
Chan yang berada di atas kasur mendengarkan suara indah itu. Suara indah itu sangat nyaman di telinga. Chan sungguh penasaran, siapa orang yang memainkannya. Khan bangkit dari kasur dan berjalan ke teras kamarnya. Dia melihat ada seorang gadis di balik gorden yang di hembus-hembus angin itu. Chan melihat ke arah kamar Nara yang tepat berhadapan dengan kamarnya. Chan memperhatikan Nara. Dia merasa tidak asing dengan gadis itu, karena Nara posisi menyamping . Chan yakin dia mengenal gadis itu. Tapi dia masih berfikir siapa gadis yang dia kenal itu.
Chan masih mendengarkan dengan nyaman,matanya yang terpejam, dan mengangkat wajahnya.
Nara semakin membawa perasaannya, mendalami, lirik lagu yang dimainkan dan mengaitkan dengan kenyataan kehidupannya. Hingga emosinya bercampur aduk. Air matanya yang tidak berhenti menetes. Dan akhirnya senar violinnya pun putus. Membuat Chan tiba-tiba membuka matanya. Dan melihat ke arah Nara. Nara jatuh ke lantai dan menangis sejadi-jadinya.
Chan juga merasa sangat sedih. Dia ingin sekali merangkul gadis itu. Namun dia tidak bisa menggapainya. Nara kemudian mengambilkan buku dan pulpen miliknya. Nara menulis sebuah surat untuk bibinya. Yang sedang berbelanja di pasar. Dia sangat mengenal bibi dan pamannya. Nara mengetahui niat tulus dari dalam diri bibinya dan pamanya. Hal itu membuat Nara tidak ingin lebih merepotkan mereka. Nara ingin menghilang saja.
Nara kemudian membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya. 15 menit kemudian Nara keluar kamarnya. Dan keluar dari pintu belakang.
Chan permisi pada Bu Dewi untuk keluar sebentar. Bu Dewi memberi Khan izin. Karena Chan sudah biasa berjalan-jalan sendiri ketika dia di rumah Bu Dewi.
Chan berjalan menuju danau buatan dimana dia pernah terjatuh saat masih SD. Chan merindukan kenangannya di sana.
Chan masih penasaran siapa gadis yang bermain violin tadi.
Nara juga sedang berjalan sudah sangat jauh. Nara bukan pertama kali lagi ke sana. Nara juga kadang-kadang menginap di rumah bibinya saat libur sekolah. Dia tahu ada danau buatan yang lumayan jauh. Namun di jalaninya. Dulu dia pergi naik mobil dengan papanya dan kakanya. Namun sekarang Nara hanya sendiri. Nara tiba di danau, dan duduk di tepi danau. Dia memandangi sekeliling danau. Namun tidak ada seorang pun di sana. Nara sangat merindukan kenangan bersama dengan pak Ari.
Chan baru tiba yang jaraknya 100 meter dari danau. Dia melihat ada seorang gadis yang duduk membelakangi Khan di sana. Membuatnya Hanya duduk di bawah pohon-pohon. Tanpa mendekati danau.
Chan duduk di bawah pohon dan memejamkan matanya, dia sedang berfikir seketika memalingkan pandangan. Tiba-tiba Chan melihat anak tadi, masuk ke dalam air hanya kepalanya yang tersisa.
Melihatnya tentu saja Chan sangat kaget, dia berlari ke danau dan masuk kedalam air. Nara sudah sangat jauh. setelah menyelam lebih dalam akhirnya Chan dapat meraih tangan Nara. Nara sudah kehabisan nafas membuatnya tidak mengetahui apa yang terjadi.
Chan sangat heran ternyata anak itu adalah Nara. Dengan cepat dia membawa Nara keluar dari air.
Setelah Chan berhasil membawa Nara ke luar dari dalam air, dia segera membaringkan Nara di tempat yang aman dan datar dalam posisi terlentang. Chan coba cek pernapasan Nara dengan mendekatkan telinganya ke mulut dan hidung Nara untuk merasakan adanya hembusan udara. Namun Nara tidak bernapas. Dia langsung melakukan CPR (cardiopulmonary resuscitation) atau resusitasi jantung paru. Namun tidak ada respon dari Nara. Akhirnya Chan memberi nafas buatan untuk Nara. Tanpa berfikir panjang lagi Chan siap untuk membantunya. Dia menjepit hidung Nara dan menempatkan bibirnya dalam posisi terkatup di atas mulut Nara. Chan mengambil napas seperti biasa dan meniupkan udara secara perlahan (1-2 detik tiap kalinya) ke dalam mulutnya.
