
Keesokan harinya Yunita terbangun dari tidurnya. Yunita tidak menyangka kalau dia tertidur bersama Haris malam itu. Beberapa waktu pun haris terbangun dan merasa kaget pula.
"Y Yun.." ucap Haris melebarkan matanya
"K kak Haris" ucap Yunita
"Maaf Yun" ucap Haris segera bangkit
Haris pun berlari keluar dari kamar Yunita dengan wajah yang memerah. Haris tidak mengira kalau hal itu akan dialaminya. Yunita bersiap-siap untuk latihan hari ini. Yunita sedikit gugup namun juga percaya pada dirinya sendiri.
"Kak" panggil Yunita mengetuk pintu kamar Haris
"___" Haris hanya terdiam memejamkan matanya
"Kak Haris" panggilnya lagi
"T tunggu sebentar" ujar Haris mengusap dadanya
"Iya, kak" ucap Yunita dan menunggunya di ruang tamu
"Apa yang terjadi pada Chan?" batin Yunita memiliki firasat Buruk
"N Tah lah. Semoga dia baik-baik saja" batinnya
"Kita belum terlambat kan?" tanya Haris mengagetkan Yunita
"Astaga, belum kok,kak" ucap Yunita mengusap dadanya
"Ayok!" ajak Haris
"___" Yunita mengangguk dan mengikuti Haris
Tak lama kemudian mereka pun tiba di gedung latihan. Yunita pun mengganti pakaiannya. Saat mengganti pakaian, murid-murid lain menghalanginya. Yunita sedikit risih dengan tatapan teman-temannya itu. Namun Yunita berusaha menebarkan senyum untuk mereka.
"Anak baru, tapi gak tau menyapa senior" Ucap seorang gadis bernama Rati
"Iya nih. Enak saja dia bisa lolos dari kita" ucap seorang lagi bernama Clara
Namun seseorang yang duduk di kursi itu hanya mengamati tingkah teman-temannya. Yunita hanya berdiam diri dan berusaha tetap tenang. Teman-temannya itu menyuruhnya untuk membereskan pakaian mereka. Yunita menurut saja agar dia bisa bertahan di sana.
"Kenapa kamu hanya menurut saja?" tanya seseorang yang tengah duduk bernama Putri
"Aku hanya tidak ingin memperumit masalah, kak" ucap Yunita tersenyum
"Kenalin, nama ku putri" ucapnya tersenyum
"Yunita" ucapnya menjabat tangan putri
"Senang bertemu dengan mu, semoga kita akrab" ucap putri menepuk pundak Yunita
"Senang bertemu Kaka juga. Terimakasih sudah mau menjadi teman ku " ucap Yunita
"Sepertinya kita seumuran" ucap Putri menatap wajah Yunita
"Ah, masa sih kak, aku masih sangat muda. wajah ku saja yang sudah menua" ucap Yunita tersenyum
"Umurku 25 tahun" ucap Putri tersenyum
"Ahh, aku masih 23, kak" ucap Yunita terkekeh
"Tapi wajah kamu tidak setia itu kok" ucap Putri tersenyum
"Makasih, kak" ucap Yunita
Mereka pun semakin akrab dan Putri dengan senang hati membantu Yunita untuk membereskan ruangan tersebut. Yunita merasa kalau Putri benar-benar ingin berteman dengannya.
Sejak saat itu Yunita selalu bersama dengan Putri hingga para seniornya itu merasa risih dengan keduanya. Pak Bram tidak curiga dengan keberadaan Yunita yang sedang mengawasinya. Saat latihan Yunita berusaha untuk tidak mengeluarkan kemampuannya. Layaknya seorang yang baru saja mengenal taekwondo.
Setiap latihan selesai Yunita telah memasang pengintai di ruangan pak Bram. Dan telah memasang beberapa jebakan di sana. Tidak hanya Yunita sahabat Haris pun turut serta membantunya.
Perlahan mereka telah mengetahui kelemahan pak Bram. Pak Bram selalu berkomunikasi dengan sepupunya Chan yang saat ini sedang berkuasa di perusahaan. Mereka tidak lagi mengincar pak David melainkan Chan dan Khan. Karena mereka merasa terganggu dengan Khan yang selalu siap membantu adik iparnya itu.
Yunita merasa sedih saat mengetahui rencana pak Bram yang akan menghancurkan keduanya. Namun Haris dan sahabatnya itu selalu memberi Yunita semangat dan bantuan.
