You're My First Love

You're My First Love
Nara Jadi Yunita



"Nara, Sekarang identitas kamu jadi anak angkat saya" ucap pak Abraham meletakkan seberkas surat


"Terimakasih, paman, Bibi" ucap Nara dengan wajah harunya



"Tidak perlu ragu memberitahu, jika kamu membutuhkan bantuan" ucap pak Abraham tersenyum


"Iya, Nara" ucap Bu indah tersenyum pula


"Aku, gak tau lagi harus bagaimana membalas kebaikan paman, bibi, dan kak Haris. Aku tinggal sementara di sini saja sudah hal yang luar biasa menurut aku. Tapi paman dan bibi malaikat bagiku" ucap Nara terharu


"Haris, pulang" ucap Haris mendatangi mereka


"Duduk,Ris" ucap Bu indah tersenyum


"Bagaimana, pah?" tanya Haris


"Kamu lihat saja, Ris" ucap pak Abraham menunjukan berkasnya


"Wahh, Makasih pa" ucap Haris memeluk pak Abraham


"Papa kan sudah janji" ucap pak Abraham tersenyum


"Iya, pa. Makasih banyak" ucap Haris


Nara sudah menganggap mereka seperti keluarga, begitu pula dengan sebaliknya.


Keesokan harinya, Haris dan Nara sudah mulai mengintai mereka.


"Itu, Kak" ucap Nara menunjukan pak Bram yang baru saja keluar dari mobil memasuki gedung taekwondo


"Jadi dia masih bertemu dengan paman kamu?" tanya Haris menurut cerita Nara yang di dengarnya


"Sepertinya begitu, kak" ucap Nara


"Semoga saja paman baik-baik saja" ucapnya lagi


"Kamu sudah siap?" tanya Haris


"___" Nara mengangguk


"Ayo" Ucap Haris keluar dari mobil


Nara pun keluar dari mobil dan berjalan mengikuti Haris. Di gedung sudah ada pamannya yang sedang melatih muridnya.


Di sebelahnya lagi sudah ada pak Bram menunggunya.


"Hati-hati" ucap Haris memegang tangan Nara


"Iya, kak" ucap Nara mengangguk


"Sekian dulu latihan hari ini" ucap pak David pada muridnya


Pak Bram menghentikan langkahnya karena Nara dan Haris segera menghampiri pak David.


"Selamat sore, pak" sapa Haris


"Sore, ada yang bisa saya bantu" ucap pak David


"Silahkan duduk" ucap pak David tersenyum


"Baik, pak" ucap Haris mengangguk


"Kenalin nama saya Haris, dan ini Yunita adik ku" ucap Haris mengulurkan tangannya


"Halo, pak Haris, Halo Yunita" ucap pak David menjabat tangan mereka


"Halo, pak" ucap Yunita


"Jadi begini pak, saya ingin adik saya dilatih oleh bapak" jelas Haris


"Walah, kelas saya sudah penuh, pak" ucap pak David


"Begitu ya, pak" ucap Haris mengangguk


"Iya, pak. Itu pun kalau Yunita mau, di bimbing sama pak Bram aja?" tanya pak David


"M" Nara berfikir menatap Haris


"Boleh, pak" yang penting Yunita ikut latihan di sini" ucap Haris tersenyum


"Baiklah, mari kita temui pak Bram" ajak pak David


Mereka pun menemui pak Bram di ruangannya. Sebenarnya pak David tidak merasa kalau pak Bram adalah musuh bebuyutannya. Meskipun pak Bram pernah berbuat jahat padanya.


Sebaliknya, pak Bram sangat ingin menghilangkan jejak pak David, sama seperti menghilangkan jejak Nara keponakannya.


Tok tok tok


"Selamat sore, pak Bram" Ucap pak David membuka pintu


"Ada apa?" Tanya pak Bram


"Begini pak, murid saya kan sudah penuh, jadi saya menyarankan agar Yunita ini bergabung dengan bapak" ucap pak David


"Kenalin pak, nama saya Yunita, dan ini Kaka saya" ucap Yunita mengulurkan tangannya


"Baik, berikan data diri mu" ucap pak Bram tanpa membalas jabatan tangan Yunita


"Ini, pak" ucap Yunita mengeluarkan data dirinya


"Iya betul, pak" ucap Yunita


"Hmm, mulai besok kamu bisa masuk latihan" Ucap pak Bram


"Baik, pak. Terimakasih atas waktunya" ucap Yunita


"Terimakasih, pak" ucap Haris


Mereka pun keluar dari gedung dan memasuki mobil.


