
Terimakasih ibu,ayah," ucap pak Indra kehabisan nafas
"Indraaaaa" teriak Bu Dewi
"Indraaa" teriak pak Hendra meneteskan air mata
Mereka sangat sedih kehilangan putranya. Keesokan harinya Bu Dewi dan pak Hendra mengadakan pemakaman untuk anaknya.
banyak orang yang tahu, rekan bisnis pak Indra berdatangan dan memberi penghormatan terakhir. Namun putra dan istrinya nya tidak mengetahuinya.
Nara berniat untuk bermain ke rumah Bu Dewi, namun dia mendapati keluarga mereka sedang berduka. Nara masuk ke dalam rumah, Bu Dewi dan memberi penghormatan pada pak Indra. Nara tidak tahu yang dia hormat itu adalah pak Indra teman papanya. Namun karena dia sudah mengganggap Bu Dewi sebagai neneknya dan pak Hendra sebagai kakeknya, dia tidak merasa asing lagi. Nara juga merasakan sedih saat melihat Bu Dewi dan pak Hendra berduka.
Beberapa bulan kemudian Chan kembali ke Indonesia, dia sangat kaget ketika mengetahui mama dan papanya telah bercerai. Di tambah lagi seseorang memhampirinya, tampaknya rekan bisnis pak Indra, yang dulu pernah ke rumahnya.
"Kamu Chan kan ? Anak pak Indra?" Tanya pak Mario
"I iya pak"
"Kamu yang sabar ya nak, tidak ada yang abadi di dunia ini" ucap pak Mario menepuk pundak Chan yang tengah duduk di sebuah kafe
" Maksud bapak apa? Tanya chan berdiri
"Lohh, bukannya papa kamu sudah meninggal?" Tanya pak Mario jadi bingung
"Apa-apaan si bapak, ngada-ngada" ucap Chan meninggalkan pak Mario
Chan pergi ke rumah pak Hendra. Dia ingin memberi salam pada kakek dan neneknya. Chan sudah tiba di rumah kakeknya.
Ketika mengetahui kedatangan Chan, Bu Dewi tidak tega bertemu dengannya begitu pula dengan pak Hendra.
"Nenek, kakek??" Panggil Chan memasuki rumah
Bu Dewi menampakkan dirinya dengan wajah sedih.
"Nenek, cucunya datang bukannya di sambut" ucap Chan manyun
Nenek memeluk Chan dengan erat. Bu Dewi merasa bersalah pada Chan.
"Nenek, dimana kakek?"
"Kakek, ada di toko" ucap nenek membuatkan teh untuk Chan
"Nenek, Chan dengar mama bercerai dengan papa. Chan tidak percaya dengan omongan orang itu, ditambah lagi teman papa bilang kalau papa sudah meninggal. Ada-ada saja mereka." Ucap Chan membaca sambil buku yang ada di meja
Bu Dewi hanya menunduk menahan air matanya dan meletakkan segelas teh untuk Chan.
"Terimakasih nenek" ucap Chan tersenyum
"Itu semua tidak benar kan nenek" tanya Chan tertawa
Dewi tumpah dan terduduk di sofa.
"Ada apa nenek? Kenapa nenek menangis?" Tanya Khan mendekati Bu Dewi
"Chan, maafin nenek. Semua yang di katakan orang itu benar nak. Ucap Bu Dewi menangis
"Tidak mungkin. Ini sungguh tidak mungkin. Bagaimana bisa. Nenek bercanda pasti." Ucap Chan tidak percaya
Bu Dewi membawa Chan ke makan pak Indra. Bu Dewi hanya berdiam tidak berani berkata apa-apa lagi.
"Pa.. pa papa??" ucap Chan melebarkan matanya
"Papah" ucap Chan akhirnya dia percaya
"Papah, kenapa papa ada di sini? Di sini dingin papa. Papa, jawab Chan papa. Papahhh..." Ucap Chan menangis.
Chan sangat kehilangan pak Indra. Dia mencari mamanya. Namun tidak di temukan. Entah kemana perginya. Chan menenangkan dirinya di danau. Dia masih menangis, dia juga merindukan Nara. Chan sungguh tidak percaya nenek dan kakeknya tega untuk tidak memberitahunya. Chan kembali ke luar negeri secepatnya karena amarahnya pada nenek dan kakeknya.
