You're My First Love

You're My First Love
Tragedi Pesawat Hilang Kendali



Mereka berjalan menyusuri pantai. Senyuman Nara yang begitu tulus membuat Chan semakin tertarik. Rayhan yang melihat Chan yang begitu bersemangat, membuatnya Rayhan lebih menikmati suasana. Rayhan setuju kalau Chan dan Nara bersama.



Ini adalah momen ketika Nara dan Chan mulai akrab.


Nara bagaikan putri yang manja yang di dampingi oleh pangeran-pangeran yang gagah. Nara di gendong oleh Rayhan dan kemudian di gendong oleh Chan. Mereka bertiga tertawa bersama. Dan berlari-lari bersama.


Nara mengambil kayu dan menulis nama mereka bertiga di pasir. Melihat Nara yang begitu bahagia, Rayhan dan chan ikut merasa bahagia.


"Wuahhh... Bagus banget Nara, ucap Rayhan sambil mengambil gambar nama itu dengan kamera yang selalu dia bawa.


Mereka bertiga berfoto bersama. Nara sendiri, dan berdua dengan Chan.


"Wahh.. kalian pasangan yang cocok" ucap Rayhan melihat foto yang dia ambil yaitu Nara dan Chan


"Apaan sih kak Ray" ucap Nara terkikikuk-kikuk"


"Bisa aja kamu Ray" ucap Chan yang lumayan gugup


"Wahh bagus kak" ucap Nara melihat fotonya dengan Chan


Mereka bersenang-senang hingga waktu tidak terasa begitu cepat berlalu. Sore sudah tiba mereka pun kembali ke penginapan. Di sana sudah berkumpul para pebisnis teman papa mereka.


"Chan, sini makan" ucap pak Indra


"Mereka bertiga langsung duduk dan melahap makanan. Tadi siang mereka membeli makan itu lah sebabnya mereka tidak datang untuk makan siang.


"Tadi siang kenapa tidak datang untuk makan?" Ucap pak Ari melihat Nara


"Tadi kami beli makanan pah" ucap Nara


"Oh ya" ucap pak Indra


"Iya pah" ucap Rayhan yang langsung menjawab papanya,pak Indra


"Bagaimana rasanya" tanya pak Rinto kemudian


"Enak pah" ucap Rayhan


"Oh jadi kalian bertiga barengan tadi?" Ucap pak Ari melihat mereka bertiga bergantian


"Iya pah" ucap Nara mengangguk


"Iya pak" ucap Rayhan tersenyum


"Iya pak" ucap Chan rada gugup


"Bagus kalian sudah kompak rupanya" ucap pak Ari tersenyum


Yang lain hanya mendengarkan mereka berbicara tanpa ada yang mengganggu.


" Bagaimana pak Ari besok kita akan kembali ke Indonesia. Kita akan melanjutkan bisnis kita kan" ucap pak salah satu dari mereka yaitu pak Anwar


"Tentu saja pak Anwar, kita juga akan di bantu oleh pak Indra" ucap pak Ari memegang pundak pak Indra


"Iya pak, sesuai pembicaraan kita kemarin" ucap pak indra


"Pah Nara masuk dulu yah" ucap Nara berbisik


"Iya nak"


Nara menenuju ke kamarnya. Dia sungguh lelah namun juga menikmati hari ini. Nara membersihkan dirinya dan membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya. Beberapa menit kemudian, Nara terlelap.


Pak Ari masuk ke ruangan mereka. Pak Ari melihat putrinya sudah tertidur pulas. Pak Ari mengusap kepala Nara. Dan akhirnya pak Ari juga memilih untuk tidur, kemudian pak Ari menuju kamarnya. Sebelum tidur pak Ari mendapat pesan dari Khan.


"Papa dan Nara kapan balik? Khan kangen tau"


"Besok papa dan adik mu akan pulang Khan" balas pak Ari


Keesokan harinya, mereka semua sudah mengemasi barang bawaan. Dan segera menuju bandara.


Di perjalanan Nara merasa kepalanya pusing. Nara grasak-grusuk tidak tenang.


Melihat hal itu pak Ari menanyakan keadaan putrinya.


"Nara kamu kenapa nak?"


"Nara pusing pah" ucap Nara memegangi kepalanya yang seakan ingin pecah


"Boleh papa peluk"


"Iya pah"


"Sini anak papa" ucap pak Ari yang langsung memeluk Nara


"Bagaimana pak apa saya hentikan dulu mobilnya" ucap pak Rinto


"Tidak pak kita nanti ketinggalan pesawat" ucap pak Ari panik


Nara begitu kesakitan hingga dia menjerit-jerit. Sama seperti dia saat berumur 4 tahun. Namun saat ini dia lebih kuat hingga dia tidak sampai demam. Nara melihat kejadian yang akan menimpa mereka jika menaiki pesawat pagi ini. Nara memberitahu pada pak Ari. Pak Ari mengerti keadaan Nara. Pasti ada yang ingin di ucapkan Nara.


