You're My First Love

You're My First Love
Liburan Yang Kacau



Saat mereka menikmati suasana di pantai. Tiba-tiba saja Chan datang bersama kekasihnya. Membuat Nara jadi bersedih lagi. Melihat ekspresi wajah Nara, mika bertanya.


"Nugu?" Tanya Mika melihat Chan dari kejauhan


"Chan" ucap Nara meneguk minumannya


"Omo! Jinjja?" Mika menarik nafas kasar


Mika baru saja menghibur sahabatnya, namun Nara sedih kembali.


"Gwenchana?" Tanya mika merangkul Nara


"Ani" ucap Nara menyadarkan tubuhnya pada mika


Mika hanya bisa mengusap tangan Nara.


Yolanda yang melihat keberadaan Nara segera menghampirinya dan di susul oleh Chan.


"Nara!!" panggil Yolanda dengan raut wajah heran dan gembira


"Aku ingin sekali menghilang dari sini Tuhan" batin Nara memejamkan matanya


Chan yang mendengarkan kekasihnya itu memanggil nama Nara seakan jantungnya berhenti berdetak.


"Nara?" batin Chan heran mengerutkan keningnya


"Chan! Ini Nara yang aku ceritakan tadi. Dia yang membantuku saat latihan" ucap Yolanda bahagia


"Joesonghaeyo, annyeonghi kyeseyo" (maaf, selamat tinggal) ucap mika merangkul Nara yang hanya menunduk


Mika membawa Nara pergi tidak peduli dengan Yolanda dan Chan.


Chan berlari meraih tangan Nara.


"Nara!!" panggil Chan menggenggam tangan Nara namun segera di tepis oleh Nara


Yolanda yang melihat Chan bingung dengan kekasihnya itu.


"Apa yang kamu lakukan Chan?" Tanya Yolanda marah


Namun Chan tidak mendengarkan kekasihnya itu dan berlari lagi mendekati Nara.


"Nara, Nara, Naraa!!" panggil Chan mencoba berbicara dengan Nara


"Maaf, beri dia waktu." Ucap Mika



Nara sangat sedih, dia pergi ke kamarnya dan menangis.


Mika yang melihatnya hanya memberi Nara ruang untuk menenangkan dirinya.


Saat malam, Nara masih di kamar dan mematikan lampu. Di kamar sebelah, ada mika sahabatnya, dan di sebelah lagi ada Chan.


Nara mengusap air matanya dan mengambil violinnya. Hannya itu yang menemaninya saat sedih maupun bahagia. Dia selalu mengekpresikan dirinya dengan memainkan violin itu. Karena itu akan membuatnya merasa lebih baik. Nara berdiri di dekat jendela, dia juga di temani udara malam yang menghembus wajahnya."My memory" itu adalah lagu andalannya saat merasa sedih. Nara sangat mendalami musiknya. Seperti biasa, dia meluapkan semua emosinya ke dalam bunyi. Dengan ayunan tangan yang ahli, Nara semakin membuat sahabatnya merasa khawatir.


Di samping itu, Chan juga mendengarkan bunyi violin Nara.


"Apakah orang yang selama membuat ku penasaran adalah Nara ?" Batin Chan


Akhirnya senar Nara putus untuk yang kesekian kalinya. Dia menangis histeris, seakan kerja kerasnya selama ini sia-sia.


"Nara, nara-ya" panggil mika cemas dan mengetuk pintu kamar Nara


Chan mendengar Mika memanggil Nara. Dia semakin merasa bersalah, dia sedikitpun tidak mengingat Nara, sedangkan Nara selalu merindukannya.


"Nara-ya. Jebal" (Nara. Tolong) ucap Mika yang juga ikut menangis di balik pintu


"___" Nara membuka pintu


"Mianhae" (Maaf) ucap Nara dengan mata sembab


"Aaissh.. jinjja" ( Aiss...sungguh) ucap Mika memeluk Nara menangis


"Meok Ja!" ( Ayo makan!) Ucap mika menarik tangan Nara keluar


Nara menurut dibawa oleh mika untuk makan di luar. Nara bersyukur ada mika di sampingnya.


"Manhi meogeo!"(makan dengan lahap!) Ucap mika tersenyum saat melihat sahabatnya hanya mengangguk


"Otte?" Tanya Mika


"Neomu mashitda" (sangat lezat) Ucap Nara lahap, sepertinya dia kehabisan tenaga saat menangis *hihi*


"Uumm" Mika juga menikmati makanannya


Sesudah makan mereka berjalan di pinggir pantai untuk mencerna makanan dan menikmati udara malam. Nara duduk di pasir menghadap pantai sedangkan Mika duduk menghadap Nara.