Yunita selalu ingin memeluk pak David saat melihatnya. Namun Yunita harus rela menahannya demi keselamatan suaminya dan kakanya. Saat Bu Angraini dan Rudra berkunjung ke tempat latihan, Yunita menabraknya.
Bruk kkkk
"Bibi" batinnya
"Astaga. Maaf yah" ucap bibinya
"Rudra, kamu sudah sebesar ini" batinnya dengan mata yang berkaca-kaca
"I iya,Bu. Maafin saya juga" ucap Yunita segera berlari
Haris yang tadinya melihat kejadian itu, segera berlari menyusul Yunita. Haris mengerti perasaan Yunita saat ini. Itu sebabnya Haris selalu menjemputnya.
"Yun!" teriak Haris
"Kak" ucapnya dengan air mata
"Aku tau Yun, kamu sangat merindukan mereka. Tapi kamu harus bersabar, gak akan lama lagi kok" ucap Haris mengusap air mata Yunita
"Yaudah deh, kamu nangis aja dulu, biar gak nyesek. Tapi jangan lama-lama" ucapnya tersenyum
Haris pun membawa Yunita ke sebuah kafe dimana Yunita bisa merasa tenang dan nyaman. Kafe itu memang bisa membuat siapapun yang datang ke sana merasa tenang dan damai.
"Duduk di sini, Yun" ucap Haris
"Iya, kak"
"Aku ke toilet bentar yah, gak tahan" ucap Haris kebelet
"Iya, kak" ucapnya
Saat Haris masih berada di toilet, Chan pun datang ke kafe itu. Yunita segera menutup wajah dengan tasnya. Chan yang awalnya biasa saja jadi curiga dengan Yunita yang tiba-tiba bertindak.
"Astaga, Aku bodoh sekali. Chan gak akan mengenaliku" batinnya mengerutkan wajahnya
"___" Chan segera menghampirinya
"Kenapa kamu seperti baru melihat setan?" tanya Chan menaikkan alisnya
"Oh, bukan pak. Aku pikir bapak orang yang ku kenal" ucap Yunita terkekeh menurunkan tasnya
"Maaf, Yun. Aku kelamaan" ucap Haris menghampiri mereka
"Engga kok, kak" ucap Yunita
"Em, Siapa Yun?" tanya Haris yang sebenarnya kenal dengan Chan yang tangan berdiri
"Aku, Aku__" Yunita jadi gugup
"Kenalin, nama ku Chan" ucap Chan
"Haris" ucap Haris menjabat tangan Chan
"Dia adikku Yunita" ucap Haris tersenyum
"Oh, senang berkenalan" ucap Chan tersenyum
"Kalau begitu aku pamit dulu" ucap Chan
"Bagaimana kalau kita duduk bareng?" tanya Haris
"Kak" ucap Yunita menatap Haris
"Apa boleh?" tanya Chan
"Ti__" ucapan Yunita terpotong oleh Haris
"Tentu" ucap Haris tersenyum
Mereka akhirnya duduk bersama di kafe itu, Yunita merasa sangat canggung berada di dekat suaminya sendiri. Chan merasa biasa saja, karena dia tidak begitu memperhatikan Yunita dan hanya fokus mengobrol dengan Haris. Haris sengaja mengajak Chan duduk bersama mereka, setidaknya Yunita bisa melepaskan rindunya pada Chan.
Kling kling kling
"Sebentar, yah. Aku jawab dulu" ucap Chan
"Silahkan" ucap Haris
"Halo, kak Khan" ucap Chan
"Apa?" tanya Chan kaget
"Kaka dimana sekarang?" tanya Chan panik
"Aku akan segara ke sana, kak" ucap Chan menutup teleponnya
"Ada apa ini?" batin Yunita
"Maaf yah, aku duluan. Makasih makanannya" ucap Chan bangkit
"Ada apa, Chan?" tanya Haris
"Lagi ada masalah dengan Kaka ipar ku" ucap Chan
"Oh, kalau begitu ayo kita ke sana" ucap Haris
"Ada apa dengan Kaka?" batin Yunita mulai tidak tenang
Chan pun setuju, Haris dan Yunita mengikuti mobil Chan. Yunita semakin tidak tenang dan terlihat sangat cemas. Haris berusaha menenangkan Yunita yang tidak karuan.
"Yun, semua akan baik-baik saja" ucap Haris
"Aku takut, kak. Kalau sampai kak Khan kenapa-napa" ucap Yunita
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa" ucap Haris menggenggam tangan Yunita