"Pahh" ucap Nara menahan sakit


"Iya nak? Nara melihat sesuatu?" Tanya papanya mengenal putrinya


"Iya pah. Nara lihat kalau pesawat yang akan kita tumpangi akan hilang kendali. Nara tidak begitu jelas melihat apa penyebab pesawat itu hilang kendali pah." Ucap Nara gemetar


"Tenang nak" ucap pak Ari menenangkan Nara


"Bagaimana ini pah" ucap Nara memegang tangan pak Ari


"Tenang ya nak, kita akan mencoba mencegah penerbangan pagi ini, papa akan bilang sama teman-teman papa agar menunda keberangkatan pagi ini. Sementara kamu, kamu bisa memberitahukan sebisa kamu." Ucap pak Ari menenangkan Nara


Setibanya di bandara pak Ari mencoba untuk mencegah rekan bisnisnya itu agar menunda keberangkatan pagi ini. Di sisi lain Nara mempergi ke ruang tunggu pesawat yang akan take off sebentar lagi, yaitu pesawat yang akan di tumpangi mereka. Nara bingung harus memberitahu dengan cara apa. Dia tidak tahu bahasa Korea dan bahasa Inggris pun dia masih belajar. Berfikir sejenak, kemudian dia mendapatkan ide.


"Apakah disini ada orang Indonesia atau tahu bahasa Indonesia" ucapnya mencoba tenang


"Saya" ucap seseorang bernama Olivia menghampiri Nara


"Kak saya tidak bisa berbahasa asing apakah Kaka bisa bahasa Korea atau bahasa Inggris?"


"Iya Kaka bisa"


"Kak Nara minta tolong sama Kaka, sebentar lagi pesawat akan take off, kita gak ada waktu lagi kak." Ucap Nara sambil memegang kedua tangan Olivia


"Ada apa dek" tanya Olivia penasaran


"Kak, pesawat akan hilang kendali."


"Apa maksudmu dek"?


"Nara bisa melihat kejadian buruk akan terjadi pada pesawat itu kak" ucap Nara tanpa basa-basi


"Gitu yah, pantes perasan Kaka dari tadi gak tenang" ucap Olivia


"Tolong kak beritahu penumpang yang lain" ucap Nara dengan mata yang berkaca-kaca


"Iya dek"


Kemudian Olivia mencoba memberitahu penumpang yang akan menaiki pesawat itu. Namun banyak yang tidak percaya dan hanya sedikit yang percaya dan mengikuti feeling nya masing-masing. Olivia berusaha, namun mereka sulit untuk di yakinkan.


Olivia dan Nara masuk ke dalam pesawat, di sana sudah ada pramugari dan pramugara yang sedang bersiap-siap. Olivia juga memberi tahu pada mereka. Kejadian buruk yang akan terjadi. Seorang pramugari memberitahukan pilot yang sudah bersiap di depan pesawat. Namun pilot itu mengabaikan perkataan pramugari itu dan menyuruh untu bersiap-siap saja karena sebentar lagi akan take off.


Pramugari itu tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia menyarankan pada Olivia jika mereka punya firasat buruk tidak usah menaiki pesawat. Karena pesawat tetap akan beroperasi.


Nara dan Olivia keluar dari pesawat. Nara mengajak Nara untuk bergabung dengannya.


Pak Ari juga sudah berusaha mencegah para rekannya. Ternyata hanya sedikit yang percaya. Pak Ari dan rekanya berjumlah 15 orang selain anak-anak, namun hanya 6 orang yang percaya. Yang 9 orang itu mereka memasuki pesawat dengan anak-anak mereka, namun ada beberapa lagi yang berbalik. 4 Orang rekan pak Ari bersama anak mereka keluar dari pesawat. Tapi pak Anwar dan ke 3 rekannya itu mengabaikan perkataan pak Ari.


Pak Ari kaget melihat 4 rekannya itu menghampiri mereka. Pak Ari lumayan lega namun juga tidak tenang.


Mereka telah memesan tiket untuk keberangkatan ke Indonesia. Tapi hanya ada jam 5 sore. Mereka berniat untuk keluar dari bandara dulu sebelum waktu keberangkatan.


Mereka semua berjalan dan di seberang ada sebuah kafe, dan memilih untuk menunggu di situ.


Nara masih ketakutan hingga membuat dirinya tidak fokus. Pak Ari, pak Indra, pak Rinto mencoba menenangkan Nara. Namun Nara masih ketakutan. Chan dan Rayhan pun berusaha bembantu papa mereka. Namun tidak seorang pun yang bisa menenangkan Nara.


Olivia datang menghampiri mereka. Olivia langsung memeluk Nara. Dia begitu tulus. Olivia menepuk-nepuk pundak Nara, dan berkata kamu hebat Nara.


Hal itu membuat Nara sedikit lebih lega.


Pak Ari bersyukur kehadiran Olivia membuat rasa takut putrinya berkurang.


Beberapa jam di kafe, ada berita stasiun TV yang mengatakan bahwa pesawat yang harusnya mereka tumpangi hilang kendali dan pesawat itu mengalami kejadian buruk. Pesawat itu jatuh dan membuat seluruh penumpang dan awak pesawat kehilangan nyawa mereka.


Mendengarkan berita itu Nara akhirnya merasa ketakutan lagi. Para penumpang yang menunda keberangkatannya itu sungguh berterimakasih pada Nara dan pak Ari, juga pada Olivia.


Pak Ari sungguh merasa sedih dengan keadaan Nara. Chan duduk di dekat Nara dan merangkulnya.


"Kamu sudah berusaha Nara, tapi mereka tidak percaya dengan kata-kata mu. Kamu hebat. Itu bukan kesalahanmu. Kamu salah jika kamu tidak memberitahu mereka. Sekarang kamu tidak perlu merasa takut lagi." Ucap Chan dengan tulus


Nara merasa lega, pak Ari senang karena putrinya tidak ketakutan lagi seperti tadi.


"Boleh papa peluk" ucap pak Ari yang hampir meneteskan air mata


"Papa" ucap Nara dengan mata berkaca-kaca memeluk papanya