Di rumah David, Nara telah selesai beres-beres. Dia sudah melap semua debu, dan mengepel lantai. Nara juga sudah selesai memasak. Dia belajar memasak dari bibinya. Nara sungguh menyukai kehidupannya saat ini. Paman dan bibinya juga sangat romantis. Membuat Nara terkadang tersenyum melihat keharmonisan mereka.
"Nara" panggil Anggraini memasuki rumah
"Ummm wangi sekali" ucap Anggraini mencium bau sedap dari masakan Nara.
"Wahh bibi sudah pulang. Dimana paman?" Tanya Nara yang langsung merangkul bibinya
"Ada urusan katanya" ucap Anggraini mengusap kepala Nara yang merangkulnya
"Nara, bibi sangat bahagia" ucap Anggraini duduk di sofa
"Oh ya ? Apa yang membuat bibi begitu bahagia?" Ucap Nara mendekati bibinya
"Kamu, membuat bibi bahagia"
"Pasti ada yang lebih membuat bibi bahagia" ucap Nara menggoda bibinya
"Hehe.." ucap Anggraini menunjukan tespek miliknya
"Wahhh.. bibi selamat " ucap Nara memeluk Anggraini
"Terimakasih Nara" ucap Anggraini memeluk Nara juga
Nara sungguh bahagia atas kehamilan bibinya. Pamannya juga begitu menjaga bibinya.
Di sekolah Nara belajar dengan giat. Dia tidak ingin mengecewakannya bibi dan pamannya. di rumah juga setelah mengerjakan pekerjaan rumah Nara selalu memaksimalkan waktu belajarnya.
David sudah memikirkan untuk melatih Nara saat baru datang kerumahnya. Namun karena dia masih sibuk dengan pertandingan-pertandingan yang dihadapinya dengan para murid-muridnya. Membuatnya harus menunggu saat pertandingan sudah usai.
David ingin melatih mental dan kekuatan otot Nara. Dia tidak ingin ponakannya hanya mengandalkan otak saja, namun juga harus bisa melindungi dirinya dari dunia yang kejam ini.
Sepulang sekolah Nara di ajak latihan oleh pamannya. Anggraini tersenyum manis pada Nara.
"Ada apa ini, paman dan bibi telah bersekongkol" ucap Nara curiga
"Haha.. gak bersekongkol juga Nara" ucap Anggraini mengusap kepala Nara
"Lebih tepatnya telah berdiskusi" ucap David terkekeh
"Paamann" ucap Nara manja
"Sudah-sudah lebih baik kamu bersiap-siap paman dan bibi akan membawamu ke tempat latihan, agar kamu di habisi para senior di sana" ucap David tertawa
"Haha.." tawa Anggraini
"Awas saja bibi dan paman" ucap Nara menatap paman dan bibinya dan mengulum bibinya
"Tidak Nara, kamu akan di latih di sana, bukan di habisi" ucap Anggraini masih tertawa
Nara tersenyum dan berlari menaiki tangga dan hampir terjatuh lagi. Dia melihat paman dan bibinya menatapnya tajam karena terburu-buru lagi. "Hehehe" tawa Nara melihat bibi dan pamannya.
Nara segera mengganti pakaiannya. Dia sangat bersemangat. Saat menuruni tangga dia terjatuh lagi. Namun tidak begitu merasa sakit sangkin semangatnya. Paman dan bibinya geleng-geleng kepala melihat kebiasaan Nara.
Mereka memasuki mobil dan segera meninggalkan rumah menuju Dojang,tempat latihan para taekwondoin.
Beberapa waktu kemudian, mereka tiba di Dojang. Nara berganti pakaian yang di berikan oleh Sabeum, pak Asmar atau biasa di singkat sbm (pengajar/instruktur). Nara berganti pakaian. Jauh- jauh hari David telah bercerita kepada para teman-teman akan membawa Nara ke sana. Oleh karena itu Nara di sambut oleh para pengajar.
Nara sangat bersemangat, membuat paman dan bibinya tersenyum. Angraini hanya duduk manis saat menonton mereka berlatih.
Proses demi proses dihadapi Nara. Semua hal di lewatinya dengan lapang dada. Kerja kerasnya tidak sia-sia, dia menjadi pribadi yang tidak gampang menyerah, menjadi lebih tangguh adalah tujuan Nara dan paman-bibinya.