You're My First Love

You're My First Love
Kecelakaan Berujung Amnesia



Setelah bersih-bersih Nara istirahat di kamar.


Sedangkan Chan mengerjakan pekerjaannya di ruang kerjanya.


...****************...


5 Bulan kemudian


Chan dan Nara sudah mempersiapkan ruangan, pakaian, untuk meyambut bayi mereka. Momen itu sangat dinantikan mereka.


Seperti biasa Chan bekerja di kantor dan istrinya di rumah saja. Chan mengurangi jadwalnya di kantor karena dia harus memperhatikan istrinya yang sedang hamil tua. Mereka berdua juga rutin periksa ke dokter.


Namun suatu hari, hal yang tak terduga terjadi saat Chan membawa istrinya untuk periksa. Nara mengingatkan Chan agar hari ini hati-hati saat berkendara. Karena firasatnya buruk hari ini, tidak seperti hari-hari kemarin saat mereka keluar rumah.


Ternyata pak Bram dan Alex telah mengintai pergerakan mereka.


Chan tidak sengaja melihat Alex yang sedang mengintai mereka. Dia pun terburu-buru untuk membawa Nara keluar dari rumah sakit tanpa memberitahu nya.


Nara hanya mengikuti suaminya tanpa basa-basi. Chan segera membawa Nara masuk ke dalam mobil. Dia tidak ingin kalau istrinya sampai kenapa-napa.


Alex dan pak Bram sadar kalau mereka sudah meninggal rumah sakit. pak Bram pun menyuruh anak buahnya untuk mengejar mereka.


Nara merasa bingung dengan tingkah Chan yang tergesa-gesa dan sesekali melihat kaca.


"Ada apa?" tanya Nara bingung


"Seseorang mengikuti kita sayang" ucap Chan menancapkan gas mobil


"Hati-hati sayang. Aku kan sudah bilang kalau hari ini firasat ku buruk" ucap Nara panik dan ketakutan


"Tenang saja, kita akan baik-baik saja" ucap Chan semakin buru-buru


Tak lama kemudian anak buah pak Bram berhasil mengepung mereka. Chan semakin melaju cepat.


"Aaaa" teriak Nara


Brukkk.... brukkk.. brukkk...


Mobil Chan dan beberapa mobil anak buah pak Bram terseret oleh truk yang juga lepas kendali. Chan melompat dari dalam mobil, hingga kepalanya terbentur ke aspal.



Tak lama kemudian mereka semua di bawa ke rumah sakit. Nara dan Chan tidak sadarkan diri.


Setelah mengetahui kabar itu, keluarganya segera ke rumah sakit. Bu Angraini sangat mencemaskan Nara, hingga dia menangis saat mendengarkan kabar itu. Khan dan Mika juga datang ke rumah sakit dengan wajah yang di penuhi kecemasan.


Bu Sri menangis saat melihat kondisi anak dan menantunya sedang di ambang kematian.


Mereka semua sangat sedih dan cemas, di tambah lagi kondisi janin Nara yang kritis.


Dokter berusaha untuk menyelamatkan bayinya, meskipun jika terlahir prematur namun para Dokter tetap harus mengambil tindakan. Akan tetapi nyawa bayinya tidak dapat di selamatkan, meskipun berbagai macam cara telah dilakukan Dokter.


Setelah operasi, dokter memanggil keluarga Chan dan Nara untuk datang ke ruangannya.


Tok tok tok


"Silahkan masuk" ucap dokter yang sedang duduk menanti keluarga pasien


"Baik, Dok" ucap Bu Sri masuk dengan Bu Anggraini lalu mereka duduk


"Bagaimana kondisi keponakan saya, Dokter?" tanya Bu Anggraini sangat cemas


"Hal itu yang ingin saya bicarakan dengan,Ibu" seru dokter menatap keduanya


"Kami dari tenaga medis, telah berusaha Sedaya mampu kami. Namun Tuhan lah yang berkehendak." ucap dokter sedikit menunduk


"Apa maksudnya, dokter" tanya Bu Sri dengan mata berkaca-kaca


"Maaf, Bu. Janinnya tidak dapat kami selamatkan" ucap dokter dengan mata berkaca-kaca pula


"Apa?" tanya Bu Sri kaget bukan main


"Kak" ucap Bu Angraini menangis dan memeluk Bu Sri


"Ya ampun" ucap Bu Sri menangis


"Lalu bagaimana dengan menantu dan anakku?" tanya Bu Sri menangis


"Mereka berdua telah melalui masa kritisnya, namun mereka juga butuh waktu untuk sadar" ucap dokter tidak tega melihat tangisan mereka


