
Karena ketekunan dan keyakinan yang di miliki Nara, dia hanya memerlukan 3 tahun untuk mencapai sabuk hitam.
Selain telah menjadi atlet taekwondo dan mendapatkan beberapa medali dalam pertandingan yang dia ikuti, Nara juga tidak meninggalkan hobinya bermain musik. Dalam dunia musik Nara juga tidak kalah saing dengan para violists di sekolahnya.
Dia bahkan mendapatkan beasiswa di Korean National University of Arts.
7 tahun kemudian.
7 tahun telah berlalu, Nara kini berada di Korea Selatan. Dia telah menjadi mahasiswa di universitas Korea. Bertahun-tahun sudah dilaluinya di kampus. Nara yang saat ini telah mahir dalam bahasa Inggris dan bahasa Korea, membuatnya tidak gagap lagi dalam berkomunikasi.
Nara tidak pernah takut melangkah ke manapun, karena baginya ketakutan adalah hal yang harus ditiadakan. Kekuatan yang dia dapatkan berkat paman dan bibinya. Terutama dia telah berhasil menaklukkan dirinya sendiri.
Nara juga merindukan seseorang yang disukainya membuatnya semakin bersemangat untuk menjadi orang yang sukses. Dia yakin suatu saat akan bertemu dengan Chan, ketika mereka di pertemukan kembali, Nara tidak ingin keadaannya memprihatinkan, melainkan membanggakan.
Nara sungguh aktif di kampusnya, hingga para dosen dan teman-temannya beruntung bertemu dengannya. Tidak hanya pintar Nara juga bijak. Membuat teman-teman sangat menyukainya.
Nara juga di bawa bertanding oleh dosennya. Dia juga tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia telah membuat hati para juri yang menilainya terenyuh. Senyumnya yang menawan, tubuhnya yang energik membuat siapapun melihatnya ikut merasakannya.
Jalan Nara tidaklah mulus, dia juga terkadang gagal. Namun hal itu tidak membuat kering tulangnya. Dengan usaha dan kerja keras. Dengan semangat yang berapi-api. Dengan niat yang teguh. Dengan doa. Nara berhasil menyelesaikan kuliahnya di Korea.
Setiap musim salju, Nara pasti sangat merindukan pak Ari. Karena janji yang telah dibuat pak Ari dan Nara akan berlibur saat musim salju. Namun papanya sudah meninggal sebelum itu terwujud. Membuat Nara akan menangis saat turun salju.
Kini Nara mengundang paman dan bibinya untuk menghadiri wisuda di Korea. Dengan senang hati, pak David dan Bu Anggraini mengabulkan undangan dari Nara. Paman dan bibinya sangat bersemangat dan terharu.
Tapi saat ini Bu Wulanra sangat merindukan putrinya. Dia menyesali perbuatannya pada Nara. Dia juga melihat Nara tampil di berbagai surat kabar, dan juga media sosial. Membuatnya semakin merasa bersalah telah berbuat kasar pada Nara.
Apalagi saat Khan putranya, tahu kalau Nara sebenarnya di usir Bu Wulanra. Dia semakin merasakan sakit yang amat dalam.
Khan telah menjadi penerus di perusahan pak Ari. Sesuai dengan perjanjian yang telah ditandatangani oleh pak Ari dan pak Rinto. Kini pak Rinto telah mengembalikan perusahaan yang dia tanggung jawabi kepada Khan. Rayhan anak pak Rinto juga berteman baik dengan Khan.
Di sisi lain Chan mengalami masalah dengan perusahaan pak Indra. Memang saat ini Chan sudah resmi menjadi CEO di perusahaan papanya. Namun sepupunya Brian anak dari pak Freddy menginginkan kedudukan Chan.
Nara telah bertemu dengan paman, bibi juga Rudra anak dari David dan Angraini yang sudah berusia 7 Tahun.
Nara sangat bahagia bertemu dengan mereka. Karena saat kuliah Nara hanya pulang sesekali ke Indonesia.
"Bibi" ucap Nara memeluk bibinya hingga meneteskan air mata
"Kamu hebat Nara" ucap Bu Anggraini mengelus lembut rambut Nara juga meneteskan air mata terharu
Nara juga memeluk pamannya dan Rudra. Membuat mata pak David berkaca-kaca.
