
"Kamu terlihat bersinar, jangan ragu untuk datang kemari jika kamu butuh" ucap Bu Dewi tersenyum
"Baik nenek, Nara pamit dulu"
"___" Bu Dewi hanya tersenyum dan mengangguk
"Nara pamit dulu kakek"
"Iya iya" ucap pak Hendra
Nara kembali ke rumah pamanya, di rumah sudah ada bibinya di dapur.
Dia masuk dan memeluk bibinya yang sedang memasak itu.
"Bibi" ucapnya memeluk bibinya dengan erat
"Naraa" ucap Anggraini kaget
"Ada apa Nara?kamu kenapa?" Ucap Angraini membalikkan badannya
"Bibi Nara lapar" ucap Nara cemberut
"Lapar?? Astaga Nara, tunggu dan duduk saja tidak lama lagi bibi akan menyelesaikannya" Ucap Anggraini tersenyum
Nara kemudian duduk dan tidak lama kemudian makanan udah di bawakan bibinya.
"Nihh, di habisin yahh. Bibi akan mandi dulu. Tidak apa-apa kan Nara makan sendiri?"
"Iya bibi, Nara tidak apa-apa" ucap Nara mengangguk
Anggraini menuju kamarnya dan langsung membersihkan diri. Setelah itu dia langsung menuju meja makan, Nara sudah selesai makan dan langsung mencuci piringnya. Anggraini duduk dan ingin makan.
"Bibi, Nara ambilkan nasi untuk bibi yah?"
"Boleh" ucap bibi tersenyum
"Nihh bibi, di habisin yah" ucap Nara terkekeh
"Hahah.. iya sayang" ucap Anggraini tertawa
Anggraini sudah selesai makan, Nara dengan sigap mengambil piring bibinya dan langsung mencucinya.
Kemudian Nara duduk di dekat bibinya.
"Bibi, tadi Nara bertemu dengan mama"
"Kaka marahin kamu lagi?"
"Tidak bibi, mama hanya bilang jangan sampai kak Khan tahu kalau Nara inggal dengan bibi." Ucap Nara menatap bibinya dengan wajah sedih
"Sini sayang" ucap Anggraini memeluk Nara
"Nara, sangat takut dengan mama bibi" ucap Nara menangis
"Bibi tahu Nara, udah, Jagan menangis lagi, ada bibi di sini" ucap Anggraini mengusap lembut rambut Nara
"Terimakasih bibi" ucap Nara memeluk erat Anggraini
Beberapa hari kemudian Khan sudah berada di luar negeri. Dia mulai fokus dengan tujuannya.
Begitu pula dengan Chan sudah berada di luar negeri, dia sangat merindukan Nara.
Namun dia harus fokus dengan masa depannya.
Nara baru sadar, dia telah meninggalkan kotak di toko pak Hendra. Dia kemudian pergi ke toko itu. Ternyata Bu Dewi telah melihat seisi kotak itu, dan menyimpannya.
"Nenek, apa Nara meninggalkan kotak di ruang dengar?"
"Iya nak, kamu meninggalkannya di sana, tapi nenek sudah menyimpannya. Sebentar nenek akan mengambilnya dulu." Ucap Bu Dewi dan langsung mengambilkannya
"Nara, duduk dulu" ucap pak Hendra
"I iya kakek" ucap Nara yang kemudian duduk
"Ini, nak" ucap Bu Dewi memberikan pada Nara
"Terimakasih nenek" ucap Nara tulus
"Tidak apa-apa" ucap nenek tersenyum
"Nara pulang dulu ya nenek, kakek" ucap Nara berdiri
"Kamu tidak ingin mencobanya? Ucap pak Hendra menunjuk violin yang di pandangi Nara beberapa hari yang lalu
"Apa boleh kek?" Tanya Nara ragu
Nara melihat Bu Dewi yang juga setuju.
Nara dengan semangat mengambil violin yang terpajang itu. Perlahan diambilnya dari kaca pajangan itu agar tidak sampai rusak.
Nara mulai meletakkannya di atas pundaknya. Dia menarik nafasnya dan membuang perlahan. Nara mulai memainkan lagu yang sangat ceria. Yang dulu pernah di pelajari bersama dengan pak Ari . Hingga pak Hendra dan Bu Dewi tersenyum lebar saat mendengarnya.
Nara sangat bersemangat hingga membuat senyumnya yang tulus itu tampak di wajahnya. Nara selesai memainkannya. Tanganya menganyun dan melebar, salah satu kakinya di tarik ke belakang, kemudian dia menunduk.