"Hhhhh hhhahh hhh" tangisan Bu Sri


"Sudah kak, kita harus kuat" ucap Bu Sri menangis juga


"Bagaimana jika mereka sadar dan tahu kalau bayinya sudah tidak ada Sri?" tanya Bu Sri menangis


"Mereka pasti sanggup kak" ucap Bu Anggraini memeluk Bu Sri


"Ada apa bibi?" tanya Khan n langsung menghampiri mereka


"Bayinya sudah meninggal Khan" ucap Bu Sri meneteskan air mata


"Apa, Bi?" tanya Khan kaget


"Astaga" ucap Chan mengusap kepala dan wajahnya


"Ada apa kak Khan?" tanya Mika menghampiri Khan yang tertinggal oleh bibinya


"Bayinya meninggal, Mika" ucap Chan menangis


"Omo, jinjja?" (Astaga, sungguh?) tanya Mika dengan mata berkaca-kaca


"___" angguk Chan menangis


"Nara-ya" ucap Mika menangis pula


Pak David tiba dengan Rudra di rumah sakit, dia di dikagetkan dengan pemandangan kesedihan yang mendalam. Pak David dan anaknya segera menghampiri Bu Anggraini dan menanyakan keadaan Nara dan Chan.


Kemudian Bu Anggraini memberitahu suaminya, kalau bayi Nara telah tiada. Pak David kini mengerti dengan pemandangan yang disaksikannya tadi. Dia juga merasakan kesedihan yang dalam saat mengetahuinya.


Setelah beberapa hari tidak sadarkan diri, akhirnya Chan membuka matanya.


"Chan" ucap Bu Sri menggenggam tangan anaknya


"Mama" ucap Chan sedikit pusing


"Pelan-pelan nak" ucap Bu Sri membantu Chan duduk


"Apa yang terjadi mah?" tanya Chan tidak ingat kejadian itu


"Syukurlah, kamu sudah sadar Chan" ucap Bu Dewi masuk kedalam ruangannya


"Nenek" ucap Chan mencoba tersenyum


"Mah, aku harus ke kantor" ucap Chan ingin melepas infus di tangannya


"Kamu belum sembuh total, nak" ucap Bu Dewi kaget


"Tapi banyak yang harus ku kerjakan sekarang" ucap Chan memaksa


"Chan" ucap Bu Sri panik melihat anaknya bangkit dari tempat tidur


"Chan? kamu masih butuh istirahat" ucap Bu Dewi juga panik


"Chan! apa kamu lupa dengan istri mu?" tanya Bu Sri meninggikan nada suaranya


"Mama, bilang apa? istri? ya ampun mah, wanita yang aku suka juga gak ada" ucap Chan tertawa


"Apa?" tanya Bu Sri mengerutkan keningnya


"Udah mah, Chan baik-baik aja sekarang" ucap Chan meninggalkan ruangan


"Chan!" panggil Bu Sri


"Sudah, Sri" ucap Bu Dewi sedih


"Bu, apa yang terjadi pada Chan?" tanya Bu Sri menangis


"Kamu tanya sama Dokter Sri, Kok malah sama ibu" ucap Bu Dewi sedih


Bu Sri dan Bu Dewi keluar dari ruangan untuk menemui dokter.


dor do dor


"Dokter!" panggil Bu Sri menangis menggedor-gedor pintu ruang Dokter


"Ada apa,Bu?" tanya dokter setelah membuka pintu


"Masuk dulu, Bu" ucap dokter melebarkan pintu


"Dokter, apa yang terjadi dengan anak saya? kenapa dia tidak ingat kalau dia sudah menikah?" tanya Bu Sri menangis


"Sesuai dengan pemeriksaan Dokter saraf, anak ibu mengalami amnesia hanya pada beberapa orang saja, mungkin bisa jadi dari masa lalunya, atau yang belum lama dia kenal" jelas dokter


"Amnesia?" tanya Bu Dewi sedih


"Iya, Bu. Seiring dengan berjalannya waktu dan pemeriksaan yang rutin, semoga anak ibu bisa mengingat kembali orang yang telah dilupakannya"


"Orang yang dia lupakan pun, bisa dekat dengannya, asalkan dia diingatkan dengan pelan-pelan. ujar pak Dokter


"Ibu, juga bisa membantunya, perlahan." ucap dokter menahan kesedihannya


Bersambung....