"Terimakasih paman" ucap Nara menangis memeluk pak David
"___" pak David hanya mengangguk dan akhirnya menangis
Bu Anggraini juga Rudra memeluk Nara dan pak David. Mereka menangis terharu bersama.
"Sudah Nara, tanpa perjuangan kamu tidak akan berguna bantuan paman dan bibi" ucap pak David mengusap air mata Nara
"___" Nara semakin menangis karena baginya paman tidak hanya seorang paman, pak David seperti papa baginya. Nara sangat menyanyangi pak David seperti dia menyanyangi pak Ari. Begitu pula dengan Bu Angraini, Nara menyanyangi bibinya melebihi mamanya
"Sudah Kaka jangan menangis lagi. Rudra, mama dan papa, sayang banget sama kaka." Ucap Rudra menepuk-nepuk pundak Nara
"Kamu sudah besar ternyata yah" ucap Nara mencubit lembut hidung Rudra dan tertawa
"Rudra sangat merindukan mu" ucap bibi tersenyum
"Oh iya? Mana ciuman rindunya" ucap Nara memberikan pipinya
"Ummahh" cium Rudra
Momen mengharukan telah menghampiri mereka. Mereka juga mengambil beberapa foto untuk mengabadikan momen haru itu.
Nara telah selesai dengan kuliahnya. Di korea pak David, istrinya dan juga anaknya akan berlibur selama beberapa hari. Tentunya Nara sebagai pemandu liburan mereka kali ini. Bunga-bunga sakura yang berterbangan menemani liburan mereka.
Selesai liburan, paman, bibinya juga sepupunya akan kembali ke Indonesia, Nara sangat ingin pulang dengan mereka, tetapi Nara harus menyelesaikan urusannya dulu. Bu Anggraini tidak memaksakan Nara untuk ikut bersama mereka karena dia mengerti keadaan Nara.
"Sampai jumpa sayang" ucap Bu Anggraini memeluk nara
"Sampai jumpa bibi" ucap Nara juga memeluk bibinya
"Jaga diri kamu baik-baik" ucap paman memeluk Nara juga
"Siap paman" ucap Nara membalas pelukan pamannya tersenyum dengan mata berkaca-kaca
"Kaka" ucap Rudra cemberut
"Sini Kaka peluk adik kesayangan Kaka" ucap Nara mengelus lembut kepala Rudra
"Kaka jangan lama-lama yah kembali ke Indonesia" ucap Rudra meneteskan air mata
"Iya sayang kuh, Kaka janji. Jagain mama yah" ucap Nara mengusap air mata Rudra
"Iya Kaka" ucap Rudra mencium pipi Nara
Mereka semua tersenyum dan tertawa. Saatnya pak David, Bu Anggraini dan Rudra, memasuki pesawat. Nara meneteskan air matanya saat melihat kepergian paman dan bibinya.
Di perusaahan Chan dia sangat kelelahan.
Sangat penting baginya untuk berlibur menenangkan pikiran saat ini. Dia pun memutusakan untuk berlibur. Namun dia masih bingung kemana dia akan pergi. Dia memejamkan matanya dan mengingat momen bersama dengan pak Indra di Korea. Chan pun membuat rencana untuk liburannya. Chan yang belum membuka komunikasi untuk neneknya Bu Dewi, membuatnya semakin galau. Dia sesekali melihat dari kejauhan keadaan neneknya tanpa menyapa.
Keesokan harinya Chan telah menyiapkan kopernya. Dia juga ingin mengajak kekasihnya Yolanda. Namun saat dia mengabari rencananya Yolanda mengatakan agar Chan duluan saja, dia akan menyusul karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Yolanda adalah seorang violists yang berbakat, dia juga pintar dalam bidangnya. Kepribadiannya juga lumayan baik.
Chan berangkat sendiri ke Korea dan menikmati perjalanannya. Setibanya di Korea, Chan ingin memesan kamar hotel, yang dulu pernah didatanginya saat bersama pak Indra juga rekan bisnisnya.
Ternyata Nara juga ada di sana. Dia berpapasan dengan Chan. Nara ingin keluar dan Chan ingin masuk.