Seperti yang dilakukannya di atas panggung. Pak Hendra dan Bu Dewi bertepuk tangan. Mereka sangat kagum pada Nara.
"Hebatt" ucap pak Hendra mengacungkan jempol
"Hebat sekali Nara" ucap Bu Dewi juga mengacungkan kedua jempolnya
"Terimakasih kakek dan nenek sudah jadi penonton Nara" ucap Nara tersenyum telabar
"Kamu bisa membawanya, itu sebagai hadiah untuk mu" ucap Bu Dewi menggoda Nara
"Kakek juga setuju" ucap pak Hendra tersenyum
"Benarkah?" Ucap Nara tidak nyangka
Pak Hendra dan Bu Dewi mengangguk
"Wahh terimakasih nenek" ucap Nara memeluk Bu Dewi
Pak Hendra yang melihatnya tersenyum dan tertawa.
"Iya Nara. Sama-sama. Semoga kelak kamu jadi orang yang berhasil meraih impianmu." Ucap Bu Dewi menepuk-nepuk punggung Nara
Nara pulang ke rumah pamannya, di tangannya sudah ada kotak dan violin di gendongnya,dia sangat ceria.
"Bibi" ucap Nara meletakan kotak dan memeluk bibinya
"Nara" ucap bibinya membalas pelukan Nara
"Bibi, Nara lapar" ucapnya memonyongkan bibirnya
"Ayo kita makan, bibi juga sudah lapar" ucap Anggraini menyiapkan makanan dan dibantu Nara.
Saat Nara dan bibinya menyiapkan makanan, David pulang dan segera menghampiri meja makan.
"Ayo kita makan" ucap Anggraini menyambut pulang suaminya.
"Wuaahh.. kelihatannya enak nih" ucap David tersenyum
Seperti kemarin Nara mulai membiasakan dirinya mengerjakan pekerjaan rumah. Selesai makan dia mencuci piring dan merapikan meja dan membereskan dapur yang tadinya tidak sempat di bereskan bibinya.
Anggraini dan David bahagia melihat ponakan mereka telah membuka lembaran baru.
1 bulan kemudian Nara sudah bersekolah di tempat yang bibi dan pamanya pilihkan untuk Nara. Tentunya Nara juga setuju.
Di sisi lain pak Indra sudah merasa sangat lemah, dan di rawat oleh Bu Dewi dan pak Hendra. Pak Indra sudah resmi bercerai dengan istrinya. Bu Dewi sungguh prihatin dengan kondisi putranya yang semakin memburuk. Namun Bu Dewi dengan sabar merawat pak Indra.
Sebelumnya pak Indra sudah menanggung jawabkan perusahaannya pada adiknya,pak Freddy. Pak Freddy juga mempunyai seorang anak laki-laki yang umurnya hanya beda 1 tahun dengan Chan. Pak Indra percaya jika suatu hari adiknya akan memberikan tanggung jawab perusahaan pada anaknya Chan. Saat ini pak Indra hanya
bisa berserah pada Sang Pencipta.
Tengah malam, pak Indra menjerit kesakitan Bu Dewi yang setia menemaninya terbangun dari sofa dan menghampiri putranya.
"Indra.. kamu butuh sesuatu nak?"
"Indra butuh air putih hangat Bu" ucap pak Indra kesakitan
Bu Dewi segera mengambilkan air putih hangat untuk pak Indra dan membawanya ke kamar putranya.
Bu Dewi memberikannya dan segera di habiskan oleh pak Indra.
"Bu, Indra sudah tidak kuat lagi, tolong panggilkan ayah Bu" ucap pak Indra hampir kehabisan nafas
Bu Dewi segera memanggilkan suaminya yang sudah tertidur. Dia membangunkan suaminya. Mereka dengan cepat menuju kamar pak Indra.
"Ada apa Indra?" Tanya pak Hendra mendekatkan diri ke anaknya
"Ayah, Indra sudah tidak kuat lagi. Jika Indra sudah pergi, tolong ayah berikan berkas yang ada dalam brankas ruang kerja Indra pada Chan, suatu saat pasti dia membutuhkannya." Ucap pak Indra menahan sakitnya
"Iya nak, tapi kamu sendiri yang harus memberikan itu" ucap pak Indra memegang tangan Indra.
"Ibu, jangan terlalu bersedih, maafin Indra jika Indra ada salah pada ibu dan ayah" ucap Indra dengan nafas yang tersisa
"Iya nak, maafin ibu juga" ucap Bu Dewi menahan air mata dan memeluk putranya