
Mereka pun kembali ke Indonesia, sesuai dengan rundingannya.
Nara bersama Haris dijemput supirnya dan para sahabatnya itu, segera kembali ke rumahnya masing-masing.
Tin Tin
"Selamat Datang, Tuan Sanjaya" Ucap sekuriti yang bertugas di rumah Haris
"___" Haris tersenyum manis
"Sanjaya?" ucap Nara pelan
"Sebenarnya nama ku Haris Sanjaya. Hanya pak sekuriti yang manggil begitu" ucap Haris membuka safety belt Nara
"A aku bisa sendiri, kak" ucap Nara gugup
"Udah" ucap Haris tersenyum
"Ayo!" ucap Haris yang sudah membuka pintu mobil
Setelah di rumah, Haris menunjukkan kamar untuk Nara tempati sampai masalahnya selesai.
"Kamu anggap saja rumah sendiri, agar lebih nyaman" Ucap Haris membuka Jaketnya
"Iya, kak. Makasih ya, kak" ucap Nara tersenyum
"Makasih mulu" ucap Haris duduk
"Hehe" kekeh Nara menggaruk dahinya yang tidak gatal
"Kamu istirahat saja" ucap Haris memejamkan matanya
"Boleh aku melihat-lihat sekeliling kak?" tanya Nara
"Aku belum merasa lelah" ucap nya lagi
"Boleh, aku akan tidur sebentar" ucap Haris
"Iya, kak" ucap Nara tersenyum
Beberapa waktu kemudian, Nara mengelilingi rumah Haris yang begitu luas bagaikan samudera. Dia terkagum-kagum melihat keindahan ruangan demi ruangan yang di jalaninya.
"Ya Tuhan, ini rumah atau apa?" batin Nara
Dia pun melanjutkan langkahnya hingga dia menemukan ruangan yang aneh menurutnya.
langkahnya terhenti saat dia melihat violin di balik rak buku. Ternyata itu adalah violin yang pernah di lihatnya di selembaran surat kabar saat dia masih kecil.Violin itu milik seorang Violists yang dia kagumi sejak dulu.
"Jadi keluarga kak Haris yang dapat lelang saat itu" batin Nara
Nara melangkah lagi memandangi gambar para pemain violists di ruangan itu. Tentu saja dia mengenalnya karena dia juga terinspirasi dari orang yang berada di gambar itu.
"Astaga" ucap Nara melebarkan matanya
Nara juga menemukan gambarnya di sana saat dia mulai mengikuti beberapa kontes dan pertunjukan, hingga memenangkan beberapa penghargaan.
Ini adalah salah satu foto Nara yang di pajang di ruangan itu.
"Ya Tuhan" Batin Nara tidak menyangka
Ternyata Haris adalah pengagum rahasianya. Nara juga beberapa kali mendapatkan hadiah dari orang yang misterius. Dan selalu membuatkan tanda H.S di kartu ucapannya
Nara melihat lagi di setiap gambar dirinya yang terpajang ada inisial H.S.
"Jadi selama ini kak Haris orangnya?" batin Nara tidak menyangka
"Nara, Nara!" panggil Haris yang sudah dekat
"Kak, Haris" ucap Nara segera keluar dari ruangan itu
"Kamu lama sekali. Udah selesai kelilingnya?" Tanya Haris mendekatinya
"Kaka udah bangun" ucap Nara sedikit gugup
"Aku gak bisa tidur" ucap Haris
"Ayo makan!" ajak Haris menggenggam tangan Nara
"Kak" ucap Nara kaget
"Udah, ayo" ucap Haris tersenyum manis
Mereka pun segera menuju meja makan, yang di sana sudah ada beberapa pelayan berseragam yang telah mempersiapkan makanan untuk mereka.
"Iya, kak" ucap Nara tersenyum
"Jika kamu membutuhkan sesuatu, mintalah pada mereka. Mereka akan selalu bersedia membantu" ucap Haris tersenyum lebar
"Iya, kak" ucap Nara
"Makasih, Bu" ucap Haris pada kepala pelayan bernama Bu Neli
"Selamat makan, Tuan dan nyonya" ucap Bu Deli undur diri
"Makan yang banyak, kamu harus kuat menghadapi kenyataan" ucap Haris memberikan beberapa daging di piring Nara
"Kaka" ucap Nara tertawa
......................
