You're My First Love

You're My First Love
Kepergian Chan dan Khan



Mereka berjalan, dan berlari-lari. Chan dan Nara saling menyukai. Mereka sangat bahagia saat itu. Setiap hari mereka bertemu selama 1 Minggu.


Anggraini ikut bahagia karena Nara kembali ceria, hingga dia tidak ingin melarang Nara.


Besok adalah hari terakhir untuk Chan di rumah neneknya, karena dia akan berangkat ke luar negeri. Dia sedih, namun dia harus meninggalkan Nara untuk masa depannya. Malam ini Chan merajut syal yang akan di memberikannya pada Nara. Dia dulu belajar dari neneknya, karena neneknya mengisi waktu luang dengan merajut sweater,syal, dan masih banyak lagi.


Chan bahagia saat merajut syal yang akan di berikan pada Nara. Dia juga membuatkan nama Nara "Nara'S" di syal itu.Chan sampai begadang karena harus memberikannya pada Nara, sebelum dia pulang ke rumahnya.


Paginya di rumah, David, Anggraini dan Nara sarapan bersama. David akan melanjutkan rutinitasnya begitu juga dengan Anggraini. Sedangkan Nara, dia akan bertemu dengan Chan. Selesainya sarapan David berpamitan pada istrinya dan ponakannya.


Anggraini juga ingin lebih sering ke salon, karena ada beberapa hal yang akan membuatnya sibuk di salon.


"Nara, bibi juga akan pergi ke salon. Kamu tidak apa-apa kan? Atau Nara mau ikut dengan bibi?" Tanya Anggraini melihat Nara


"Mm lain kali saja Nara ikut bibi, nanti Nara akan berjalan-jalan" ucap Nara sedikit terkekeh


"Hmm.. ya sudah" ucap bibinya mengerti


"Maaf ya Bi, Nara menolak tawaran bibi" ucap Nara memanyunkan bibirnya


"Iya sayang, bibi ngerti." Ucap bibinya mengambil tas dan keluar dari rumah


"Sampai nanti sayang" ucap Anggraini melambai tangan pada Nara"Hati-hati bibi" ucap Nara melambaikan tangannya juga


Nara sudah bersiap-siap dan sudah mengunci pintu rumah. Dia berjalan menuju danau, tampak sangat bersemangat di wajahnya.


Bu Wulanra ingin menemui Nara di rumah David namun tidak perlu sampai ke sana, dia sudah melihat Nara berjalan dengan semangat. Dia menghentikan mobilnya dan berjalan mendekati Nara. Nara tidak sadar akan kehadiran mamanya di sana, membuatnya begitu kaget.


"Nara!!"


"M mmama" ucap Nara kaget


"Apa yang kamu lakukan di sini, bukannya belajar malah keluyuran. Ayo masuk mobil" ucap Bu Wulanra menarik kasar tangan Nara


"Auuww sakit mah. Lepasin tangan Nara mahh. Nara harus pergi. ucap Nara kesakitan


"Alah, itu saja sakit" ucap Bu Wulanra menutup kasar pintu mobil


Bu Wulanra tidak ingin Khan tahu kalau Nara dia usir dari rumah. Dia kemudian mengancam Nara agar tidak berani membuka mulutnya dan menceritakan segalanya pada Khan. Di dalam mobil Nara hanya menunduk, saat Bu Wulanra menyetir mobil. Dia tidak ingin bertanya kemana mamanya akan membawanya.


"Nara, jangan sampai kamu memberitahu Khan apa yang terjadi pada dirimu. Mama tidak akan segan-segan menyakitimu jika kamu sampai membuka mulut. Ingat itu, Khan hari ini akan berangkat ke luar negeri, dia akan kuliah di tempat yang papamu sudah siapkan untuknya. Jangan sampai perkataan mu menghancurkan masa depannya. Jika kamu berbicara macam-macam dia tidak akan pergi melanjutkan kuliahnya. Khan meminta mama untuk membawamu pulang sebelum dia pergi. Katakan saja kalau kamu hanya berlibur di rumah bibimu!" jelas Bu Wulanra sesekali menatap tajam Nara


"___" Nara hanya menunduk


"Kamu dengar tidak??" Tanya Bu Wulanra kesal dan menjambak rambut Nara


"I iya mahh, Nara dengar." Ucap Nara kesakitan


"Rapikan wajahmu juga rambut mu. Mama tidak ingin kamu cemberut saat bertemu Khan."


"___" Nara mengangguk mengerti


Mereka pun tiba di rumah. Khan sudah berada di ruang tamu dengan beberapa kopernya. Nara tidak ingin sedih di depan kakanya, dia berusaha untuk tersenyum demi kakanya.