Akhirnya Nara memuntahkan air, dengan sigap Chan memiringkan kepalanya agar tidak tersendat.
"uhuhkk..uhhhuhhhkkk.uhhhkk.." batuk Nara membuka matanya
"Nara,apa yang kamu lakukan?" tanya Chan lega dan memeluk Nara
"k kak, kak Chan" ucap Nara menangis
"sudah,sudah" ucap Chan mengusap punggung Nara
Chan penasaran dengan masalah yang di alami Nara, namun dia menahan dirinya agar Nara tidak merasa terganggu.
Di rumah Anggraini sudah selesai memasak dan akan memanggilkan Nara untuk makan malam. Namun dia memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. saat membersihkan diri, David sudah tiba di rumah. sesudah itu Anggraini menuju kamar Nara.
"Mas,!" panggil Anggraini menuruni tangga
"Ada apa sayang?" Tanya David heran
"Na Nara.. Nara tidak ada di kamar mas" ucap Anggraini ngos-ngosan dan memegang tangan David, seakan memohon untuk mencarinya
"Maksudnya gimana nih?" Tanya David mengerutkan keningnya
"Nara tidak ada di kamarnya mas, aku sudah mencarinya di dalam kamar. Tapi dia benar-benar tidak ada."
"Astaga.. kemana Nara pergi" ucap David mengusap wajahnya
"Masss .. jangan sampai Nara kenapa-napa." Ucapnya terduduk
Mereka berdua sangat panik. Dan akhirnya memutuskan untuk menghubungi Bu Wulanra, barang kali Nara pulang ke rumahnya. Namun jawaban Bu Wulanra membuat Anggraini menangis tersedu-sedu.
Beberapa menit kemudian, Nara tiba di rumah David. Dia masuk kembali dari pintu belakang, menuju meja makan. Penampilannya sangat kacau. Hingga membuat David dan Angraini bertanya-tanya.
"Nara .." ucap Anggraini menghampiri dengan air matanya yang berjatuhan dan langsung memeluk Nara dengan erat
"Nara, apa yang terjadi padamu? Ucap David menghampiri mereka juga
"Maafin Nara, paman-bibi. Nara tadi keluar sebentar." Ucap Nara menunduk
"Sudah sayang, tidak apa-apa. Yang penting kamu baik-baik saja. Bibi sudah masak, paman mu sudah lapar, ayo segera lah membersihkan dirimu" ucap Anggraini lega dan mengusap kepala Nara
"Iya bibi, Nara akan segera kembali" ucapnya yang kemudian berlari kamarnya
Nara membersihkan dirinya, dia teringat akan Chan membuatnya tersenyum sendiri. Dia menyukai Chan, apalagi Chan telah menolongnya tadi. Itu membuatnya semakin menyukai Chan.
Nara kembali turun, David dan Anggraini sudah menunggunya. Membuatnya berlari kebawah dan terjatuh.
"Aaauuww.." ucap Nara terjatuh
David dan Angraini kaget dan langsung menolong Nara.
"Astaga, Nara" ucap Anggraini menolongnya berdiri.
"Kamu tidak perlu terburu-buru Nara, paman akan menunggu dan bibimu" ucap David yang langsung menggendong Nara ke meja makan
Nara tidak berdarah namun ada memar di kakinya. Anggraini bergegas mengambil salep Dan mengoleskannya pada kaki Nara.
"Lain kali hati-hati" ucap Anggraini perhatian
"Iya bibi, terimakasih" ucap Nara
Mereka makan bersama, kali ini Nara tidak lagi hanya terdiam. Dia sesekali membuat paman dan bibinya tertawa.
Dia ingin kembali pada dirinya yang dulu.
David dan Angraini merasa lega dengan perubahan Nara.
Di samping itu Chan sungguh penasaran dengan Nara. Namun dia masih menunggu agar Nara memberitahunya.
Di sisi lain, pak Indra semakin kesakitan. Dia sungguh tidak ingin istrinya tahu. Dia berusaha agar menghindar dari istrinya.
Perceraian mereka tidak lama lagi. Itu membuat pak Indra sedikit lega, namun ada rasa tidak tega dalam hatinya.
Nara sudah mengantuk, akhirnya di memutuskan untuk tidur terlebih dahulu.
"Bibi, paman, Nara masuk kamar duluan yah, sudah ngantuk" ucap Nara tersenyum tipis
"Iya Nara. Tidur yang nyenyak yah sayang" ucap Anggraini mengusap lembut kepala Nara
"Jangan terburu-buru lagi Nara" ucap David menyambung istrinya
"Iya bibi, iya paman" ucap Nara mengangguk dan berjalan menuju kamarnya