar namun meneteskan air matanya


"___" Nara tercengang mendengarkan ucapan suaminya


"Aku sungguh bodoh, meninggalkan kamu dan anak kita" ucap Chan menyesal


"___" Nara sesak mendengarkan hal itu Seakan usahanya selama ini sia-sia dengan kenyataan yang di katakan Chan.


"Bagaimana lagi ini?" batin Nara


Nara pun keluar dari kamar, membawa tas nya. Dia pergi ke apartemennya, dengan hati yang tidak tenang meninggalkan Chan sendiri di rumah.


Di apartemen Nara beristirahat, sebenarnya dia pun tidak ingin meninggalkan suaminya, namun karena kenyataan yang pahit, terpaksa dia menghindar sementara.


Keesokan paginya, Chan terbangun dan sadar akan pengakuannya semalam. Dia pun bergegas mencari Nara. Namun tidak di temukan ya lagi di rumah itu.


"Kamu dimana?" batin Chan sambil mengusap wajahnya


"Astaga. Bodohnya aku" ucap Chan menghelai nafas


"Bagaimana aku menghubunginya sementara nomor nya pun aku gak punya" ucap Chan dengan mata berkaca-kaca


Dia menunggu kedatangan istrinya namun sampai berhari-hari tidak datang juga.


"Kamu Dimana?" ucap Chan memandangi foto pernikahan mereka


"Aku tau, aku yang salah" batin Chan sambil menundukkan kepalanya


"Aku memang jahat" ucap Chan melemparkan hpnya


Dia semakin gila, karena masalah yang tak kunjung selesai. Di tambah lagi sepupunya, Alex. Yang semakin berbuat semaunya saja.


......................


2 minggu kemudian, Nara keluar dari apartemen. Khan dan Mika tahu dimana keberadaan nya saat ini, namun Nara meminta tolong untuk tidak memberitahu Chan.


Di luar apartemen anak buah pak Bram telah menunggu nya. Tidak lama kemudian, Nara melewati anak buah itu, tanpa sadar bahwa dia sedang di awasi.


"Aaa" teriak Nara namun tak seorang pun ada di sana saat itu


Para anak buah itu pun membawa Nara ke atas tebing. Sebelumnya Nara telah di siksa, dia tidak bisa berkutik karena dia telah di tembak dengan taser gun.


"Selamat tinggal, Chan" batin Nara saat dijatuhkan dari atas tebing


Iya, memang Nara tidak bisa berbuat apa-apa saat itu, selain pasrah dengan keadaan.


Nara terbawa arus sungai yang begitu deras. Hingga beberapa orang yang sedang memanjat tebing melihatnya.


"Astaga. Bro coba lihat" ucap Rian kaget


"Apaan tuh?" Tanya Bara memperhatikan


"Apa sih?" Tanya Haris masih sibuk dengan perlengkapan nya


"Ris, itu." ucap Rori menghentikan kegiatan Haris dan mengarahkan pandangannya


"Astaga. Sepertinya itu malaikat yang gagal dalam misinya" ucap Haris masih bercanda dengan wajah datar


Mereka berempat adalah anak-anak orang kaya raya di kotanya. Juga memiliki hobi yang esktrim. Mereka pun menolong Nara, dan membawanya naik dari dalam air.


"Sepertinya dia wanita cantik. Namun karena luka di wajah dan seluruh tubuhnya menutupi kecantikannya" ucap Rori serius


"Kita apa kan dia?" tanya Rian bingung


"Detak jantungnya melemah" ucap Bara menyentuh denyut jantung Nara


"Kita bawa dia ke rumah sakit" ucap Haris menatap Bara


"Kamu yakin, Ris?" tanya Bara menaikkan alisnya


"Kau kan dokter, Ini pasien yang butuh bantuan kalian saat ini. Kamu sudah lebih tau lah" Ucap Haris menatap sahabatnya


"I iya sih" ucap Bara menggaruk kepalanya


"Ya sudah kalau begitu, kita sudahi saja pertandingan kita hari ini. Nyawanya lebih penting" ucap Rori menatap para sahabatnya


"Setuju, kita bawa dia ke rumah sakit" ucap Rian mengangguk


bersambung...