Di sisi lain, Chan semakin tidak terurus. Rambutnya yang sudah panjang juga kumisnya yang sudah jarang di cukurnya membuat penampilannya berubah.
Keadaannya saat ini memang sangat sulit dia lalui, terlebih lagi istrinya yang tidak tahu keberadaan nya. Namun keluarga selalu mendukungnya untuk melakukan hal yang baik.
Ada rindu, takut,cemas, marah,menyesal"yang tercampur aduk di pikiran Chan sekarang. Wajar saja, karena Khan saat ini juga tidak menghubunginya. Atau tidak berkomunikasi dengannya lagi sejak Khan mengetahui kebenaran.
"Kamu dimana, Nara?" batin Chan mengusap wajahnya
"Aku memang tidak pantas untuk mu" ucapnya menangis
Sejak kepergiannya, Chan selalu menyalahkan dirinya. Hingga menyakiti dirinya sendiri.
"Chan, kamu kenapa?" tanya Bu Sri memeluk anaknya
"Mahh, aku jahat" ucap Chan tidak bisa menahan air matanya
"Mama, gak tega melihat kamu terus begini" ucap Bu Sri mengusap punggung anaknya
"Chan, bukan anak yang baik mah, apalagi suami yang baik" ucap Chan memukuli dadanya sesekali memukul tembok
"Cukup, Chan!" perintah Bu Dewi
"Nenek dan mama kamu sengaja tinggal di sini, agar kamu tidak begitu kesepian. Namun kalau kamu terus begini nenek mati saja" ucap neneknya kecewa
Chan pun menghentikan pukulannya karena Bu Dewi semakin tidak tahan melihatnya.
......................
Di rumah Khan dan sang istri telah hidup rukun. Namun Bu Wulanra masih dihantui rasa takut dan bersalah, meskipun dia kini telah tinggal serumah dengan Khan anaknya.
"Mah, mama makan dulu yah" ucap Mika membawa makanan ke dalam kamar mertuanya
"Mama gak lapar" ucap mertuanya memalingkan wajah
"Ma, apa makan akan terus seperti ini?" tanya Mika yang merasa iba dengan kondisi mertuanya saat ini yang hanya mengurung diri di kamar
"Mama gak punya pilihan lain, Mik" ucap Bu Wulanra dengan mata yang berkaca-kaca
"Aku tahu mah, tapi kalau begini terus yang ada Khan makin sedih" ucap Mika memegang tangan Bu Wulanra
"M mama takut, Mik" ucap Bu Wulanra meneteskan air mata
"Kan ada aku dan kak Khan, mah" ucap Mika memeluk mertuanya
"Maafin mama, Mik" ucap Bu Wulanra memejamkan matanya
"Mama gak perlu minta maaf. Aku gak maksa mama untuk melupakan kejadian sebelumnya. Tapi mama juga harus ingat, kalau Khan, Nara, juga aku sangat menyayangi mama" ucap Mika mengusap air mata mertuanya
"Makasih, Mika. Kamu selalu sungguh baik" ucap mertuanya memeluknya
"Kita doakan saja ma, agar dimana pun Nara berada, dia selalu baik-baik saja. Dan semoga dia cepat kembali kemari" ucap Mika tersenyum
'Iya, nak" ucap mertuanya tersenyum
"Mama makan yah" ucap Mika
"___" Bu Wulanra mengangguk
......................
Nara bersama dengan Haris menyusun strategi untuk menghentikan perbuatan kejam pak Bram dan anak buahnya. Tidak hanya itu Alex adalah biang dari semua masalah ini, namun pak Bram juga punya alasan tersendiri.
Haris pun meminta pada papanya, agar meminta bantuan koneksinya agar membuatkan Nara jadi adik angkatnya, supaya tidak ada yang mencurigai. Di samping itu, orang tua haris juga orang baik, setelah mendengar cerita Nara, hati kedua orang tuanya Haris pun tersentuh untuk menolongnya.
Mereka pun difasilitasi oleh papanya Haris atau sering dijuluki Abraham Sultan, mobil dan juga bodyguard untuk mempermudah rencana mereka.
Mamanya Haris bernama Bu Indah, juga dijuluki istri sultan. Namun hal itu tidak membuat mereka sombong atau tinggi hati, justru hal itu membuat mereka semakin dermawan.
Bersambung...