"Mwoya?" (ada apa?) Tanya Nara yang melihat sahabatnya duduk menghadapi dirinya bukannya menghadap ke pantai


"___" Mika hanya tersenyum


"Hummm" Nara memejamkan matanya dan menghelai nafas


"Nara-ya!" Panggil Mika


"Wae?" Tanya Nara masih memejamkan matanya


"Nara-ya!" ucap Mika menepuk kaki Nara


"Nara!" panggil seseorang dari belakangnya.


Mata Nara melebar seketika, dia mengenali suara itu.


Mika memejamkan matanya tiba-tiba, seperti tidak ingin diomeli Nara. Nara menghelai nafas melihat sahabatnya itu.


"Nara!" panggil Chan yang semakin dekat


"___" mata Nara kembali melebar


Mika berbisik pada Nara


"Aku, akan pergi. Jangan menghindar agar kamu tidak terluka lagi" kira-kira begitulah bisikan mika


Mika menatap tajam mata Chan, seakan matanya berkata jangan berani menyakiti sahabatku. Kemudian dia tersenyum pada Chan dan pergi meninggalkan mereka berdua. Nara masih terdiam tidak menjawab Chan.


"Bagaimana kabar mu Nara?" Tanya Chan yang sudah duduk di samping Nara


"___" Nara hanya diam dan memejamkan matanya


"Kamu sudah berubah Nara" ujar Chan menatap wajah Nara dari samping


"___" Nara belum menjawab


"Dulu, Nara yang aku kenal itu sangat imut dan ceria" ucap Khan tersenyum


"___" *Kamu beruntung Chan, bisa melupakan Nara. Aku yang bodoh selalu merindukanmu* batin Nara


"Nara" ucap Chan lembut dan memegang kedua pundaknya


Nara sangat kaget, sedari tadi dia hanya berusaha menahan air matanya. Saat Nara membuka mata, air matanya tumpah.


"Nara, kamu menangis?" Tanya Chan heran dan mengusap air matanya


"Stop!" Ucap Nara menepis tangan Chan


"Kamu marah ya?" Tanya Chan


"___" Nara menghelai nafassnya


"Maafin aku Nara" ucap Chan meneteskan air matanya


"___" *kamu tidak perlu minta maaf Chan. Aku yang salah terlalu berharap.* Batin nara


Yolanda melihat Chan dan Nara duduk berdua di pinggir pantai membuat hatinya terasa tersayat-sayat. Dia kemudian menghampiri Nara dan Chan.


"Chan!. Apa yang kamu lakukan?" Tanya Yolanda menangis


"Urus saja kekasih mu" ucap Nara meneteskan air matanya tersenyum miring dan berdiri


"Nara" ucap Chan berdiri dan memegang tangannya


"___" Nara hanya menghelai nafas


Prakkk


Tangan Yolanda melayang menampar wajah Nara. Nara hanya tersenyum tipis.


"Yolanda! Apa-apaan kamu?" Ucap Chan menengahi Yolanda dan Nara


Nara tidak membalas Yolanda. Dia hanya mengucapkan selamat pada Yolanda.


"Well done. Congratulation" (Kamu melakukannya dengan baik. Selamat) Ucap Nara tersenyum dan meninggalkan mereka.


Nara pergi dengan hati yang hancur.


Dia masuk ke dalam kamarnya, dia ingin sekali memainkan violinnya, namun akibat ulahnya tadi, violinnya telah rusak.


Dia hanya berdiam diri di kamar, tidak lupa dia mematikan lampunya. Niatnya hanya ingin berlibur malah jadi runyam.


Chan dan Yolanda masih bercakak.


"Yolanda, kenapa kamu begitu kasar pada Nara? Dia tidak ada salah." Ucap Chan mengusap kasar wajahnya


"Kamu kenapa sih malah belain dia? Dia sudah menggoda kekasihku. Wajar dong kalau aku kasar." Ucap Yolanda marah


"Tapi dia gak salah"


"Kamu tega Chan. Lagi-lagi kamu membela Nara." Ucap Yolanda menangis meninggalkan Chan


Chan mengusap kasar wajahnya dan menghelai nafas.


Keesokan harinya Nara dan sahabatnya meninggalkan penginapan. Mereka akan berlibur ke tempat dimana mereka merasa aman dari Chan dan Yolanda. Mereka pergi ke gunung Halla. Di sana juga tidak kalah indah dengan di pantai.


Nara memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobil, disusul oleh Mika.



"Otte?" Tanya Nara


"Humm" Mika menarik nafasnya


Mereka mengambil makanan dan minuman dari dalam bagasi mobil. Mereka mendirikan tenda dan bersantai di sana.


"Nara-ya! Gwenchana?" Tanya Mika menatap wajah sahabatnya


"Um, gwenchana" ucap Nara mengangguk tersenyum dan melihat Mika