"Kaka" panggil Nara tersenyum


"Nara" ucap Khan berlari dan langsung memeluk adiknya


"Kaka sudah mau pergi?"


"Iya Nara, maafin Kaka yah, Kaka tidak banyak waktu untuk Nara"


"___" Nara tersenyum mengerti


"Iya kak" ucap Nara tersenyum tipis


"Jaga dirimu baik-baik, Kaka akan pulang sesekali" ucap Khan mengusap kepala adiknya


"Iya kak, Kaka juga jaga diri yah" ucap Nara tiba-tiba memeluk erat Khan


"Uumm.. iya nona manis" ucap Khan kaget tiba-tiba adiknya memeluknya dengan pelukan erat


Koper Khan sudah berada dalam mobil, saat mereka berbicara, supir pribadinya telah mengangkatnya ke dalam mobil.


Khan berangkat ke bandara di antar oleh supir pribadi mereka. Dia tidak ingin membuat mamanya repot-repot untuk mengantarnya ke bandara. Khan melambaikan tangannya pada mam dan adiknya. Dia tidak tega meninggalkan adiknya yang matanya sudah di penuhi air mata. Namun Khan tidak punya pilihan lain.


Bu Wulanra menarik tangan Nara lagi ke mobil. Kali ini dia tersenyum miring.


Baguss kamu sudah berusaha. Dan untuk seterusnya itu akan menjadi tugas kamu." Ucap Bu Wulanra menyalakan mobil


"Mah"


"Ada apa?"


"Mama kenapa begitu tidak suka dengan Nara? Nara salah apa sama mama?" Tanya Nara memberanikan diri


"Tanya sendiri pada diri kamu, kenapa kamu tidak sadar-sadar saat kamu di rumah sakit. Hingga membuat papamu harus bolak-balik rumah sakit. Saat ingin melihat mu, papa mu mengalami kecelakaan, kamu pembunuh Nara." Ucap Bu Wulanra kasar


"___" Nara hanya bisa menundukkan kepalanya saat mendengarkan ucapan mamanya


"Kamu turun di sini saja" ucap Bu Wulanra kesal


"___" tanpa menjawab Nara menuruti perintah mamanya


Nara yang sedari tadi sudah menahan air matanya, setelah Bu Wulanra pergi barulah dia menumpahkannya. Dia sangat menyesal karena tidak sadarkan diri saat itu. Nara menyalahkan dirinya atas kepergian papanya. Dia teringat akan janjinya dengan Chan. Nara berlari menuju danau, masih dengan air matanya.


Setibanya di danau, Chan sudah tidak ada lagi di sana. Di sana hanya ada sebuah kota, nara segera mengambil kotak itu dan membukanya. Dia melihat ada syal dan sepucuk surat dalam kotak.


Nara semakin menangis, apalagi dia sudah membaca surat dari Chan dan melihat syal yang bertuliskan namanya.


"Kak Chan" ucap Nara menangis memeluk syalnya


Nara ingin pulang ke rumah pamannya, namun kakinya membawanya entah kemana. Nara berdiri di depan toko musik, air matanya masih setia berjatuhan. Nara melihat beberapa alat musik dari luar. Kemudian dia masuk, di sana ada pak Hendra kakeknya Chan.


Pak Hendra bingung ada apa dengan anak ini. Tiba-tiba saja Bu Dewi datang dan melihat Nara yang hanya menatap violin yang terpajang di hadapannya.


Bu Dewi seketika terpikir untuk mengajak Nara ke ruang dengar. Di sana Nara hanya terduduk dan Bu Dewi memutarkan musik, kemudian meninggalkan Nara di ruangan itu.



Nara melepaskan semua amarahnya, emosinya, kesedihannya di ruang dengar itu. Dia merasa sedikit lega, bebannya terasa berkurang.


Beberapa jam di sana, Nara hanya mendengarkan musik dan menenangkan dirinya. Tidak lama kemudian dia sudah merasa lebih baik. Dia kembali ke dalam toko. Bu Dewi dan pak Hendra melihatnya. Nara segera menghampiri.


"Terimakasih nenek dan Kakek, Saya sudah merasa tenang." Ucap Nara sedikit tersenyum


"Tidak apa-apa nak, kamu memang harus kuat" ucap Bu Dewi menepuk pundaknya


"Ngomong-ngomong siapa namamu?" Tanya Bu Dewi


"Nara,nenek"


"Nara??"


"Iya nenek" ucap Nara mengangguk