"Kak, bagaimana ini?" tanya Yunita


"Bukannya bagus kamu lebih dekat dengan pak Bram?" tanya Haris


"Kenapa begitu, kak?" tanya Yunita tidak mengerti


"Kamu jadi lebih banyak mengetahui gerak-gerik pak Bram" ucap Haris melajukan mobil


"Iya ya" ucap Yunita menggaruk kepalanya


Setelah mereka tiba di rumah, Yunita masuk ke kamarnya, Haris mengganti pakaian dan berolahraga di ruangan gym nya.


Selama beberapa jam Yunita merasa bosan di kamar hanya menatap hpnya. Dia pun berfikir untuk memakai violin yang dilihatnya kemarin. Yunita pun berjalan menuju ruangan itu dan berhenti saat melihat Haris sedang melatih ototnya.


"Hehe" kekeh Yunita melanjutkan langkahnya


Setibanya di ruangan Yunita menggenggam violin tersebut dan mulai memainkannya. kali ini dia memainkan musik yang di bawakan ya saat menang lomba. Yang dimana gambarnya ada di dinding ruangan itu saat memenangkan lomba tersebut.


Tak lama kemudian, Haris pun mendengarkan musik yang dimainkan Yunita. Dia berhenti melakukan aktivitasnya dan mulai mendekati suara tersebut.


"Nara?" tanya Haris melihat Nara sedang memainkan violinnya


"Apakah dia benar-benar Nara orang yang selama ini aku kagumi?" batin Haris gak percaya


"Tapi sepertinya musik ini tidak asing" batinnya melihat dari luar ruangan yang pintunya terbuka


Haris melangkahkan kakinya untuk berada di tempat yang tidak bisa dilihat Nara, namun hal itu justru membuat musiknya terhenti karena Haris mengenai vas bunga yang berada di dekatnya hingga jatuh.


"Siapa di sana? tanya Yunita meletakkan violin


"Tidak ada orang, tapi sepertinya tadi ada yang datang" ucap Yunita berada di luar ruangan


Yunita pun menutup kembali ruangan itu dan berjalan menuju taman. Di sana Yunita menikmati pemandangan taman luas dan tanaman yang tertata rapi.


"Hmm, tenang banget" ucap Nara memejamkan matanya


Saat memejamkan mata, Yunita tiba-tiba merasa pusing. Ternyata dia mendapat penglihatan yang aneh tentang suaminya.


"Astaga" Ucap Nara memegang kepalanya


"Yunita!" panggil Haris yang sedari tadi memperhatikannya


"Kamu kenapa?" tanya Haris panik


"Kak, aku melihat kalau suamiku akan kehilangan perusahaan" Ucap Yunita masih pusing


"Maksud kamu apa?" tanya Haris yang masih panik


"Reputasinya akan hancur, karena pak Bram, dan sepupunya akan segera menjebaknya." jelas Yunita dengan mata berkaca-kaca


"Ok, tenang dulu. Semua akan baik-baik saja" ucap Haris memeluk Yunita


"Kita sudah siap tempur, aku juga sudah menghubungi Rian, Rori dan Bara agar mereka pun membantu kita" ucap Haris menenangkan Yunita


"Hmm" Yunita tersenyum


Haris sungguh penasaran dengan Yunita, siapa dia sebenarnya, nama nya sama dengan orang yang selama ini dikaguminya. Bukan hanya itu dia juga telah mendengar Yunita memainkan violinnya sama persis dengan Nara idolanya.


"M, Yunita" panggil Haris


"Iya, kak?" tanya Yunita


"___" Haris terdiam


"Kalau aku gak bertanya bisa-bisa aku mati penasaran" batin Haris


"Kak?" panggil Yunita


"Ada apa kak?" tanya Yunita melambaikan tangannya di hadapan wajah Haris


"E e tidak" ucap Haris sadar


"Bukannya Kaka ingin mengatakan sesuatu?" tanya Yunita menatap Haris


"Oh" Haris terkekeh


"Ayolah tanya saja?" batin Haris


"Kaka masuk duluan yah" ucap Haris


"Kok malah masuk" batin Haris


"Oh, iya kak" ucap Yunita tersenyum


"__" Haris mengangguk tersenyum kikuk


Bersambung....